Bagaimana masa depan alam dan manusia dalam paradigma pembangunan di Indonesia?Artikel ini adalah bagian kedua percakapan antara Lian Gogali, pendiri dan ketua Institut Mosintuwu dengan Dewi Chandraningrum untuk podcast Institut Mosintuwu, di bulan September 2025. Podcast tentang ekofeminisme dipilih sebagai cara untuk mengenalkan konsep ekofeminisme kepada masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan kolektif ekofeminisme. Beberapa telah mengalami penyuntingan tanpa mengurangi makna.
Lian : Bagaimana filsafat ekofeminisme ini melihat paradigma pembangunan di Indonesia dengan semua prinsip-prinsip dan konsep ekofeminisme?. Apa kritik mendasarnya ekofeminisme terhadap paradigma pembangunan di Indonesia.
Ya, saya kira paradigma pembangunan yang dikritik oleh ekofeminisme dan juga feminisme saya yakin adalah struktur patriarki dan keterwakilan yang rendah dalam pengambilan keputusan. Jadi tidak hanya, misalnya, kebijakan mitigasi iklim, tetapi secara umum dalam legislatif, dalam eksekutif. Kita melihat bahwa bahkan di kabinet kita kurang dari 13% kan jumlah perempuan. Nah ini juga memengaruhi bagaimana pembangunan itu diwujudkan dengan meninggalkan suara perempuan yang pertama. Yang kedua, dengan mengabaikan kebutuhan perempuan. Ketiga, adalah dengan tidak mengindahkan hak-hak perempuan. Ini sangat terlihat sekali.
Kritiknya adalah ketergantungan pembangunan sekarang pada model ekonomi ekstraktif. Negara lebih berpihak pada ekspansi-ekspansi korporasi, ekspansi-ekspansi yang sifatnya ekstraktif untuk kepentingan ekonomi jangka pendek. Bukan jangka panjang. Merawat hutan, merawat kesehatan hutan, kesehatan sungai, kesehatan tanah, kesehatan gunung, kesehatan manusia-manusianya, kesehatan ekosistem itu kan jangka panjang. Nah ini sayangnya yang dikejar itu jangka pendek. Maka kan kita melihat banyak sekali bencana, bencana lingkungan.
Berikutnya yang dikritisi adalah ketimpangan kepemilikan aset dan akses. Seperti kita ketahui bahwa 60% lebih perempuan itu bekerja misalnya. Menurut data FAO itu di sektor pertanian. Tapi kurang dari 25% perempuan itu memiliki lahan. Ini kan timpang, antara aset dan akses itu tidak seimbang. Sebenarnya butuh langkah afirmasi, tapi sayangnya sekali lagi itu diabaikan.
Kritik yang berikutnya adalah pendekatan teknokratik di dalam pembangunan. Governance sekarang itu punya kecenderungan yang sangat tinggi sekali untuk mengabaikan kerja-kerja perawatan. Yang dalam hal ini adalah ekonomi perawatan. Padahal ekonomi perawatan itu punya masa depan yang sangat bagus sekali. Itu yang membuat planet ini akan menjadi lebih sehat. Contohnya misalnya Islandia. Islandia itu negaranya tidak berbasis GDP ( gross domestic product ), dan tidak berdasarkan eksponensial ekonomi tapi well-being ekonomi. Jadi ekonomi dia basisnya adalah kesehatan, periksa kehidupan, kesejahteraan, well-being. Ini kan menarik sekali. Kemudian ada juga beberapa negara, misalnya tolong koreksi saya, saya bisa kurang tepat, saya nggak tahu apakah Ecuador, apakah Bolivia, apakah Nepal. Basisnya adalah happiness, gross happiness product atau apa ya. Tapi kita, maksud saya di tahun 2025 ini peradaban manusia juga masih belajar.
Kita, setelah perang dunia kedua, berusaha bangkit dengan revolusi hijau. Ternyata revolusi hijau dengan pestisidanya itu mengakibatkan dua per tiga ekosistem kita runtuh. Misalnya kita sekarang juga masih belajar lagi bagaimana sih menyehatkan planet kembali. Saya kira itu ya lima butir kritiknya dan saya kira masih banyak bisa kita kritik.
Lian : Apakah itu artinya keberlanjutan hidup planet dan juga manusia ini akan sangat tergantung sebenarnya pada perubahan pola paradigma pembangunan ini atau bagaimana?
Bisa diadakan kalau kita masih tetap bertahan dengan paradigma pembangunan seperti ini.
Ya saya kira saya sih pesimis ya. Saya sangat pesimis. Saya termasuk orang yang, sebenarnya salah juga ya saya ngomong, kurang tepat juga, tetapi saya sangat pesimis melihat perilaku politik global gitu.
Karena sekarang kan tiap negara itu kecenderungannya yang menang adalah kanan. Mulai dari Amerika, Jepang, Belanda. Saya nggak tahu apakah memang spesies manusia itu lahir untuk merusak bumi ya. Tapi mungkin iya. Tapi paling nggak kita punya harapan. Kita punya harapan. Praktiknya memang misalnya sekarang kita tahu 9 batas planet. Kita sudah melanggar 4 batas planet ini. 9 batas planet yang bisa diberikan pada manusia itu bisa bertambah. Misalnya air bersih, ketahanan air. Kemudian ekosistem, kesehatan tanah, kesehatan udara, food security, ketahanan tangan yang terkait gizi. Kemudian ekosistem di laut, samudra. Kemudian permafrost. Permafrost itu kan kita sudah melanggar. Permafrostnya sudah mencair semua. Di Kutub Utara, di sekitar Rusia, di Siberia, China, Alaska, dan lain-lain. Yang di dekat-dekat Kutub Utara itu yang mengalami tanahnya menjadi goyang. Tanahnya goyang karena permafrostnya akan mencair. Sebelumnya tanah itu kuat.
Tapi karena itu mencair, tanahnya menjadi lebih empuk. Jadi maka struktur bangunan di sana juga mengalami kerusakan. Yang mengalami kerusakan nggak hanya manusia. Itu tetapi juga para beruang di Kutub Utara juga mengalami fragmentasi ekosistemnya. Karena es-nya mencair di Kutub Utara. Kalau kita tidak menghentikan kenaikan suhu di tahun 2030, kemungkinan di tahun 2050-2100 semua kota di pinggir laut akan tenggelam. Jakarta, Semarang, Surabaya, New York, Amsterdam. Itu sudah diprediksi ahli. Sekarang beberapa pulau sudah mulai tenggelam juga. Nanti mohon saya dikoreksi, Tuvalu, misalnya. Di beberapa pulau-pulau kecil di Pasifik itu juga mulai tenggelam karena itu.
Kemudian yang kita langgar lagi batasnya itu salah satunya air bersih. Air bersih menurut prediksi para ahli di tahun 2050 kita akan punya problem dengan air. Hal lain misalnya kematian terumbu karang. Kita kan kalau kita di daratan kita nggak mikir ya misalnya, apa sih mati terumbu karang kan biasa aja gitu. Kenapa sih emang rugi kita?
Kalau kita lihat secara sektor finansial terumbu karang mati ya nggak ada ikan. Karena ikan hidup dari terumbu karang. Terumbu karang itu kan hutannya di samudra, di laut. Kalau hutannya habis ya nggak akan ada kehidupan. Sayangnya tahun ini saya sedih sekali. Kita mendengar ini pasti sedih sekali.
PBB mengakukan pertemuan puncak dunia tentang rencana facing out plastik. Itu gagal. Kalau nggak salah di Paris. Tolong koreksi saya kalau saya kurang tepat. Di tahun 2050 ahli juga memprediksi bahkan lebih banyak plastik daripada ikan di laut kita. Sekarang kalau kita di kota-kota besar di Jawa, sungai yang melintasi kotanya itu juga lebih banyak plastik, lebih banyak polutan daripada ikannya. Saya kira ini adalah kiamat-kiamat kecil.
Kiamat-kiamat kecil menuntun pada kiamat besar. Sekarang kita menghadapi kiamat besar. Apakah itu salah satu, salah 9 dari 4 yang kita langgar?
Iklim. Jadi iklim kita sudah rusak. Itu yang disebut sebagai perubahan iklim. Jadi kita nggak bisa lagi memprediksi iklim. Jadi kalau hujan di bulan Juni, itu harusnya kiamat. Kenapa? Karena hujan nggak boleh di bulan Juni dong. Hujan September sampai Maret, September sampai Februari. Kalau hujan di bulan Juni, di bulan Juli berarti kita semua harus beradaptasi secara baru. Kita harus beradaptasi lagi. Kita bisa bayangkan pada pohon-pohon, pada hewan-hewan. Misalnya, petani tembakau. Kalau mereka, harusnya mereka menanam tembakau di musim kemarau. Ya sekarang nggak, nggak bisa diprediksi lagi karena kemarau kita basah. Ya tembakaunya jadi basah, nggak kering. Kemudian kenaikan suhu 1,5 itu bagi kita biasa kan manusia. Kita bisa masuk ke ruangan. Kita bisa hidupin AC. Aku bisa hidupin kipas angin. Tapi tidak dengan daun-daun . Kenaikan suhu 1,5 itu membuat daun-daun struggle untuk melakukan fotosintetis. Jadi dia akan mengalami kegagalan fotosintesis.
Jadi di tahun 2023 kemarin kita mengalami heat wave ( red : gelombang panas ). Kita melihat banyak pohon itu kayak layu, jatuh. Itu adalah contoh kegagalan fotosintesis. Kita sudah menjadi saksi bagaimana Benua Australia, kemudian Amerika, LA bahkan, Yunani, Spanyol Portugis, kemudian Turki. Banyak di daerah yang mengalami kebakaran yang sangat mengerikan. Sampai berbulan-bulan sulit untuk dihentikan. Kita sekarang mengenal terminologi the burning of the planet ( red : planet yang terbakar ).
Jadi planet kita itu sekarang terbakar. Nah ini kiamat besarnya itu.
Lian : Karena itu kalau misalnya kita semua pesimis dengan paradigma pembangunan di Indonesia. Misalnya perspektif ekofeminisme yang kita pakai digunakan sebagai rujukan pembangunan di Indonesia, harusnya pembangunan di Indonesia itu seperti apa Mbak Dewi?
Ya punya penghargaan pada perempuan, kerja-kerja perawatan. Kalau nggak suka kata feminis oke. Kalau nggak suka kata perempuan oke. Menghargai kerja-kerja perawatan . Kerja-kerja domestik. Ekonomi perawatan itu dijaga benar. Ditumbuhkan, tidak ekstraktif.
Yang kedua adalah menghargai hutan yang kita punya. Kita punya hutan banyak sekali tetapi kerusakannya itu sangat masif sekali. Nanti kalau hutannya habis kita memanen bencana tadi. Kita sebenarnya sudah memanen di mana-mana banjir. Bencana, asap, kebakaran. Sudah hampir tiap hari itu sudah nggak bisa disebutkan lagi jenis bencananya. Itu sangat merugikan negara. Punya penghargaan terhadap kerja-kerja perawatan dan juga jasa lingkungan. Dua aja sih simpel. Simpel itu tapi susah banget.
Ada dua kata kunci yang bisa disebutkan. Gimana sungai aja nggak dirawat kesehatannya. Justru jadi buangan terbuka untuk semua industri. Mulai dari industri nikel, industri textile, industri ekstraktif lain. Kemudian pantai, garis pantai kita itu sangat panjang sekali. Tapi kita tidak menghargai kesehatannya. Justru kita ekstraksi, yang diekstraksi itu nggak cuma tambang tapi juga infrastruktur, turisme, kemudian perikanannya. Sifatnya sangat ekstraktif. Tidak sirkular, tidak berkelanjutan. Kita lihat contohnya Bali. Bali sekarang banjir luar biasa karena kehilangan 48% resapan tanahnya. Karena dipakai untuk pembangunan villa dan lain-lain. Ini sebenarnya pembangunan yang sifatnya teknokratik, eksponensial, apapun di sektor apapun itu pada akhirnya ya malah petakan.
Lian : Saya membayangkan misalnya kita mau punya harapan, bumi ini masih bisa panjang ke depan, itu berarti pertama-tama yang harus diberikan paradigma dulu, untuk kemudian bisa diterjemahkan dalam teknis-teknis dimana kemudian pemerintah mengubah metode, mengubah cara bekerja terhadap lingkungan untuk masa depan?
Saya kira bisa semua bersamaan, nggak harus dari atas. Tapi maksudnya kita bisa dari bawah juga bisa, dari samping, dari atas. Kita bisa bareng-bareng saling. Karena misalnya aku sama Lian dekat dengan grassroots, kita bisa dari bawah. Kemudian kawan-kawan yang ada di kekuasaan atau legislatif bisa dari atas, dari kebijakan. Kemudian kawan-kawan yang ada di perusahaan-perusahaan bisa melakukan juga dari area yang lain. Saya kira kita bisa bersama-sama. Semua harus berperan aktif, tidak harus bergantung. Sesuai keahliannya. Sesuai dengan kemampuan, keahlian konteksnya juga.
Lian : Apa sebenarnya tantangan kita untuk kemudian memulai menggunakan perspektif ekofeminisme ini dalam semua cara dan tinta kita melihat dan memperlakukan alam, binatang, lingkungan sekitar.
Saya kira kita bisa belajar dari perempuan adat misalnya. Di Pesisir, misalnya kita bisa belajar dari Puspita Bahari di Demak, Mbak Masnuah. Mereka menanam mangrove. Ini kan berarti mereka berjuang pada ekonomi pesisir yang berkelanjutan. Jadi tidak hanya di eksploitasi ikannya, kemudian tangkapannya. Tapi mereka juga melakukan, menanam mangrove. Kemudian mereka juga meminta pengakuan dalam KTP-nya. KTP petani dan nelayan itu kalau di Indonesia masih patriarkis sekali. Jadi yang dapat KTP nelayan dan petani itu hanya laki-laki. Sementara perempuan nggak diakui, ini lho yang saya bilang ekonomi perawatan nggak diakui. Jadi kalau perempuan itu di KTP-nya disebutkan istri petani, dia menggarap tanah, dia minta hutang untuk mikrokredit, dia minta bantuan solar, subsidi solar untuk nelayan. Nggak bisa karena dia istri nelayan, dia istri petani, nggak bisa. Nah dia harus sebut di KTP, dia adalah misalnya kalian nelayan, ya nelayan gitu. Nah perjuangan untuk dapat ini aja butuh tahunan gitu. Ini menunjukkan bahwa negara itu abai.
Negara abai pada kerja-kerja perawatan yang dilakukan oleh perempuan. Harusnya perempuan punya hati yang sama gitu. Kenapa kalau KTP perempuan itu ada kata petaninya, ada kata nelayannya, dia bisa akses mikrokredit, dia bisa akses bantuan kalau terjadi bencana, dia bisa akses misalnya subsidi diesel gitu ya untuk nelayan dan lain-lain. Nah ini Kawan-Kawan Puspital Bahari berhasil melakukan itu. Itu yang pertama.
Yang kedua Kawan-Kawan Puspital Bahari, kelompok perempuan yang dipimpin oleh Mbak Mas Nuah ini juga bisa memperpanjang produk. Memperpanjang produk itu maksudnya adalah hasil olahan ikan ini variasinya banyak gitu. Ada yang jadi kripik, ada yang jadi terasi. Jadi tidak berhenti di satu produk. Jadi ada olahan-olahan yang memperpanjang produk ini. Nah ini kan bagus bahwa dukungan terhadap perempuan, ekonomi perempuan dalam supply and change di perikanan ini selama ini diabaikan oleh pemerintah itu ternyata diusahakan luar biasa oleh para perempuan. Ya seharusnya pemerintah mendukung dong. Nggak cuma perempuan yang bergerak gitu. Prakteknya kan selama ini perempuan yang bergerak dan ngos-ngosan kan gitu.
Lian : sepanjang perjalanan atau proses Mbak Dewi mendampingi atau bekerja bersolidaritas dengan teman-teman akar rumput selama ini, praktek-praktek ekofeminisme itu bagaimana masyarakat itu sendiri memaknainya, melihatnya, melihat proses-proses seperti itu berlangsung bagi keberlangsungan hidup mereka?
Ya misalnya saya kira saya cukup beruntung karena saya punya kesempatan untuk belajar ya. Saya belajar kepada ibu-ibu kendeng. Contohnya adalah ibu-ibu kendeng itu sekarang menjadi lebih percaya diri. Lebih percaya diri dalam mengolah tanahnya, dalam merawat benihnya. Dulu kan mereka digerus oleh sistem tanam yang sifatnya kapitalistik dan ekstraktif. Misalnya pada untung yang tinggi, lalu pakai pesticida, beli benih. Mikirnya adalah keuntungannya itu besar.
Tetapi ternyata keuntungan besar itu tidak hanya uang, tetapi juga kesehatan tanah. Karena tanah yang sehat itu akan memberikan kesehatan juga kepada pemiliknya, kepada kita, kepada manusia. Nah sekarang misalnya di kendeng, ibu-ibu kendeng, warga kendeng nguri-uri ya. Misalnya kebiasaan-kebiasaan atau adat atau budaya misalnya temon banyu beras. Mempertemukan antara air dengan beras. Itu kan sebuah upacara simbolik yang ada penghormatan yang sangat tinggi sekali pada ibu air. Bahwa air itu bukan sekedar entitas ekonomi, tetapi air itu kehidupan. Nah ini kan luar biasa sekali.
Kemudian yang berikutnya adalah keperjayaan diri dari ibu-ibu di Nguter di Sukoharjo dalam melawan polusi petirum. Jadi menurut mereka ya Sungai Bengawan Sol itu harus sehat. Nah ini si pencemar ini harus dihukum. Sebelumnya mereka tidak berpikir sampai di situ. Tetapi ketika melalui meja hijau, mereka menjadi lebih percaya diri bahwa menyelamatkan lingkungan itu juga sebuah ibadah lewat pengajian-pengajiannya. Saya kira ini luar biasa sekali.
Itu juga memengaruhi saya karena saya sangat pesimis sekali. Tapi ibu-ibu di akar rumput ini ternyata sangat kuat, sangat percaya diri, sangat optimis. Jadi saya secara pribadi meminjam semangat mereka. Karena saya dosen, jadi saya lebih pesimis, lebih rasional. Mendengar cerita tentang bagaimana masyarakat akar rumput sebenarnya mempraktikkan perspektif dan melakukan bahkan mungkin sebelum istilah itu ( ekofeminisme ) ada tentang bagaimana melihat secara setara alam, manusia dan juga yang lainnya, ini memberi harapan ke depan
Lian : Menurut pandangan mbak Dewi, bagaimana kemudian cara kita menghubungkan gerakan-gerakan ini, itu menjadi gerakan-gerakan kolektif, baik di Indonesia ataupun juga di dunia.
Saya kira saya sangat setuju sekali supaya kita terhubung. Karena misalnya kasus di Poso itu kan saya juga nggak tahu, saya harus belajar dari kalian dan kawan-kawan di Mosintuwu. Kemarin saya ada kesempatan di Jerman, saya juga belajar dari kawan-kawan di Jerman, aktivis hijau di sana, aktivis kiri, aktivis lingkungan, dan ternyata mereka sekarang punya gerakan yang disebut Friday for Future. Itu di Eropa, di seluruh Eropa itu di kampus-kampus, di tiap-tiap kota itu ada Friday for Future dan itu terutama untuk lingkungan. Dari sini kemudian terhubung. Misalnya pabrik fashion di Eropa ini mencemari sungai kita. Akhirnya terhubung. Misalnya kita membuat laporan, kita menulis di media, di Eropa misalnya, tolong jangan beli brand ( merk ) ini, karena brand ini mencemari sungai Bengawan Solo. Itu tadi contoh global, contoh internasional. Hal-hal ini juga bagus kita saling menginformasikan satu sama lain.
Kalau di nasional, contohnya misalnya di kasus PT Rum. Ibu-ibu di Sukoharjo protes produksi serat yang mencemari sungai Bengawan Solo. Itu serat rayon itu dari bubuk kayu yang diambil di hutan Kalimantan. Kita bisa terkoneksi juga dengan kawan-kawan di Kalimantan gitu. Ternyata kita terkoneksi. Jadi kerusakan di Kalimantan itu terkoneksi dengan kerusakan sungai di Bengawan Solo. Itu kemudian membuat kita bersikap. Misalnya contoh sederhananya adalah BDS ( Boycot, Divesrment and Sanction ) contoh kasus Israel. Jadi kita melakukan boikot, kemudian kita men-deinvestasi, kemudian memberikan sanksi. Jadi kita tidak beli lagi produk mereka. Kalau ini gaungnya lebih kuat, misalnya oleh kawan-kawan influencer, itu akan punya efek yang kuat juga. Saya kira kita semua juga belajar di proses ini. Itu menggambarkan bahwa sebenarnya gerakan dengan perspektif paradigma ekofeminisme ini, tidak hanya terjadi kalau ada gerakan kayak organisasi atau komunitas, tapi juga individu begitu.
Saya punya harapan besar semoga kita, planet kita pulih dan sehat kembali. Amin, itu doa semua makhluk hidup di seluruh alam semesta ini.
Catatan Redaksi : Percakapan bagian pertama yang menyoroti paradigma dan filsafat ekofeminisme bisa diakses : Dewi Candraningrum : Alam, Manusia Hidup Saling Bergantung, Kita Saling Menghargai dan Menghormati
Redaksi : Percakapan lengkap dengan Dewi Chandraningrum dapat diakses di podcast Mosintuwu ( link di barcode ). Dalam podcast ini Dewi mengurai hal-hal apa saja yang melatarbelakangi pemikiran ekofeminisme di dunia, apa saja konsep dasar pemikiran ekofeminisme, bagaimana melihat hubungan ekofeminisme dengan isu perempuan, alam dan lingkungan, bagaimana filsafat ekofeminisme memandang hubungan antara manusia, binatang dan alam, bagaimana filsafat ekofeminisme melihat paradigma pembangunan di Indonesia, apa kritik mendasar ekofeminisme terhadap paradigma pembangunan Indonesia. Dewi membincangkan saja tantangan yang dihadapi untuk memungkinkan ekofeminisme menjadi bagian paradigma pembangunan di Indonesia.






