Membincang Ulang Makna Kemakmuran Desa di Kelas Sekolah Pembaharu Desa

0
62
Peserta Sekolah Pembaharu Desa di Desa Maranda menunjukkan hasil diskusi mereka tentang konsep kemakmuran di desa. Foto : Dok. Mosintuwu / Ray Rarea

“ Apa gunanya motor banyak, punya kulkas, tapi tidak tenteram?” 

Pertanyaan ini disampaikan lugas oleh seorang ibu dari Desa Poleganyara, Pamona Timur. “ Atau tidak punya tempat sampah” sambung yang lain.

Perbincangan tentang kepemilikan motor, kulkas, rumah, TV, mobil hingga telepon genggam sebagai tanda kemajuan seseorang dipertanyakan kembali oleh para peserta kelas Sekolah Pembaharu Desa. Mempertanyakan kembali arti kemajuan dan perkembangan serta memaknai konteks kemakmuran menjadi percakapan yang menarik di awal kelas Sekolah Pembaharu Desa di berbagai desa. Selama 5 jam, kelas Sekolah Pembaharu Desa yang dimulai tanggal 4 hingga 12 April 2022 di beberapa desa mencoba menemukan cara pandang yang baru tentang kemakmuran desa. 

Lian Gogali, menfasilitasi diskusi dalam kelas dengan mengangkat pertanyaan apa itu kemakmuran dan apa saja cirinya. Pertanyaan ini menjadi bahan diskusi utama di kelas pertama sekolah pembaharu desa Mosintuwu . Secara bergiliran dan saling menyahuti, para peserta membuat daftar kemakmuran mereka. Damai dan tenteram menjadi daftar ciri kemakmuran pertama yang disebutkan oleh seluruh peserta dari berbagai desa. Secara detail, para mahasiswa ( demikian sebutan bagi peserta sekolah pembaharu desa ) menjelaskan hal-hal yang terjadi di desa yang menyebabkan ketidaktentraman. Beberapa dikarenakan perselisihan, namun sebagian karena kondisi politik di desa, dan kondisi keamanan. Alasan kondisi keamanan,  dialami secara khusus di wilayah  kecamatan Poso Pesisir bersaudara. 

Kehidupan yang nyaman karena lingkungan yang bersih , dan kesehatan menjadi ciri lain kemakmuran  yang disebutkan para mahasiswa.

“Di halaman rumah kami tidak ada got, sehingga saat hujan, air masuk hingga ke dalam rumah” seru ibu Ni Nengah dari Desa Pinedapa.  

Baca Juga :  Polusi Kenangan

Air hujan yang masuk ke dalam halaman rumah bukan saja menyebabkan lingkungan rumahnya jadi kotor dan berpotensi menimbulkan penyakit tapi juga menyebabkan perselisihan dengan tetangganya. Hidup keluarga Ni Nengah menjadi tidak nyaman, meskipun mereka memiliki rumah layak huni dan sebuah motor.

“Masih banyak warga yang buang air besar di sungai” cetus ibu Dian, dari Desa Bulili, kecamatan Lore Selatan.

Padahal, sahut ibu lainnya, sudah ada toilet disiapkan namun tidak digunakan. Karena itu, menurut ibu Dian persoalan pendidikan dan pengetahuan menjadi bagian penting untuk menciptakan kemakmuran. 

Di desa lainnya, pengelolaan sampah menjadi masalah yang membuat kepemilikan sebuah benda tanda kemajuan dan perkembangan tidak sejalan dengan kemakmuran masyarakat. 

“Tidak ada tempat pengelolaan sampah di tempat kami, jalan dan sungai jadi tempat pembuangan sampah” cerita ibu Santi dari Desa Didiri, Kecamatan Pamona Timur. 

Senada dengan Santi, di beberapa desa secara terpisah, para mahasiswa menceritakan bagaimana rumah dan halaman yang bersih mengorbankan sungai, laut dan danau menjadi tempat pembuangan sampah, termasuk jalan raya. Di semua desa, tidak ada tempat pengelolaan sampah. Hal ini menyebabkan kemajuan dan perkembangan yang ada di dalam desa tidak menunjang kemakmuran desa. 

Sementara itu ekonomi menjadi ciri terakhir dari kemakmuran desa. 

Dengan bantuan gambar sederhana , Lian menanyakan kepada para mahasiswa jarak sumber makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Di Lore Selatan yang terkenal dengan beras organik dan endemik, beras Kamba, para mahasiswa dengan malu-malu menyebutkan jarak sumber beras mereka adalah 80 km. Para petani membeli beras dari wilayah Tentena untuk menjadi sumber beras mereka. Sementara itu beras yang mereka produksi dijual kepada yang lain.  Di hampir semua kelas, jarak terdekat sumber makanan hanyalah rempah. Sementara itu sayuran dan lauk berjarak lebih dari 10 km bahkan mencapai 200 km. 

Baca Juga :  Alkhairat - Institut Mosintuwu Bersama Membangun Damai di Poso

Cerita tentang jarak sumber makanan ini membuat para mahasiswa kelas Sekolah Pembaharu Desa memikirkan ulang kemakmuran di desa. Apalagi, perbincangan mengenai jarak sumber makanan ini disertai dengan cerita ketersediaan sumber daya alam di desa. 

Kemakmuran Desa adalah kurikulum pertama dari 9 kurikulum yang dikembangkan di kelas Sekolah Pembaharu Desa. Kemakmuran desa menjadi topik pembuka di kelas Sekolah Pembaharu Desa setelah melalui proses diskusi oleh lulusan sekolah perempuan Mosintuwu tentang design pembangunan paska konflik Poso yang adil dan damai. Para lulusan sekolah perempuan Mosintuwu dalam berbagai kesempatan menyebutkan design pembangunan paska konflik di Poso selama ini mengutamakan pembangunan infrastruktur dan mengutamakan investor sehingga mengabaikan kemakmuran masyarakat yang sedang bangkit bersama-sama lintas agama dan suku untuk membangun Poso yang lebih baik.

Bersama dengan Koordinator Sekolah Pembaharu Desa, Martince Baleona, Lian berjalan keliling desa untuk membincangkan topik ini. Modul pertama Kemakmuran Desa yaitu “memaknai kemakmuran desa” diselenggarakan dalam bentuk kelas-kelas yang dibagi dalam beberapa wilayah, yaitu kelas Pamona Timur 1 ( Desa Didiri dan Desa Kelei ), kelas Pamona Timur 2 ( Desa Tiu dan Desa Poleganyara ), kelas Lore Barat 1 ( Desa Tomehipi, dan Desa Lengkeka ), kelas Lore Barat 2 ( Desa Torue dan Desa L ) , kelas Lore Selatan ( Desa Bulili, Desa Gintu, dan Desa Pada ), kelas Poso Pesisir 1 ( Desa Maranda dan Desa Trimulya ) , kelas Poso Pesisir 2 ( Desa Pinedapa ). Di masing-masing kelas, para fasilitator sekolah pembaharu desa yaitu Plistin Tanggola, Helpin Samoli, Velma Riri, Raru Topuha, dan Rustomini.

Baca Juga :  22 Desember : Memaknai Hari Gerakan Perempuan Indonesia di Poso

Para peserta sekolah pembaharu desa didominasi oleh perempuan, namun juga diikuti aparatur pemerintah desa dan tokoh adat. Di desa Maranda, kepala desa Maranda, Ariani Pariangi yang juga adalah lulusan kelas Sekolah Perempuan Mosintuwu menyampaikan dukungannya atas berlangsungnya kelas Sekolah Pembaharu Desa dengan harapan kelak membantu desa-desa menciptakan kemakmuran desa. 

Sementara itu di Desa Pinedapa, ketua adat Desa Pinedapa menyampaikan catatan  tentang kemakmuran desa yang penting untuk melibatkan kebudayaan di desa. 

Pada akhir kelas, secara berkelompok mahasiswa Sekolah Pembaharu Desa diberikan pekerjaan rumah untuk membuat peta desa dan mengidentifikasi modal-modal kemakmuran desa. Dikarenakan masa bulan Ramadhan, beberapa kelas di Poso Pesisir yang mayoritas pesertanya muslim ( Desa Tokorondo, Desa Tiwaa, dan Desa Lape) yang difasilitasi oleh Irma ditunda. Demikian juga kelas di Pamona Tenggara  ( Desa Tokilo, Desa Tolambo dan Desa Tindoli ) yang difasilitasi oleh Dewi dan Pamona Barat ( Desa Meko, Dewa Owini dan Desa Taipa ) yang difasilitasi oleh Lina Laando.

Dijadwalkan kurikulum Kemakmuran Desa dengan modul “ peta kemakmuran desa” akan dilangsungkan kembali di bulan April 2022 dengan mengacu pada pekerjaan rumah yang dikerjakan secara berkelompok oleh masing-masing kelas. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda