Beranda Headline Transformasi Pendidikan Perubahan Iklim dengan Berbasis Kearifan Lokal Poso

Transformasi Pendidikan Perubahan Iklim dengan Berbasis Kearifan Lokal Poso

0
72
Praktek pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal yang melibatkan SDN Saojo dan SDN 2 Tentena. Foto : Dok. Mosintuwu

Sebuah replika Waya Masapi terbuat dari bambu diletakkan di lantai di tengah ruangan kelas. Para siswa antuasias mengelilinginya. Beberapa diantaranya berjongkok untuk melihat lebih dekat. Jam 10:00 wita, 4 orang guru berdiri di depan. Mereka menceritakan bagaimana cara leluhur orang di pinggir Danau Poso menangkap hewan berbadan licin itu. Masapi adalah nama lokal untuk sidat.

25 siswa dari SDN Saojo dan SDN 2 Tentena, sedang belajar bersama tentang pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal pada 12 Agustus 2026. Waya Masapi dan Mosango, dua cara menangkap ikan tradisional suku Pamona diperkenalkan kembali. Modul ada ini sebelumnya sudah disusun oleh para guru dari beberapa sekolah di Kabupaten Poso dibantu oleh beberapa akademisi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Negeri Surabaya (UNS) lewat program Pendidikan Perubahan Iklim Berbasis Kearifan Lokal.

Empat orang guru Yuniarti Balingki dan Kristin Madja dari SDN Saojo, serta Yunita Turuka dan Selly dari SDN 2 Tentena bergantian mengajak murid mereka belajar tentang perubahan iklim dengan pendekatan kearifan lokal. Para pelajar tidak hanya mengenal secara teori apa yang dimaksud dengan perubahan iklim dan apa dampaknya bagi kehidupan dimasa sekarang dan mendatang. Mereka diperkenalkan dua teknologi budaya Danau Poso sebagai sebuah kearifan lokal dalam menghadapi perubahan iklim.

Praktek pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal yang melibatkan SDN Saojo dan SDN 2 Tentena. Foto : Dok. Mosintuwu

Cara mengenalkan struktur Waya Masapi berbahan bambu dan kayu kepada para pelajar SD ini dilakukan tidak hanya dengan teori tetapi simulasi bagaimana teknologi ramah lingkungan ini bekerja.

Yuniarti meminta seorang murid mengambil ikan lele yang sudah disiapkan di ember. Dia meminta ikan itu dipegang sambil menceritakan bagaimana ikan yang berenang dari arah Danau Poso menuju ke mulut sungai tanpa sadar naik ke Waya Masapi yang diujung depannya masuk kedalam air sehingga tidak terlihat dari atas. Ikan lalu berenang naik hingga masuk ke dalam bubu, perangkap yang sudah dipasang di bagian atas Waya Masapi.

Setelah Waya Masapi, murid-murid kemudian dikenalkan pada Sango, alat penangkap ikan berbentuk bulat terbuat dari bilah bambu.

“Alat ini dipakai saat air surut di wilayah dimana ikan sudah mulai terperangkap sehingga tidak bisa keluar ke sungai atau danau”kata Yunita Turuka sambil mempraktekkan bagaimana menghujamkan Sango ke lantai. “Namun, teknologi hanya berfungsi kalau dilakukan beramai-ramai” tambahnya tentang cara mengefektifkan alat itu.

Baca Juga :  Gusdurian, Menggerakkan Masyarakat Menguatkan Indonesia
Para siswa mengunjungi Wayamasapi sebagai praktek Pendidikan Perubahan Iklim berbasis Kearifan Lokal. Foto : Dok. Mosintuwu

Waya Masapi dan Sango adalah dua tradisi menangkap ikan ramah lingkungan yang dipraktekkan turun temurun di suku Pamona, khususnya yang tinggal di sekitar Danau Poso. Kedua teknologi ini menjaga lingkungan tetap lestari dan populasi Sidat dan ikan-ikan yang ada di Danau Poso maupun sungainya tetap bertahan. Tidak ada yang diambil berlebihan jika menggunakannya.

Belakangan, kedua tradisi yang letak dengan nilai-nilai kebersamaan ini mulai ditinggalkan. Waya Masapi saat ini hanya tersisa tidak lebih dari 10 bangunan. Sedangkan tradisi Mosango di kawasan riparian sungai Poso, tepatnya di Kompodongi hampir tidak pernah lagi dilakukan karena perubahan bentang alamnya setelah adanya proyek pengerukan sungai Poso tahun 2020 lalu. Memperkenalkan kembali kedua tradisi ini menjadi langkah awal untuk menengok kembali filosofi dari tradisi lokal yang menjaga lingkungan alam.

Dari ruang kelas, siswa diajak belajar langsung dari para penjaga tradisi Danau Poso di Kompodongi dan di Waya Masapi. Mereka nampak bergembira mendapatkan kesempatan melihat langsung bagaimana wujud Waya Masapi dan cara kerjanya

Menggunakan 4 perahu, para siswa mengunjungi Waya Masapi berjumpa dengan Fredi Kalengke, pemilik Waya Masapi yang masih bertahan.

Para siswa nampak antusias menyaksikan langsung struktur bambu yang diikat pada jumlah setiap angka ganjil. Rasa penasaran nampak dari pertanyaan yang diajukan. Mengapa harus dari bambu? Kenapa harus menjaga di malam hari? Berapa orang yang memiliki Waya Masapi?.

“Waya Masapi mengajarkan nilai kebersamaan, berbagi dan ikhlas”cerita Fredi Kalengke. Ikhlas, dia menjelaskan tentang salah satu metode pengelolaan Waya Masapi yang dilakukan bergiliran setiap malam. Jadi, sebuah Waya Masapi tidak hanya dimiliki 1 orang atau 1 keluarga saja, tetapi dimiliki bersama-sama oleh beberapa keluarga. Sistem pembagiannya adalah pusaka malam, yakni setiap keluarga mendapat giliran untuk menunggui Waya Masapi selama 1 malam. Hasil yang didapatkan saat mendapat giliran itu menjadi miliknya. Besok akan menjadi giliran keluarga lainnya.

“Bisa jadi yang jaga malam ini ada masapi yang dia dapat, tetapi yang dapat giliran besoknya tidak ada. Jadi seperti itu”jelas Fredi Kalengke. Dia merupakan generasi ke empat dikeluarganya yang mewarisi 1 Waya Masapi di mulut sungai Poso.

Baca Juga :  Pohintuwo, Merespon Bencana di Lembah Bada

Semangat mempelajari kearifan lokal Danau Poso berlanjut dengan mengunjungi wilayah Kompodongi, sebuah wilayah ulayat adat Sawidago. Para siswa SD berseragam batik dengan menggunakan siga ( untuk laki-laki ) dan tali bonto ( untuk perempuan ) bertemu dengan Hajai Ancura, ketua adat Sawidago. Di lokasi kompodongi, mereka mendengarkan cerita tentang Mosango.

Para siswa mengunjungi Kompodongi mendengarkan penjelasan tentang Mosango, dalam praktek Pendidikan Perubahan Iklim berbasis Kearifan Lokal. Foto : Dok. Mosintuwu

“Kebersamaan menjadi nilai penting di tradisi Mosango” kata Hajai Ancura.

Tetua adat ini bercerita, dahulu saat air di Kompodongi surut di musim kemarau, warga desanya akan beramai-ramai turun mencari ikan diwilayah itu menggunakan Sango. Puluhan hingga ratusan orang membentuk lingkaran besar lalu maju bersama-sama sambil menancapkan Sango kedalam air yang mulai keruh, lingkaran terus mengecil sehingga ikan terperangkap ditengah. Banyak dan beragam jenis ikan yang hidup disitu yang tertangkap masuk kedalam Sango.

Tidak semua warga yang ikut Mosango berhasil mendapat ikan. “Disitulah nilai berbagi di air di praktekkan. Ikan yang didapat dimasak bersama-sama”,jelas Hajai tentang Motila ri Ue (berbagi di air), salah satu falsafah Mosango.

“Yang tidak mendapat ikan tidak kecewa, karena Mosango itu sebenarnya adalah tradisi untuk memperkuat kebersamaan, kerjasama”kata pegiat Aliansi Penjaga Danau Poso (APDP) itu.

Arista Brigita Gozal, murid kelas 6 SDN 2 Tentena salah satu yang ikut dalam perjalanan ke 2 lokasi itu. Dia merasa menemukan banyak pelajaran, salah satunya proses untuk mendapatkan ikan atau masapi itu tidak mudah. “Saya sekarang tahu, bagaimana orang-orang tua kita mendapatkan ikan. Ada prosesnya. Tidak mudah”,katanya. Sedangkan Angelo, murid SDN 2 Tentena yang juga turut dalam rombongan perahu menuju ke 2 lokasi itu mengungkapkan, itulah pertama kali dia mengenal cara kerja dan datang langsung ke Waya Masapi.

Tentang apa makna perubahan iklim, para pelajar ini memang baru mulai mengetahuinya dari kata dan teori. Itu sebabnya mengenalkan mereka secara langsung bagaimana praktek kehidupan sehari-hari yang tidak merusak alam menjadi sangat penting. Salah satu cara yang dianggap paling efektif adalah mengenalkan kearifan lokal yang ada di sekitar mereka.

Akademisi Unnes, Dr. Zulfa yang menyaksikan praktek pendidikan perubahan iklim ini menyebutkan cara para guru mengajak siswa untuk tidak hanya memahami definisi tetapi juga praktek langsung di kelas, sangat cerdas. Menurutnya itu adalah transisi sebelum melihat atau mempraktekkan langsung ke Danau Poso.

Baca Juga :  Webinar Geopark : Pelajar di Poso Kenali Keragaman Geologi

“Jadi pendidikan perubahan iklim seperti inilah yang kita tunggu dan harapkan bukan hanya di Poso tapi juga ditempat lain”katanya.

Sedangkan Professor Teguh, guru besar di UNS menekankan, solusi sentralistik untuk mengatasi krisis iklim tidak pernah berhasil kecuali berbasis kondisi konteks lokal. Dia mengatakan, dari studi-studi yang mereka lakukan, solusi-solusi universal seperti energi yang terbarukan, penghentian deforestasi, itu tidak cukup jika tidak dilengkapi dengan pemahaman tentang konteks lokal di daerah itu.

“Dampak perubahan iklim itu di setiap daerah berbeda. Sehingga kita perlu memahami konteks lokal. Sebenarnya ada begitu banyak kearifan lokal di Indonesia yang sangat cocok untuk menghadapi perubahan iklim”katanya lagi.

Hanya saja menurut dia, kekayaan khazanah budaya itu belum banyak dieksplore dan digunakan. Dia menyebut, hambatannya ada para paradigma  pendidikan perubahan iklim di Indonesia yang masih sangat saintifik. Sementara pendekatan sosial budaya berbasis apa yang memang ada disekitar tempat anak-anak tinggal, masih sangat jarang digunakan.

“Itu sebabnya program ini, penelitian ini berfokus pada kearifan lokal untuk menguatkan, mentransformasi pendidikan perubahan iklim.” kata Professor Teguh.

Praktek pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal oleh siswa SDN Saojo dan SDN 2 Tentena. Foto : Dok. Mosintuwu
Praktek pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal yang melibatkan SDN Saojo dan SDN 2 Tentena. Foto : Dok. Mosintuwu

Proses menyusun modul ajar pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal adalah juga sebuah proses belajar para guru. Diakui oleh Kristin Madja, menyusun modal ajar ini mendorong mereka untuk mengenal lebih baik kearifan lokal, mencari tahu kedalaman makna dari kearifan lokal. Menempatkan kearifan lokal menjadi bagian dari diskusi pendidikan perubahan iklim membuat para guru melakukan kontekstualisasi pendidikan perubahan iklim dari lingkungan di sekitar mereka.

Praktek pendidikan perubahan iklim berbasis kearifan lokal yang dilaksanakan di Kabupaten Poso dengan melibatkan dua sekolah yaitu SDN 2 Tentena dan SDN Saojo adalah kelanjutan dari diskusi dari Forum Nasional Pendidikan Perubahan Iklim. Forum ini dilaksanakan dengan melibatkan guru-guru dari berbagai sekolah di seluruh Indonesia untuk mengembangkan kurikulum Pendidikan Perubahan Iklim berbasis kearifan lokal yang diselenggarakan oleh Universitas Surabaya dan Universitas Semarang. Di Kabupaten Poso, kegiatan ini bekerjasama dengan Institut Mosintuwu.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda