
Menjelajahi Danau Poso tidak lengkap tanpa mengamati bentang alam di sekitarnya. Dalam Jelajah Danau Poso yang diselenggarakan Institut Mosintuwu dan Sulawesi Keepers didukung oleh PGRI Kabupaten Poso, keseruan menjelajahi Danau Poso tidak hanya berlangsung di bawah permukaan danau.
“Setelah mendanau, kita mendarat,” kelakar Lian Gogali. Lian, koordinator jelajah Danau Poso mengajak para guru yang sedang melakukan jelajah Danau Poso mengalihkan perhatian mereka ke situs-situs geologi di sekitar Danau Poso.
Jelajah Danau Poso adalah ekspedisi Danau Poso bersama para guru berlangsung pada 22–25 Oktober 2026. Ekspedisi ini menyusuri kawasan Danau Poso, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dengan menyinggahi 3 lokasi utama yaitu Pamona, Bancea dan Dulumai. Di ketiga lokasi ini, para guru menengok 16 situs geologi, arkeologi, dan keanekaragaman hayati.
Jika di danau, guru penjelajah mengamati biota endemik, di darat mereka diajak menelusuri jejak geologi yang membentuk bentang alam kawasan tersebut. Reza Permadi, memandu peserta membaca kisah masa lalu melalui batuan. Dengan penjelasan sederhana, ia memperkenalkan proses geologi yang turut membentuk lanskap Danau Poso kepada para guru.
Salah satu tujuan mereka adalah Gua Pamona, yang terletak tepat di hulu Sungai Poso, hanya beberapa meter dari Jembatan Bukaka, bekas jembatan legendaris Yondo mPamona. Gua ini terbentuk pada batu gamping Formasi Poso, batuan sedimen karbonat yang menjadi bagian dari sejarah geologi kawasan Danau Poso.
Reza, yang sehari-hari berkiprah sebagai akademisi di BINUS Jakarta, menjelaskan bahwa Danau Poso terbentuk akibat aktivitas tektonik sekitar 2,5–3 juta tahun lalu. Untuk memudahkan peserta memahami proses tersebut, ia melibatkan tiga mahasiswa dalam sebuah peragaan sederhana.

Ketiganya berjongkok berjejer sambil bergandengan tangan. Saat diberi tanda “gempa” mahasiswa kiri dan kanan perlahan menaikkan posisi badan. Hal ini berlangsung beberapa kali, setiap kali kata gempa terdengar. Mahasiswa di bagian tengah tetap diam. Pada akhirnya, posisi ketiganya terlihat membentuk cekungan.
Ketiganya memeragakan pergerakan formasi Pompangeo dan Tokorondo. Reza Permadi, tim ahli Ekspedisi Poso yang juga seorang geolog, sedang menjelaskannya kepada para guru yang sedang mengikuti Jelajah Danau Poso. Melalui peragaan itu, Reza menjelaskan bagaimana proses tektonik membentuk cekungan yang kemudian menjadi Danau Poso seperti yang dikenal saat ini.
Penjelasan tersebut menarik perhatian para guru. Muhamad Amirudin dari SDN Kasiguncu, Poso, bahkan melihat peragaan itu sebagai metode pembelajaran yang bisa diterapkan di sekolah.
“Bagus ini kalau kita terapkan ke siswa,” ujarnya
“lebih mudah dipahami” sambung guru lainnya.
Dari jejak batuan dan proses pembentukan danau, perjalanan berlanjut ke jejak kehidupan manusia masa lalu. Tim penjelajah Danau poso menyambangi situs Watu Mpoga’a di halaman Gereja Betel, Pamona. Di sana, mereka disambut Helmi Kalengke, pensiunan guru sekolah dasar yang membawakan cerita rakyat tentang Watu Mpoga’a. Kisah itu merupakan cerita epik tentang tujuh batu yang menjadi penanda perpisahan sekaligus pengikat janji untuk pulang bagi leluhur suku Pamona.

Cerita Helmi menghadirkan kejutan di bagian akhir, ketika ia mengisahkan keterkaitan cerita tersebut dengan keberadaan etnis Bajo. Alur yang tak terduga itu membuat peserta terperangah, sekaligus menunjukkan bagaimana cerita rakyat menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan dan hubungan antarkelompok masyarakat.
Dari sisi arkeologi, Iksam Djorimi, arkeolog Sulawesi Tengah, pernah menjelaskan di zamannya batu menhir memiliki beragam fungsi dan makna. Salah satunya sebagai penanda wilayah atau batas suatu kelompok maupun komunitas. Sedangkan Menhir di Gereja Bethel, adalah menhir (batuan tegak) symbol perpisahan leluhur.
Penjelasan tersebut memberi perspektif lain terhadap cerita Watu Mpoga’a. Kisah Helmi tentang tujuh batu sebagai penanda suku-suku Pamona yang pergi, kemudian berjanji untuk kembali dan membentuk entitas baru, memiliki kaitan dengan fungsi menhir sebagai penanda kelompok masyarakat. Di titik ini, cerita lisan dan pembacaan arkeologis bertemu dalam upaya memahami jejak leluhur Pamona.
Berdasarkan sejumlah sumber, batuan yang berada di halaman Gereja Bethel merupakan batuan monolit jenis andesit, yakni batuan beku vulkanik bertekstur halus hingga sedang. Karena sifatnya yang kokoh dan tahan terhadap pelapukan, batuan andesit banyak dimanfaatkan masyarakat pada masa Megalitikum, termasuk di wilayah Sulawesi Tengah, untuk membuat berbagai tinggalan megalitik.
Selanjutnya, tim Jelajah menyambangi situs geologi di Kelurahan Petirodongi. Di kawasan ini, terdapat dua jenis batuan yang tersingkap saat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Poso melakukan pembangunan jalan. Namun, makna geologis dari singkapan tersebut baru terungkap ketika tim Jelajah Danau Poso edisi 2019 mengunjungi kawasan itu.
Kini, tebing curam tersebut dikenal sebagai Ketidakselarasan Petirodongi (unconformity). Ini adalah istilah geologi yang merujuk pada bidang yang menandai adanya jeda dalam rekaman pembentukan batuan. Situs ini merupakan salah satu dari 24 situs yang telah ditetapkan sebagai warisan geologi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Yunita Tara’u, pengajar Bahasa Inggris di SMA Harmoni Sulewana, mengaku kagum dengan fenomena geologi tersebut. Selama ini, ia kerap melintasi jalan itu, tetapi tidak mengetahui makna yang tersingkap di balik tebing tersebut.

Dengan antusiasme yang sama, Reza Permadi kembali mengajak peserta menyelami peristiwa geologi yang berlangsung jutaan tahun lalu. Kali ini, perhatian mereka tertuju pada Ketidakselarasan Petirodongi. Di balik tebing setinggi sekitar delapan meter itu, ada jejak waktu yang hilang dalam rekaman pembentukan batuan.
Pendiri Atourin, platform pariwisata digital di Indonesia, itu meminta peserta mengamati tebing dan menyebutkan apa saja yang mereka lihat. Beragam jawaban pun bermunculan. Ada yang menunjuk garis pembatas antara lapisan atas dan bawah, garis miring, hingga perbedaan warna yang mencolok. Ada pula yang hanya melihat tanah miring yang mulai terkikis erosi.
Reza kemudian menjelaskan bahwa tebing tersebut memperlihatkan dua lapisan batuan sedimen yang berbeda. Lapisan bawah merupakan Formasi Puna, sedangkan lapisan atas adalah Formasi Lage. Perbedaan kedua lapisan itu menjadi petunjuk untuk membaca proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut.
Namun, penjelasan itu belum sepenuhnya menjawab rasa ingin tahu peserta.
“Maksudnya Bang?” Eril, guru SDN Dulumai meminta penjelasan lebih lanjut.
Pertanyaan itu membuka jalan bagi Reza untuk menjelaskan makna ketidakselarasan (unconformity), yakni adanya jeda dalam rekaman geologi yang menunjukkan bahwa proses pembentukan batuan tidak berlangsung secara berkesinambungan. Fenomena ini menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami sejarah pembentukan lanskap Poso, termasuk bentang alam di sekitar danau purba ini.
Kepiawaian Reza menjelaskan istilah-istilah geologi dengan bahasa sederhana kembali diuji saat tim ekspedisi tiba di puncak tertinggi Pada Marari, Desa Taipa. Puncak ini adalah spot terbaik untuk menyaksikan bahwa sesar Poso itu ada. Permadi mengajak peserta berputar 360 derajat mencari penanda sesar bagian barat yang pernah terjadi jutaan tahun lampau.
Salah satu petunjuk yang menonjol adalah bidang segitiga (triangular facet), yakni bentang alam berupa lereng yang membentuk bidang menyerupai segitiga.

“Bentukan ini dapat menjadi petunjuk adanya sesar yang mengangkat atau menggeser blok batuan,” jelas Permadi.
Persinggahan terakhir tim Jelajah Danau Poso adalah Watu Yano, di Desa Dulumai, Kecamatan Pamona Puselemba. Lima perahu yang membawa rombongan mengitari batu yang kerap disebut batu apung itu. Dari kejauhan, Watu Yano tampak seperti mengapung di permukaan danau. Batu ini hanya terlihat saat air surut dan kembali tersembunyi ketika air pasang.
Watu Yano juga menyimpan legenda lokal tentang seorang ibu dan bayinya. Kisah simbolis itu dituturkan Lian Gogali melalui laolita (cerita) di atas perahu. Setelah legenda disampaikan, Reza Permadi mengambil alih penjelasan untuk menguraikan jenis batuan yang secara perlahan oleh air dan mengalami pelapukan serta erosi. Proses tersebut, dalam jangka waktu panjang, dapat mengubah bentuk batuan. Sementara itu, kemunculan dan hilangnya Watu Yano dari permukaan danau berkaitan dengan perubahan tinggi muka air.
Di Watu Yano, rangkaian perjalanan Jelajah Danau Poso di danau berakhir. Perjalanan memang selesai tetapi cerita tentang peristiwa dan pembentuk Danau Poso belum selesai. Para guru harus membawa pulang pekerjaan baru. Meneruskan cerita tentang danau dan segala kekayaannnya kepada anak-anak di sekolah.
Kegiatan ini diikuti sekitar 50 penjelajah yang terdiri atas guru-guru SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Poso, tim pakar, anggota PGRI Kabupaten Poso, awak media, serta relawan mahasiswa fakultas Perikanan Universitas Tadulako. Para guru diseleksi melalui pendaftaran terbuka. Melalui perjalanan Jelajah Danau Poso, para guru diharapkan mendapatkan pengenalan, pemahaman dan pengetahuan tentang Danau Poso sehingga dapat menjadi bahan untuk membuat perangkat pembelajaran yang nantinya akan digunakan di sekolah-sekolah.
Jelajah Danau Poso adalah bagian dari rangkaian kegiatan untuk mewujudkan usulan Geopark Poso, sebuah konsep pembangunan untuk pengelolaan keragaman geologi, keanekaragaman hayati, kekayaan budaya di Kabupaten Poso.
Catatan redaksi : tulisan ini adalah republikasi dari roemahkata.com dengan penyesuaian teks sesuai kebutuhannya.





