
Danau Poso dikagumi keunikan dan kekayaannya di dunia. Para peneliti bergantian datang melakukan kajian, menemukan lalu mencatat jenis biota dan fauna serta menelusuri jejak-jejak masa lalu di bentang alam Danau Poso. Hasilnya ditulis di jurnal dan dipresentasikan di berbagai forum daerah, nasional dan dunia.
Sayangnya, pengenalan dan pemahaman yang mendalam tentang Danau Poso belum dimiliki oleh generasi muda di Poso.
“Selama ini yang kami ketahui hanya sekedar bahwa Danau Poso adalah danau terdalam ketiga di Indonesia. Itu saja”
Pengakuan ini disampaikan Erfan, salah seorang siswa di sebuah SMA yang berlokasi di tepi Danau Poso.
Kenyataan kurangnya pengenalan dan pemahaman yang cukup tentang Danau Poso sehingga bisa mendorong sebuah kebutuhan untuk menjaga dan melestarikannya mendesak Institut Mosintuwu menyelenggarakan kegiatan Danau Poso di kelas sekolah. Kegiatan ini berniat untuk membawa topik pembicaraan tentang Danau Poso di kelas-kelas sekolah di Kabupaten Poso.
Setelah sebelumnya menyelenggarakan seri webinar keragaman geologi, webinar keanekaragaman hayati and webinar kekayaan budaya, Institut Mosintuwu bersama Sulawesi Keepers menggelar Jelajah Danau Poso. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari melibatkan guru-guru dari jenjang SD, SMP, dan SMA, serta PGRI Kabupaten Poso. Pelibatan guru-guru dalam kegiatan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat kekayaan alam dan budaya Danau Poso.
Direktur Institut Mosintuwu, Lian Gogali, mengatakan kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan aspek geologi, keanekaragaman hayati, dan ekosistem Danau Poso, termasuk kekayaan budaya dan tradisi masyarakat di sekitarnya. Melalui para guru, kedua lembaga berharap minat sekolah untuk mempelajari Danau Poso semakin tumbuh.

Menurut Lian, jelajah ini juga diarahkan untuk mendorong penyusunan modul pembelajaran tentang Danau Poso. Pengetahuan yang diperoleh peserta selama kegiatan akan menjadi bahan awal penyusunan draf modul mengenai geologi, keanekaragaman hayati, ekosistem, serta kekayaan budaya dan tradisi danau tersebut, yang ditujukan bagi siswa SD, SMP, SMA dan sederajat.
Lian melanjutkan,
“Kegiatan ini diharapkan memberi dampak berkelanjutan bagi dunia pendidikan di Kabupaten Poso. Para guru diharapkan membagikan pengetahuan dan pengalaman selama jelajah kepada siswa di kelas. Kami membayangkan, apabila pengalaman dan pengetahuan di Jelajah Danau Poso bisa dibagikan dalam seperangkat materi pembelajaran, maka, para siswa di Kabupaten Poso akan punya motivasi dan alasan mengapa perlu menjaga dan melestarikan Danau Poso”
Ia juga berharap sekolah-sekolah mendukung pengembangan modul pembelajaran khusus tentang Danau Poso. Melalui modul tersebut, siswa dapat mempelajari geologi, keanekaragaman hayati, ekosistem, serta kekayaan budaya dan tradisi yang menjadi keunikan danau itu.
Saat rombongan tiba di Desa Bancea, wartawan berbincang dengan sejumlah guru mengenai peluang memasukkan pengalaman Jelajah Danau Poso ke dalam pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah masing-masing. Tanggapan mereka beragam.
Sebagian guru optimistis hal itu bisa dilakukan, bergantung pada kreativitas dan inovasi guru dalam mengembangkan materi pembelajaran. Namun, ada pula yang pesimistis. Mereka menilai, pengembangan muatan lokal tentang Danau Poso akan menghadapi kendala karena Dinas Pendidikan Kabupaten Poso telah menetapkan Bahasa Daerah Pamona sebagai materi muatan lokal. Perubahan atau penambahan materi, menurut mereka, sulit dilakukan jika tidak disetujui oleh Dinas Pendidikan.

Desi Restu Pangesti, pengajar SDN Toyado, Kecamatan Lage, menilai Jelajah Danau Poso berpotensi membekali siswa dengan pengetahuan lokal yang selama ini belum banyak mereka dapatkan di kelas. Namun, ia belum bisa memastikan bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran. Menurutnya, pengembangan materi muatan lokal (mulok) perlu dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan.
“Tapi saya sendiri setuju kalau segera dimasukkan dalam muatan lokal, ” katanya.
Ani Dako, mantan pengawas Dinas Pendidikan Poso yang kini menjadi pengurus PGRI Poso, menilai cerita rakyat Pamona mendesak untuk dikembangkan sebagai bahan ajar muatan lokal, terutama untuk pendidikan karakter anak.
“Legenda rakyat cocok untuk pendidikan karakter. Sepertinya ini mendesak dilakukan,” ujar Ani.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penerapannya tidak dilakukan secara terburu-buru. Perlu ada proyek percontohan (pilot project) sebelum program tersebut ditetapkan sebagai kebijakan.
Pandangan berbeda disampaikan Muhamad Amirudin, guru SDN 6 Kasinguncu. Ia menilai pengembangan materi baru berpotensi berbenturan dengan muatan lokal yang telah berlaku di sekolah.
“Akan ada benturan. Mulok sekolah dan mulok yang ini, hasil perjalanan,” katanya.
Menurut Amirudin, materi hasil Jelajah Danau Poso masih perlu ditawarkan kepada Dinas Pendidikan, sementara muatan lokal Bahasa Pamona telah lebih dahulu disahkan. Namun, ia melihat peluang untuk mengintegrasikan pengetahuan tentang danau ke dalam pembelajaran yang sudah ada.

Amirudin menjelaskan, sebagian porsi pembelajaran intrakurikuler dapat dikembangkan melalui inisiatif sekolah dengan persetujuan kepala sekolah. Menurutnya, ruang tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk mengenalkan pengetahuan tentang Danau Poso kepada siswa.
“Saya kira jatah ini bisa jadi pintu masuk, asal kita mau saja,” katanya.
Sementara itu, Yunita Tara’u, pengajar di SMA Harmoni, Sulewana, mengaku takjub dengan pengalaman selama jelajah.
Baginya, perjalanan tersebut bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman batin yang berkesan.
Ia terkesan dengan cerita rakyat yang sarat pesan moral dan penjelasan tentang proses geologi yang membentuk Danau Poso. Menurut Yunita, pengetahuan semacam itu tidak ia temukan dalam buku-buku kebumian yang umum digunakan di sekolah.
Ia juga menilai metode belajar langsung di situs-situs geologi dapat menumbuhkan kesadaran kritis siswa. Salah satu pengalaman yang membekas adalah ketika Reza Permadi menjelaskan proses tektonik di Gua Pamona yang berkaitan dengan terbentuknya Danau Poso.
“Menakjubkan,” serunya.
Di pengujung kegiatan Jelajah Danau Poso, Direktur Institut Mosintuwu, Lian Gogali, mengajak peserta menulis rencana sederhana yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing, ada atau tanpa otorisasi lembaga di atasnya.

Para guru diminta merancang kegiatan sesuai dengan kapasitas sekolah dan mencari cara untuk mengintegrasikan pengetahuan tentang Danau Poso ke dalam pembelajaran yang sudah berjalan.
Gagasan itu mendapat sambutan dari sejumlah peserta. Salah seorang guru menilai pengembangan materi tersebut bergantung pada kreativitas dan inovasi guru di sekolah. Pengetahuan tentang geologi, arkeologi, hingga satwa endemik Danau Poso, misalnya, dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran Bahasa Pamona yang telah menjadi muatan lokal.
“Ini soal kreativitas dan inovasi kita saja di sekolah. Saya kira tidak ada masalah. Tinggal diintegrasikan dengan mulok yang sudah ada. Misalnya, mulok Bahasa Pamona, tetapi materi bahasannya soal geologi dan arkeologi atau hewan endemik danau,” ujarnya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan memasukkan pengetahuan tentang Danau Poso ke dalam kurikulum. Melainkan memastikan pengalaman selama jelajah tidak berhenti pada para guru saja. Pengetahuan itu perlu diteruskan kepada siswa agar mengenal, memahami dan ikut menjaga kekayaan alam serta budaya di lingkungan sendiri.
Catatan Redaksi :
Tulisan ini adalah republikasi dari roemahkata.com dengan beberapa penambahan informasi tanpa mengubah substansi.





