
Sore itu angin danau berhembus kencang membuat udara menjadi dingin. Namun ruangan beratap rumbia dengan konstruksi bambu di Dodoha Mosintuwu terasa sangat hangat. 15 anak muda perempuan sedang bertemu untuk pertama kali. Belum ada perkenalan tapi tidak ada rasa sungkan. Semua sedang berusaha untuk mengakrabkan diri dengan bekerjasama menyiapkan ruang yang akan ditempati bersama untuk belajar bersama selama dua hari.
Berusia 17 tahun hingga 25 tahun, para perempuan muda ini berasal dari Lape, Tokorondo, Pamona, Didiri, Behoa, Pada, Gintu. Panggilan Sekolah Perempuan yang membuat mereka berkumpul.
Hari pertama bertemu, mereka saling berkenalan dengan cara yang tidak biasa, melalui kerjasama spontan, mendirikan tenda dan memasak.
Ada 6 tenda yang disiapkan untuk di isi 2-3 orang. Mereka semua harus bekerjasama mendirikan tenda. Umumnya diantara mereka belum punya pengalaman mendirikan tenda untuk kemping. Tanpa saling bertanya nama dan asal desa mereka mulai memasang tenda dengan saling bertanya bagaimana caranya. Ada yang memulai dengan merangkai tiang tenda, yang lain membentangkannya. Sesekali saling menengok ke tenda yang lain untuk melihat teknik pemasangan. Beberapa kali gelak tawa terdengar saat beberapa peralatan tenda dipasang terbalik.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk mendirikannya dengan sempurna meskipun sudah dibantu dengan melihat panduan di Youtube. Setelah tenda terpasang, barang masing-masing dimasukkan kedalam. Masing-masing memilih tenda berdasarkan desa asal karena sudah saling mengenal. Sampai tahap ini, mereka belum saling menanyakan nama meskipun sudah bekerjasama.
Cara berkenalan selanjutnya, mengolah bahan makanan yang sudah disiapkan. Bahan makanan sebagian besar berasal dari para ibu anggota Sekolah Pembaharu Desa yang sehari sebelumnya telah mengadakan kelas di tempat yang sama.
Di atas meja kayu, terdapat sayuran, berbagai rempah, ikan, tahu, tempe dan daging ayam. Tugas mereka adalah menentukan menu, memasak bersama, dan menyajikannya. Tanpa saling bertanya, para peserta ini bekerjasama mengolah. Susi yang berasal dari Desa Pada, Kecamatan Lore Selatan bekerjasama dengan Fadila yang berasal dari desa Lape, Kecamatan Poso Pesisir membuat sayur. Jessica dari Desa Gintu Kecamatan Lore Selatan bersama Mustika dari Desa Tokorondo membuat sambal. Magdalena yang berasal dari Desa Behoa, kecamatan Lore Tengah bersama Balqis dari Tokorondo menggoreng ikan dan memasak sup ayam. Sri (Tokorondo), Audina (Tokorondo), Ilma (Lape), Yulivis (Tentena), Arlin (Pamona), Selvia (Pamona) mempersiapkan peralatan dan meja makan berbentuk huruf U di tengah ruangan.

Saat makanan sudah dihidangkan diatas meja, makan bersama menghangatkan suasana. Mereka menikmati kebersamaan dan makanan yang diolah bersama.
Ada hal menarik diluar soal kerjasama spontan tanpa berkenalan secara formal saat itu. Perempuan muda yang seluruhnya adalah Gen Z ini tidak banyak memperhatikan gadget. Lebih banyak beraktifitas dengan orang-orang yang baru mereka kenal, padahal waktu itu, mereka belum membahas aturan selama mengikuti kelas.
Martince Baleona, koordinator program pendidikan Institut Mosintuwu mengatakan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu kali ini diseleksi dari 50 pendaftar dari berbagai wilayah di Kabupaten Poso. Ada perbedaan antara Sekolah Perempuan kali ini dan Sekolah Perempuan yang sebelumnya diorganisir Institut Mosintuwu di awal tahun berdirinya organisasi.
Sekolah Perempuan pertama kali dilaksanakan Institut Mosintuwu sejak 2009 hingga 2016 dengan kelas-kelas tambahan hingga tahun 2018. Sekolah Perempuan saat itu fokus pada upaya membangun perdamaian pascakonflik Poso dan mendorong partisipasi perempuan sebagai pemimpin dalam desa. Dalam rentang tahun 2009 – 2016 itu, terdapat tiga angkatan peserta dengan jumlah lulusan Sekolah Perempuan sebanyak 523 orang. Anggota Sekolah Perempuan saat itu diikuti oleh para ibu rumah tangga dari kelompok masyarakat akar rumput dari 80 desa.
Tanggal 21 – 23 Mei 2026, kelas Sekolah Perempuan kembali dibuka. Kali ini beranggotakan anak muda perempuan dengan jumlah yang terbatas.
Membuka Ruang untuk Keterlibatan Perempuan Muda dalam Pembangunan di Desa
“ Sekolah Perempuan muda Mosintuwu dirancang untuk menjadi ruang belajar bersama para perempuan muda untuk membangun pemikiran kritis perempuan terhadap dinamika ekonomi, sosial, budaya dan politik” ujar Lian Gogali.
Terdapat tiga topik utama yang dibicarakan di kelas Sekolah Perempuan. Konstruksi diri, konstruksi pasar dan masyarakat, serta keadilan ekologi atau ekofeminisme.

Lian menambahkan, ketiga topik ini menjadi topik yang sangat penting bagi anak muda perempuan untuk menjadi mempunyai pemikiran kritis terhadap fenomena sosial dengan pertama-tama melakukan dekonstruksi atas konstruksi masyarakat dan pasar pada diri mereka sebagai perempuan. Bukan cuma kritis, diharapkan kekritisan yang dibangun di kelas Sekolah Perempuan dapat mendorong inisiatif dan aktivisme merespon ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.
Perempuan muda di Kabupaten Poso, dalam pandangan Lian Gogali, memiliki keinginan kuat untuk bisa terlibat dalam pembangunan, namun tidak diberikan akses dan ruang serta pengetahuan yang cukup untuk bisa berperan aktif dan tidak bias gender. Juga posisi perempuan yang selama ini didominasi oleh konsep masyarakat yang sangat patriakhi sehingga menyulitkan perempuan untuk berperan dalam pembangunan serta mengekspresikan diri.
Namun dia menilai, cara berpikir itu bukan salah perempuan, tetapi karena sistem yang memang sedang bekerja di masyarakat yang perlu diurai atau bahkan dibongkar. Apalagi, dalam percakapan dengan para perempuan muda di desa, Institut Mosintuwu menemukan bahwa perempuan muda lebih sering dilihat hanya sebagai calon ibu, bukan seorang warga negara yang bisa ikut merancang masa depan yang akan terjadi di desa.
Minimnya keterlibatan perempuan masih menjadi tantangan utama, apalagi perempuan muda salah satu contohnya adalah bagaimana perempuan penting untuk turut serta menentukan arah pembangunan Poso pasca konflik. Sebab hal itu menyangkut akses kesehatan, pendidikan, kesehatan mental, dan akses air bersih.
Lian menekankan, ketika perempuan tidak dilibatkan secara luas dalam proses-proses pembangunan mulai dari perencanaannya, maka pemenuhan hak-hak dasar warga menjadi terabaikan. Dia menilai, kepemimpinan daerah yang kini dijabat bupati yang merupakan seorang perempuan tidak menjamin adanya perspektif adil gender dalam konsep pembangunan Poso.
Dia mencontohkan di bidang kesehatan, hingga kini belum ada fasilitas cuci darah di rumah sakit Poso. Padahal tidak sedikit warga daerah ini yang sangat membutuhkannya secara rutin untuk bisa bertahan hidup selama mungkin.
Yang lainnya menyangkut pertanian yang sampai hari ini baru menghasilkan bahan mentah. Belum ada pengolahan lanjutan pasca panen untuk meningkatkan harga jual yang bisa meningkatkan taraf hidup petani. Hal lain yang juga dibicarakan adalah pembangunan pariwisata yang sampai saat ini belum terlihat jelas arahnya. Topik-topik kritis seperti ini menurut Lian akan dibicarakan dalam kelas-kelas Sekolah Perempuan dan Sekolah Pembaharu Desa.
Melalui Sekolah Perempuan Mosintuwu ini, ada harapan para peserta dapat secara kritis merespon dinamika yang terjadi di masyarakat pada masa kini dan masa akan datang. Keterlibatan perempuan muda secara khusus akan menentukan bagaimana masa depan dibayangkan dan dijalani lebih adil.
Upaya ini pelibatan perempuan muda dalam desa perlu dimulai dengan pertama-tama membangun kesadaran kritis untuk mampu membongkar cara berpikir bias gender yang dinormalisasi, sehingga menempatkan perempuan hanya sebagai obyek pembangunan desa. Kelas di sekolah perempuan yang khusus melibatkan perempuan muda menjadi salah satu langkah awalnya.
Membangun Solidaritas dan Kepercayaan Diri
Kelas Sekolah Perempuan yang beranggotakan anak muda perempuan baru dimulai. Pengalaman pertama bertemu dan memahami tujuan sekolah perempuan memberi kesan yang berbeda. Kelas pertama yang berlangsung selama 2 hari bagi Via memberikannya pemahaman soal solidaritas. Via membagikan pengalamannya setelah mengikuti kelas pertama Sekolah Perempuan. Bagi dia, tantangan terbesar sekaligus pengalaman paling berkesan justru dimulai dari kegiatan memasak bersama dengan peserta lain yang belum saling mengenal dan mengolah bahan-bahan yang terbatas.
“Kami disuruh memasak, tapi kami tidak kenal siapa yang kami percaya untuk memasak itu. Jadi semuanya mengalir, rasa percayanya mengalir padahal kami tidak tahu latar belakang masing-masing,” ungkap Via.
Sebagai orang mengaku tidak mahir memasak, Via awalnya mengira ia hanya akan menjadi penonton. Namun, kebersamaan yang terbangun meruntuhkan keraguannya. Ia diberikan kepercayaan penuh oleh peserta lain untuk ikut membantu.
“Saya merasa sangat dipercaya dan merasa diri saya dipakai (berguna-red) di sini” tambahnya.
Bagi dia, Sekolah Perempuan membuka cakrawala berpikir baru. Ia mengatakan, dikelas mendapatkan banyak istilah baru yang belum pernah ia dengar di bangku sekolah formal, salah satunya adalah konsep gender yang komprehensif.
“Sebelumnya yang saya tahu gender itu hanya tentang perempuan, hanya membahas perempuan. Tapi di kelas tadi dibahas semuanya secara lengkap. Saya menyadari wawasan saya belum sejauh itu. Sekarang saya jadi tahu dan paham bagaimana melihat tingkah laku yang berkaitan dengan gender,”katanya.
Peserta lainnya, Yessica asal desa Pada, Kecamatan Lore Selatan mengatakan salah satu momen paling berkesan baginya adalah pada sesi kelas bertajuk “Siapa Saya”. Dalam sesi diskusi ini, para peserta diminta untuk merefleksikan diri sekaligus mendengarkan penilaian objektif dari rekan-rekan sekitar mengenai personalitas mereka.

Dari sesi ini diakui Yessica cukup mengejutkannya.
“Beberapa penilaian dari teman-teman sekolah perempuan itu yang saya tidak duga. Ternyata saya seperti ini. Yang saya rasakan, saya adalah orang yang begini. Saya adalah orang yang percaya diri” katanya,
Tetapi ternyata pandangan teman-teman sekitarnya berbeda. Mereka menilai dia orang yang pemalu dan kurang percaya diri. Dari serangkaian materi diskusi di kelas, Yessica ingin membangun rasa percaya diri yang kuat.
“Saya ingin bebas mengekspresikan diri saya sendiri tanpa harus takut salah, karena di sini kami bisa saling menghargai pendapat tanpa takut dihakimi,” ujar Yesika optimis.
Kelas-kelas di Sekolah Perempuan baru saja dimulai. Pengalaman awal para perempuan muda di kelas Sekolah Perempuan menjadi tahapan baru memulai perjalanan panjang untuk mendekonstruksi diri mereka. Selama satu tahun, para perempuan muda ini akan bersama-sama berproses , menemukan dan bertumbuh.
“Saya tidak sabar mengikuti kelas selanjutnya untuk menemukan diri saya” demikian kata Via.





