Seminar Biodiversity : Mengenalkan Biodiversity Danau Poso Kepada Pelajar

0
95
Anak-anak Desa Dulumai menjelajahi keanekaragaman biodiversity Danau Poso di museum mini biota akuatik danau Poso dalam rangkaian kegiatan Festival Tradisi Kehidupan. Foto : Dok.Mosintuwu/Basrul

“Saya berharap ada tata kelola lingkungan yang baik serta cara memeliharanya, semacam sosialisasi tentang bumi, harapannya suhu bumi tetap aman dan stabil bagi kehidupan makhluk hidup, udara yang bersih dan air yang layak konsumsi kedepannya tetap terjaga”.(Citra/SMAN Harmoni)

Citra(17) adalah murid kelas XII di SMA Harmoni, sekolah yang beralamat di Desa Sulewana Kecamatan Pamona Utara. Bersama beberapa orang temannya dan didampingi gurunya mereka mengikuti seminar Biodiversity Danau Poso pada 29 November 2023. Ini merupakan bagian dari program Biosiveristy Goes to School yang digagas Institut Mosintuwu bersama Sulawesi Keepers, sebuah organisasi berisi para ahli biota yang fokus pada penelitian hewan endemik di Sulawesi.

“Secara pribadi senang sekali karena sebelumnya tidak ada kegiatan seperti ini selama sudah hampir 3 tahun di SMA. Excited juga karena banyak pengetahuan baru, cerita baru, pengalaman baru juga”kata Citra setelah mendengarkan penjelasan tentang keanekaragaman hayati di sekitar Danau Poso.

Mengenalkan kekayaan keragaman hewan dan tumbuhan di Danau Poso dan sekitarnya kepada pelajar menjadi sangat penting untuk mengeratkan hubungan dengan lingkungannya. Belasan tahun mereka bersekolah, sejak di TK hingga SMA jarang mendapat asupan pengetahuan tentang lingkungan sekitarnya. Anak-anak seperti Citra lebih mengenal ikan Paus ketimbang Bungu Masiwu. Atau mungkin lebih paham A sampai Z soal Singa ketimbang Babi Rusa. Padahal tidak ada singa di Sulawesi apalagi di Kabupaten Poso.

Baca Juga :  Geospasial, Cara Anak Muda Rencanakan Desa Membangun Paska Bencana
Seminar Biodiversity Danau Poso melibatkan para pelajar, guru dan kepala sekolah dari wilayah sekeliling Danau Poso. Foto : Dok. Mosintuwu

Akademisi Universitas Sintuwu Maroso, Meria Tirsa Gundo salah seorang narasumber di seminar ini menyebut salah satu endemik Danau Poso yakni ikan Orisias sudah menjadi salah satu hewan dengan nilai ekonomi tinggi di pasar internasional. Sementara masyarakat di tempat asal ikan ini tidak mengetahuinya.

“Di Jepang ikan Orisias sudah dibudidayakan dan dijual dengan harga tinggi”kata Meria Tirsa Gundo, dia mendapat informasi itu dari koleganya sesama peneliti di negeri Sakura. Apa yang disampaikan ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia ini menunjukkan lemahnya informasi dan pengetahuan masyarakat sekitar tentang kekayaan alam disekitarnya.

Bukan hanya kaya secara ekonomi, kekayaan Danau Poso juga dipotret ilmuwan Republik Cheko, Marketa Rejkova. Aquarist dari Ostrava Zoo dan juga pendiri Sulawesi Keepers ini menekankan pentingnya Sulawesi dalam sejarah evolusi dunia. Kepada peserta seminar dia menunjukkan sebuah buku terbitan luar negeri yang sampulnya bergambar seekor udang yang sangat indah. Ternyata itu adalah udang di Danau Poso.

“Namun kami tidak lagi membaca buku ini karena keindahan satwa yang ada di dalamnya. Kami membaca bahaya yang dialami endemik Danau ini dan harus diselamatkan”kata Marketa yang menjadi narasumber melalui aplikasi Zoom.

Baca Juga :  Burung–Burung di Danau Poso : Menjaga Ekosistem, Mengenalkan Kita dengan Arogo

Menjaga hewan endemik tetap ada di Danau Poso seperti yang diutarakan Marketa dan Sulawesi Keepers tentu tidak berkaitan dengan hitung-hitungan ekonomis, tapi lebih pada penyelamatan lingkungan. Mungkin banyak perdebatan bila diperhadapkan pada pandangan Danau Poso harus jadi sumber perekonomian semata.

Saat ini Sulawesi Keepers, menurut Marketa sedang mempersiapkan buku tentang Danau Poso berdasarkan hasil penelitian yang mereka lakukan selama ini. Dia menyebut, disini ada sekitar 20 jenis ikan eksotik, namun sebenarnya infasif dan berbahaya bagi keberlangsungan hidup ikan-ikan endemik yang asli penghuni Danau Poso.

Mengenai keterancaman ini, dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Herjayanto mengatakan setidaknya ada dua yang bisa memunahkan endemik Danau Poso, pertama belum banyak upaya budidaya yang dilakukan, kedua semakin tingginya volume sampah plastik yang masuk ke danau. Ahli ikan ini mencatat, saat ini sedikitnya ada 18 jenis ikan infasif yang sudah sangat berkembang di Danau Poso. Ikan-ikan yang dimasukkan dari luar ini memakan telur-telur dan anak ikan endemik.

Baca Juga :  Gusdurian Award, Meneruskan Teladan Gus Dur
Siswa SMP menyampaikan pertanyaan dan komentarnya dalam Seminar Biodiversity Danau Poso. Foto : Dok.Mosintuwu

Lalu bagaimana menyikapi semua ancaman berubahnya habitat Danau Poso ini? Marketa mengajak anak-anak muda untuk mengenal lebih jauh lingkungannya dengan melakukan eksplorasi, baik dengan pengamatan langsung misalnya menyelam atau snorkeling, atau melakukannya lewat foto biodiversity. Cara ini memang lebih menantang generasi milenial dan Z karena langsung merasakannya.

“Kami menunggu. Jika sekolah mau melakukannya. Kita juga bisa membuka kompetisi foto Biodiversity. Kalau ada ide lain, kami terbuka”tantang Marketa kepada peserta seminar.

Pengetahuan tentang lingkungan sekitar dimana kita hidup dan upaya menjaganya memberi generasi sekarang dan akan datang kesempatan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dimasa depan. Kita sekarang sedang bersiap menghadapi salah satu dampak itu yang justru mulai menyasar anak-anak muda, Eco-Anxiety, sebuah gejala kecemasan yang mulai muncul ditengah krisis iklim yang mulai menjalar disekitar kita. Bukan tidak mungkin, gejala kecemasan terus menerus akibat krisis iklim ini akan menghampiri generasi muda kita jika tidak mengenal apa yang ada dilingkungan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda