Anak Muda Tinggalkan Desa, dari Petani Jadi Buruh

0
1183

“Ini cengkeh banyak yang tidak bisa di panen karena kurang tenaga kerja. Sekarang sudah jarang di kampung anak muda, banyak yang pigi kerja di tambang”(Odi/petani di Sawidago)

Saat pandemi Covid-19 menggulung perekonomian dunia, pabrik ditutup, pekerjanya dirumahkan bahkan di berhentikan. Kementerian Tenaga Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, di bulan November 2020 ada 72.983 orang pekerja yang kena PHK di Indonesia. Sebanyak 10.370 orang diantaranya ada di Sulteng. Sebagian besar memutuskan pulang kampung, mencari perlindungan ekonomi dengan membantu keluarga mengolah sawah dan kebun.

Survey joobstreet Indonesia di bulan Oktober 2020 menunjukkan, 74 persen yang kena PHK itu hanya berpenghasilan rata-rata Rp 2,5 juta per bulan, persentasenya sampai 74%. Artinya mereka adalah buruh yang penghasilannya pas-pasan.

Tetapi setelah pandemi berlalu, desa sebagai tempat berlindung kembali ditinggal. Rupanya godaan menjadi buruh lebih menarik ketimbang tinggal di desa karena dianggap tidak lebih baik secara ekonomi.

Di tahun 2022 ekonomi Sulteng tumbuh mencengangkan dengan angka 11,17 persen. Dalam laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Tengah, Agustus 2022 yang diterbitkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyebutkan, penyumbang terbesar pertumbuhan ini adalah sektor industri pengolahan, pertambangan dan sektor konstruksi. Sedangkan pertanian tidak menggembirakan. Nilai Tukar Petani (NTP) naik turun tak menentu. Naiknya harga pupuk, pestisida dan herbisida, bikin daya beli petani turun. Meski masih positif, namun NTP menunjukkan penurunan. Pada triwulan-II 2022 sebesar 102,77, adapun triwulan sebelumnya sebesar 103,32. Penurunan ini bikin daya beli masyarakat secara umum juga ikut turun karena sebagian besar penduduk Sulteng adalah petani.

Laporan ini juga membuat kita tahu darimana sebagian besar pekerja tambang itu datang. Para pemuda yang pergi meninggalkan desa untuk jadi buruh di pabrik-pabrik pengolahan nikel dan bisnis turunannya di sekitar lokasi penambangan, Morowali dan Morowali Utara.

Lalu mengapa tanah pertanian di desa ditinggalkan? Laporan Keadaan Pekerja di Sulawesi Tengah tahun 2021 menunjukkan dari 3 jenis pekerjaan, kategori pertama, buruh, karyawan, pegawai. Kategori dua pekerja bebas di pertanian. Kategori tiga pekerja bebas non pertanian di pedesaan. Terlihat upah pekerja di sektor pertanian yang paling rendah.

Baca Juga :  Di Antara Aku dan Engkau, Ada Kita : Kisah Kami dari Poso

Perginya orang-orang muda dari desa untuk menjadi buruh di industri tambang bikin jumlah petani menurun dan semakin menua.

Data Sakernas yang dirilis oleh BPSmenunjukkan,  dari tahun 2015 ke 2018 terjadi penurunan proporsi anak muda yang bekerja di sektor pertanian dari 44,81 persen menjadi 35,91 persen. Turun rata-rata 2,97 persen per tahun.

Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) tahun 2018 juga menunjukkan, dalam 5 tahun terakhir, persentase petani Sulteng yang berusia di bawah 45 tahun turun sebesar 5,27%. Sedangkan, persentase petani di atas 54 tahun naik sebesar 2,46%. Artinya yang muda semakin enggan bertani. Hilangnya anak muda dari sektor pertanian akan jadi masalah serius dimasa mendatang.

Data Sakernas juga menunjukan, proporsi anak muda Sulawesi Tengah yang bekerja di sektor pertanian hanya 34,78%, bandingkan dengan yang bekerja di sektor nonpertanian sebesar 65,22%. Bisa jadi dimasa mendatang, jumlah buruh akan terus bertambah sedangkan petani mungkin akan jadi buruh tani saja.

Sudah Kasi Masuk Lamaran?

Sepekan di Bahodopi, kabupaten Morowali. Kota kecil yang terkenal diseluruh penjuru dunia karena nikelnya itu sudah sibuk sejak pukul 05:00. Warung-warung nasi sepanjang jalan desa Lalampu, Fatufia hingga Labota sudah buka, menawarkan sarapan bagi 61 ribu orang pekerja. Lengkingan knalpot bercampur klakson membangunkan yang masih terlelap. Ribuan pekerja ber helm kuning memenuhi jalan sempit, bergegas menuju pabrik di kompleks Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) desa Fatufia dan Labota tempat dimana 44 line tungku peleburan nikel beroperasi. Kemacetan dihadapi buruh yang akan berangkat kerja dan yang pulang setiap pagi dan sore.

“Sudah kasi masuk lamaran”seorang tua bertanya saat kami bertemu di desa Fatufia, di seberang jalan depan rumahnya adalah kompleks IMIP dengan pagar tinggi berdiri. Pertanyaan seperti itu lazim kita dengar saat berbincang disana. Datang ke Bahodopi artinya kerja di pabrik.  Orang-orang tua disana bahkan hapal tahapan proses ujian penerimaan pekerja di puluhan perusahaan tambang dan turunannya.

Baca Juga :  Mengagendakan Kegelisahan di Peretas Berkumpul

“Ada empat tahapan, ujian. Yang penting jangan buta warna saja. Kalau buta warna tidak ada harapan”kata si bapak sambil menyeruput tehnya. Dulunya dia penjual ikan. Tapi sejak pabrik masuk, dia berhenti. Aktifitas puluhan tongkang dan kapal di laut Bahodopi membuat ikan pergi. Jadi nelayan tidak lagi menjanjikan.

“Semua kerja di pabrik. Kalau belum di terima di perusahaan (IMIP) untuk sementara kerja di kontraktor saja dulu sambil tunggu panggilan dari perusahaan”kata si bapak. Kontraktor yang dimaksud adalah perusahaan yang jadi penyuplai bahan baku untuk IMIP. Mulai dari penambangan Ore sampai pengangkutannya.

Seorang buruh di salah satu perusahaan kontraktor yang kami temui mengeluhkan potongan honor yang menurutnya terlalu besar. Seharusnya dia terima 6 juta rupiah per bulan. Sebagai sopir dump truck pengangkut ore, dia ceritakan potongan 60 ribu rupiah dari upah kerja hariannya sebesar 200.000. Sehingga sehari dia hanya menerima 140 ribu rupiah. Jika dikali 30 hari potongan itu sebesar 1,8 juta rupiah. Dia hanya menerima 4,2 juta rupiah per bulan.

“Itupun sering terlambat dibayar. Bos sering kasi alasan, mereka belum terima pembayaran dari perusahaan”katanya. Si pekerja ini minta nama dan perusahaan kontraktor tempatnya bekerja tidak disebutkan demi menjaga agar tidak dipecat. Setahun sudah dia bekerja di kontraktor setelah gagal dalam tes masuk di IMIP.

Dengan kondisi kerja yang tidak pasti tidak membuatnya berniat pulang ke kampungnya, Sulawesi Selatan. Baginya menjadi petani tidak menjanjikan hidup layak untuk dia dan keluarga kecilnya.  Dia memilih bertahan hidup di kos-kosan sempit bertarif 1 juta per bulan.

“Tahun depan saya coba masukkan berkas lamaran lagi ke perusahaan”katanya. Rupanya tekad dia sudah bulat untuk jadi buruh di perusahaan tambang. Dia berhitung, dengan gaji pokok plus lembur yang mencapai 7-8 juta rupiah tanpa potongan, ada tabungan untuk membangun rumah di kampungnya plus modal usaha ketika pensiun.

Informasi terakhir, dia kembali gagal diterima di perusahaan impiannya itu.

Baca Juga :  Kami, Anak Perdamaian: Suara Anak untuk Perdamaian PosoWe are the Children of Peace: Children's Voice for Peace in Post Conflict Poso
Puluhan ribu anak muda nampak bergegas menuju puluhan perusahaan tambang di Morowali. Foto : Ray Rarea

Siapa yang Akan Memanen?

“Ini cengkeh banyak yang tidak bisa di panen karena kurang tenaga kerja. Sekarang sudah jarang di kampung anak muda, banyak yang pigi kerja di tambang”ujar Odi, petani di kelurahan Sawidago, kecamatan Pamona Utara mengenai banyaknya buah cengkeh yang tidak habis di panen, termasuk buah cengkeh miliknya.

Adapun Sartin, seorang petani sawah di kecamatan Pamona Barat justru berharap anaknya tidak menjadi petani seperti dia. Dia lebih suka anaknya bekerja diluar desa. Keinginannya muncul karena kesulitan-kesulitan setiap proses mengolah sawah. Pupuk langka, kadang hilang dan seringkali mahal karena terpaksa membeli yang non subsidi. Belum lagi harga obat-obatan pendukungnya juga semakin mahal.

“Biarlah kami orang tua yang susah begini. Anak-anak sekolah tinggi-tinggi supaya kerja di kantor bukan di sawah seperti kami ini”katanya. Pernyataan seakan jadi petani tidak punya harapan untuk hidup lebih baik. Tentu ada pengalaman bertahun-tahun dibelakang ibu Sartin ketika mengolah tanahnya. Hasil panen tidak selalu menggemberiakan, kadang hanya untuk menutupi hutang biaya pengolahan.

Menyekolahkan anak setinggi mungkin adalah cita-cita setiap orang tua. Demikian juga Sartin banyak petani lainnya. Dari kerja keras di kebun dan sawah, mereka biayai uang SPP hingga tempat tinggal anaknya dari hasil panen. Hanya sedikit yang berharap kelak anaknya melanjutkan mengolah kebun dan sawah.

Dalam penelitian berjudul Partisipasi Tenaga Kerja Pemuda di Sektor Pertanian di Sulawesi Tengah yang ditulis Eka Nurdiyanto dkk, anak muda yang bekerja di sektor pertanian dengan tingkat pendidikan rendah selalu lebih besar dibandingkan proporsi pemuda dengan tingkat pendidikan tinggi di setiap kabupaten/kota.

Penelitian ini juga mengungkapkan, kesimpulan dari penelitiannya adalah peluang pemuda untuk bekerja di sektor pertanian cenderung akan semakin berkurang ketika tingkat pendidikan ayahnya semakin tinggi. Orang tua yang punya pendidikan tinggi  cenderung menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Artinya, tidak akan menjadi petani yang mengolah kebun atau sawah.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda