Nasib Petani Kita : Berpindah-pindah Tanaman, dari Nilam ke Porang lalu apa?

0
258
Karnaval hasil bumi di Festival Mosintuwu. Foto : Dok.Joshua Marunduh

“Nanti akan dikasi modal 75 juta satu orang untuk satu hektar lahan. Akan ada pendamping sampai berhasil”(Ronal Kayori/kelompok Porang desa Soe)

Tiba-tiba warga desa-desa di Poso riuh membicarakan Porang. Ibarat kandidat di pilkada, tanaman itu dianggap akan membawa perbaikan nasib mereka, dari yang sebelumnya tidak mampu melepaskan diri dari jeratan ijon menjadi petani kaya dan berdasi.

Nilam dan kini Porang adalah kelanjutan dari perubahan cara pandang petani. Dahulu masih fokus pada sumber-sumber bahan pangan yang bisa langsung dimakan sendiri ke tanaman yang berorientasi ekspor seperti kakao, nilam dan kini mulai hadir porang. Hadirnya tanaman baru di tanah-tanah petani kita mulai mengganti sumber-sumber tanaman pangan seperti pisang, singkong . Bahkan kini pelan-pelan menggeser padi.

Pembicaraan yang ramai tentang Porang dikarenakan informasi, yang menanam dan sudah terdaftar dalam kelompok akan diberikan modal uang 75 juta per hektar. Pengembalian modal ini konon akan dicicil dari hasil panen. Meski menggiurkan. Belum ada contoh hasil panen yang berhasil di Kabupaten Poso.

Porang, plus daya tarik modal penanamannya muncul dalam kegiatan lapangan Bupati Poso di desa Soe kecamatan Pamona Puselemba bulan Februari 2022.

“Nanti akan dikasi modal 75 juta satu orang untuk satu hektar lahan. Akan ada pendamping sampai berhasil”kata Ronal Kayori, seorang petani di desa Soe kecamatan Pamona Puselemba. Dia sudah membentuk kelompok yang akan menanam tanaman yang di Jawa disebut Iles-iles itu.

Bernama latin Amorphophallus muelleri, Porang merupakan tanaman jenis herbal yang bisa tumbuh hingga setinggi 1.5 meter. Tumbuh subur di hutan tropis seperti Indonesia. Porang bisa bertahan hidup pada jenis tanah apa pun di ketinggian 0 sampai dengan 700 mdpl. 

Tumbuhan yang masuk dalam suku talas ini punya banyak kegunaan. Mulai dari bahan baku tepung (konnyaku), penjernih air, kosmetik, pembuatan lem dan jelly. Hasil panennya tentu untuk di ekspor ke beberapa negara Asia khususnya Asia Timur seperti Jepang dan China.

Baca Juga :  Pembongkaran Yondo mPamona, Penghilangan Warisan Nilai Sintuwu Maroso

Bila kampanye tanaman baru ini berhasil, besar kemungkinan dia akan menggusur padi atau jagung apalagi sayuran yang saban tahun tumbuh di kebun warga. Tapi apakah Porang bisa mensejahterakan petani? 

“Kita coba saja dulu. Karena inikan hal baru dan kita juga tidak dirugikan”celetuk seorang petani di desa Soe. 

Sementara itu, dalam peluncuran penanaman Porang di Desa Tonusu, Bupati Poso sempat bahwa program budidaya porang sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat ( Lihat : Bupati Poso dorong petani tanam Porang ) . Kesejahteraan yan dimaksudkan berkaitan dengan nilai ekonomi, bukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan .

Euforia seperti Porang bukan hal baru. Sebelumnya ada Nilam (Pogostemon cablin Benth) penghasil minyak atsiri. Di tahun 2019 hingga 2021 lalu, tanaman berbau harum ini mudah dijumpai hingga di dipinggir jalan desa-desa di pinggir Danau Poso hingga ke Poso Pesisir. 

“Ada pupuk khusus. Kalau tidak pake itu bisa juga, tapi hasilnya biasa-biasa saja. Sebaiknya pakai pupuknya”kata papa Arnol, seorang petani di Pamona. Dua kali dia panen, selalu mengeluh minimnya hasil. Sebabnya, biaya penyulingan sangat mahal. Pemilik penyulingan selalu dapat lebih banyak dari petani. Contohnya, satu kali penyulingan biayanya 600 ribu rupiah. Coba bayangkan, 100 kg daun plus batang Nilam yang sudah kita keringkan akan mengeluarkan sekitar 2 sampai 3 liter minyak. Harga minyak Nilam di pasaran Poso berkisar 410-420 ribu rupiah. Jadi kalau hasil panen kita menghasilkan 2 litar Atsiri itu berarti 840 ribu rupiah (bila harga 420 ribu). Dikurangi ongkos suling 600 ribu. Kita akan dapat 240 ribu rupiah. Penyulingnya untung besar. Mungkin ada petani yang untung kalau lahannya luas. tapi berapa orang petani kita yang punya lahan diatas 5 hektar?

Baca Juga :  Megilu , Menuntut Perlindungan Budaya dan Alam Poso

Papa Farel, seorang petani padi pernah mencoba-coba. Dia hanya penasaran karena orang sekampung ditambah medsos membicarakan hebatnya tanam Nilam, meskipun dia dan banyak petani lain tidak tahu apa produk lanjutan dari minyak yang dihasilkan.

Dia bersungut-sungut pulang dari penyulingan. Uang yang didapatkan hanya 250 ribu rupiah. Sementara biaya suling 600 ribu. Dia banting stir, tanam jagung.

“Lebih ada gunanya tanam jagung, harga stabil, tidak butuh banyak perawatan”katanya.

Papa Farel dan papa Arnol kini mahfum, informasi harus di telaah matang-matang. Tanaman yang tidak dekat dengan budaya bertani turun temurun ternyata tidak selalu menjanjikan keuntungan. 

Presiden Joko Widodo turut mempromosikan Porang. Di akun instagramnya, @jokowi, tanggal 19 Agustus 2021, memposting soal Porang. Dia bilang, tanaman ini bakal jadi komoditas ekspor andalan baru dari Indonesia jika kita serius menggarapnya. Tidak lupa mantan Walikota Solo ini membujuk petani dengan mengatakan,  satu hektar lahan dapat menghasilkan 15-20 ton. Pada musim tanam pertama para petani dapat menghasilkan hingga Rp40 juta dalam 8 bulan. Nilainya sangat besar, pasarnya masih terbuka lebar. (Lihat disini https://www.instagram.com/p/CSwSZ5thLnV/)

Pemerintah kita memang selalu melihat uangnya yang pertama. Tapi ketahanan pangan di desa bisa hancur bila yang ditanam bukan lagi yang bisa dikonsumsi setiap saat. Itu sebab mungkin mengapa mie instan mulai jadi makanan pokok di desa.

“Hasilnya tidak seindah informasinya. Untuk satu hektar butuh sekitar 30 ribu bibit tanaman. Harga bibit 5 ribu saja biayanya sudah 150 juta. Petani berat membeli bibitnya. Apalagi, masa tanam hingga panen sekitar 9 bulan. Banyak petani merasa berat”kata Suratno Teguh, Kepala Dinas Pertanian kabupaten Poso.

Soal Porang yang menjanjikan ini, Suratno melihatnya mirip kabar tentang Nilam. 3 tahun lalu banyak petani terutama di wilayah kecamatan Poso Pesisir hingga Poso Pesisir Utara berbondong-bondong menanamnya. Euforia Nilam mendorong munculnya tempat-tempat penyulingan.

Baca Juga :  Poso Darurat Kekerasan Seksual, Pentingnya Pendidikan Tubuh Anak

Belakangan, animo menanam Nilam surut. Selain hasil yang tidak seindah informasinya. Rupanya harganya tidak stabil, lebih banyak petani rugi ketimbang untung. 

Mulai meninggalkan padi dan tanaman pangan lain dan mencari tanaman dengan nilai jual tinggi plus waktu panen yang singkat kini jadi tujuan banyak petani. Sulitnya mendapat pupuk plus jeratan hutang menjadi sebab paling banyak. Sawah mulai ditinggal. Kebun-kebun kini berisi pohon durian yang setahun sekali panen.

Laporan BPS tahun 2021 menunjukkan turunnya produksi padi di kabupaten Poso dalam 3 tahun terakhir. Pada tahun 2018 sawah-sawah di Kabupaten Poso menghasilkan 138.559,8 ton gabah kering giling (GKG). Pada tahun 2019 turun menjadi 118.785,1 ton dan tahun 2020 turun lagi menjadi 96.610,65 ton. 

Begitu juga luas panen padi, terus turun. Bila tahun 2018 padi dihasilkan di 30,334,00 hektar sawah, maka tahun 2020 luasnya tinggal 24,270,00 ha. berkurang 6,064 ha hanya dalam 3 tahun. Produksi Gabah Kering Giling (GKG) juga berkurang dari 118,8 ribu ton di tahun 2020 menjadi 96,6 ribu ton di tahun 2020 berkurang 22,2 ribu ton.

Seiring penurunan luas panen itu, meskipun belum ada kajian yang dilakukan para peneliti, namun menurut BPS angka kemiskinan bertambah. Tahun 2019, jumlahnya mencapai 39,92 ribu dan tahun 2020 sebanyak 40,20 ribu. 

Kemana arah petani jika kebijakan pangannya meninggalkan pangan lokal dan berpindah-pindah jenis tanaman karena menggantungkan pada program? Menjadi petani di Indonesia termasuk Poso tidak lagi seindah lagu yang sering dilantunkan dengan bangga ” Orang tani, orang merdeka, orang yang kucinta, orang yang termasyur di seluruh Indonesia”

link  bacaan :

Pemkab Poso luncurkan penanaman porang.

Bagikan
Artikel SebelumnyaDari Dodoha, Mereka Berbagi Cerita tentang Desa
Artikel SelanjutnyaRanta, Sisa Peradaban Lembah Bada yang Hampir Hilang
Pian Siruyu, jurnalis dan pegiat sosial. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak konflik Poso. Sejak 2005 aktif menulis di surat kabar lokal dan media online. Sekarang aktif menulis tentang isu ekonomi, sosial, politik di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah untuk media Mosintuwu termasuk berita di Radio Mosintuwu

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda