Dari Dodoha, Mereka Berbagi Cerita tentang Desa

0
359
Suasana Desa Tuare, Kecamatan Lore Barat. Foto : Dok.Mosintuwu/RayRarea

PAGI beranjak siang. Sinar mentari yang menghunjam garang, terhalang awan membuat suasana terasa adem. Ranting pohon longkida bergontai diterpa angin pagi.  Dari kejauhan, perahu nelayan membelah permukaan air yang tenang menandai aktivitas warga yang terus menanjak. Dari sebuah bangunan yang ditopang sekira enam ribu bilah bambu, meriung 30-an orang. Ada anak muda, laki dan perempuan dewasa. Mereka dari beragam latarbelakang.

Sesaat kemudian, dari bangunan ikonik Dodoha terdengar lirik lagu Desaku Yang Kucinta, gubahan Liberty Manik. Koor suara membelah langit sunyi di pagi itu, terdengar tak benar-benar padu. Namun itu tak mengurangi kegairahan mereka. Dipimpin Martintje Belona, lirik sederhana tentang desa ini – mengingatkan kembali soal kehidupan desa yang penuh romansa.

Lagu lawas gubahan komponis kelahiran 21 November 1924 itu, menandai sebuah prosesi sederhana pembukaan pelatihan jurnalistik, bertema cerita dari desa yang digagas Mosintuwu Institut, Kamis 24 Maret 2022. Cerita dari desa adalah tema besar yang dipilih oleh Ketua Mosintuwu Institut Lian Gogali. Pemilihan tema itu diakuinya bukan tanpa alasan.Bagi Lian, cerita dari desa tidak bisa ditinggalkan. Cerita dari desa harus disampaikan. Bagi dia, narasi tentang desa tak sekadar untuk memberi inspirasi pada orang-orang. Di samping itu, warga desa sendiri dikuatkan dengan ragam khasanah yang ada di desa.

Baca Juga :  Kerusakan Ekosistem dan Harga Mahal yang Dibayar Generasi Masa Depan

Sebagai wujud untuk menghidupkan kembali cerita dari desa, pagi itu berkumpulah tua muda, laki dan perempuan. Mereka berkumpul untuk mengasah kemampuan dalam pelatihan menulis dan fotografi. Dua cara ini dianggap efektif untuk mengabarkan kepada semesta, seperti apa geliat warga desa yang syarat nilai-nilai dan kebajikan yang mentradisi secara turun temurun di sana. ”Lulusan dari pelatihan ini harus mampu menulis tentang semua hal di desanya,” ungkap peraih penghargaan Coexist Prize dari Yayasan Coexist, Amerika itu.

Para peserta berasal dari Sekolah Keberagaman, Sekolah Rumah Kita dan Sekolah Pembaharu Desa. Gerakan pendidikan non formal berbasis desa yang dimotori oleh Mosintuwu Institut tersebar di berbagai desa dan kecamatan di Kabupaten Poso.

Sekolah Keberagaman dijalankan anak-anak muda energik. Mereka mengumpulkan tokoh-tokoh agama untuk merefleksikan kondisi sosial ekonomi, budaya dan politik di desa dalam perspektif agama. Dua ormas agama yang direfresentasikan Al-Khairaat dan Sekolah Tinggi Teologia GKST Tentena, kini mulai berjalan. STT GKST Tentena membuat Mosikola Teologi. Orams-ormas ini membuat sekolahnya masing-masing. Kelak, keduanya akan dipertemukan dalam forum diskusi.

Lian bilang, di sekolah ini mereka tidak membahas bagaimana cara masuk surga. Namun bagaimana menjadikan surga ada di bumi dengan membincang tuntas segala hal di bumi. Cerita-cerita di desa, seperti lingkungan, kemiskinan dan beragam problem yang membelit kehidupan, dibicarakan dalam perspektif teologi.

Baca Juga :  Cerita Kami, Cerita Perdamaian

Lian melanjutkan, selain dari Sekolah Keberagaman, peserta pelatihan datang pula dari Sekolah Rumah Kita. Ini adalah sekolah informal untuk anak muda di desa. Desa dimaknai sebagai rumah bersama – maka itu sebutannya menjadi rumah kita. Di Sekolah Rumah Kita, anak-anak muda harus merawat tradisi budaya di desa itu. Di sini, ungkap peraih penghargaan Indonesian Women Of Change 2015 itu, menjaga masa depan desa bukan diserahkan kepada orang tua. Melainkan pada anak muda. Kader-kadernya tersebar mulai dari Desa Dulumai, Pamona, Salukaia, Pamona, Mapane, Pindedapa dan Tokoronda serta Malitu. Di Pamona desa yang dinamika warganya beranjak menuju kota – kekhasannya harus dijaga agar tidak tercerabut dari tradisi budayanya.

Suasana workshop jurnalisme dan fotografi di Dodoha Mosintuwu, 23 – 25 Maret 2022. Foto : Dok. Amanda

”Anak muda harus berbicara soal desanya. Dalam kaitan itulah workhsop jurnalistik menjadi sangat penting dan perlu. Ada banyak cerita yang harus disampaikan dalam bentuk berita maupun foto,” ungkapnya memotivasi.

Lalu peserta terakhir dari Sekolah Pembaharu Desa. Di sekolah ini, perempuan dan pemerintah desa bersama kelompok masyarakat, bekerja bersama untuk memahami, menata seperti apa orientasi desa di masa depan.

Ia berhasrat agar cerita dari desa adalah gabungan dari perspektif agama, anak muda dan perempuan maupun pemerintah desa. Perspektif yang beragam ini harus ada di dalam cerita dari desa oleh orang desa. Selama ini kehidupan di desa dijejali informasi soal keruwetan Jakarta dan isu nasional. Sedangkan informasi yang terjadi di desa tidak pernah tersampaikan. Padahal banyak persoalan di desa tak kalah penting untuk disampaikan ke publik dalam bentuk tulisan dan gambar.

Baca Juga :  Anasa, Duta Biota Air Bersih Sungai dan Danau Poso

Bangun pagi di desa adalah rahmat yang tak terkira. Di sana yang akan menyapamu bukan pemandangan motor atau debu. Namun udara bersih dan aroma pepohonan yang basah oleh embun. Pun, hidup tak habis untuk berpikir mau makan di mana. Tak perlu pula khawatir tentang boraks atau pestisida. Cukup makan kesegaran yang disajikan bumi setiap hari. Dan itu ada di desa.

William Penn – seorang penulis Inggris bilang, ”kehidupan desa itu lebih indah. Karena di sana kita bisa melihat pekerjaan Tuhan. Sedangkan di kota hanya pekerjaan manusia”. Sejalan dengan itu, bait-bait lagu Desaku Yang Kucinta mengirim pesan kuat pada pemuja kehidupan moderen untuk tidak lagi memunggungi desa. ***

Catatan Redaksi : Tulisan ini merupakan republikasi dari roemahkata.com atas seijin penulis, dalam rangka mendukung gerakan literasi Poso dan kampanye kabar baik dari Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda