Bertutur Bencana dan Merekam Peristiwa Sehari-Hari Lewat Film

0
536

“Di film kami menemukan cara bertutur yang tepat untuk merekam peristiwa”(Sarah Adilah/produser)

Kamis malam 13 April 2023 sekitar pukul 19:30 wita puluhan anak muda meriung dibawah atap Dodoha Mosintuwu. Mereka menonton 5 judul film produksi sinekoci.org kolaborasi antar sineas dengan beberapa organisasi dan komunitas di Kota Palu Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. 4 film bercerita tentang hidup dan pengalaman warga dengan bencana. 1 Film bercerita tentang hidup pasangan belia yang sudah menikah dan punya 1 anak

Di selebaran pemberitahuan ditulis, pemutaran film pukul 19:00 wita, namun alam meminta ditunda dengan mengirimkan hujan lebat disertai angin kencang, lalu Listrik padam. Hujan baru reda 1 jam kemudian. Listrik kembali menyala. Muhamad Ifdhal dan Sarah Adilah, keduanya produser dari film yang akan diputar jadi narasumber diskusi.

Film pertama baru tayang dilayar pukul 21:45 wita, judulnya Saya Disini Kau Disana. Bercerita tentang hubungan manusia dengan buaya di Kota Palu yang punya sejarah panjang. Film ini bercerita tentang dampak rusaknya ekosistem sungai  dan teluk Palu yang bikin buaya akhirnya konflik dengan manusia.

Di film ini ada tokoh bernama La Sakumbili yang bersaudara kandung dengan buaya. Buaya itu mengiringi perahu yang membawa jenazah saudaranya, Lasakumbili dari Sarudu (desa di kabupaten Mamuju Utara, Sulbar) menuju ke Banawa (kabupaten Donggala). Kisah manusia bersaudara dengan buaya memang sangat banyak kita dengarkan dituturkan kakek dan nenek.

Poster film dokumenter kompilasi “Hidup dengan Bencana”

Ada pula peristiwa pembunuhan seekor buaya tahun 1930 silam. Saat itu seorang prajurit KNIL, Mr Fischer menembak mati La Goroba, nama yang diberikan warga Palu saat itu kepada seekor buaya raksasa seukuran Gerobak (Goroba). Hingga sekarang, keturunan Fischer yang ada di Palu dilarang mandi di sungai Palu karena khawatir mendapat balas dendam dari turunan La Goroba.

Beberapa tahun terakhir, warga Kota Palu semakin sering bertemu buaya. Biasanya saling curiga. Sejak 2018 hingga 2022, ada 7 orang warga yang digigit buaya ketika sedang mencari ikan dan seorang lainnya saat sedang berenang di pantai Teluk Palu. 3 orang diantaranya meninggal dunia sepanjang April-Mei 2022. Peristiwa itu seakan menghilangkan hubungan baik manusia dengan buaya yang diceritakan dalam film yang di sutradarai Taufiqurrahman itu.

Baca Juga :  Pohintuwo, Merespon Bencana di Lembah Bada

Kisah hubungan baik manusia dengan buaya juga diceritakan di Danau Poso. Di pinggir Danau Poso, desa Pasir Putih tidak jauh dari sungai Kodina, kecamatan Pamona Selatan, ada sebuah makam beratap seng yang masih terpelihara. Didalamnya bersemayam seekor buaya yang dahulu dihormati warga.

“Kalau dulu orang tua kami mau menyeberang di Kodina, pukul saja air tiga kali, panggil namanya. Tidak lama dia muncul, kasi menyeberang” Seorang ngkai (kakek) di desa Pandayora, kecamatan Pamona Selatan menceritakan tentang buaya ini kepada kami tahun 2019 lalu. Sampai hari ini warga Pandayora masih sering menyeberangi sungai Kodina untuk pergi menangkap ikan beramai-ramai (Mosango) di muaranya, pinggir Danau Poso.

Buaya yang kehilangan habitatnya di sepanjang Sungai Palu akhirnya mencari tempat baru dimana manusia juga mencari hidup ditempat itu. Konflik manusia dengan buaya akhirnya sulit dihindarkan. Mengembalikan ekosistem sungai dan pantai jadi solusi damainya.

Film Turun Ke Atas yang diproduksi bersama Nemu Buku kita di ingatkan oleh Mama Paja atau nene Ratna tentang pentingnya mengetahui sejarah sebuah wilayah. Bersama anak dan cucunya, nene Ratna adalah bagian dari ribuan penyintas bencana 28 September 2018 yang menghancurkan rumah dan kampung mereka, Balaroa.

Suasana menonton film “Hidup dengan Bencana ” di Dodoha Mosintuwu. Foto : Dok. Mosintuwu

“Itu patahan tanah dinamakan Kampung Petana itu. Kampung Duyu itu artinya longsor. Baru dibangun lagi huntap disitu”tutur Nene Ratna di film yang disutradarai Rizki Syafaat Urip itu. Dia hendak mengingatkan tentang pentingnya mengetahui sejarah sebuah wilayah. Jika toponimi Duyu adalah wilayah yang longsor, lalu mengapa ribuan penyintas likuefaksi dan tsunami ditempatkan disana? bukankah bencana akan selalu berulang.

“Saya paling telaten mengikuti film Turun Ke Atas karena mengingatkan bahwa (bencana) itu masih akan terjadi”kata Kurniawan Bandjolu, peneliti keanekaragaman hayati di Danau Poso yang ikut menonton. menurutnya, apa yang digelisahkan Nene Paja sama seperti kesedihan Abdullah,akademisi Universitas Tadulako yang proses launching bukunya berjudul Tsunami Di Teluk Palu Dan Sesar Palu Koro, tahun 2017 batal karena banyak pihak menganggap buku itu menakuti investor.

Baca Juga :  Ini Kisah Akan "Hilangnya" Ikan dan Nelayan Danau Poso

Ini juga sama persis ketika hasil rekomendasi tim Ekspedisi Palu Koro yang menyebutkan akan datangnya gempa besar dari Sesar Palu Koro diabaikan pemerintah provinsi Sulawesi Tengah. Setahun kemudian, dua hasil kajian itu terbukti.

Dua film lainnya tidak kalah menarik. Tanigasi yang diproduksi Sinekoci dan Institut Tana Sanggamu, bercerita tentang Rusdin dan Wardia, sepasang suami istri penyintas bencana 28 September 2018 di Desa Sumari kecamatan Sindue kabupaten Donggala yang alih-alih berharap bantuan, justru mulai mengolah lahan kebunnya, menanam kopi, kakao, kelapa, sayuran hingga nilam hanya 3 hari setelah bencana dahsyat itu. Kisah film ini mencerminkan watak sebenarnya masyarakat kita yang tahan banting menghadapi bencana.

Adapun film Timbul Tenggelam produksi Sinekoci dan Sikola Pomore bercerita tentang desa Tompe, kecamatan Sirenja, Donggala yang punya sejarah mengalami beberapa kali tsunami dan bagaimana masyarakat diwaktu lalu dan masa kini meresponnya. Kisah sehari-hari desa ini dituturkan lewat Sarifah (10) yang mengalami sendiri guncangan gempa disusul tsunami. Dari kakeknya yang sudah berumur 70 tahun dia mengetahui tahun 1968 kampungnya pernah disapu tsunami yang jauh lebih parah dibanding tahun 2018.

Sarah cerita, kakek Sarifah yang ada di film Timbul Tenggelam itu baru sadar, dia tidak pernah cerita ke anak cucunya bahwa pernah mengalami tsunami tahun 1968. Sebagai orang Kaili dia merasa pamali menceritakan itu karena khawatir, jika diceritakan maka peristiwa itu akan berulang. Dia tahu kemudian, meski menutup cerita itu, 50 tahun kemudian, tepatnya 28 September 2018, tsunami kembali menerjang kampungnya. Pengalaman itu berulang.

Semua film ini punya kesamaan, merekam keseharian warga, dari pagi hingga pagi lagi. Dari dapur ke teras, cerita dengan tetangga dan apa yang dikerjakan tokohnya.

Muhamad Ifdhal ( Produser Dampak Sinekoci ) dan Sarah Fadilah ( Produser Sinekoci ) dalam diskusi bersama paska pemutaran film . Foto : Dok.Mosintuwu

Awalnya Sarah Adilah hanya berniat merekam segala aktifitas warga tanpa tendensi mau bikin film. Banyaknya cerita yang didapatnya dari dokumentasi itu tampaknya membuat dia berpikir untuk dibagikan kepada khalayak sebagai bahan belajar dari bencana. Dia kemudian membawa ide itu ke in.doc 2019. in-docs.org yang mendukung ide Sarah Adilah dan Muhamad Ifdhal adalah organisasi nirlaba yang meyakini kekuatan film dokumenter untuk memulai percakapan, menyentuh perasaan, membuka pikiran, dan menggerakan perubahan.

Baca Juga :  Menyeberangi Danau; Merajut Persahabatan Melalui BukuBooks Across Border

“Di film kami menemukan cara bertutur yang tepat untuk merekam peristiwa ini”kata Sarah. Awalnya dia punya ide memproduksi film panjang. Ide itu urung dilakukannya. Dia berpikir, lebih baik melibatkan komunitas untuk bersama-sama menggarap film pendek.

Produser dampak dari 4 film yang diputar, Muhamad Ifdhal bercerita, dia baru sadar betapa rentannya kita dengan bencana justru setelah proses penggarapan film. Hal itu mendorongnya melakukan riset tentang mitigasi bencana. Hasil riset itu memperkaya isi film-film itu.

Yang menarik, baik Sarah maupun Ifdhal tidak menjadikan festival sebagai tujuan utama penggarapan film.

“Untuk apa film kalau ke festival, kami fokus untuk putar ke masyarakat” kata Sarah. Sedangkan Ifdhal bilang tujuan kampanye film untuk mengubah mindset, cara pandang masyarakat tentang sebuah hal. “Menurut saya, film itu bukan saja soal teknis, tapi cerita”kata Ifdhal. Baginya film bisa jadi alat untuk mengukur sejauh apa pengetahuan dan kesadaran kita tentang tempat dimana kita tinggal.

Film jadi salah satu media pendidikan dan pengingat efektif saat ini. Apalagi di masyarakat Sulawesi Tengah yang indeks literasinya masih rendah, hanya 31,55 menurut indeks aktifitas literasi membaca tahun 2019, urutan 29 dari 34 provinsi di Indonesia.

Pembuatan film dengan latarbelakang sehari-hari ini menjadi lebih menarik karena dikerjakan bersama dengan komunitas. Ada Forum Sudut Pandang, Institut Tana Sanggamu, Nemu Buku, Sikola Pomore. Keterlibatan komunitas ini memungkinkan adanya interaksi yang berkelanjutan paska produksi film . Setidaknya dengan memikirkan kembali kehidupan sehari-hari yang ada dalam masyarakat perlu untuk dilihat secara kritis. Dengan demikian film menjadi cara kita melihat dengan kritis apa yang terjadi sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda