Di Bahodopi Morowali, Ikan Menghilang, Nelayan Jadi Ojek Laut

0
1314
Nelayan Bahodopi menjadi tukang ojek laut karena ikan-ikan menghilang. Foto : Ray Rarea

“Kalau dulu, ikan saya pancing dari bawah kolong rumah ini”(Karmanto/nelayan Bahodopi)

Bahodopi, sebuah wilayah di kabupaten Morowali jadi tempat yang paling banyak dibicarakan di Sulawesi Tengah, bahkan dunia dalam 5 tahun terakhir sejak nikel jadi primadona dagangan global, terutama untuk memenuhi keinginan orang-orang kaya memiliki mobil listrik.

Kecamatan dengan 12 desa itu menjadi tujuan utama para pencari kerja yang tergiur tawaran gaji hingga belasan juta rupiah. Disinilah Ore, tanah yang mengandung laterit dan limonit diolah jadi berbagai jenis produk untuk keperluan industri, salah satunya mobil listrik. Dengan luas wilayah tambang mencapai 200.000 hektar, puluhan hingga ratusan perusahaan tambang berbondong-bondong mencari ijin menggali di bukit hingga pesisir pantainya. Ijin-ijin ini kemudian mengubah Bahodopi dari kampung nelayan jadi kota pertambangan. Nelayannya berganti pekerjaan jadi buruh pabrik atau pengojek.

Dalam kesempatan mengunjungi sahabat di desa Keurea kecamatan Bahodopi, saya mencoba menjelajahi beberapa desa, sambil berwisata dan berbincang dengan warga disana.

Waktu menunjukkan pukul 9:30 wita, udara panas menyengat ketika kami tiba di dusun Kurisa, desa Fatufia, kecamatan Bahodopi, Morowali . tiga orang perempuan sedang tawar menawar ikan. Kurisa adalah sebuah dusun nelayan berada tepat dihalaman pabrik peleburan nikel kawasan Indonesia Morowali industri Park (IMIP) satu industri pengolahan Nikel terbesar di Asia Tenggara.

Awalnya kami mengira ikan-ikan yang dijual warga hasil tangkapan nelayan dari laut sekitar kampung. Ternyata tidak. Ikan-ikan itu datang dari Sainoa, sebuah pulau Sulawesi Tenggara. Laut Kurisa sudah tidak menyediakan ikan untuk nelayan.

Nelayan Bahodopi menjadi tukang ojek laut karena ikan-ikan menghilang. Foto : Pian Siruyu

Kemana Perginya Nelayan?

Saat berdiri di dermaga kecil tempat tambatan perahu, seorang bapak menyapa “mau mancing ?” Sesaat terdengar dia mengajak mancing di laut. Lelaki berumur sekitar 40 tahun ini ternyata tukang ojek laut. Kerjanya mengantar wisatawan  memancing diatas kapal tongkang bermuatan Ore atau Batu Bara yang buang jangkar disekitar pelabuhan PT. IMIP atau berwisata ke pulau Langala yang berjarak sekitar 500 meter dari dermaga.

Ojek laut mengantar wisatawan yang umumnya pekerja industri nikel di Bahodopi yang ingin memancing. Para penggemar mancing itu diantar ke kapal tongkang yang sedang parkir sekitar 500 meter sampai 1 kilometer dari pantai. Tarif yang dipasang 50 ribu sekali jalan tergantung jarak. Mereka akan dijemput lagi untuk pulang.

Ojek Laut jadi pekerjaan baru sebagian nelayan Kurisa dan desa-desa lain di Bahodopi sejak tahun 2017. Saat itu pabrik peleburan Nikel milik 11 perusahaan yang mayoritas dari China yang ada di kawasan IMIP mulai beroperasi. Menarik puluhan ribu tenaga kerja termasuk warga sekitar.

Baca Juga :  Peresmian PLTA Poso, Duka Bagi Petani, Peternak, Nelayan, Penambang Pasir hingga Budaya Danau Poso

Bukan hanya karena datangnya pekerjaan baru yang bikin jumlah nelayan berkurang drastis. Kehadiran kapal-kapal tongkang dan kapal-kapal raksasa lainnya di laut Morowali menghancurkan terumbu karang, rumah segala jenis ikan.

Jutaan kubik air limbah panas dari smelter dialirkan langsung ke pantai Kurisa. Panasnya jelas membunuh ikan. Itu penyebab tidak ada lagi ikan disini.

Di depan kampung yang padat dengan kos-kosan ini, cerobong asap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) bikin dusun ini juga selalu diselimuti kabut tebal. Ohya, kos-kosan memang menjamur di hampir setiap jengkal tanah disini. Wajar saja, data BPS tahun 2023 menunjukkan, ada 50.171 orang butuh tempat tinggal. Mayoritas adalah buruh tambang.

Kami menyewa ojek laut untuk jalan-jalan, melihat dari dekat tongkang-tongkang raksasa dan belasan kapal ukuran besar yang buang jangkar disekitar pelabuhan IMIP. Disebelah kanan ada Pulau Langala yang indah berpasir putih.

Asli  yang membawa kami lincah mengarahkan kemudi perahunya meliuk diantara tongkang dan kapal yang terlihat seperti jadi penguasa yang merongrong laut. Keadaan ini membuat nelayan harus berbagi ruang yang selama ini jadi sandaran hidup sebelum tambang Nikel merubah semuanya.

“Sejak 2017 sudah tidak banyak ikan disini karena terumbu karang rusak, baru limbah pembuangan, coba lihat panas airnya ini”katanya. Saya menurunkan tangan, mencelupkan tangan ke air. Terasa panas, bukan hangat. Dari mana sumber panas ini?

Kondisi perairan laut di Bahodopi yang tercemar limbah. Foto : Dok. Ray

Buih-buih terbentuk dari sebuah saluran air selebar kurang lebih 8 meter terletak diantara hutan mangrove dan bangunan di kompleks pelabuhan IMIP. Disinilah air pembuangan dari smelter dialirkan langsung ke laut. Inilah salah satu sumber panas air laut di pantai Kurisa.

Hilangnya ikan mengubah hidup warganya dari nelayan jadi buruh pabrik dan pengemudi ojek laut. Usai keliling laut, disebuah rumah terpampang plang kertas bertuliskan ‘Menjual Kopi Susu, Kopi Biasa’. Kamipun singgah, sambil ngopi mendengarkan cerita masa lalu Kurisa dari tuan rumah, kami memanggilnya papa Idul. Selain jualan kopi, dia juga pengemudi ojek laut.

Papa Idul bercerita banyak hal, mulai dari sejarah pembangungan desa Fatufia sampai pengalaman lebih dari 30 tahun jadi nelayan disini.

Baca Juga :  Hari (Gerakan) Perempuan Indonesia: Kritik terhadap Hari Ibu

Menurut dia, dahulu banyak warga desa di kecamatan Bahodopi bisa naik haji berkat hasil tangkapan ikan di laut sekitar desa Fatufia saja. Kesejahteraan nelayan di desa ini tergambar dari cerita itu.

“Dulu itu saya yang mancing, ibu yang jual ikannya, kalau sudah ada modal 300 ribu saya pergi ke pulau Langala disitu terkumpul orang memancing, kalau disitu dulu banyak ikan”tutur Papa Idul. Bahkan, dari kolong rumahnya, dia bisa dapat memancing ikan-ikan untuk makan sehari-hari.  Dari hasil penjualan ikan, istrinya bisa menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Saking kayanya laut Kurisa, papa Idul menunjuk kolong rumahnya.” Kalau dulu, ikan saya pancing dari kolong rumah ini”katanya. Ikan-ikan karang seperti Baronang dan Bobara berseliweran disana, sebelum perusahaan mengeksploitasi laut mereka.

Sekarang, meski laut sudah rusak, jumlah orang desa-desa diwilayah ini yang naik haji atau Umroh tetap banyak. Ibu haji, istri papa Idul yang nimbrung  ngobrol mengabarkan, ada sekitar 150 orang di kampungnya akan berangkat Umroh. Meski tidak seluruhnya, tapi sebagian besar bisa bayar biaya Umroh itu dari jual tanah ke perusahaan tambang atau pemodal yang mau bangun kos-kosan.

Ojek laut nampaknya menjadi profesi baru bagi nelayan disekitar tempat tinggal Papa Idul. Ini semua dilakukan bukan tanpa sebab, mulai dari ikan sudah semakin menjauh ditambah semakin masifnya aktivitas pertambangan nikel yang berdampak pencemaran di wilayah pesisir dan laut, jumlah rumah tangga nelayan di Bahodopi terus mengalami penurunan.

Di dusun Kurisa, beberapa rumah sudah difungsikan juga menjadi kost kostan untuk menampung buruh perusahaan.

Bukan hanya Kurisa. Sebagian warga desa Bete-Bete di kecamatan Bungku Selatan juga menjadi ojek laut. Memasuki jalan desa menuju dermaga, kami dicegat Salmin. Awalnya kami mengira ia adalah seorang penjaga desa itu, ternyata ia menawarkan  jasa Ojek Laut. tepat di halaman depan rumahnya.

Sebuah papan ukuran 30×30 sentimeter dipasangnya di pagar kayu rumahnya bertuliskan  informasi lokasi tiga tempat wisata berikut tarifnya. Ada Koloolaro, Lemompusu, air terjun Bahomumpa. “untuk sekali antar ketempat wisata dihargai 35 ribu, dan minimal 5 orang sekali berangkat”katanya, dia mempersilahkan kami duduk dulu untuk menimbang mau pergi ke lokasi yang mana.

Di sekitar dermaga desa terdapat banyak warga yang juga berprofesi sebagai ojek laut. Bahkan, ada sebuah bangunan yang menyediakan jasa khusus untuk ojek laut beserta informasi berupa poster dan spanduk.

Baca Juga :  Musyawarah Perempuan Desa : Bersuara untuk Perdamaian dan KeadilanWomen Village Forum : Speak Up for Peace and Justice

Dalam perjalan laut menuju Kololaro, lokasi wisata berjarak kurang lebih 10-15 menit, saya tidak melihat aktivitas nelayan ikan, yang ada hanya perahu yang mengantarkan wisatawan lalulalang. Padahal data BPS tahun 2015 menyebutkan, di desa ini ada 1.131 orang yang berprofesi sebagai nelayan.

Perumahan nelayan di Bahodopi yang sekarang tidak lagi menjadi nelayan. Foto : Dok.Mosintuwu/Ray Rarea

Ditimpa Polusi dan Penyakit

Perubahan lingkungan yang drastis ini dipicu oleh polusi udara akibat operasional PLTU. Angin membawa abu batubara bersama nitrogen oksida dan sulfur dioksida melewati jendela kos-kosan dan rumah lalu terhirup warga. Ini bikin jumlah penderita penyakit infeksi pernapasan akut (ISPA) juga naik. Riset yang dilakukan Anto Sangadji dkk tahun 2017-2018 menunjukkan, jumlah kunjungan warga ke puskesmas Bahodopi dengan keluhan ISPA tahun 2018 sebanyak 2.500 orang. Jumlah ini lebih tinggi dibanding 2017 yang mencatat jumlah keluhan yang sama sebanyak 1.800 an orang.

Banyaknya penyakit yang berkaitan dengan pernapasan dan paru-paru diprediksi akan terus bertambah diwilayah ini seiring banyaknya pembangkit PLTU dioperasikan untuk dukung produksi Nikel. Sebagai contoh, PLTU milik beberapa perusahaan seperti SMI, GCNS dan ITSS dan pabrik peleburannya yang ada di IMIP masing-masing menggunakan lebih dari empat juta ton dan 920.000 ton batubara.

Masalah besar lain yang muncul dari pembangkit listrik tenaga batu bara di IMIP adalah polusi udara. Selain sulfur dioksida dan nitrogen oksida, abu batubara juga dimuntahkan, meskipun tidak begitu banyak dilepaskan ke atmosfer seperti yang disebarkan oleh angin ke rumah- rumah di sekitarnya. Ini sangat mengganggu karena partikelnya lebih halus dari pasir pantai dan bisa sangat berbahaya jika terhirup.

Selain ISPA, Puskesmas Bahodopi, gejala penyakit TBC juga meningkat. Dikutip dari paper berjudul Road to Ruin : Chalenging the Sustainibility of Nickel-Based Production of Eletric Vehicle Batteries, upaya menekan peningkatan penyakit akibat polusi udara dilakukan IMIP dengan memasang electrostatic precipitator (ESP) di pembangkit listrik tenaga batu bara, pabrik kiln dan pengering, dan fasilitas pendukung lainnya untuk mengumpulkan abu batubara. Namun,  ini terbukti tidak efektif dalam mengendalikan penyebaran partikel polutan ke area sekitarnya. Menghadapi keluhan warga, beberapa perusahaan memutuskan untuk menyaring abu batubara menggunakan jaring, yang lagi-lagi tidak efektif karena partikel halus masih melewati lubang besar mereka.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda