Menyeret Agamawan Peduli Lingkungan

0
53
Wilayah kompodongi dari udara , direklamasi Poso Energy bersamaan dengan pengerukan sungai Poso. Foto : Dok. Umum

TIDAK banyak tokoh agama yang mengkhotbahkan tema lingkungan. Nyaris jarang mendengar dan menyaksikan kalangan agamawan mengeritik korporasi perusak lingkungan. Sementara ayat-ayat bertema lingkungan berserakan di kitab-kitab suci di agama manapun. Urusan lingkungan seolah menjadi wilayah tak terjamah kalangan agamawan. Padahal daya rusak yang ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan terhadap umat tak kalah mengerikannya. Industri berbasis lahan, walau menawarkan keuntungan ekonomi saat bersamaan mereka juga menjadi perusak lingkungan. Menumpuk untung dan menciptakan kengerian di atas lingkungan yang dieksploitasi. Maka mendekati isu lingkungan dengan perspektif kitab suci sepertinya ikhtiar yang perlu dicoba. Ini antara lain, benang merah yang mengemuka pada diskusi teologi kontekstual pembebasan lingkungan yang berlangsung di Dodoha, Tentena Jumat 11 November 2022.

”Tidak ada” planet lain: saya pilih bumi “adalah tema yang sengaja dipilih untuk mendorong kalangan agamawan lebih peduli lingkungan. Diskusi ini menghadirkan tokoh-tokoh yang relevan untuk membincangkan peran agama dalam perlindungan alam. Di antaranya, Prigi Arisandi peneliti ESN dan Ecoton, tim dari Kopernik, Teolog Lady Mandalika dan Pendeta Yombi Wuri, Mahasiswa calon pendeta dari Sekolah Tinggi Teologia Tentena dan jurnalis serta sejumlah pendeta di Tentena menjadi audiensnya.

Teolog Lady Mandalika mengawalinya dengan menukil kisah Keluarga Hosea dalam Kitab Perjanjian Lama, sebagai contoh konkret teks isu lingkungan dalam kitab injil. Ia melanjutkan, alam adalah ciptaan Tuhan yang juga mencerminkan keagungan Tuhan. Gerakan melawan kerusakan lingkungan seperti yang dilakukan oleh komunitas di Poso dan Sumba merupakan bentuk upaya mempertahankan solidaritas dan kekerabatan hidup bersama alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Baca Juga :  Alkhairat - Institut Mosintuwu Bersama Membangun Damai di Poso

Dalam konteks kerusakan lingkungan, menurut dia, komunitas beragama harus terlibat aktif. Misalnya, menghentikan kerusakan lingkungan dengan berbagai aksi maupun gaya hidup ramah lingkungan. Perlu mengembangkan spiritualitas ugahari (sederhana-bersahaja) dan mengembangkan pemahaman iman serta teks kitab suci yang peduli lingkungan. Teologi pembebasan lingkungan dalam tradisi Kristen, tambah Lady, bisa dilacak pada Alkitab Perjanjian Lama Mazmur 19 : 2 “langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya”. Selanjutnya bisa dilihat pada Mazmur pasal 8 ayat 1 – 4, tentang “keagungan Allah tercermin dalam ciptaanNya”.

Pendeta Yombi Wuri tampil berikutnya. Ia menggebrak dengan mengajak audiens memeriksa nalar pemuka lembaga agama di daerahnya. Ada banyak problem warga gereja yang perlu dibela. Namun masalah yang dihadapi umat menguap begitu saja. Nyaris tak pernah ada suara pembelaan dari orotitas gereja.

”Sekadar mengunjungi dan mendoakan umat yang mata pencahariannya rusak oleh perilaku korporasi saja tidak pernah,” ujarnya telak.

Maka ia pun mengajak audiens, khususnya mahasiswa STT Tentena membekali dirinya dengan pengetahuan soal lingkungan yang memadai. Kelak, jika menjadi pemimpin dan panutan umat di gereja, bisa merasakan suasana batin warga gereja yang dirugikan oleh korporasi. Kemudian memberikan mereka penguatan iman – bahkan yang terbaik adalah mengadvokasinya. Namun yang terpenting katanya, tidak ikut-ikutan mengamini kemauan pemodal yang merugikan umat. Diakuinya, ini pekerjaan rumah besar bagi pemimpin umat, menyusun silabus dengan pendekatan isu lingkungan yang kuat.

Baca Juga :  Poso Bangkit : Hentikan dan Cegah Kekerasan Pada Perempuan dan Anak
Peserta diskusi menyimak paparan peneliti Ecoton Prigi Arisandi, di Dodoha – Tentena, Jumat 11 November 2022. Foto : Amanda

Menurut dia, membekali tokoh agama dengan isu lingkungan sangat mendesak dilakukan saat ini. Eksploitasi alam Danau Poso secara serampangan yang hanya memberhadapkan kekuatan civil society, seperti tokoh adat dan organisasi nonpemerintah melawan kekuatan korporasi tidaklah cukup. Kekuatan kolaborasi semacam itu, perlu diperkuat dengan lembaga berbasis agama. Mantan Wakil Sekretaris GKST dan ketua STT GKST ini berharap, sekali kelak tercipta kekuatan kolaboratif antara, tokoh adat, lembaga gereja, organisasi non pemerintah, sehingga tercipta orkestra gerakan advokasi lingkungan yang solid, kokoh dengan daya tekan yang kuat.

Advokasi lingkungan yang juga dibicarakan adalah sampah plastik sekali pakai. Prigi Arisandi, penerima Goldmen Environment Prize, menunjukkan bahaya mikroplastik. Menggunakan mikroskop khusus, Prigi menunjukkan temuan mikroplastik dari danau Poso. Atas temuan tersebut,  para pemuka agama membicarakan kebiasaan-kebiasaan penggunaan wadah plastik sekali pakai dalam ibadah baik dalam bentuk minuman kemasan maupun tas kresek untuk membungkus makanan.

“Mau praktis” cetus Pdt. Herlina dari Soe, menceritakan alasan sebagian besar jemaat dalam menggunakan plastik sekali pakai. Apalagi mendekati hari raya, tambahnya. Penggunaan sampah plastik sekali pakai menumpuk dalam kegiatan-kegiatan peribadahan. Ajakan untuk memulai advokasi lingkungan di lingkungan kegiatan peribadahan dengan mengurangi hingga menghentikan penggunaan plastik sekali pakai , menutup diskusi teologi kontekstual pembebasan lingkungan.

Baca Juga :  Pasar Organik : Warisan Leluhur Kita

Teologi kontekstual pembebasan lingkungan dengan menghadirkan setidaknya delapan pembicara yang terbagi dua sesi, adalah ejawantah Mosikola Teologi yang dikembangkan Mosintuwu Institut bekerjasama dengan STT GKST Tentena. Direktur Mosintuwu Institut, Nerlian Gogali bilang, teologi ini adalah membincangkan peran agama dalam perlindungan lingkungan. Mendorong tokoh agama mengambil bagian dalam penyelamatan lingkungan hidup. Mengajak tokoh agama membicarakan tanah, air dan hutan dalam perspektif agama.

“Teologi kontekstual saja tidak cukup, teologi yang kontekstual juga harus membebaskan” pungkasnya.

Redaksi : Tulisan telah dimuat di Roemah Kata tanggal 17 November 2022 seijin penulis dengan judul :”Teologi Kontekstual Pembebasan Lingkungan , Menyeret Agamawan Peduli Lingkungan”. Paragraf kedua terakhir ditambahkan oleh redaksi.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda