Mampasimbaju, Merawat Legasi Pitarah di Tengah Gempuran Masa

0
77

PAGI hari. Di hari kesepuluh November 2022. Di Dodoha. Di Tepi Danau Poso, angin bertiup perlahan. Seorang perempuan sepuh berjalan gontai. Seketika tangannya sigap memegang tali ndatu’u yang melilit kepalanya. Ikat kepala berkelir merah itu, nyaris lepas diterpa angin pagi. Ia berhenti sesaat. Pandangannya menyapu ruangan yang didominasi perabotan bambu dan rotan itu. Sesaat kemudian ia menuju kursi di baris kedua dari belakang. Mengibas dedebuan yang melekat, lalu duduk tenang di sana. Dia adalah Syamsiah Tinumbu (60). Tokoh adat perempuan asal Desa Tokorondo, Poso Pesisir. Tak lama berselang, sejawatnya para tokoh sepuh dengan busana kebesaran berkelir kuning, merah dan keemasan memadati ruangan di Dodoha, Mosintuwu Institut di Jalan Yosi Kecamatan Pamona Puselemba.

Hari itu, para tetua adat dari belasan desa di Kabupaten Poso berkumpul. Mereka datang karena diliputi kegelisahan dan kecemasan. Gelisah karena tradisi yang terancam hilang digerus waktu. Cemas karena generasi kini tak mau peduli akan warisan pendahulu mereka. Dipertemukan oleh kepentingan yang sama, jadilah para tetua adat berkumpul membicarakan bagaimana tatanan hidup di Tana Poso tempo dulu, dibicarakan kembali dan dibiasakan dalam kehidupan keseharian.

Bertajuk Mampasimbaju Ada Ngkatuwu nTana Poso, suasana pertemuan itu berlangsung gayeng. Diselingi tawa renyah namun sebenarnya mereka sedang membincang problem serius terkait Ada ngkatuwu nTana Poso. Dua puluh menit pertama dihabiskan untuk sesi mombesudu kayori (berbalas pantun dalam sastra Pamona ). Menyaksikan keasyikan dan kegairahan mereka bercakap-cakap dengan intonasi dan artikulasi yang jernih dan fasih, seolah para tetua ini menemukan kembali dunianya yang telah lama hilang.

Melihat keasyikan itu, fasilitator diskusi Lian Gogali, setengah membungkuk meminta agar sesi mombesudu kayori disetop sementara. ”Mohon maaf untuk sesi ini kita tunda sebentar dulu. Kita ada beberapa sesi penting yang kita diskusikan lagi,” ungkap Lian sambil mengatupkan telapak tangannya ke dada. Beberapa menyahut mengiyakan dengan sadar kalau orang-orang tua sudah berkayori bisa hingga larut malam. 

Tak banyak yang bisa diketahui dari percakapan di 20 menit pertama itu. Mereka menggunakan bahasa Pamona. Bahkan, sejak diskusi dimulai pagi hari hingga berakhir pukul 20.15, bahasa Pamona sangat dominan digunakan para tetua adat ini. Dalam pengantarnya, aktivis Penjaga Danau Poso yang berkolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan ini, Yombu Wuri menyebutkan bahwa pertemuan ini merupakan sebuah pertemuan yang dilatarbelakangi perjalanan Aliansi Penjaga Danau Poso saat berkeliling danau yang menemukan ada kesamaan kegelisahan yang dirasakan oleh tetua adat Pamona tentang kemana budaya Pamona akan berakhir. 

Baca Juga :  Perempuan Poso Membangun Indonesia dari Poso

Meneruskan Yombu Wuri, Lian Gogali mewakili Institut Mosintuwu yang mendukung terlaksananya pertemuan ini mengungkapkan bahwa pertemuan ini bisa jadi merupakan tonggak sejarah gerak bersama pemajuan kebudayaan tana Poso yang sudah mulai dilupakan prakteknya dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan Lian bahwa perjalanan keliling ke desa-desa bersama para tetua adat dalam 1 tahun belakangan menemukan ingatan atas praktek budaya manusia masih dipelihara oleh banyak tetua adat. Ingatan ini perlu untuk dibicarakan ulang untuk menemukan bentuknya dan bagaimana cara beradaptasi di jaman ini tanpa kehilangan nilainya.

Para pemuka adat berdiskusi dalam lima kelompok sesuai tema yang dibahas. Diskusi kelompok untuk menggali kembali tradisi kearifan Tana Poso, yang pernah dilakukan terdahulu. Kemudian dievaluasi lagi untuk mengidentifikasi tradisi apa saja yang bisa dipertahankan. Termasuk langkah apa yang harus dilakukan agar tradisi tersebut bisa dihidupkan.

 Lian Gogali (kiri) dan Iin Hokey (kanan) berbincang tentang dukungan kelancaran diskusi para pemuka adat. Dodoha, Tentena 10 November 2022. Foto : Amanda
Lian Gogali (kiri) dan Iin Hokey (kanan) berbincang tentang dukungan kelancaran diskusi para pemuka adat. Dodoha, Tentena 10 November 2022. Foto : Amanda

Lima tema utama yang  dibahas tiap kelompok antara lain, Ada Mporongo, yaitu adat dalam tradisi pernikahan. Diskusi kelompok ini dipimpin oleh Ngkai Lintu Bintiri (84), asal Desa Panjo Kecamatan Pamona Selatan. Berikutnya diskusi Ada Mpojamaa, yaitu adat dalam pengolahan alam yang dipimpin oleh Ngkai Modjanggo. Sedangkan diskusi kelompok Ada Mpoagama, yaitu adat dalam bersembahyang atau beragama dipimpin Hajai Ancura (56) dari Kelurahan Sawidago. Lalu diskusi lainnya Ada Mpombetirinai  yaitu adat yang mengatur hubungan sosial antar manusia dan antar manusia dengan alam dipimpin Bapak Sigilipu dari Kelurahan Pamona. Kelompok ke lima mendiskusikan  Ada Potaumate yaitu adat dalam prosesi kematian yang dipimpin Ngkai Sumboli dari Desa Pandayora . Kelima tradisi ini, menurut Lian, adalah kearifan lokal di Tana Poso tentang kehidupan antarmanusia dengan alam (tanah, air dan hutan). 

Fasilitator diskusi Pendeta Yuri Wombu, menjelaskan lima isu yang dibahas. Pertama soal relasi manusia dengan alam. Kemudian tradisi pertanian serta relasi kemanusiaan (egalitarianisme) dan tradisi keagamaan. Terakhir tradisi kematian. ”Dulunya lima hal ini pernah ada di Tana Poso,” kata tokoh APDP ini. Lian juga bilang, diskusi ini untuk menemukenali tradisi Suku Pamona yang nyaris hilang untuk diwariskan kepada generasi hari ini. Caranya tak hanya sekadar dituturkan. Tapi bagaimana tradisi-tradisi itu dijaga dan dibiasakan dalam perilaku sehari-hari. ”Tradisi ini tidak sekadar dibahas dalam diskusi seperti ini. Kita dengan sengaja harus membiasakan tradisi yang masih relevan di masyarakat untuk dibasakan lagi,” katanya. Dengan demikian, ini bisa menjadi kritik yang sangat serius pada upaya eksplotasi alam di Tana Poso. Misalnya soal air. Para pemuka adat ini mempunyai tradisi terhadap air. Warisan tentang cara orang tua terdahulu memberlakukan air, kini tidak lagi diceritakan. Akhirnya banyak yang lupa.

Baca Juga :  Kopi Poso di Festival Kopi : Bukan Sekedar Rasa Kopi

Pendeta Yuri Wombu, menambahkan hasil rumusan ini setidaknya perlu mendapatkan kekuatan payung hukum semacam peraturan daerah. Kekuatan hukum ini mempunyai daya paksa, sehingga penerapannya bisa efektif. Namun Lian Gogali merasa kurang sreg dengan penerapan adat menggunakan pendekatan Perda. Menurut dia, dengan diperdakan tidak memberi jaminan tradisi itu akan menjadi familiar di masyarakat. Baginya, proses diskusi yang sedang berlangsung sebenarnya untuk menggali tradisi yang telah bergeser dan hilang. Setelah berhasil diidentifikasi, kemudian secara sengaja harus dibiasakan dalam kehidupan. ”Nah proses membiasakan kembali ini yang harus digerakkan bersama-sama,” ungkapnya.

Dalam diskusi kelompok tersebut, berhasil mengungkap beberapa tradisi yang tidak lagi dilakukan oleh generasi gadget saat ini. Hal ini diungkap tokoh adat Yonggulemba Sumboli (77) asal Desa Masani Kecamatan Poso Pesisir. Yaitu tradisi perlakuan jenazah. Pengawetan jenazah tempo dulu tidak menggunakan formalin. Namun menggunakan bahan yang diambil dari alam. Pun demikian halnya, tradisi mengusir hama yang tidak menggunakan pestisida seperti pada pertanian modern. ”Cukup menggunakan bahan alam lalu diformulasi dengan bahan lain, bisa digunakan mengusir hama,” ungkap Hajai Ancura. 

Hujan deras yang mengguyur Tentena sempat membuat posisi duduk tetua adat bergeser sedikit namun tidak menyurutkan antusiasme seluruh tetua adat.  Saat Ngkai  Y. Sumboli dari Desa Masani bercerita tentang cara tradisional mengusir hama di sawah dan kebun, semua tetua adat langsung membuka buku dan serius mencatat. Saling berbagi informasi dan tradisi yang masih dilakukan di desa-desa mewarnai diskusi. Di Desa Pandayora, tetua adat menceritakan tradisi lama dalam proses kematian. Semua terkesima karena tradisi ini masih digunakan hingga saat ini, bahkan diwariskan pada generasi sekarang. 

Baca Juga :  LAULITA, Antara Mitos dan Logos

Meskipun terdapat catatan-catatan penting dari setiap kelompok mengenai setiap topik, tidak ada simpulan diskusi yang berlangsung nyaris 12 jam itu. Disepakati adanya pertemuan secara berkala di setiap desa, untuk menindaklanjuti hasil diskusi ini yang sekaligus dijadikan ruang untuk melakukan gerakan kebudayan. Lian Gogali menyebutkan kesediaan Institut Mosintuwu Institut  menjadi fasilitatornya pada perjalanan kebudayaan di setiap desa. Disepakati pula pertemuan pertama akan digelar Maret 2023 nanti.  

Diskusi tibura dalam Mampasimbaju Ada Ngkatuwu bersama para tetua adat . Foto : Dok.Mosintuwu

TOTALITAS PARA TOKOH SEPUH

Nyaris duabelas jam para tokoh sepuh itu tak beranjak dari tempatnya. Belasan kursi yang disediakan semua tetap diduduki oleh orang yang sama. Tidak ada yang selonjoran. Tidak ada bersenda gurau dengan kolega di sebelahnya. Tidak ada yang berpaling utak-atik smartphone. Beberapa di antaranya, tampak membawa gawai yang terselip di sakunya. Martina Labatu (60) tetua adat pensiunan ASN di Kemendikbud Poso, terpantau sesekali memantau layar telepon genggamnya. Ia hanya melihat sebentar lalu kembali lagi pada diskusi kelompok. Mereka tetap fokus. Menggali. Mendiskusikannya. Hingga mencatatnya. 

Ngkai Lintu Bintiri (84) asal Desa Panjo Kecamatan Pamona Selatan, adalah peserta tertua. Dalam usia yang nyaris seabad, semangatnya tak jua kendur. Yonggulemba Sumboli usia 77 tahun pun sama. Dalam balutan baju adat kuning keemasan, disisa waktu dipengujung acara, ia masih unjuk tangan. Menyumbang sumbang pendapat soal perlakuan jenazah. Intonasinya masih terjaga. Artikulasinya pun sangat jelas. Sama baiknya seperti saat ia berbicara pada pagi harinya. Begitulah para tetua ini. Dengan kearifan di atas rata-rata, menempatkan budaya dan kebudayaan sebagai aras tertinggi di forum sehari itu. Kedatangan mereka di forum Mampasimbaju Ada Ngkatuwu nTana Poso, tak semata karena tanggungjawab sejarah yang berada di pundak mereka. Tapi juga kegelisahan, kecemasan akan hilangnya legasi pitarah yang harus mereka jaga dengan susah payah hingga diujung usia. ***

Redaksi : Tulisan telah dimuat di Roemahkata.com dengan beberapa penyesuaian isi , seijin penulis untuk kepentingan kampanye gerakan kebudayaan Tana Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda