Siapa Merusak Sungai, Tidak Masuk Surga

0
185
Kelokan sungai Poso yang mengalir dari Danau Poso ke Laut. Foto : Dok.Mosintuwu

“Di surga disebutkan, di bawahnya mengalir sungai-sungai, sungai susu. Jadi siapa yang merusak sungai dia tidak masuk surga karena sudah merusaknya”(Prigi Arisandi/ECOTON)

 ***

“Tidak ada” planet lain : saya pilih bumi. Tema ini menggelitik pemikiran Theo, salah seorang peserta yang malam hari itu baru saja menonton film Pulau Plastik . Setahunya, ada milyaran lebih planet . Theo mengatakan tema ini membuatnya berpikir kembali tentang teknologi yang sedang berkembang dan dikembangkan untuk menjangkau angkasa di luar bumi. “Seperti gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan terlihat” ujarnya.  Ketika ditanya apa hubungannya dengan tema , Theo mengatakan: 

“Kita sudah berusaha untuk menggunakan teknologi yang mutakhir untuk bikin hidup kita ini praktis, bahkan so mo ke luar angkasa , mau lihat planet ini itu, tapi ternyata planet yang kita tinggali justru dirusak dengan plastik, padahal kitorang ini masih mau tinggal di bumi, tidak mau pindah ke planet lain” 

Sehari sebelumnya, Theo dan teman2 muda yang bergabung di Jelajah Budaya melakukan susur sungai bersama Prigi Arisandi, seorang peneliti Ekspedisi Sungai Nusantara dari Ecological Observation and Wet Conservation (ECOTON).  Theo melihat dengan mata kepalanya sendiri air yang diambil di Danau Poso dan ditaruh di bawah mikroskop yang dibawah oleh Prigi, menunjukkan dengan jelas adanya mikroplastik. Padahal, dengan mata telanjang , semua pihak banyak yang setuju Danau Poso termasuk danau yang bersih dan jernih. 

Susur sungai di beberapa bagian Sungai Poso menjadi salah satu agenda anak-anak muda di Jelajah Budaya di Festival Mosintuwu 2022. Tujuan mereka menguji apakah air di danau dan sungai Poso sudah tercemar mikroplastik. Menggunakan alat penyaring berbahan kain halus, tim susur sungai menguji sampel air di 3 titik, yakni jembatan Tentena 1 dan jembatan Tentena 2 di kelurahan Pamona dan Sangele serta di pangkalan nelayan di dekat Gua Pamona.

Hasil temuan itu dipaparkan Prigi di hadapan anak-anak muda dan tokoh agama. Menggunakan mikroskop yang dihubungkan ke monitor ukuran 23 inci, sekitar 58 serpihan partikel mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter terpampang dilayar. Sesekali Prigi mengaduknya menggunakan pinset kecil sambil menjelaskan jenis-jenis mikroplastik itu. 

Baca Juga :  Toponimi, Mengenal Sejarah Peristiwa Besar dan Potensi Bencana

“Hampir 60 persen dari mikroplastik di sungai Poso ini adalah fiber”kata Prigi. 58 partikel itu ditemukan dalam setiap 100 liter air yang mereka uji. Bisa dibayangkan banyaknya mikropastik di Sungai dan Danau Poso saat ini. Selain fiber, jenis mikroplastik lain yang ditemukan adalah Foam, Filamen, dan Fragmen.

Mikroplastik, dijelaskan oleh Prigi adalah pecahan plastik yang ukurannya kurang dari 0,5 mm. Dengan ukuran yang sangat kecil itu, benda ini dengan mudah masuk ke tubuh ikan atau hewan lain yang kemudian kita makan. 

“Plastik sekali pakai yang kita gunakan, bisa jadi berakhir di perut kita juga” berulangkali Prigi menegaskan alur plastik sekali pakai yang digunakan bukan hanya berbahaya bagi lingkungan tapi juga kesehatan. 

Prigi menunjukkan layar monitor yang menggambarkan temuan mikroplastik dari air Danau Poso. Foto : Dok.Mosintuwu

Mikroplastik bisa saja terkandung dalam bahan makanan dan air yang kita konsumsi setiap hari. Dalam paparan tingkat tinggi, pertumbuhan sel kanker, reaksi alergi, kerusakan sel, gangguan metabolisme, dan gangguan hormon jadi bahaya mikroplastik bagi kesehatan.

Dari lokasi temuan mikroplastik di Danau dan Sungai Poso, bisa kita katakan, perilaku membuang sampah sembarangan, khususnya plastik jadi masalah lingkungan serius yang kini kita hadapi. 

“Saya sering bertanya, kalau desa kita bersih, kemana sampah-sampah plastik yang kita gunakan hampir setiap saat?” pertanyaan ini sempat diajukan Herlina, yang kemudian ditemukan sendiri jawabannya. Dibuang ke sungai, atau hutan. 

Di beberapa lokasi sungai seperti yang terdapat di perbatasan desa Buyumpondoli dan Soe kecamatan Pamona Puselemba, tampak tumpukan sampah yang sebagian besar plastik teronggok di tengah sungai yang airnya langsung mengarah ke Danau Poso. Di beberapa lokasi, seperti jalur Sangele-Peura juga terdapat sejumlah tempat pembuangan sampah di jurang pinggir Danau Poso. Sampah-sampah dari sini kemudian turun ke Danau, lalu ke sungai dan ke laut.

Ukurannya yang sangat kecil membuat ikan-ikan mengonsumsinya dan menjadi awal mikroplastik masuk ke tubuh manusia. Gangguan kesehatan pada manusia akibat kandungan mikroplastik dalam tubuh di antaranya adalah terganggunya keseimbangan hormon.

Baca Juga :  Megilu 7 Hari

Temuan mikroplastik ini mengagetkan. Sebab bayangan  banyak orang, sungai dan  Danau Poso baik-baik saja. Padahal banyak ancaman yang dihadapinya. Selain mikroplastik akibat rendahnya literasi tentang sampah, proyek pengerukan yang dilakukan sebuah perusahaan besar juga mengancam ekosistemnya.

“Kalau lihat temuan ini, sepertinya hidup kita sudah dikelilingi plastik. Apalagi semua yang kita pakai plastik “kata Herlina. 

Menyadari itu, rasanya sangat sulit melepaskan kehidupan sehari-hari dari plastik sekali pakai. Lalu, apakah berarti kita akan membiarkan kebiasaan penggunaan plastik sekali pakai? 

Sejumlah anak muda, siswa-siswi di Tentena memungut dan mengumpulkan sampah dalam aksi bersih sungai di sungai Poso, Kelurahan Sangele, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 2 Juli 2021 (foto : Ray)

Prigi Arisandi menegaskan bahwa perusakan dan tindakan mencemari sungai harus dihentikan tidak bisa lagi hanya sekedar diwacanakan, tetapi sudah harus jadi aksi nyata yang dimulai dari lingkungan terkecil, diri dan keluarga.

“Kita mulai dari hal paling sederhana. Diet kantong plastik sekali pakai”kata Prigi sambil mencontohkan beberapa gerakan diet kantong plastik yang kini mulai meningkat di Indonesia dan dunia.  Diet kantong plastik merupakan gerakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Jika sebelumnya saat ke pasar membeli sesuatu selalu membungkus dengan plastik sekali pakai, saatnya untuk menolak jika diberikan plastik sekali pakai. Sedapat mungkin membawa tas belanja sendiri. Jika berhasil melakukan diet kantong plastik, akan lebih mudah untuk kemudian menghentikan penggunaannya. 

“Tidak muluk-muluk, kita hentikan penggunaan plastik sekali pakai” katanya mengenai langkah mudah dan paling efektif mencegah penyebaran mikroplastik disekitar kita. Pengurangan penggunaan tas plastik sekali pakai seperti kresek, atau styrofoam, sedotan, puntung rokok dan botol plastik akan sangat penting menjaga kesehatan kita dan lingkungan.

Perbincangan mengenai penghentian penggunaan kantong plastik menjadi seru di kalangan para tokoh agama yang ikut dalam kegiatan seminar. Gelas plastik sekali pakai mendominasi penyediaan minuman dalam acara ibadah. Bahkan plastik sekali pakai dan stereofoam sangat sering digunakan untuk membungkus makanan. Saat membicarakannya, hitungan penggunaan plastik sekali pakai segera terlintas.  Dalam jemaat yang kecil, Jika dalam satu minggu terdapat 5 kali ibadah dengan jumlah jemaat 100 orang, maka akan terdapat 500 minuman plastik sekali pakai dan 500 plastik sekali pakai. Jika dikalikan dalam 1 bulan akan terdapat 4.000 minuman plastik sekali. Dalam setahun penggunaan minuman plastik sekali pakai di sebuah jemaat kecil akan mencapai 48.000. 

Baca Juga :  Covid-19 : Buka Tutup Pusat Layanan Kesehatan di Poso 

“Waduh, kalau hari raya lebih banyak lagi hitungannya” cetus yang lain mengingatkan sebentar lagi Natal dan Tahun Baru. 

“Berarti kita beribadah pada Tuhan tapi dengan berkontribusi sampah plastik sekali pakai yang  berakhir merusak lingkungan dan diri kita sendiri” sambung Plistin, peserta lainnya.

Pandangan teologis pentingnya menjaga sungai dan lingkungan sangat jelas.  Prigi mendorong para tokoh agama mengkaji kitab suci yang secara tegas menyiratkan pentingnya menjaga lingkungan sungai.

“Di surga disebutkan, di dalamnya mengalir sungai-sungai, sungai susu. Jadi siapa yang merusak sungai dia tidak masuk surga karena sudah merusaknya”kata Prigi. Dia mengutip Alquran, Surat Muhammad ayat 15 yang bunyinya begini; 

“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni.

Sementara itu di Alkitab, sungai juga begitu penting. Dikutip oleh Pdt. Lady Mandalika, di Yesaya 33 ayat (21) menyebutkan :  Di situ kita akan melihat betapa mulia TUHAN kita: seperti tempat yang penuh sungai dan aliran yang lebar; perahu dayung tidak melaluinya, dan kapal besar tidak menyeberanginya.

Masih banyak lagi penjelasan di ayat-ayat kitab suci tentang bagaimana posisi penting sungai yang bahkan mengalir di surga. Jadi bisa dibayangkan, kalau sungai di sekitar kita sudah tercemar dan rusak. Surga tentu semakin jauh. Sebab yang ada di dunia saja sudah dirusak.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda