Biodiversity Poso: Dikagumi Luar Negeri, Diabaikan Poso

0
484
3 dari 5 Jenis rono endemik danau Poso yaitu Adrianichthys oophorus, Adrianichthys roseni, Oryzias nigrimas, Oryzias orthognathus dan Oryzias nebulosus. Foto : Dok.Mosintuwu/Kurniawan

Orang luar, tepatnya para peneliti dari luar negeri, jauh lebih lama mengenal dan mengkampanyekan biodiversity Danau Poso.

Lahir dan besar di tepi Danau Poso, saya baru melihat dan menyadari adanya spesies endemik udang pada umur 23 tahun. Pertemuan saya dengan salah satu endemik Danau Poso ini saat mengikuti perjalanan Ekspedisi Poso 1. Pada Evans, teman peneliti muda yang bersama saya melakukan penelitian saya berseru gembira :

“Owww, so ini dang lalu yang pernah dijelaskan ibu Anna waktu mata kuliah Ekologi Hewan, ternyata bagini dang depe model”.

2015, saat masih kuliah di Universitas Tadulako, dosen mata kuliah Zoologi saya ibu Dr. Annawaty menjelaskan tentang beberapa spesies udang endemik Danau Poso. Salah satunya Caridina longidigita yang diberi nama genus Caridina atau kelompok udang cardinal dan longidigita yang berarti jari panjang. Sejak itu saya mulai tertarik untuk membahas tentang biota endemik secara khusus udang endemik Danau Poso. Saya mulai rajin membahas setelah membaca di jurnal, namun belum pernah melihat langsung wujud dari udang tersebut di habitat aslinya.

Saya lahir dan besar di tepi Danau Poso.

Namun jurnal-jurnal ilmiahlah yang memperkenalkan saya pertama kali tentang keanekaragaman hayati Danau Poso. Daftar panjang jurnal ilmiah dan para penulisnya dari luar negeri membuat saya penasaran. Belum lagi saya melihat langsung banyak ilmuwan dari seluruh dunia datang ke Danau Poso dan sekitarnya untuk meneliti habitat, spesies, tingkah laku, populasi dan lain sebagainya. Hal tersebut menandakan bahwa Danau Poso itu kaya akan keanekaragaman hayatinya yang kompleks dan tidak akan ditemukan hidup secara alami di tempat lain di dunia.

Sementara itu, orang Poso mulai ketinggalan jauh soal ilmu pengetahuan tentang kekayaan alam yang ada di Danau Poso.

Satu-satunya jurnal yang ditulis oleh orang Poso adalah tulisan Meria T. Gundo dari Universitas Sintuwu Maroso, Poso . Judulnya Konservasi ikan endemik rono, Xenopoecilus oophorus, Kottelat 1990 di Danau Poso, Sulawesi Tengah . Beberapa jurnal lainnya, penulisnya didominasi oleh peneliti mancanegara.

Beberapa diantaranya yang pernah saya baca: Martin Haase dari University of Greifswald, dari Jerman yang judulnya The Radiation of Hydrobioid Gastropods (Caenogastropoda, Rissooidea) in Ancient Lake Poso, Sulawesi .  Lynne R. Parenti dari Amerika menulis tentang Adrianichthys roseni and Oryzias nebulosus, two new ricefishes (Atherinomorpha: Beloniformes: Adrianichthyidae) from lake Poso, Sulawesi, Indonesia.  Yixiong Cai  dari National Parks Board, Singapore tentang Atyid shrimps from lake Poso, Central Sulawesi, Indonesia with description of a new species (Crustacea: Decapoda: Caridea). Kristina & Thomas Von Rintelen dari  Jerman menulis Molecular phylogeny and diversification of freshwater shrimps (Decapoda, Atyidae, Caridina) from ancient Lake Poso (Sulawesi, Indonesia). Maurice Kottelat dari Swiss menulis Synopsis of the endangered Buntingi (Osteichthyes: Adrianichthyidae and Oryziidae) of Lake Poso, Central Sulawesi, Indonesia, with a new reproductive guild and descriptions of three new species. Werner Klotz dari Medizinische Universitaet Innsbruck, Austria menulis Lake Poso’s shrimp fauna revisited: the description of five new species of the genus Caridina (Crustacea, Decapoda, Atyidae) more than doubles the number of endemic lacustrine species.

Baca Juga :  Waya Masapi, Ketika Bambu dan Ikan Merajut Kekeluargaan
Proses membedah lambung salah satu jenis ikan endemik danau Poso untuk mengetahui jenis makanan, sebagai bagian dari proses riset biodiversity Danau Poso. Foto: Dok.Mosintuwu/Kurniawan

Beberapa jurnal lainnya tentang biota Danau Poso ditulis oleh orang Indonesia, dari luar Poso antara lain  Krismono  dari Kementerian Kelautan dan Perikanan judulnya Variasi Ukuran dan Sebaran Tangkapan Ikan Sidat (Anguilla marmorata) di Sungai Poso, Sulawesi Tengah. Ada juga Hagi Y. Sugeha dari Lembaga Ilmu Pengetahuian Indonesia (LIPI) judulnya Downstream migration of tropical anguilid silver eels from Lake Poso, Central Sulawesi, Indonesia.

Biodiversity dan Masa Depan Bumi dan Manusia

Saya lahir dan besar di tepi Danau Poso. Membicarakan keanekaragaman hayati Danau Poso menjadi tanggungjawab saya sebagai seorang biologist. Membicarakannya, adalah langkah awal untuk menjaga kelestariannya. Lalu saya kemudian mendengar cerita bahwa jauh sebelum para peneliti datang, orang-orang tua di sekitar Danau Poso sudah menyadari pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di Poso . Sekecil apapun.

Pak Hajai Ancura, tetua adat Desa Sawidago, menceritakan pada saya, pinggiran air Danau Poso sebenarnya menjangkan tugu Fennema ( sekarang tugu Adriany dan Kruyt ). Orang-orang tua dari Sawidago dahulu memarkir perahu di situ. Saat melewati wilayah Kompo Dongi, mereka sangat hati-hati dalam motuko (menancapkan tiang ke dasar air untuk merubah arah perahu) . Dipastikan agar saat motuko, tidak mengenai satupun siput-siput di danau. Siput, dianggap berharga bukan karena bisa dimakan, tapi karena bagian dari mahluk hidup yang menjaga keseimbangan alam dalam air .

Siput, hanya salah satu dari biota air yang menjaga keseimbangan alam. Sejauh ini terdapat 50 jenis spesies biota endemik Danau Poso yang telah berhasil dideskripsikan.  11 spesies ikan, 11 spesies Crustacea (udang), 2 spesies kepiting, 25 spesies gastropoda (siput) dan 1 spesies bivalvia (kerang). Data terbaru pada 4 Januari 2021 adalah publikasi naturalis Werner Klotz dan kawan kawan yang mendeskripsikan 5 spesies baru udang endemik Danau Poso.

Baca Juga :  Kami Masih Orang Desa

Dulu, saya melihat ikan, udang, kepiting, siput dan kerang biasa saja.  Bahkan, kalau orang dari luar daerah bertanya apa yang menarik dari Danau Poso, saya akan menjawab objek wisata Siuri dan air terjun Saluopa . Kalaupun ditanya kuliner asli Poso, saya akan jawab ikan mujair dan ikan mas. Saat itu saya tidak memahami peranan masing-masing spesies dalam alam, dan juga tidak tahu bahwa ikan mas dan mujair bukan ikan asli Danau Poso.

Dr. Fadly Tantu,  dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako pernah menegaskan bahwa setiap spesies yang ada di bumi ( termasuk Danau Poso ) ditugaskan Tuhan untuk melaksanakan tugasnya dalam rantai ekologi dan rantai makanan.  Karena itu jika ada spesies yang hilang, maka rantai makanan dan rantai ekologi akan tergangu.

Hilangnya dua spesies ikan endemik Danau Poso, Bungu (Mugilogobius amadi) dan Bontinge (Adrianichthys kruyti) hingga saat ini masih menjadi misteri. Jurnal-jurnal sering membicarakan bahwa kenaikan suhu akibat perubahan iklim mempengaruhi batas suhu toleran spesies tertentu. Jika hal tersebut terjadi, spesies tertentu akan melakukan migrasi massal ke tempat yang lebih dalam bahkan sampai resiko paling berat yaitu kepunahan. Cerita enaknya Bungu dan Bontinge yang disampaikan oleh orang-orang tua, sekarang hanya cerita saja.

Keseimbangan ekosistem, rumah bagi keanekaragaman hayati sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim. Bumi yang semakin panas, efek rumah kaca sangat berpengaruh pada tiap spesies. Perubahan iklim mendorong pergeseran waktu reproduksi bagi beberapa spesies makhluk hidup di bumi dan migrasi massal spesies akibat perubahan iklim. Salah satu spesies saja yang hilang akan berdampak akumulatif pada keseimbangan ekosistem sehingga sangat penting untuk menjaga kelestarian setiap spesies dengan seminimal mungkin ada kegiatan yang mengganggu habitat aslinya.

Proses mencatat jenis-jenis ikan yang ditemukan dalam penelitian, di salah satu lokasi inlet Danau Poso. Foto : Dok.Mosintuwu/Kurniawan

Keanekaragaman jenis Flora dan Fauna akuatik yang ada sangat berperan penting dalam keseimbangan ekosistem danau melalui rantai makanan atau proses makan – memakan. Dalam rantai makanan ada yang disebut dengan Produsen yaitu makhluk hidup yang dapat membuat makanannya sendiri seperti tumbuhan air dan fitoplankton, kemudian konsumen yaitu makhluk hidup yang mendapat makanan dari produsen. Konsumen dibagi dari konsumen I – konsumen IV, Konsumen I adalah Herbivora (Hewan pemakan fitoplankton) seperti Rono (Oryziasspp.), konsumen II-IV adalah Karnivora (Hewan pemakan daging) contohnya Bungka (Sundathelphusa possoensis) maupun Omnivora (Hewan pemakan segalanya) seperti Masapi (Anguilla spp.) juga termasuk manusia. Terakhir yang disebut dengan pengurai atau decomposer yaitu Wuriri (Tylomelania spp.). Jika salah satu hilang dari rantai makanan tersebut dan tidak ada penggantinya maka keseimbangan ekosistem akan terganggu dan memberi efek yang makin lama makin parah seperti menurunnya kualitas air maupun hilangnya sumber makanan.

Baca Juga :  Ekspedisi Poso untuk Taman Bumi Danau Poso

Saat ini sangat banyak resiko pada kelestarian biota perairan endemik Danau Poso seperti pencemaran limbah pertanian, limbah rumah tangga, adanya bendungan PLTA yang membuat fluktuasi muka air danau menjadi tidak normal, pengerukan dan peledakan batuan lantai sungai outlet Danau Poso sepanjang 12,8 Km, reklamasi wilayah rawa banjiran Kompo Dongi sebagai tempat nutrien alami bagi biota perairan juga pembuatan tanggul-tanggul di desa-desa seputaran Danau Poso.

Saya tinggal di tepi Danau Poso, begitu juga banyak orang Poso yang menikmati air dan sumber daya dari danau Poso.

Suatu waktu, bukan tidak mungkin, danau Poso yang sudah memberikan kehidupan akan sulit menampung kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia atau eksploitasi perusahaan. Mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, tidak membuang sampah di danau maupun sungai, menjaga kelestarian catchment area atau kawasan hutan daerah tangkapan air bisa menjadi pilihan sederhana dan penting untuk dilakukan.

Mengenalkan keanekaragaman hayati Danau Poso kepada orang Poso, menyebarluaskan pengetahuan tentang peran setiap spesies yang ditugaskan Tuhan dalam ekologi dan rantai makanan, menjadi lebih mendesak dilakukan saat ini. Bukan hanya agar orang Poso tidak semakin menjauhkan diri dari alam di sekitarnya, tapi juga agar jurnal-jurnal yang menuliskan tentang keindahan, keunikan keanekaragaman hayati Danau Poso tidak akan menjadi catatan sejarah. Sejarah tentang : dulunya. Bukan saja agar jurnal-jurnal yang tertulis tetap terbukti keberadaan biotanya, tapi agar orang Poso mendapat kesempatan untuk mengenal, mencatatkan sejarahnya dan menguatkan alasan mengapa menjaganya.

Tinggal dan besar di danau Poso, kita adalah orang pertama yang bertanggungjawab mengenal dan menjaga kelestarian keanekaragaman hayati danau Poso. Meneliti, menuliskan, menyebarluaskan, menjaganya bersama.

Penulis : Kurniawan Bandjolu

Editor : Lian Gogali

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda