Festival Mosintuwu, Festivalnya Rakyat Desa

0
123
Festival Mosintuwu : Festivalnya rakyat. Foto : Basri Marzuki
Festival Mosintuwu : Festivalnya rakyat. Foto : Basri Marzuki

Mengingat, menjaga dan merayakan tanah, air, hutan terasa kuat sejak sekumpulan kelompok perempuan, anak muda dan tetua adat berkumpul membawa beragam hasil bumi di taman kota Tentena. Sejak tanggal 9-12 November 2022, Festival Mosintuwu kembali di gelar di Yosi, kelurahan Pamona kecamatan Pamona Puselemba. Ini kelima kalinya ajang yang mempertemukan warga dari desa-desa di pinggir Danau Poso, Lembah Bada hingga wilayah Poso Pesisir di Teluk Tomini digelar. Tidak ada seremonial pembukaan sampai penutupan. Festival dibuka bersama-sama para perempuan, anak muda dan tetua ada  dalam nyanyian lagu Desaku dan Tanah, Air , Hutan lagu resmi yang dibuat khusus untuk festival Mosintuwu 2022. Berpakaian tradisional , sebagian lainnya menggunakan pakaian petani dan harian. Kesederhanaan sekaligus kebersahajaan nampak dari iring-iringan karnaval.

“Yang khas dari Festival ini, selalu dimulai dengan karnaval. Ini semacam usaha mengingatkan ulang masyarakat tentang pentingnya alam untuk dijaga”kata Martince Baleona, koordinator Pengorganisasian dan Pendidikan Institut Mosintuwu. Dia juga yang memimpin karnaval pagi itu dari Taman Kota Tentena menuju Yosi yang berjarak sekitar 2 kilometer. 

Kekuatan hasil bumi dalam olahan menu-menu desa tersebar di warung desa. Di arena Festival Mosintuwu, sebuah lahan berukuran tidak sampai 1 hektar di tepi Danau Poso, warung dari desa-desa peserta Festival menyediakan menu tradisional. Jangan cari Mie Instan disini. Yang ada Woku Ikan Gabus, olahan Jantung Pisang hingga Batang Pisang. Entah bagaimana, bagian tengah Batang Pisang bisa jadi santapan lezat ditangan ibu-ibu dari desa Owini.

Moapu di Festival Mosintuwu. Foto : Basri Marzuki

Satria dari Desa Kelei menyebutkan , makanan di warung desa yang mereka olah berasal dari alam mereka sendiri tanpa menggunakan penyedap makanan. Soal Warung Desa ini, berkaitan dengan usaha mengingatkan kembali warga pengunjung bahwa makanan dari bahan-bahan yang ada disekitar bisa menjadi lezat dan menyehatkan. Yang paling penting dari itu adalah merintangi budaya makanan instan yang merusak lingkungan.

Kita tahu, produk makanan instan bukan saja mengancam kesehatan tubuh, tapi juga lingkungan. Ide untuk mengingat kesehatan lingkungan dalam pengolahan tanah, air dan hutan dibicarakan dalam serangkaian seminar Saya Pilih Bumi. Prigi Arisandi dari Ecological Observation and Wetlands Conservation atau ECOTON, menelusuri pinggiran Danau Poso bersama sekelompok anak muda peserta festival . Dalam penelusurannya, menemukan sampah plastik yang sudah menjadi mikroplastik di Danau Poso.  Dalam uji sampel air di sekitar jembatan Tentena, dia menemukan 4 jenis mikroplastik yakni Foam, Filamen, Fiber, dan Fragmen.

Baca Juga :  Cerita Tanah, Air dan Hutan Poso di Documenta Fifteen Jerman

Pengujian sampel air itu menemukan rata-rata 58 partikel mikroplastik berukuran di bawah 5 milimeter dalam 100 liter air Danau Poso. Prigi mengatakan dari 4 jenis mikroplastik yang ditemukan itu, fiber menjadi yang terbanyak, jumlahnya hampir 60 persen. Mikroplastik ini, berasal dari desa-desa di pinggir Danau Poso. Umumnya adalah bungkusan makanan instan seperti Mie berbagai macam. Termasuk bungkusan penyedap rasa dan kantong kresek.

Soal plastik memang selalu menjadi catatan dari panitia. Lian Gogali, Direktur Institut Mosintuwu, sejak perhelatan pertama Festival tahun 2016 telah mewanti-wanti peserta untuk tidak mengedarkan kantong plastik di arena.

“Itu (plastik) tidak boleh sama sekali. Makanan di bungkus dengan daun”tegasnya. Sikap ini terus diulang bahkan saat masih melakukan sosialisasi rencana festival di desa-desa. 

Warung menjadi proses interaksi bukan hanya sesama peserta Festival Mosintuwu, tapi juga pengunjung, relawan dan panitia. Sekitar 15 warung yang ada juga menghidupkan kembali kehangatan, dalam percakapan tentang resep, bahan, rasa, harga, juga kabar dari desa.

Seperti ketika sejumlah pengunjung berkumpul di depan warung desa Lape dan Tokorondo. Sebagian pengunjung yang berasal dari desa di pinggir Danau Poso seperti Peura, Tindoli dan Dulumai berlomba memesan menu ikan bakar.  Sambil menunggu pesanannya, seorang bapak dengan Siga di kepalanya berbincang dengan pengelola warung. Dia bertanya mengenai seorang kenalannya di desa Tokorondo yang sudah puluhan tahun tidak ditemuinya. Mereka terakhir bertemu sebelum konflik melanda wilayah Poso Pesisir tahun 2000. 

Simbol tanah, air, hutan turut hadir dalam alat tukar jual beli di lokasi festival. Namanya Woyo, pengganti Rupiah di Festival Mosintuwu.  Woyo adalah alat tukar terbuat dari bambu yang dipotong segi empat. Terdapat tulisan nilai mata uang Woyo dan Pasar Mosintuwu di bagian bambunya.  Woyo yang dicap bernilai 2, 5, 10, 50,100 masing-masing punya nilai  2.000, 5.000, 10.000, 50.000, 100.000 dalam rupiah. Siapapun yang hendak berbelanja di arena Festival wajib menggunakannya. Di sudut lokasi Festival, terdapat tambi dengan tanda Bank Woyo sebagai lokasi penukaran rupiah ke Woyo. 

Baca Juga :  Menjadi Pemimpin Perempuan di Lembah Lebanu PosoBecoming Women Leader
Bertransaksi dengan uang Woyo di Festival Mosintuwu. Foto : Ifal Laopa

Ihwal penggunaan Woyo ini, Lian Gogali menjelaskan filosofi bambu yang bukan saja ramah lingkungan, tapi punya kontribusi besar terhadap kehidupan manusia. Tentu banyak pertanyaan, mengapa tidak langsung menggunakan uang rupiah saja? soal ini Lian mengingatkan kembali tujuan Festival Mosintuwu, yakni merayakan Tanah, Air dan Hutan.

“Bambu penyumbang oksigen paling besar”kata dia mengenai salah satu kekuatan Bambu “digunakan sebagai alat tukar uang sebagai sebuah pesan nilai tukar kehidupan yang kita jalani dengan konsumsi baik sandang, pangan dan papan berasal dari alam”.  Secara budaya, orang Poso juga memiliki kedekatan yang kuat dengan salah satu bahan pembuat rumah ini. Pemilik warung kemudian menukarkan Woyo hasil penjualannya ke bank Woyo setiap pukul 20:00 wita selama festival.

Hal lain yang tidak hilang dari Festival Mosintuwu adalah Berbagi Bibit. Setiap desa membawa bibit-bibit yang bisa dibagikan ke desa lain. Ini semacam pengikat desa-desa, yang menjaga Posintuwu, saling menghidupi ditengah makin terhimpitnya lahan akibat ekspansi sawit dan tanaman yang menyeragamkan lahan, seperti kakao dan durian. Berbagi bibit menurut Lian, juga punya maksud mengembalikan tanah-tanah di desa kemba;i dipenuhi beragam jenis tanaman. Bibit pemberian desa lain yang ditanam, akan mengingatkan persaudaraan diantara warganya.

Moapu untuk Jaga Keragaman Pangan Desa

Memasak masakan khas Poso tahun ini mengeksplorasi lebih banyak bahan terutama yang punya ikatan emosional dengan warga. Salah satunya adalah mengenalkan kembali buah Jongi (Dillenia celebica). Jongi adalah buah yang sangat dikenali oleh orang Poso, ada juga yang menyebutnya Dongi-dongi, Songi maupun Soni. Di Jawa dikenal dengan nama Sempur/Simpur. 

Secara alami pohon Jongi hidup di hutan-hutan  di hampir seluruh wilayah kabupaten Poso. Tingginya mencapai 30 meter dan diameter batang 50 centimeter. Warga juga menggunakan kayu pohon Jongi untuk bikin kusen, pintu, jendela, lemari, dinding maupun lantai rumah berbahan kayu. 

Baca Juga :  Dulu Tak Berani Melintas, Kini Saling MenginapThe Story of Women in Post Conflict Zone

Di Festival Mosintuwu, pakar kuliner Poso, Elsi Sonora mengenalkan Pudding Jongi. Rasa buahnya yang kecut jadi nikmat saat bercampur susu dan gula serta agar-agar.

“Tidak sangka, Jongi yang asamnya minta ampun, jadi kue senak seperti ini”kata Lies, seorang anak muda yang beruntung mencicipinya.

Tentu bukan hanya Jongi, Moapu atau memasak juga menguatkan kembali rempah-rempah alami yang ada disekitar rumah kita untuk diolah. Hasil masakan seperti Ituwu (daging dan sayur yang dipanggang dalam bambu) atau gedebog batang pisang yang ditumis dengan bawang merah, bawang putih dan kecombrang luarbiasa nikmat. Semua itu dihasilkan tanpa tambahan penyedap rasa buatan pabrik.

Moapu di Festival Mosintuwu. Foto : Basri Marzuki

Soal penyedap ini, penggunaannnya memang seperti tak tertahankan, masuk hingga ke dusun paling jauh. Bahan yang disebut berbahaya bagi kesehatan ini perlahan membunuh pengetahuan tentang rempah-rempah disekitar kita. Pada akhirnya, akan menjadikan generasi selanjutnya bukan hanya berjarak, tapi terlepas dari lingkungannya, terlepas dari alam. Pada akhirnya, tanah mudah dijual, hutan tidak lagi dijaga, sumber air tidak lagi dianggap penting. 

Mungkin serangan penyedap rasa ini juga yang membuat banyak generasi sekarang ogah jadi petani, karena merasa semua makanan bisa didapatkan dalam kemasan di toko dengan harga murah. Itu sebab Festival Mosintuwu, mengajak kembali orang-orang di desa yang masih dekat dengan tanahnya untuk berjuang menjaga, melestarikan alam dan budayanya. 

“Festivalnya rakyat” demikian celoteh Mama Sinta, salah seorang pengunjung saat ditanyai pendapatnya tentang festival mosintuwu. Serangkaian acara yang digelar bukan saya mengingatkan dan merayakan hasil bumi desa tapi juga mempererat solidaritas antar manusia dengan alam. Metode gelaran acara yang merakyat terasa pada setiap bentuk acara yang melibatkan desa .

“Hampir semua yang ada di sini mengingatkan kita sebagai orang kampung yang menjaga keasrian kampung” ujar Rahel, seorang relawan . 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda