Tiga Nelayan Danau Poso Terancam Punah

0
659
Nelayan menggunakan lampu petromaks untuk mengundang ikan kecil Rono ( sebutan lokal ) sebelum mengurungnya dengan ram di tepian danau. Tradisi menangkap ikan ini warisan leluhur Poso. Foto: Mosintuwu/Ray

Masapi, ikan Mas dan Rono. 

10 tahun yang lalu, orang Poso bisa sangat bangga menyebutkan tiga jenis ikan ini sebagai kebanggaan  Danau Poso. Kebanggaan itu akan hilang dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Masapi, ikan yang beruaya dari Danau Poso ke laut melewati sungai Poso sepanjang kurang lebih 50 km akan menghadapi 3 hingga 4 bendungan PLTA . Selain kehadiran ikan introduksi, ekosistem ikan Mas sudah terganggu . Sementara, kualitas air yang menurun mempengaruhi produktivitas Rono.  

Masapi, ikan mas dan rono bukan hanya akan sulit didapatkan karena ekosistem dan bentang alam yang sudah dirusak. Nelayan pencari ikan dalam tradisi Danau Poso yaitu Toponyilo, Topowaya, Toperono terancam mata pencahariannya. Ketiga nelayan ini secara khusus mengandalkan tangkapan Masapi, ikan Mas dan rono sebagai mata pencahariannya.

Ancaman hilangnya mata pencaharian nelayan Danau Poso datang dari proyek pengerukan sungai oleh PT Poso Energy untuk kepentingan turbin PLTA . Para nelayan kuatir, pengerukan dengan nama penataan sungai Poso ini akan berdampak pada hasil tangkapan mereka.  Perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla ini sedang membangun pembangkit PLTA baru yang berkapasitas 120 Megawat di tengah sungai Poso yang mengalir dari danau Poso hingga ke Teluk Tomini, disini pula jalur ruaya atau migrasi Masapi.  Kepada Wakil Gubernur Sulawesi Tengah,  Rusli Palabbi yang berkunjung ke proyek PLTA itu pada 28 Maret 2021 , pihak perusahaan mengatakan, pengerukan sepanjang 12,8 kilometer, lebar 40 meter,  kedalaman 2-4 meter  untuk meningkatkan debit air untuk operasional dua pembangkit mereka.

Dikutip dari majalah Tempo edisi 3 April 2021, peneliti dari Departemen Akuakultur, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako, Dr Fadly Y. Tantu, mengatakan, penurunan hasil tangkapan Masapi akibat perubaan iklim global, perubahan bentang alam akibat pembangunan bendungan. 

“Di sungai Poso ada dua bendungan, dan itu dianggap sebagai penghalang.” ujarnya.

Menurut Fadly,  Masapi dewasa akan bermigrasi dari danau Poso ke teluk Tomini untuk memijah di sana. Anakan Masapi yang berhasil selamat dari penangkapan di muara kelurahan Bonesompe kecamatan Poso Kota Utara kemudian akan menuju ke sungai , kembali di danau Poso.  Bendungan pertama yang akan dihadapi Masapi yang akan kembali ke Danau Poso berada di bekas air terjun Sulewana. Bendungan kedua ada di aliran sungai Poso di Desa Saojo. Meskipun pihak perusahaan menyebutkan sudah menyediakan jalur Masapi ( fishway ), namun efektifitasnya belum teruji.

Baca Juga :  Lebaran Damai nan Indah di Poso

Persoalan belum terujinya efektifitas fishway bagi kembalinya Masapi ke Danau Poso, dipertajam dengan pengerukan sungai Poso. 

Wilayah Kompodongi menjadi rusak akibat aktivitas pengerukan dan reklamasi oleh PT.Poso Energy untuk kepentingan memutar turbin PLTA . Padahal wilayah Kompodongi adalah wilayah pemijahan ikan, juga wilayah ikan endemik Danau Poso. Foto : Dok. Penjaga Danau Poso

Sebelum pengerukan dilakukan PT Poso Energy,  Papa Devi seorang nelayan Toponyilo mengaku bisa mendapatkan 3 ekor Sidat seberat 5 kilogram sekali monyilo. Pernah dia mendapatkan satu ekor Masapi berukuran 13 kilogram. 

“Sekarang untuk mendapatkan 1 Sidat biasanya sampai 2 kali monyilo, yaitu malam dan subuh. Padahal fisik kita ini terbatas juga daya tahannya,” kata dia.

Belum ada data pasti apakah penurunan hasil tangkapan ini karena berkurangnya populasi Masapi atau karena faktor lain. Dari hasil penelitian Sarnita pada 1973, diperkirakan produksi Masapi di Danau Poso mencapai 22 ton/tahun. Adapun hasil penelitian Kementerian Kelautan pada 1980-an mencatat 41,5 ton. Tahun 2010-2011 tercatat produksinya turun menjadi 25 ton. 

Ferdilius, akrab disapa Papa Devi, adalah seorang pemanah ikan sekaligus To Ponyilo. Setiap pagi antara pukul 06:30 sampai 10:30 Wita, dengan perahunya, Papa Devi menyusuri area bebatuan besar yang membentang di sepanjang mulut danau hingga ke arah selatan. Senjatanya adalah panah berbahan kayu sepanjang 1 meter. Di bagian atas terpasang besi kecil sebagai busur yang ujungnya dipasangi besi kecil lancip. Besi berukuran 5 cm itu diikatkan pada tali kecil sepanjang 10 meter. 

Papa Devi juga membekali diri dengan senter air dan kacamata renang. Senter dan kacamata diperlukan malam hari saat mencari Sidat yang bersembunyi di bawah rongga batu. Dia bisa menyelam hingga 10 meter untuk sekali melepaskan panah. Tidak selesai dipagi itu saja. Sorenya dia berganti senjata dari panah ke Sarompo . Sarompo sebutan lokal untuk tombak bermata lima. Lampu bertenaga Aki dipasang di moncong perahu. 

Pukul 18:30 dia mulai mengelilingi muara danau Poso untuk memburu Sidat dan ikan. Ini disebut Monyilo. Dalam bahasa suku Pamona, artinya mencari ikan dengan menggunakan lampu. Senjata yang digunakan berupa tombak bergagang bambu sepanjang kurang lebih 7 meter. . Monyilo biasanya dilakukan mulai pukul 18:30 hingga 04:30 dinihari bahkan hingga matahari mulai muncul.

Baca Juga :  Danau adalah Kehidupan Kami, Dialog Budaya di Panggung Bersama

Berdasarkan Data Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Poso, ada sekitar 30 nelayan yang Monyilo di sekitar muara danau Poso. 

Cara lainnya adalah Waya Masapi (Pagar Sidat). Ini seperti bangunan rumah yang berdiri diatas sungai. Alat tangkap ini berbahan paduan bambu dan kayu yang ditancap ditengah sungai. Pagarnya menghadap ke arah danau. Di dalamnya ada lantai dari susunan potongan bambu yang rapat, menanjak dan menyempit ke ujung pagar. Diujungnya sudah dipasang Bubu untuk memerangkap Sidat yang masuk kedalam area Waya Masapi.

Berbeda dengan Monyilo dan  memanah (mompana) yang lebih individual. Waya Masapi dimiliki bersama oleh beberapa keluarga. Biasanya 5 sampai 11 keluarga. Aturannya, setiap keluarga mendapat hak mengambil hasilnya pada saat giliran jaga. Jika satu Waya Masapi dimiliki 7 keluarga, maka masing-masing keluarga mendapat giliran jaga atau disebut Pusaka 1 malam.

Belakangan, giliran jaga ini bisa dipindahkan ke orang lain diluar keluarga pemilik dengan cara dijual atau dikontrakkan selama kurun waktu tertentu.

Saat ini Waya Masapi tinggal 4 buah saja yang masih bertahan dari sebelumnya berkisar 50 buah. Ada yang sudah ditinggalkan. Sebagian lagi dibongkar setelah mendapat ganti rugi dari PT Poso Energi yang melakukan pengerukan sungai Poso.

Diantara yang masih bertahan tidak membongkar Waya Masapinya adalah Fredi Kalengke. Dia enggan melepas haknya di Waya itu karena hasil yang selama ini didapatkan mampu menopang ekonomi keluarganya sejak beberapa generasi. Selain itu, ada nilai budaya yang ingin dipertahankannya. Kebersamaan keluarga pemilik Waya menguatkan nilai kekeluargaan diantara mereka.

Sebagai nelayan. Berapa hasil yang bisa mereka dapatkan?

Menurut Papa Devi, dalam sehari sedikitnya ia mendapatkan 5 kilogram. Ia bisa mendapatkan Rp 425,000 sehari. Namun ada kalanya hasilnya minim. “Kalau bulan terang, biasanya hanya untuk menutupi biaya BBM saja,” kata papa Devi. Sedikitnya butuh 10 liter BBM untuk sekali Monyilo. Dalam sebulan mereka turun ke danau 15 hari saat bulan mati. 

Fredi Kalengke, 53 tahun, yang mencari Sidat dengan Waya Masapi mengatakan, dalam semalam hasil yang didapatkan kelompoknya rata-rata 5 kilogram. Mereka menjualnya ke pengepul Rp 90 per kg. Sehingga rata-rata bisa mendapatkan Rp 450,000. Sebulan sekitar Rp 13,5 juta. 

Yusuf Manarang, To Ponyilo lainnya, mengatakan, pengerukan dasar danau sejak Agustus hingga Desember 2020 lalu membuat muara makin dalam dan itu menyulitkan nelayan menombak ikan. Rusaknya dasar muara, kata dia, membuat ikan menjauhi lokasi itu. Itu membuat tangkapannya berkurang. Untuk menambah hasil, mereka biasanya harus mencari ikan ke danau. 

Wayamasapi, tradisi ratusan tahun di Danau Poso untuk menangkap ikan masapi. Foto : Dok. Mosintuwu

Kepada Mosintuwu.com, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Poso Yusak Mentara mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan instansinya menjaga Masapi adalah restocking. Ini adalah cara memindahkan anakan Masapi sebesar pensil (elver) yang didapatkan dari muara teluk Tomini ke danau Poso. Selain itu juga melepaskan induk Masapi ke laut.

Baca Juga :  Penataan Sungai Poso tanpa Sosialisasi AMDAL

“Dengan restocking ini kita mempercepat prosesnya, anakan tidak lagi bersusah payah melewati sungai untuk sampai ke danau Poso. Sebaliknya, indukan sidat juga tidak perlu lagi melewati rintangan dari danau ke laut saat akan memijah”katanya. Januari 2021, dinas Perikanan dan Kelautan Poso melepas 200 kg indukan Masapi ke laut Teluk Tomini. Selain itu, cara lain adalah memastikan dua fish way bendungan PLTA  di sungai Poso memenuhi syarat. 

Pemerintah kabupaten Poso pernah berupaya membudidaya Masapi pada 2017 lalu lewat program kampung Sidat. Dua desa yakni Pantangolemba kecamatan Poso Pesisir Selatan dan desa Peura di kecamatan Pamona Puselemba. Namun sejak bibit ditabur hingga kini, belum diketahui apakah program itu berhasil atau gagal. Sejumlah informasi menyebut, kedua percontohan itu gagal.

Masapi, ikan Mas, Rono jika habitatnya menurun karena kerusakan ekosistem, nama nelayan Toponyilo, Topowaya , Toperono juga akan tinggal cerita. Cerita pahit , bukan hanya tentang hilangnya mata pencaharian, tapi punahnya kebudayaan.  Demi listrik. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda