Mesjid Al Amin, Titik Temu Orang Islam dan Kristen Poso

0
675
Mesjid Mapane, cagar budaya Poso. Foto : Dok. Mosintuwu/RayRarea

Tertua dan memiliki sejarah penting agama, melekat pada mesjid Al Amin. 

Warga lokal  dulu menyebutnya mesjid Nunu. Nunu, dalam bahasa Pamona artinya beringin. Nama pohon ini diambil dari pohon yang tumbuh di pelabuhan berjarak sekitar 500 meter dari lokasi mesjid. Belakangan mesjid Nunu diganti nama dengan mesjid Al-Amin. Dibangun pada tahun 1923, mesjid Al Amin menjadi mesjid tertua yang terletak di Kelurahan Mapane, Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso. Sebagai mesjid tertua, mesjid Al Amin menjadi tonggak bersejarah penyebaran agama Islam di Poso. 

Kisah penyebaran agama Islam dimulai dari perdagangan para saudagar muslim di pelabuhan Takule, sebuah pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan utama di Tana Poso mulai abad 18. Takule adalah sebutan wilayah Mapane di masa lalu. Wilayah ini disebut Takule karena memiliki banyak pohon Takule, sebutan lokal Poso untuk pohon belimbing. Pelabuhan Takule adalah yang teramai di wilayah tana Poso, sebelum akhirnya pemerintah kolonial Belanda memindahkan pelabuhan dan pusat perdagangan di Kota Poso. 

Salah satu diantara saudagar muslim yang dikenal dan dihormati di pelabuhan Takule adalah Baso Ali.  Baso Ali, saudagar muslim berasal dari desa Cilellang, Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Sebelum akhirnya berdagang dan menetap di Tana Poso, Baso Ali sebelumnya sudah membuka jalur perdagangan di wilayah Lambunu ( Parigi Moutong ), Kulawi ( Sigi ) dan Besoa ( Napu ). Di pelabuhan Takule, Baso Ali mendirikan rumah dan mesjid . Mesjid Al Amin adalah mesjid kedua yang dibangun oleh keluarga Baso Ali, berdampingan dengan sebuah rumah tua yang juga bersejarah. 

Tahun 1950-an, dikisahkan Guru Tua, pendiri Alkhairat  berkunjung ke Tana Poso singgah di mesjid Al Amin. Singgahnya Guru Tua di Takule, menjadi awal penyebaran agama Islam yang lebih luas melalui pendidikan. Pendidikan mulai dari Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah menjadi sarana penyebaran agama Islam di Poso. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Poso 2020, presentasi umat Muslim saat iberjumlah 33,60% .

Baca Juga :  Ekspedisi Poso : Menyusuri Keanekaragaman Budaya, Alam dan Potensi Bencana di Poso

Mesjid Al-Amin, bukan hanya soal sejarah tua penyebaran agama Islam di Poso. Tapi juga sejarah pertemuan yang hangat antara Islam dan Kristen. 

Bagian dalam mesjid Mapane yang dibangun sejak tahun 1926. Foto : Dok.Mosintuwu/Lian

Dikisahkan, pelabuhan Takule yang ramai dengan perdagangan, menjadi tempat singgah pertama misionaris Kristen, Albert Christian Kryut. AC Kruyt yang adalah seorang etnografer bertemu dengan Baso Ali seorang saudagar muslim. Oleh Baso Ali, AC Kruyt diajak ke rumahnya. Sejarah lisan menyebutkan, diskusi berlangsung hangat semalam suntuk. Saya membayangkan percakapan yang mungkin terjadi diantara etnografer dan saudagar. Mungkin tentang suku-suku yang mendiami wilayah Poso? tentang karakteristik, sistem kepercayaan yang ada di sekitar wilayah perdagangan? Sebuah percakapan yang membuat AC Kruyt bisa menginap di rumah Baso Ali. Lalu, keesokan paginya, Baso Ali menunjukkan arah dan wilayah yang tepat bagi AC Kruyt mengembangkan agama Kristen . Ke arah pegunungan. Beberapa sumber lisan lainnya bahkan menyebutkan, Baso Ali bukan hanya menunjukkan arah namun menyuruh beberapa orang kepercayaannya untuk mengantarkan AC Kruyt ke wilayah yang belum beragama.

Baca Juga :  Baku Tukar Motor, Pohintuwo Lembah Bada di Masa Pandemi

Semacam ada kesepakatan tentang wilayah penyebaran agama. Alhasil, wilayah penyebaran agama Kristen hingga saat ini berada di wilayah pegunungan sementara wilayah pesisir pantai Tana Poso menjadi wilayah penyebaran agama Islam.  Tentena, sebuah wilayah di pegunungan Tana Poso berjarak sekitar 65 km dari kelurahan Mapane, saat ini menjadi pusat gereja kristen Sulawesi Tengah ( GKST ).  Berdasarkan statistik BPS Kabupaten Poso 2020 , presentasi umat Kristen saat ini 60,80% . 

Saya membayangkan masa lalu dalam peta. 

Meskipun GKST saat ini berada di Tentena, gereja-gereja tua berada di sekitar mesjid Al-Amin. Sekitar 1 km dari mesjid Al-Amin ke arah Barat, terdapat gereja tua Kasiguncu di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir. Gereja tua Kasiguncu yang sering menjadi simbol perayaan masuknya agama Kristen. Lalu, sekitar 7 km ke arah Selatan , gereja tua lainnya terdapat di Desa Malitu, Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Kedua gereja tua ini menunjukkan sejarah penyebaran agama Kristen pertama di Tana Poso. Jaraknya 1 km dan 7 km dari pusat penyebaran agama Islam di Takule, sekarang Mapane. 

Tidak ada kisah lisan maupun tertulis tentang perebutan wilayah penyebaran agama, apalagi peperangan karena penyebaran agama. Jejak-jejak gereja tua yang berdekatan dengan mesjid tertua di Kabupaten Poso dan pusat penyebaran agama Islam ini menggambarkan bagaimana penyebaran agama Islam dan Kristen berlangsung berdampingan dan saling menghormati. 

Dalam percakapan saya dengan Syarifuddin Odjobolo, seorang keturunan Baso Ali, Udin menjelaskan betapa toleransi sudah dipraktekkan jauh sebelum kata itu menjadi bagian dari kamus bahasa Indonesia . 

“Orang Poso sudah mempraktekkan toleransi, perdamaian antar agama jauh sebelum ada Indonesia” ujar Udin.

Baca Juga :  Relawan Saling Jaga: Mobil Hampir Masuk Jurang dan Harapan Seorang Nenek Panti Jompo

Ustad Asri, tokoh agama Islam di Mapane menguatkan dengan menyebutkan sejarah pertemuan Islam dan Kristen harus menjadi sejarah yang hidup dan mewarnai hubungan antar agama di Kabupaten Poso. Sejarah kekerasan yang pernah terjadi di Poso tidak boleh menutup sejarah pertemuan ini, sebaliknya menjadi alasan mengapa orang Poso adalah orang yang mencintai dan mempraktekkan toleransi. 

Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, mencatat mesjib Al Amin tercatat masuk dalam cagar budaya demikian pula gereja tua di Kasiguncu dan gereja tua di Desa Malitu tahun 2014. Memasukkan dalam cagar budaya yang harus dilestarikan keberadaannya diyakini karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, agama, pendidikan dan atau kebudayaan.

Sebagai yang tertua dan karena itu dilindungi, mesjid Al Amin, perlu dibicarakan melampaui fisiknya yang tua.

Sebagai titik temu Islam dan Kristen Poso. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda