Beranda Budaya Tradisi Poso Beras Kamba : Sejarah Pangan Poso yang Tersisa di Lembah Bada

Beras Kamba : Sejarah Pangan Poso yang Tersisa di Lembah Bada

0
72
Jenis beras Kamba, beras di Lembah Bada, termasuk dalam jenis Oryza meyeriana . Foto : Dok. Mosintuwu

Alkisah, seorang anak muda melakukan perjalanan ke khayangan. Dia hendak mencari dimana asal muasal padi (oryza sativa). Sebelumnya dia diberitahu oleh seorang Topowurake bahwa padi hanya ada di surga, padi adalah makanan surga. Topowurake adalah sebutan bagi seorang perempuan pemimpin spiritual.

Sepanjang perjalanan dia terkagum-kagum atas apa yang dijumpainya. Kekaguman ini diekspresikannya dalam lantunan syair pujian.

 Da kuparimo mandake ( Aku memaksakan diri untuk mendaki,

nakasawi njai tampe ( Hingga saya berdiri di teras, )

Da kuparimo mepone, ( Sudah Kuusahakan untuk mendaki )

da sawi ri topaore, ( Hingga mencapai penghuni surga )

Legenda rakyat Poso ini ditulis ulang A.C Cruyt dalam bukunya “Orang Toradja yang Berbahasa Bare’e”. Kisah ini menunjukkan sejak dahulu orang-orang Poso telah mengenal padi. Padi ditempatkan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti sejak kapan orang di lembah Bada menanam padi. Namun peninggalan budaya megalith yang berusia berkisar 2.000 – 4.000 tahun lalu di wilayah itu menunjukkan kemungkinan sejarah bertani di wilayah itu. Temuan arkeologi berupa sisa-sisa padi dan sekam di situs Ulu Leang 1 Sulawesi Selatan berusia sekitar 3.500 tahun.  Usia yang sama dengan temuan kalender tanam yang terpahat di beberapa situs megalith di lembah Bada maupun di Behoa. Pada beberapa megalith ditemukan kalender tanam. Agus, seorang pemandu wisata di Lembah Bada menunjukkannya megalith di Desa Lengkeka, kecamatan Lore Barat yang terletak di tengah sawah.

Kesimpulan bahwa di Poso khususnya Lembah Bada telah mengenal padi disebutkan peneliti di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, BRIN, Dwi Yani Yuniawati Umar. Dalam jurnalnya, Dwi menyebutkan masyarakat purba di Lembah Bada memiliki kemampuan bercocok tanam padi. Dia juga menduga, masyarakat ini sudah memelihara ternak. Sementara itu, penelitian Wiebke Kirleis dan Hermann Behling dari Universitas Goettingen, Jerman, dalam ”Landscapes of Central Sulawesi the Environmental History of the Besoa Valley”, yang dicatat di kompas.id menuliskan pembukaan hutan di kawasan lembah Bada terjadi sekitar 3.500 tahun lalu. Penelitian ini  juga menemukan adanya pembakaran lahan yang dilakukan secara periodik untuk kepentingan pertanian.

Baca Juga :  Teror dan Politik Ingatan

Padi yang ramah tanah, bertahan ditengah tawaran berkali panen.

Di Poso, khususnya di Lembah Bada, tempat peradaban ribuan tahun lalu tumbuh, penduduknya telah memakan beras. Kamba. Demikian nama beras ini dikenal. Kamba dikenal karena bentuk dan rasanya yang khas.

Jenis beras kamba, beras di Lembah Bada, termasuk dalam Oryza meyeriana. Ini adalah sejenis padi liar yang diketahui berkembang di Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina. Jenis padi ini umumnya tumbuh di hutan hingga tepi sungai. Dalam jurnal “Spedies Padi Liar (Oryza spp.) sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik dan Biotik pada Padi Budi Daya” yang ditulis Tintin Suhartini dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.

Padi dalam kelompok Oryza meyeriana termasuk jenis yang tahan terhadap hama dan bisa hidup di bawah naungan hingga 100 persen. Itu sebabnya jenis ini bisa tumbuh di tengah hutan yang rapat. Jenis ini membuatnya menjadi jenis padi yang ramah lingkungan dan tidak membutuhkan pembukaan lahan dengan membabat hutan.

Keberadaan padi Kamba menjadi mencolok diantara 15 varian padi yang ditawarkan pemerintah kepada para petani. Varian padi lainnya ditanam menghasilkan panen sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Paling cepat 3 bulan sehingga dalam setahun varian padi ini dapat panen hingga 3 kali. Namun, varian padi ini membutuhkan asupan berbagai jenis pupuk kimia. Tanah terus bekerja tanpa henti.

Kamba hanya ditanam sekali setahun. Jenis ini memberi waktu kepada tanah untuk memulihkan diri. Padi Kamba ditanam nir pestisida, herbisida dan fungisida. Jenis padi ini dipanen paling cepat setiap 5 bulan.

Baca Juga :  Pohintuwo, Merespon Bencana di Lembah Bada

Padi Kamba kini menghadapi tantangan. Kampanye panen berulang dan tuntutan agar sawah bisa cepat menghasilkan beras membuat semakin sedikit petani yang menanamnya.

Pak Maranatha, petani di desa Gintu, Kecamatan Lore Selatan menceritakan, keluarganya selalu menanam beras Kamba di sebagian petak sawah mereka. Hasilnya pertama-tama untuk kebutuhan makan sehari-hari, sebagian dijual dan selalu disisakan sebagai bibit untuk penanaman berikutnya.

“Kalau dahulu hanya sekali dalam setahun, setiap bulan April sudah ditanam bersama-sama. Tapi sekarang, sudah tidak melihat bulan lagi” ceritanya.

Dia melanjutkan, bibit beras Kamba disemai selama 26 hari. Setelah itu dipindahkan ke petak sawah yang sudah siap ditanami dengan jumlah 1-4 batang. Cara ini membuat bibit padi tahan terhadap serangan hama karena batangnya sudah cukup besar. Belakangan, muncul cara lain yakni tanam benih langsung (Tabela), cara ini dianggap lebih praktis, namun dengan resiko serangan hama yang lebih besar.

Saat padi sudah ditanam, petani hanya perlu membersihkan gulma yang tumbuh tanpa perlu menyemprotken pestisida dan cairan kimia lainnya. Pemberian pupuk akan mengganggu dan akan menyebabkan perubahan rasa pada beras yang dihasilkan.

Pak Maranatha mengatakan, mereka mencabuti rumput yang tumbuh diantara batang padi secara manual. Ini adalah salah satu sebab mengapa banyak petani menilai beras Kamba lebih sulit ditanam ketimbang jenis lainnya.

Perempuan Bada, menapis beras Kamba. Jenis beras Kamba, beras di Lembah Bada, termasuk dalam jenis Oryza meyeriana . Foto : Dok. Mosintuwu

Bergantung Pada Cuaca

Dalam pengalaman Maranatha menanam padi Kamba, diperlukan perhitungan cermat kapan musim hujan dan kemarau datang. Sebab, padi Kamba butuh keseimbangan. Air yang tidak terlalu banyak tetapi juga tidak boleh kering diawal masa pertumbuhannya. Kini tantangan terbesar yang dihadapi petani adalah krisis iklim. Musim semakin sulit diprediksi.

Sebelumnya petani di lembah Bada mengetahui musim hujan dimulai bulan Oktober hingga November dan mencapai puncaknya di bulan Desember hingga Februari. Lalu kemarau tiba di bulan April hingga September. Namun, kombinasi perubahan iklim, fenomena La Nina dan El Nino serta Indian Ocean Dipole ((naik turunnya suhu permukaan laut) membuat semuanya menjadi sulit diprediksi. Hal itu juga mempengaruhi keputusan petani menanam beras Kamba. Karena ketidakpastian musim ini banyak yang beralih ke varietas lainnya yang umur panennya lebih cepat, misalnya jenis MSP 65 yang bisa dipanen dalam 65-70 hari hari, atau jenis Superwin yang dipanen dalam 111 hari.

Baca Juga :  Menolak Kesulitan DPR: Mengapa Poso Mendesak RUU PKS di Prolegnas 2020

Meski menghadapi tantangan musim yang tidak pasti, namun petani di lembah Bada masih berupaya menanamnya karena keterikatan sejarahnya. Sejumlah petani di desa Gintu, ibukota Kecamatan Lore Selatan misalnya, selalu menyimpan benih Kamba.

“Kalau kehabisan bibit karena gagal panen, biasanya petani akan mencari lagi bibitnya dengan menukarnya lagi dengan beras biasa, sehingga bisa terus menanam beras Kamba” kata pak Maranatha. Sepanjang yang diketahuinya, bibit beras Kamba hanya disimpan petani di lembah itu.

Dalam pengalamannya,  dalam 1 hektar, hasil panen beras Kamba bisa mencapai 100 karung atau setara 3 ton. Meski sedikit lama menunggu dengan hasil panen lebih rendah dibanding jenis padi lain, keluarga-keluarga petani di Lembah Bada masih tetap berusaha mempertahankannya. Selain sangat menyukai rasanya, nasi beras Kamba lebih awet dibanding nasi dari jenis lainnya.

“Hanya yang benar-benar menginginkan beras yang sehat dan menjaga tradisi leluhur yang terus bertahan” Kata Maranatha.

Ditengah semakin cepatnya masa panen beras jenis baru, Kamba tetap bertahan karena dia menjadi simbol ketahanan dan kecintaan masyarakat lembah Bada akan warisan leluhurnya.

Membaca lagi syair sang anak muda yang mencari padi di khayangan, seperti mengingatkan kecintaan pada padi yang adalah makanan dari surga.

Penulis : Velmariri Bambari
Editor : Lian Gogali

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda