Bahasa Ibu di Poso : Bada dan Behoa Terancam Punah, Pamona Alami Kemunduran

0
544

“Romo siko mangkoni Be’a”

Rachel Bawias ( 15 ), murid kelas 10 SMAN 1 Pamona Utara sering ditanyai oleh neneknya dalam bahasa Pamona “ apakah kami sudah makan, nak?” Bea adalah sebutan untuk anak perempuan. Pertanyaan-pertanyaan ini yang mendorong dirinya masih sering menggunakan bahasa Pamona di rumah. Nenek dan kakeknya yang paling sering mengajaknya bercakap-cakap.

Dulu, menurut Rachel, bahasa Pamona masih menjadi muatan lokal ketika SD. Di sekolah, dia dan teman-teman SD masih bercakap-cakap menggunakan bahasa daerah. Saat SMP hingga SMA pelajaran bahasa Pamona sudah tidak diajarkan. Ini berbeda dengan bahasa Indonesia dan Inggris yang tetap jadi materi pelajaran di semua sekolah. Rachel mengamati penggunaan bahasa Pamona dalam pergaulan sehari-hari. Hasil amatan dia, banyak temannya tidak lagi berbahasa daerah karena tidak dibiasakan dari rumah.

Seperti  Rachel, Refa (16 ) murid SMK Tentena juga masih sering menggunakan bahasa Pamona dalam percakapan sehari-hari di rumah. “ Rimbei palaimu “ , mau pergi kemana ? Refa mencontohkan.

Berbeda dengan Rachel dan Refa yang fasih berbahasa Pamona. Tasia, murid di salah satu sekolah di Tentena sudah tidak lagi menggunakannya di rumah.Dia masih mengerti kalau orang berbicara menggunakan bahasa Pamona kepadanya. Namun dia sendiri tidak lagi fasih menggunakannya. Tasia dengan malu-malu mengakui pentingnya bahasa daerah untuk masa depan generasinya.

Bahasa : Budaya Tak Benda , Yang akan Hilang

Bahasa merupakan warisan budaya tak benda. Jika tidak dirawat, akan hilang ditelan masa. Jika hilang, identitas seseorang yang melekat di dalamnya akan pergi.  Anggi Auliyani Suharja (Komunitas Arkais Sunda) melihat banyak bahasa yang terancam punah karena rendahnya sikap positif anak muda terhadap bahasa daerah.

UNESCO memperkirakan setengah dari sekitar 6 ribu Bahasa di dunia terancam hilang akhir abad ini. Tiga diantaranya mungkin termasuk bahasa ibu yang ada di kabupaten Poso. Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat 718 bahasa ada di Indonesia. Hampir 90 persen ada di wilayah timur Indonesia: 428 bahasa di Papua, 80 bahasa di Maluku, 72 bahasa di Nusa Tenggara Timur, dan 62 bahasa di Sulawesi.

Hasil kajian kebahasaan oleh Badan Bahasa setiap tahun menunjukkan ada 8 bahasa dikategorikan punah, 5 bahasa kritis, 24 bahasa terancam punah. 12 bahasa mengalami kemunduran, 24 bahasa dalam kondisi rentan, yakni stabil tetapi terancam punah, dan 21 bahasa berstatus aman. Selengkapnya di Bahasa Ibu Terancam

Hasil Penelitian untuk Pemetaan dan Perlindungan Bahasa Daerah oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991-2017 menunjukan puluhan bahasa daerah dalam kondisi kritis. Termasuk didalamnya bahasa Napu dan Behoa.

Baca Juga :  Rekomendasi Perempuan Poso untuk Desa Membangun di Poso

Disarikan dari data hasil penelitian tersebut, setidaknya ada 4 bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya kritis atau sangat terancam saat ini. Keempat bahasa tersebut adalah Bahasa Reta di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lalu Bahasa Saponi di Kabupaten Waropen, Papua. Kemudian Bahasa Ibo di Kabupaten Halmahera Barat, serta Bahasa Meher di Pulau Kisar, Maluku.

Laporan penelitian ini juga menyebutkan ada 18 bahasa daerah yang berada dalam kondisi terancam punah. Pembagiannya yaitu sebanyak 9 bahasa daerah di Papua (Mander, Namla, Usku, Maklew/Makleu, Bku, Mansim Borai, Dubu, Irarutu, Podena), 4 bahasa daerah di Sulawesi (Ponosakan/Ponosokan, Konjo, Sangihe Talaud, Minahasa/Gorontalo).

Kemudian di Sumatra ada Bahasa Bajau Tungkal, dan Bahasa Lematang. Berikutnya ada juga 2 bahasa daerah di Maluku yang terancam punah yaitu Bahasa Hulung, serta Bahasa Samasuru. Dan satu lagi ialah Bahasa Nedebang di Nusa Tenggara Timur.

Lewis et al., (2015) berpendapat ada dua dimensi dalam pencirian keterancaman bahasa, yaitu jumlah penutur yang menggunakan bahasanya serta jumlah dan sifat penggunaan atau fungsi penggunaan bahasa.

Menurut penelitian ini, suatu bahasa dikatakan terancam apabila semakin sedikit masyarakat yang mengakui bahasanya dan, oleh karena itu, bahasa itu tidak pernah digunakan ataupun diajarkan kepada anak-anak mereka.

Selain itu, suatu bahasa dikategorikan terancam punah jika bahasa itu semakin sedikit digunakan dalam kegiatan sehari-hari sehingga kehilangan fungsi sosial atau komunikatifnya.

Kondisi ini bisa dikatakan tengah berlangsung di kabupaten Poso. Sehari-hari kita bisa dengarkan semakin sedikit anak-anak berbahasa Poso(Pamona, Bada, Napu, Behoa).

Tahun 2003 UNESCO menggolongkan enam tingkat keadaan bahasa berdasarkan penilaian vitalitas atau daya hidup bahasa. Dua diantara tingkatan itu adalah terancam dan sangat terancam.  Bahasa yang terancam disebut akibat anak-anak tidak lagi menggunakan bahasanya di rumah sebagai bahasa ibu. Sedangkan bahasa yang sangat terancam karena bahasa itu hanya digunakan antargenerasi tua, tetapi tidak kepada anak-anak.

Tiga bahasa di Poso  yang terancam

Di kabupaten Poso, ada 3 bahasa ibu yang terpisah dalam 3 wilayah berbeda, yakni Bahasa Pamona, Bahasa Bada dan Bahasa Behoa.

Bahasa Pamona

Pamona menjadi suku terbesar di kabupaten Poso, tersebar dari kecamatan Poso Kota, Lage dan Poso Pesisir di sebelah utara hingga ke desa Mayoa di kecamatan Pamona Selatan dan Matialemba di kecamatan Pamona Timur. Berdasarkan data badan bahasa Kemendikbud RI, Bahasa Pamona dikategorikan ‘mengalami kemunduran’. Lihat Bahasa Pamona alami kemunduran

Baca Juga :  Konferensi Perempuan Poso: Kami Diabaikan dan Dimiskinkan oleh Pembangunan

Bahasa Bada

Penutur Bahasa Bada membentang dari desa Maholo kecamatan Lore Timur, seluruh desa di kecamatan Lore Barat dan Lore Selatan, sebagian masyarakat desa Lemusa kecamatan Parigi Selatan hingga ke kecamatan Ampibabo kabupaten Parigi Moutong.Secara kuantitatif bahasa Bada terdiri atas dua dialek, dialek Napu dan dialek Bada Tiara. Dialek Napu dituturkan di Desa Maholo, Kecamatan Lore Timur dan Desa Badangkaia, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso.  Berdasarkan data badan Bahasa kemendeikbud.go.id status Bahasa Bada dalam kategori terancam punah .

Behoa

Behoa adalah suku yang ada diantara Napu dan Bada. Terletak ditengah dataran Lore yang dikelilingi 2 simbol penting. Taman Nasional Lore Lindu dan kompleks peninggalan megalith. Secara administrative wilayah Besoa masuk dalam kecamatan Lore Lore Tengah kabupaten Poso. Letaknya yang berada ditengah dari dua penutur Bahasa yang berbeda membuat wilayah ini terus mengalami percampuran Bahasa. Ada 8 desa yang masuk dalam wilayah Lore Tengah dan penduduknya mayoritas berbahasa Behoa yakni desa Hanggira, Doda, Barire, Lempe, Rompo, Bariri, Baliura dan Katu. Data badan Bahasa kemendikbud.go.id menempatkan Bahasa Behoa dalam kategori terancam punah.

Selain bahasa Bada, Pamona dan Behoa, di kabupaten Poso ada pula bahasa Napu dan Sedoa. Badan Bahasa kemendikbud.go.id menempatkan Bahasa Sedoa sebagai bagian dari Bahasa Bada.  Namun, menurut buku struktur Bahasa Napu terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bahasa Sedoa berdiri sendiri. Lihat di  struktur bahasa Napu

Napu

Bahasa Napu atau Pekurehua dituturkan oleh masyarakat desa Wuasa di sebelah utara hingga ke desa Watumaeta disebelah selatan yang berbatasan dengan kecamatan Lore Tengah yang menjadi tempat penutur Bahasa Behoa.

Ahmad Garantjang, penulis buku Struktur Bahasa Napu, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1989 mengatakan, bahasa Napu dituturkan oleh penduduk 9 desa yakni ; Wuasa, Watumaeta, Alitupu, Winiwanga, Maholo, Tamadue, Tatatu, Wanga, Kadua’ dan penduduk desa Pinedapa di kecamatan Poso Pesisir.

Belum ada catatan mengenai kondisi penuturan Bahasa Napu. Namun melihat komposisi penduduk di wilayah itu yang kini mengalami percampuran berbagai suku, kita bisa menduga kondisi bahasanya juga sama rentannya dengan 3 bahasa lainnya yang kini dalam keadaan rentan.

Sebab Bahasa Daerah Terancam Punah

Mengutip pandangan David Andersen, penyebab utama kepunahan bahasa daerah yaitu semakin banyak orang tua memilih untuk memakai bahasa nasional (Bahasa Indonesia) dengan anaknya dan jarang menggunakan bahasa daerah. Dengan demikian, semakin banyak anak yang kurang lancar menggunakan bahasa daerah, walaupun mungkin masih mengerti arti bahasa tersebut. Kebiasaan untuk tidak menggunakan bahasa ibu kepada anak-anak menjadi jalan menuju kepunahan bahasa tersebut akibat semakin berkurangnya penutur aktif. Adapun langkah efektif agar supaya bahasa daerah terhindar dari kepunahan adalah orang tua tetap menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya. Begitu pula ketika orang sesuku bertemu dan berkumpul harusnya lebih mengutamakan penggunaan bahasa daerah.(Bahasa daerah di Sulteng terancam punah/Mohamad Sairin) sumber : mercusuar.web.id

Baca Juga :  Ekspedisi Poso untuk Taman Bumi Danau Poso

Sedangkan Sumanto Al Qurtuby, dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum&Minerals, Arab Saudi dalam artikelnya berjudul menyebut nasionalisasi Bahasa Indonesia oleh orde Soeharto melalui sekolah-sekolah sampai perguruan tinggi dan di kurikulum Pendidikan jadi sebabnya.

Tapi Sumanto juga tidak menafikkan faktor lain yakni globalisasi teknologi dan informatika khususnya melalui media massa dan sosial yang juga turut bertanggungjawab. Globalisasi menurut dia telah menciptakan “desa global” dimana warga desa dan daerah pelosok pun bisa dengan leluasa memilah-milah aneka bahasa yang mereka sukai untuk berkomunikasi dengan sesama.

Lalu, mengapa  bahasa ibu Penting? Dikutip dari dw.com, Christiane Hoffschildt, dari Asosiasi Terapi Bicara Jerman DBL mengatakan, kemampuan menguasai satu bahasa ibu merupakan dasar yang sangat penting bagi anak-anak untuk bisa menguasai bahasa lainnya.

Jadi disaat banyak orang tua terobesi agar anaknya menguasai berbagai bahasa asing, mereka lupa bahkan tidak mengajarkan bahasa ibu sendiri. Alhasil, kemampuan bahasa asing anak juga seadanya saja. Bahkan rendah. Hasil survey indeks kecakapan bahasa Inggris yang dilakukan ef.com tahun 2022 membuktikan hal ini.  Dari 111 negara yang mereka survey, Indonesia berada di peringkat 81. Jauh dibawah Vietnam diperingkat 60 dan Philipina di peringkat 22.

Jangan bayangkan dimana posisi kabupaten Poso dalam peringkat ini. Jakarta saja, yang ibukota negara hanya berada di peringkat 523 dari 1,200 kota di dunia yang disurvey.

Abdurrahman Balie, penerima Mosintuwu Award 2018 kategori penjaga tradisi bahasa, sejak lama telah menguatirkan hilangnya bahasa Pamona. Di usianya ke 84, masih sangat aktif berjalan keliling dari satu desa ke desa lain untuk mengkampanyekan kamus bahasa daerah yang ditulisnya sendiri.

Rachel dan Refa menegaskan pentingnya melestarikan bahasa daerah.

“Bahasa daerah itu bahasa orang tua kita. Kalau bahasa daerah tidak dilestarikan maka bahasa daerah itu akan hilang dengan sendirinya. Jadi, kita sebagai generasi muda harus melestarikannya dengan cara menggunakannya sehari-hari. Nanti akan menjadi kebiasaan yang baik “  ujarnya.

Sementara Ayin mengharapkan agar ada pelajaran bahasa Pamona kembali dilakukan di sekolah-sekolah agar bahasa Pamona tidak hilang.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda