Gede Robi : Tuhan Tidak Pernah Menciptakan Sampah

0
962
Robi Navicula dalam film Pulau Plastik. Sumber foto : IG @pulauplastik

Gede Robi Suprianto, menyebut dirinya sebagai petani dan aktivis. Vokalis band Navicula ini mendedikasikan hidupnya untuk isu sosial dan lingkungan. Salah satu statementnya “ Tuhan tidak pernah menciptakan sampah” menjadi bagian dari lirik lagu yang dikampanyekannya dalam serial film Pulau Plastik.

Lian Gogali, berkesempatan mewawancarai Robi di radio Mosintuwu 107.7 FM saat berkunjung untuk mengisi kegiatan seminar Tidak ada “Planet “Lain : Saya Pilih Bumi di Festival Mosintuwu , 12 November 2022. Menyambut hari sampah , redaksi Mosintuwu menyajikan kembali percakapan dengan Robi dalam bentuk tulisan. Untuk kepentingan redaksional, percakapan selama 1 jam 30 menit ini sudah mengalami pengeditan tanpa menghilangkan statemen penting dari Robi.

Lian Gogali: Bagaimana awalnya bersama Navicula mulai bekerja atau terlibat pada isu-isu lingkungan dan HAM untuk di sampaikan melalui lagu?.

Robi Navicula: Navicula berdirinya dari tahun 1996. Itu 26 tahun yang lalu. Kita memang suka musik, yang jelas produknya Navicula adalah musik. Tapi saya pribadi melihat bahwa seni, musik lebih spesifik, punya value atau potensi yang lebih besar dari sekedar seni. Musik ini dari dulu banyak sekali dipakai sebagai media transformasi yang sangat cair pada masyarakat.

Kalau kita lihat secara historical betapa powerfulnya musik sebagai media pergerakan. Kita lihat  misalnya penyebaran agama, menggunakan musik. Doa-doa sembahyang yang rutin penyampaian ayat-ayatnya juga ada nada, melodi. Ibu juga menenangkan bayinya pakai lagu, ada lullaby,  ada lagu Nina Bobo. Kalau di Poso ada lagu Seselero, itu salah satu yang dipakai untuk Nina Bobo.

Terus kita melihat juga misalnya zaman Sunan di Nusantara pakai teater, kidung, tembang-tembang, wayang kulit. Jadi secara sejarah memang banyak kita lihat musik salah satu media yang powerful. Apalagi kita di Indonesia ini  kadang bukan budaya literasi. Jadi kayak malas baca buku. Tapi kalo diajar dengar musik, ngobrol, seni, teater, itu lebih gampang menyerap sebuah informasi. Saya sebenarnya terinsipirasi dari budi pekerti budaya kita.

Jadi saya pikir, saya hanya salah satu orang yang mendapatkan tongkat estafet ini. Mencoba melakukan di band, apa yang kita bisa. Dan harapannya nanti tongkat estafet ini beregenerasi. Suatu saat ada pendengar kita melakukan hal yang sama atau melakukan hal yang lebih baik. so far it’s works .

Lian Gogali:  Tadi disebutkan kalau ini memang isu lingkungan yang kemudian mulai dinikmati oleh masyarakat. Apakah ada sebuah tahap persiapan yang entah riset yang  kemudian melahirkan karya-karya tadi. Ada salah satunya Metro Polutan, kemudian Orang Utan, dan seterusnya. Bagaimana proses itu berjalan?

Robi Navicula: Awal-awalnya kan kita pasti mencari informasi. Ada sebuah informasi yang kita pertanggungjawabkan. Jangan-jangan perubahan sosial itu bisa menjadi perubahan yang salah arah  kalau kita tidak bisa pertanggungjawabkan informasinya. Makanya disini perlu kolaborasi untuk menguatkan sehingga data kita ini juga lebih banyak manfaat daripada mudaratnya.

Misalnya kita kerjasama dengan Greenpeace, dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Wallhi masuk waktu dulu kita bikin tour di dalam hutan, naik motor trail selama 2 Minggu, dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Barat sambil bikin film  dokumentasi. Dulu film kita tentang deforestasi. Tapi semakin jauh kita masuk ke dalam isu ekologi itu kita berbentur dengan sebuah tembok yang namanya korupsi. Sama juga teman-teman di dunia pendidikan, di dunia medis, wah berarti isu korupsi ini perlu di angkat juga.

Sementara Navicula sendiri tidak punya background informasi tentang korupsi pada waktu itu kan. Itu di awal-awal KPK di zaman Cicak vs Buaya. Akhirnya Navicula waktu itu menggalang jaringan dengan teman-teman KPK, terutama divisi budaya untuk bikin workshop supaya kita ada pemahaman mendasar tentang budaya korupsi. Ikut workshop ambil ambil point-pointnya. Akhirnya dari workshop itu kita ekstrak. Jadi lagu Mafia Hukum. Jadi anthem juga kan dibeberapa acara TV, gerakan kampanye Cicak vs Buaya.

Lian Gogali :  Salah satu  topik lirik lagu Navicula menyebutkan “Tuhan tidak menciptakan sampah“ bagaimana latarbelakang ceritanya?  Dan apa sebenarnya makna kata ini?

Robby Navicula: Isu plastik kan sudah lama banget di Bali. Temen-temen kumpul sampah itu udah gerakan yang lama banget. Di Bali juga ada gerakan yang populer “ Malu dong buang sampah sembarang “ itu cukup aktif bikin kampanye di acara-acara, di konser-konser, di setiap demonstrasi atau kegiatan yang melibatkan masyarakat banyak juga aktif. Waktu itu saya berkolaborasi bersama Kopernik untuk respon tanggap bencana.

Kita ngobrol, wah ini seru nih kalo bikin satu alat kampanye tentang isu plastik. Biar bisa disebarkan di masyarakat, di layar tancap atau screening. Waktu itu kita tergelitik oleh statemennya Jenna Jambeck “Indonesia adalah negara kedua terbesar di dunia penyumbang sampah plastik kelautan”

Pada waktu itu kita pikir aduh ini aib bagi orang Indonesia. Waktu itu kita tergelitik, kita adalah bangsa bahari. Ada lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”. Kita makan dari protein di lautan. Kita punya banyak sekali budaya yang melindungi air, melindungi laut. Bayangin  70% komposisi dari bumi adalah air. Sama kayak tubuh kita teryata komposisinya sebagian air. Wah kenapa kita sampai kayak begini ( Red : mendapatkan statamen dari Jenna Jambeck ). Berarti ada salah tata kelola nih. Ini sama saja kayak membakar lumbung. Lumbung kita kan laut, tempat kita makan. Sementara ada istilah “ don’t shit where you eat “ maksudnya jangan kotori tempat makananmu.

Nah sebagai orang Indonesia apa yang seharusnya di lakukan?  Banyak orang tergerak. Bukan cuma media visual. Apalagi jaman sekarang teknologi untuk bikin film sebenarnya gampang.  Industri film Indonesia juga cukup besar tapi kalo kita google,  industri film di Indonesia yang bikin film dokumenter sedikit sekali. Bahkan dari Indonesia merdeka sampai sekarang itu cuma 11 film dokumenter yang masuk bioskop.

Di tengah jalan kita ketemu dengan Visinema. Ini produk film beneran, Adi Sasongko juga bilang ini. Sementara Visinema sendiri udah pasti lah produk mereka film-film bioskop. Udah bikin Filosofi Kopi I , Filosofi Kopi 2. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Apalagi film mereka Keluarga Cemara. Wah tertarik mereka untuk bikin film dokumenter nih. Kolaborasi dengan Pulau Plastik. Begitu bikin film, datanya juga harus akurat. Sehingga kita cross check ke Universitas Airlangga, IPB,LIPI ke Lembaga internasional. Jadi ini risetnya yang lebih banyak.

Baca Juga :  Desaku, Ibuku. Yang Kaya dan Hampir Hilang

Saat itu masih di Pulau Plastik serial. Belum yang film “Pulau Plastik” .Di serial itu kita perlu soundtrack yang biasa dipakai di film. Ada soundtrack lagunya saya kerjain sama teman saya. Tema lagunya juga kita pilih dari lagu Navicula, judulnya Sampah. Sampah ini memang di desain untuk kampanye Waste Management. Makanya liriknya “ Dahulu bumi ini pernah indah karena Tuhan tak menciptakan sampah. Mungkinkah bumi ini tetap indah, mungkin bisa jika kita berubah “.

Jadi konsep sampah ini sebenarnya teori dasar ekologi bahwa selaras, desain ramah lingkungan ini sebenarnya bagaimana manusia mempelajari alam bekerja. Karena kita bikin kebun kita itu lebih resilien lebih tahan hama. Lebih low maintenance, produksinya lebih banyak, berarti menyesuaikan dengan iklim di Indonesia yang tropis yang polikultur. Hutan-hutan alami di Indonesia hutan heterogen.

Kalau kita lihat di hutan nggak ada sampah kan. Jadi daun yang berguguran atau tanaman yang mati, semuanya ini terurai. Mereka menjadi unsur hara yang dibutuhkan. Menjadi siklus. Begitu pula di alam. Tanpa campur tangan manusia, tidak ada yang namanya sampah. Mengamati dan meresapi desain semesta ciptaan Tuhan ini sebenarnya tidak ada sampah. Karena sesuatu yang sudah tidak berguna misalnya, sesuatu yang tidak dimanfaatkan atau sudah saatnya akan terurai menjadi unsur baru yang akan mendukung pertumbuhan. Sesuatu yang tumbuh jadi daun jadi humus, jadi semuanya ada siklus.

Sama juga air kayak gitu. Di lautan air menguap jadi awan, dibawa ke gunung. Jadi banyak mata air, turun di sungai, dimanfaatkan oleh semua kehidupan peradaban, dibawa ke laut lagi. Menguap lagi ke udara. Jadi bahkan karbondioksida di pake untuk fotosintesis makanan di siang hari. Menggunakan cahaya matahari merubah karbondioksida dan air menjadi zat gula untuk di gunakan sebagai cadangan makanan.Hutan ini paru-parunya kita untuk oksigennya. Kita melepas karbon dioksidanya. Jadi sebenarnya tidak ada sampah dengan memahami cara alam ini bekerja.

Berarti seharusnya manusia kalau ingin meniru alam semesta ini selaras dengan alam. Ingin percaya dengan kuasa Tuhan dan melihatnya sebagai panutan iman dan takwa. Seharusnya percaya dan habis itu meniru designnya. Meniru anjurannya dan menjauhi larangannya kan. Sebenarnya karena design berarti kan kita meniru alam ini bekerja. Sehingga sebenarnya kita bisa memilih untuk menggunakan produk-produk yang tidak menciptakan toksin/ racun yang mengotori lahan.

Kalau kita lihat sekarang produk-produk itu atas nama praktis dan efisien memilih pakai kemasan. Begitu kita mau daur ulang mungkin tidak bisa. Berarti kan kita tidak memikirkan dimanfaatkan kembali. Dari hasil audit yang saya lakukan dengan memilah-milah sampah, teryata 70% persen sampah rumah tangga kita itu organik. Sampah dapur bisa untuk makanan ternak, bisa untuk di pakai kompos, dikembalikan ke alam.

Lian Gogali:  Maksudnya kalau kita campur antara yang organik, sampah plastik dari pasar atau dari mana ya?.

Robi Navicula: Semuanya ini kalau tercampur dibuang ke TPA semuanya 100% jadi sampah. Tapi kalau kita pisahkan 70% teryata adalah bahan pupuk dan punya nilai ekonomis juga.

Di Bali, harga pupuk ukuran 4kg untuk kualitas bagus itu Rp 6.000. Cukup ekonomis sebenarnya. Tahun 2012 teman-teman di Akar Rumput menghitung dengan 11 ton sampah padat yang di hasilkan oleh Bali per hari. 70% organik dan ini di olah, menjadi pupuk dengan harga 4 ribu rupiah per kilogram, satu tahun, Bali bisa menghasilkan 4,3 triliun rupiah dari sampah organik ini.

Selama ini sampah kita buang ke TPA. Kita buang uang ke TPA. Karena tidak mau pisah, dan tidak mau kelola. Maka harusnya bukan buang sampah tapi mengelola sampah. Kan kita merasa buang sampah cukup sampai sampai disitu saja dan teryata tidak juga. Itu cuma memindahkan sampah dari rumah kita ke TPA. Memindahkan masalah ke tempat lain. Maka idealnya kita Waste Manegement, di kembalikan lagi menjadi seperti alam bekerja. Ke bahan yang berguna. 70% teryata tidak masalah kalau kita tidak campur. Nah yang 30% ini kita bedah. Oh ternyata 25% bisa di daur ulang. Dari plastik, aluminum, besi , yang nilainya tinggi. Di pemulung ada yang beli, bawa ke rumah-rumah. Mereka bisa tukar dengan uang dan 5% barulah residu tidak bisa diapa-apakan lagi. Yang memang sudah klasifikasi sebagai sampah. Misalnya limbah medis, sedotan plastik, tas kresek. Secara teori memang bisa di recycle tapi tidak ada pemulung yang mau kumpulin karena berat kerjaaannya . Kalo 5% ini kita bisa kurangi berarti kan yang lain bisa di daur ulang.

Lian Gogali: Jadi prinsipnya kalau Tuhan tidak menciptakan sampah. Sampah yang kita produksi dan yang kita hasilkan dari kelakuan kita ini harus mampu mengelolanya.

Robi Navicula: Betul.. kalau kita mampu mengelola, sebenarnya kita tidak menciptakan sampah. Karna bahan-bahan sampah kalau kita pilah-pilih punya nilai ekonomis. Nah mana yang 5%. Anggap tiap-tiap daerah beda-beda. Tapi dari riset kita dulu, yang 5% ini isinya sedotan plastik kemasan sterofoam yang pemulung tidak mau ambil. Terus tas kresek atau kemasan sachet yang kecil-kecil misalnya kaya shampo yang ukurannya 500 ml itu misalnya. Itu kan banyak berceceran di alam.

Kalau dikurangi mungkin bisa menurunkan sampah ini lewat regulasi. Kan kita punya istilah Reduce, Reuse , Recycle. Kurangi dulu dengan regulasi. Sehingga menuntut masyarakat untuk tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai ini. Sebenarnya kalau kita pilah, jadi banyak. Kedua, sebisa mungkin design ini bisa Reuse. Kita bukan anti air kemasan gitu. Kan perusahaan berbisnis, kita mendukung bisnis juga. Galon itu misalnya kan tidak ada sampah. Bawa ke warung tukar dengan air baru. Kita kan beli airnya bukan kemasannya. Aku aja minum 10 botol bir itu aku tukar lagi. Aku dapat bir baru. Karena orang ambil botolnya untuk di gunakan kembali. Botol kaleng itu senang sekali pemulung karena harganya mahal. Sebenarnya bisa secara industri kita bikin design yang botolnya tidak di buang

Baca Juga :  Kalender Musim Masapi Danau Poso

Lian Gogali: Tadi ada kata-kata kunci yang sangat penting karena Tuhan tidak menciptakan sampah. Dan kita yang menciptakan sampah. Maka kita harus punya kemampuan untuk bertanggung jawab, kalau tidak, kita bisa berdosa. Kita berdosa karena telah melanggar alur yang sudah di ciptakanNya. Maka yang kemudian kita lakukan adalah memilah, karena hanya 25% yang kita urusin dan 70% sampah yang organik misalnya. Yang kedua adalah mengurangi. Tapi yang paling penting adalah mengurangi ini.

Robi Navicula : Terutama memang itu harus ada regulasi pemerintah. Pembatasan jenis-jenis sampah-sampah yang berpotensi menjadi residu yang sudah di Recycle, yang menumpuk di TPA. Kebanyakan yang paling gampang kita kategorikan dalam kehidupan sehari-hari itu kaya tas kresek. Itu kan bisa kita kurangi. Solusinya adalah bawa tas belanja sendiri, terus sedotan plastik, solusinya bagaimana saya sudah beberapa tahun minum tanpa pakai kemasan.

Misalnya rumah makan di Bali sudah banyak yang pakai sedotan besi. Bisa kita cuci, sampai kiamat juga tidak hancur. Maksudnya ada sedotan bambu sampe ada restoran yang pakai pelepah pepaya kaya pipa memang agak pahit dikit Cuma ya selain indah juga ramah lingkungan. Sedangkan kemasan sterofoam itu kan susah banget di Recycle. Apalagi kalau di bakar toksinnya banyak banget jadi racun baru. Habis itu harapannya kemasan yang kecil-kecil kaya sachet kalau kita lihat kan orang bilang itu murah. Tapi kalau kita ukur-ukur, satu shampo itu satu kali pakai itu isinya cuma Baking Soda. Mungkin harga shamponya sendiri cuma 1 perak. Paling isinya Cuma likuid, gliserin, parfum sedikit, itu mungkin Rp100. Tapi packaging itu multi layer plastik, printing, ada aluminium di campur itu mungkin harganya 400 rupiah. Jadi Rp 400 kita buang ke alam. Rp 100 yang kita pakai. Jadi  kemasannya yang mahal.

Lian Gogali: Jadi seharusnya kita berpikir apa yang kita sebut sebagai praktis sebenarnya mahal?

Robi Navicula:  Kalau kita mau hitung fair ( adil ) yang kita pake Rp 100.  Yang Rp 400nya kita buang. Itu sudah mahal. Belum lagi biaya pemerintah yang kita pakai untuk rehabilitasi lingkungan. Misalnya bersih-bersih pantai, biaya polusi. Syukur syukur kalau ada yang recycle ya ini biaya transportasi yang dia bawa, kalau kita mau fair, semua biaya ini dimasukan di harga Rp 500. Ini nggak mungkin hanya Rp 500. Kalau kita mau fair. Selama ini kita hitung dari produsen kan cuma biaya packaging sama biaya aslinya aja kan. Biaya perbaikan lingkungannya enggak.

Lian Gogali: Berarti termasuk dampaknya dalam kehidupan kesehatan kita ya?

Robi Navicula: Nanti itu jadi microplastik dalam kurun beberapa tahun. Dalam film Pulau Plastik kan sudah di jabarkan. Bagaimana microplastik, pecahan-pecahan plastik ini yang sudah terurai di alam teryata punya momok baru. Dia bisa mengikat racun-racun lain. Kalau tertelan masuk ke tubuh ikan, masuk ke rantai makanan kita itu belum kita hitung. Ini baru yang kasat mata saja kita hitung. Pake sachet murah apa enggak? Dengan misalnya zaman orang tua kita dulu tahun 80an beli susu 1kg. Beli beras satu karung untuk satu bulan. Beli biskuit saja satu blek besar untuk satu bulan. Bukan beli sachet kita di rumah. Kalau mau minum sehari-hari apakah pakai air minum yang ukuran gelas? Enggak kan. Pasti bangkrut, karena harganya mahal. Kita pakai galon lebih murah, kalo kita punya laundry mau beli pelembut atau detergen itu ukuran sachet tidak mungkin. Pasti kita beli jerigen. Kita mau untung rugi saja. Memang kelihatannya murah kalau satu kali. Tapi kan satu kali seumur hidup jadi mahal.

Lian Gogali: Kemudian cara berpikirnya harus di bongkar nih, dibalik harusnya.

Robby Navicula: Targeting ekonomi ke bawah. Jadi sebenarnya orang dengan ekonomi kebawah merasa bahwa apa yang mereka beli itu murah. Tapi kalau ditotal seumur hidup itu mereka mengeluarkan lebih banyak uang, ketimbang dengan orang mampu yang beli kemasan sekali pakai, total mereka hemat 20%sampai 30%

Lian Gogali: Yang sering beli sachetan itu perlu hitung ulang ya. Misalnya jangan plastik yang sekali pakai. Sebenarnya kita beli dengan jumlah yang lebih besar katakanlah detergen dalam ukuran yang besar. Mungkin setelah itu wadahnya kita bisa pakai untuk menanam. Jadi bisa kita gunakan ulang tanpa harus beli lagi.

Robi Navicula: Misalnya sampai harus beli yang bisa di Reduce dulu sebisa mungkin. Jangan di beli, jangan pulang ke rumah bawa tas kresek. Berarti kan kita bawa sampah. Nanti regulasi pemerintah mendukung ini kalau itu sudah sebisa mungkin kita lakukan baru kita memilih reuse.

Ruang kedua nanti itu kita kalau bisa menentukan desain-desain packaging bisa dipakai berulang-ulang. Kalau air kita memilih galon. Beli biskuit yang blek besar, nanti tempatnya bisa kita pakai macam-macam,  bisa bikin kue taruh di situ lagi. Kalau beli air minum bawa Tumbler. Kalau harus pakai sedotan ya pilih sedotan yang bisa dipakai berulang kali. Nanti begitu sudah selesai, baru kita masuk ke level ketiga, namanya Recycle.

Makanya bahan-bahan ini perlu daur ulang kalau bisa di manfaatkan kembali. Nanti di daur ulang itu kita menemukan Residu. Kita bisa audit, oh teryata ini susah di recycle. Berarti jangan di produksi. Jadi sudah menjadi kesepakatan publik reduce, reuse, recycle. Karena kalo reduce dan reusenya tidak kita lakukan nanti keteteran di-recycle. Karena banyaknya tercampur dengan bahan-bahan yang dominan tidak bisa di apa-apakan murni jadi sampah.,

Kalau sudah murni jadi sampah berarti kita lihat teknologi peradaban manusia  yang seharusnya membawa keselarasan dan kesejahteraan serta bikin alam menjadi lestari. Aku berani bilang teknologi itu gagal kalau teryata menghancurkan alam. Teryata dia membuat manusia sakit . Buat apa itu teknologi?.

Robi Navicula, dalam acara panggung musik di Festival Mosintuwu 2022, di Tentena. Foto : Dok.Mosintuwu

Lian Gogali: Kalau ada teknologi secanggih apapun teryata hanya bisa menghasilkan sampah yang tidak bisa di daur ulang dan seterusnya maka dia adalah teknologi gagal, gagal design.

Baca Juga :  Pemetaan Geo Sosial Spasial : Mengenal Desa, Merencanakan Pembaharuan

Robi Navicula: Pokoknya lebih banyak merugikan manusia secara jangka panjang. Aku gak mau pake sachet karna menurutku rugi dan juga merugikan lingkungan. Rugi untuk biaya perbaikan kesehatan. Jadi teknologi itu sebisa mungkin bermanfaat untuk manusia dalam jangka panjang, dan melestarikan alam. Teknologi seharusnya bermanfaat untuk manusia. Alam dan ekonomi menurut saya tidak terpisahkan karena selama ini pilih mana ekonomi atau alam? Kalau menurut saya dalam ekonomi dasar tindakan ekonomi adalah tindakan yang dilakukan manusia untuk mencapai kemakmuran kan. Kemakmuran adalah kondisi dimana kebutuhan manusia tercapai, terpenuhi. Nah kebutuhan kita yang paling primer adalah sandang, pangan dan papan, yang paling primer dari primer adalah pangan. Kita tumbuh dari tanah , dari laut , makanan kita itu tumbuh dari alam. Jadi tindakan ekonomi yang menghancurkan alam ini tidak sesuai dengan textbook ekonomi.

Kalau secara spiritual juga saya mengutip. Apapun agamanya, di Bali ada Tri Hita Karana  “Bahwa semua design harus peduli pada manusia, harus peduli pada alam , dan peduli pada penciptanya” Itu di Hindu di Bali. Di Budha juga sama. Temen-temen yang Islam juga ada satu pesan Nabi yang bilang “Kebersihan sebahagian dari iman”. Bahkan kalau di Kristen sendiri sebenarnya ada di Amsal 3 ayat 20 sampai 21 ada kutipannya kan “Dengan pengetahuannya air samudera raya berpencaran dan menitikkan embun, hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu peliharalah itu “ kan udah dibilang disitu di Mazmur 24 ayat 1 “ Tuhan adalah pemilik dari alam semesta beserta segala isinya, sehingga sudah merupakan tugas kita sebagai ciptaannya untuk bisa melindungi dan menjaga ciptakan Tuhan yang lain.

Lian Gogali: Jadi tidak arogan untuk diri kita sendiri, harus melindungi dan menjaga ciptakan lain.

Robi Navicula: Dari segala aspek, akademis, kesehatan, spiritual menjaga alam itu lebih banyak manfaat gitu dan segala tindakan ekonomi kita tidak boleh menghancurkan alam. Karena teks book tadi itu teknologi tidak bisa untuk menghancurkan alam.

Lian Gogali: Pertanyaan terakhir saya dengan proses perjalanan yang panjang ini. Apalagi yang masih ingin dicapai setelah Tuhan tidak menciptakan sampah, lalu teknologi yang berkontribusi merusak lingkungan adalah design yang gagal. Apa yang sekarang dipikirkan sebagai musisi dan Navicula sebagai band untuk kampanye lingkungan kedepan?.

Robby Navicula: PR lingkungan sebagai isu di generasi kita masih banyak. Dan itu masih perlu banyak kolaborasi perjuangan atau advokasi. Semua apa yang perlu kita lanjutkan. Dan selama masih bisa diberi kesehatan, kesempatan terus melakukan ini karena ini sudah jalur kita ya. Ada banyak proyek yang kita rilis. Tinggal ketersediaan tempat waktu keadaan dan lain-lain. Kita banyak PR yang belum selesai kalau di samping sebagai itu juga saya sebagai orang tua punya anak kan urusin. Ada tanggung jawab baru orang tua. Kita sudah enak-enak sekarang makan sogili tiap hari, pokoknya makan enak, makan kekayaan alam, dapat berkah dari ibu pertiwi. Ego sekali kalau kenikmatan ini cuma kita-kita saja yang nikmati. Bagaimana dengan anak cucu kita kalau ini sudah habis? Mau danau, laut sudah terpolusikan? dan ketersediaan kenikmatan-kenikmatan dari alam ini terhenti di generasi kita? Sementara anak cucu kita kelaparan. Sampai ada yang bilang kalau kecepatan produksi sampah plastik kelaut secepat sekarang. Tahun 2050 nanti, lebih banyak plastik daripada ikan. Statemen ini sudah dibenarkan LIPI.

Lian Gogali: Jadi kebayang ya kalau misalnya kita tidak mampu berkontribusi untuk mengurangi dan menghentikan penggunaan sampah plastik sekali pakai maka bisa jadi Prediksinya LIPI?

Robi Navicula: Sekarang setiap menit kita membocorkan sampah plastik sebanyak satu truk atau sekitar 56 ton.  Dengan kecepatan kayak gini mungkin Prediksinya LIPI tidak sampai 2050

Robby Navicula:   Ada penelitian tentang mikroplastik di tubuh manusia. Semua 100 sampel dari tubuh manusia. Termasuk saya sendiri adalah manusia pertama Indonesia yang menyumbangkan feses untuk diteliti mengandung mikroplastik. Masuk ke rantai makanan kita, bahkan sudah ditemukan mikroplastik di dalam plasenta bayi bahkan di garam. Di kampus Udayana waktu teman-teman bikin riset ternyata bahwa garam mengandung mikroplastik. Jadi plastik yang dari dulu itu terurai kecil-kecil dibawah ukuran 5 mm itu ada di hampir semua. Nah ini kita kan tidak ingin anak-anak kita nanti terancam kesehatannya.

Lian Gogali: Kalau bicara soal mikroplastik mungkin ini sebenarnya bahasa yang baru ya. Tapi kalau ukurannya itu katakanlah kemasan deterjen gitu di air. Lalu tiba-tiba berubah warna sampai hilang catnya. Itu sebenarnya kemudian pecah-pecah. Itulah kemudian menjadi mikroplastik. Ternyata itu dimakan ikan, dimakan oleh banyak hewan yaitu yang kita makan pindah ke tubuh kita.

Robi Navicula: Rantai makanan kita. Ikan kecil dimakan ikan besar, lalu dimakan oleh kita. Dan plastik ini untuk terurai membutuhkan waktu puluhan sampai ratusan tahun. Sedotan plastik itu ratusan tahun baru bisa hilang untuk tercerai berai dan bayangin di Indonesia ini per hari lebih daripada 93 juta sedotan plastik diproduksi. Setiap hari lebih daripada 500 juta tas kresek.

Lian Gogali: Ini kalau disambung-sambung jumlah ini bisa melebihi lingkaran bumi kali ya

Robby Navicula: Disambung-sambung jumlahnya bisa melebihi lingkaran bumi, makanya apakah kita bertanggung jawab? Kita sudah tahu begini tapi kita masih melakukannya. Kan itu ada etika yang salah. Kalau regulasi sudah melarang itu berarti etika agamanya kita disuruh pelihara bumi. Berarti kalau kita langgar sudah salah etika. Ada etika lain yaitu hati nurani. Kita sudah tahu itu berbahaya tapi kita masih lakukan, ya berarti kita jahat dong.

Menyambung daripada pesan itu ya, saya percaya ada ilah-ilah dalam setiap diri manusia. Apapun peranmu di masyarakat, pemerintah, media, guru, orang tua, atlet atau individu anak-anak pun semuanya berkaitan di dalam dirinya sendiri. Coba tengok kebaikan itu. Gunakan sedikit kepedulianmu itu. Jangan jadi orang egois manfaatkan sedikit kebaikan dan lakukan apa yang tadi itu.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda