Relawan Muda Mosintuwu dan Kisah Totalitas Berbagi

0
162

“Karena berbagi tidak merugikanmu” , Rachel 15 tahun  mengamini kalimat ini. Sebagai wujudnya, dia menjadi satu dari puluhan anak muda bergabung di Mosintuwu saat ada pencarian relawan dalam kegiatan Festival Mosintuwu. Semangat ini pula yang membuatnya dengan berbinar-binar mengatakan “kita jangan bubar”. Saat itu saya, ketua Mosintuwu menanyakan apakah mereka punya rencana untuk melakukan kegiatan perpisahan sebagai sesama relawan. Yang lain bertepuk tangan menyepakati ucapan Rachel. 

Saya sempat tercekat ketika beramai-ramai, mereka bersepakat memilih menjadi relawan daripada menjadi peserta sebuah kegiatan. 

“Terasa berguna” ujar Abner, tak henti bertepuk tangan dan mengajak yang lainnya bertepuk tangan.

“ Bangga” sambung Rachel lagi

Kisah mereka berawal dari Festival Mosintuwu 2022.  Mosintuwu yang berakar dari kata bekerja bersama-sama berdasarkan solidaritas kemanusiaan selalu membuka ruang bagi para relawan menjadi bagian penting dalam kegiatan Mosintuwu , termasuk di Festival Mosintuwu.  28 orang, 27 diantaranya adalah  anak muda terdaftar sebagai relawan, sementara seorang bapak ketua Bumdes juga ikut mendaftarkan diri. 

Hanya beberapa diantara mereka yang saling kenal karena satu sekolah. Saling ingin tahu sangat terasa saat mereka pertama kali bertemu. Semacam ada kesadaran bahwa mereka akan bersama-sama dan bekerjasama sehingga bukan hanya saling kenal yang dibutuhkan tapi saling memahami. Pada hari pertama bertemu untuk membicarakan agenda Festival Mosintuwu, anak-anak muda yang berasal dari berbagai desa ini tidak ragu mengacungkan tangan jika ditanyakan siapa yang bisa membantu di bagian tertentu. Beberapa tidak menolak jika diminta untuk membantu di bagian lainnya. Antusiasme terlibat dalam kegiatan ini ditunjukkan sejak awal hingga berakhirnya kegiatan.  Hanya dalam waktu satu jam pertemuan awal kami, sudah ada istilah-istilah yang dilekatkan pada beberapa relawan. Tiga A, misalnya, sebutan untuk Abner, Arfan dan Yogi yang saat itu bersepakat mengangkat tangan bersama saat saya menanyakan siapa yang bisa membantu untuk bagian tertentu. Abner dan Arfan berasal dari desa yang sama di Owini, sementara Yogi berasal dari Kabupaten Luwuk Banggai.  Yang lain mendapatkan panggilan kesayangan. Di penghujung hari pertemuan awal mereka, tawa memenuhi ruangan. 

Untuk bisa bergabung menjadi relawan, mereka menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh. 

“Hari ini saya mau pulang cepat kak, mau ambil hati mama dan papa supaya besok diberikan ijin bisa hingga larut malam” demikian Rachel pamit ke saya di hari persiapan kegiatan. Yang lain menyebutkan akan bertemu guru di sekolah agar diijinkan ikut menjadi relawan . 1 minggu setelah kegiatan akan berakhir, mereka sudah langsung berhadapan dengan ulangan di sekolah. Della mengaku mengambil resiko untuk minta ijin selama menjadi relawan dengan syarat akan mengatur jadwal belajarnya lebih padat dari hari sebelumnya untuk  bisa mengejar ketertinggalannya.

Baca Juga :  Perempuan Poso Membangun Indonesia dari Poso
Relawan Mosintuwu sedang membantu peserta melakukan registrasi . Foto : Yardin
Relawan Mosintuwu sedang membantu peserta melakukan registrasi . Foto : Yardin

“akar sebuah kegiatan” demikian istilah saya menyebutkan mereka sebagai komunitas yang memberikan nafas bagi kegiatan festival Mosintuwu. Sebagai relawan, fungsi mereka bukan hanya sebagai orang yang membantu kegiatan terlaksana, tapi benar-benar yang memimpin jalannya festival secara kolektif. Saling bantu meskipun bukan tugas yang diberikan jadi hal biasa, apalagi ketika yang lain sedang sibuk di acara lainnya. Mengangkut sampah, menyediakan air minum buat peserta, menjaga ruang-ruang kegiatan, menyediakan ruangan dan fasilitasnya untuk para narasumber, hingga membangunkan peserta. 

Energi relawan ini seakan tak ada habisnya. Meskipun dalam banyak kegiatan, relawan menjadi hal yang wajar, saya tetap terkagum-kagum menyaksikan semangat mereka.

Tambah Pengalaman, Pengetahuan dan Teman

Mulai dari saling kenal, pengalaman pertama memimpin pertemuan sampai saling mengakui kemampuan bekerja dan akhirnya merasa sebagai saudara. Tim media mosintuwu merekam percakapan dengan beberapa relawan di Festival Mosintuwu.

Dave Emanuel Eka Putra Abu (14) jadi relawan yang bertugas memastikan workshop foto yang diselenggarakan di salah satu Tambi di tengah arena Festival Mosintuwu terselenggara dengan lancar. Tugasnya tidak ringan, bersama 2 orang relawan lainnya mereka mempersiapkan perlengkapan seperti LCD, papan tulis dan spidol, sampai menginformasikan kepada para peserta tentang worksop itu juga memastikan narasumber hadir.

Dave yang bersekolah di SMPN 1 Pamona Utara menceritakan, dia mendaftar sebagai relawan setelah melihat pengumuman perekrutan relawan di media sosial. Dia bersama beberapa teman sekolahnya lalu mendaftar.

“Awalnya saya jadi relawan hanya fokus untuk kerja bantu pelaksanaan saja. Tapi dalam perjalanannya interaksi dengan teman-teman lain jadi kuat. Saling tahu sifat masing-masing karena kerjasama”kata Dave. Selain menambah teman, dia merasa punya pengalaman dan tambahan pengetahuan baru.

Mengenai istilah Relawan, Dave mengartikannya kerja tanpa dibayar. Ibunya mendorong dia terlibat jadi relawan untuk menambah pengalaman. “Cari pengalaman dan teman”kata dia menirukan pesan ibunya.

Relawan lainnya, datang dari desa Londi kecamatan Mori Atas kabupaten Morowali Utara. Namanya Dela Felisia Bambu(17) pelajar di SMAN 1 Mori Atas. Dia jadi salah satu relawan yang bertugas memastikan workshop Desa Membangun berlangsung lancar di hari kedua Festival Mosintuwu.

Datang dari desa yang jaraknya lebih dari 100 kilometer dari Tentena, Dela ingin menyeimbangkan antara sekolah dengan pengalaman belajar diluar kelas formal.  

“Jadi relawan itu karena saya pikir, kalau hanya disekolah terus nanti tidak akan terbentuk relasi. Jadi saya mengimbangi pelajaran dengan relasi organisasi di luar sekolah”kata dia mengenai salah satu alasan jadi relawan. Apa yang dia pikirkan mungkin kesampaian.

Baca Juga :  Kaleidoskop Keamanan 2020, Petani Masih Terancam

“Saya dapat pelajaran dari kak Wahyudi Anggoro. Di desanya ada program satu rumah satu sarjana. Desa biayai 25 persen, sisanya dari kampus dan orang tua”kata dia tentang program desa Panggung Harjo, kabupaten Bantul, Jawa Tengah yang dipaparkan Lurahnya, Wahyudi Anggoro di Festival Mosintuwu.

Della berencana bertemu dengan perangkat desa di kampungnya untuk menceritakan apa yang didengarnya dari Lurah Panggung Harjo yang mungkin bisa dipikirikan pemerintah desanya. Bukan perkara mudah. Tapi dia percaya, informasi baik harus disebarkan. 

Relawan Mosintuwu di tambi Lumbung Bibit, memperkenalkan bibit lokal . Foto : Yardin
Relawan Mosintuwu di tambi Lumbung Bibit, memperkenalkan bibit lokal . Foto : Yardin

Relawan berikutnya adalah Abner Lelirana (17), dia baru lulus SMA tahun ini. Anak kedua dari 5 bersaudara ini tinggal di Owini, desa di sebelah barat Danau Poso. Sejak lulus sekolah, Abner membantu orang tuanya mengurus kebun. Sesekali dia membantu pamannya berjualan buah-buahan ke Bohodopi, sebuah kawasan industri tambang Nikel raksasa di kabupaten Morowali.

Dia sudah mengenal Institut Mosintuwu sejak menjadi peserta Jelajah Budaya, sebuah program mengenalkan kembali nilai-nilai budaya Poso kepada anak muda yang sudah berlangsung 3 tahun terakhir.

“Saya sudah tahu kalau relawan itu tidak dibayar. Tapi disini saya dapat pengalaman baru. Disini kita mendapat wawasan baru”katanya mengenai sebab dia mendaftar jadi relawan. Baginya, jadi relawan berarti kesempatan menambah pengetahuan baru selagi masih sempat.

“Di Festival Mosintuwu ini kan bicara tentang Poso. Disini saya tambah pengetahuan baru tentang orang Poso yang sebelumnya saya tidak tahu. Saya merasa, sebagai orang Poso harusnya saya tahu semua ini dari awal”kata Abner.

Menjadi Keluarga

Salah satu yang khas di Festival Mosintuwu adalah Berbagi Bibit. Siltin Bonjo (24) bertanggungjawab mengelola tambi Berbagi Bibit ini. Sil, demikian dia akrab disapa termasuk orang yang tekun dan menguasai benar soal tanaman. Mungkin karena latarbelakang mahasiswa STT GKST Tentena ini akrab dengan pertanian.

Dia berasal dari Desa Winangabino, sebuah desa terpencil di kabupaten Morowali Utara. Untuk mencapai desanya paling cepat butuh 10 jam bila tidak ada hambatan. Dari Tentena kita terlebih dahulu menuju pelabuhan Kolonodale,  ibukota Morowali Utara, setelah itu dilanjutkan dengan kapal Fery selama 5 jam ke pelabuhan desa Baturube kecamatan Mamosalato. Dari Baturube perjalanan dilanjutkan kearah pedalaman. 

“Saya merasa dapat pengetahuan baru yang tidak saya dapat diluar”kata Sil. Biasanya relawan lain berkunjung ke stand ini untuk ngobrol dengannya. Kadang secara tidak langsung, mereka melakukan evaluasi bagaimana sebaiknya agar kegiatan di hari berikutnya berjalan lebih baik.

Relawan Mosintuwu sedang bekerjasama membangun ruangan workshop . Foto : Dok.Mosintuwu
Relawan Mosintuwu sedang bekerjasama membangun ruangan workshop . Foto : Dok.Mosintuwu

Sebagai mahasiswa yang jauh dari kampung halaman, Sil menemukan kehangatan diantara sesama relawan. Dia merasakan kekeluargaan itu mengalir dari semua orang yang dikenalnya selama festival.

Baca Juga :  Perempuan dan Gerakan Literasi untuk Perdamaian

“Biasanya kalau pas lagi istirahat begitu, kami saling menukar pikiran tentang kegiatan ini. Banyak hal baru yang kami dapatkan. Juga ada beberapa bagian yang menurut kami harus diperbaiki lagi nanti”katanya.

“Hal yang menurut saya bagus adalah disinilah kita melihat kebersamaan. Walaupun sederhana, kita mengundang banyak orang lain untuk datang. Jadi punya nilai tersendiri bagi torang untuk ikut kegiatan ini. Apalagi banyak orang dari luar yang datang. bukan hanya dari Tentena. Jadi itu yang buat torang bangga ikut kegiatan seperti ini. Karena banyak pengetahuan bagu dan teman baru, pengalaman baru.

Relawan yang paling populer di festival Mosintuwu barangkali adalah Rahel Patrisia Bawias. Remaja usia 15 tahun ini lincah bergerak. Dia sepertinya mudah akrab dengan siapa pun. Pelajar di SMAN Pamona Utara ini bertanggungjawab mengurusi workshop video dan musik tradisi.

Patrisia ingin belajar mandiri dan punya pengalaman bekerja tim. Itu sebab dia mendaftar sebagai relawan. Itu sebab dia rajin menyapa para relawan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar. Sama seperti Siltin, Patrisia juga merasakan mereka menjadi satu keluarga.

“Selama festival ini, kami bukan hanya bisa kerjasama. Tapi saya rasa kami ini sudah seperti satu keluarga”katanya. Awalnya dia hanya mengenal 3 orang relawan yang tidak lain teman sekolah dan se Gereja. Proses selama persiapan hingga sehari setelah festival membuatnya seperti enggan berpisah dengan kawan-kawannya. Agar komunikasi dan canda tetap ada, mereka bikin grup WA. Disini saling bagi kabar, cerita dan rencana disampaikan.

Relawan Mosintuwu 

“Kak, simpan yaa nomorku.  Siapa tahu ada sesuatu yang bisa saya bantu, bisa dihubungi di nomor ini. Makasih”  

Pesan itu dikirimkan ke gawai saya. Terharu. Berawal di Festival Mosintuwu, kerelawanan mereka tidak mau dihentikan hanya karena kegiatan sudah berakhir. Rencana-rencana mereka susun bersama untuk bisa terus terhubung. Tanpa ragu, mereka mengajukan diri untuk selalu diajak jika Mosintuwu mengadakan kegiatan. 

Belakangan, jadi relawan jadi pilihan banyak orang semua usia untuk berpartisipasi membangun kehidupan yang lebih baik di sebuah komunitas.  Setiap tanggal 5 Desember UNV (united Nations Volunteers Programme) sebuah badan dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingati hari relawan sedunia (IVD). Kata Relawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya Kerelawanan. Melakukan sesuatu bukan karena kewajiban dan tanpa berharap imbalan.

Della, 17 tahun , mengirimkan pesan ke gawai saya merespon pertanyaan saya tentang makna menjadi relawan “jangan katakan hidup jika belum memberikan sesuatu pada kehidupan, antara lain dengan menjadi relawan”

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda