Dokumen Warisan Geologi Danau Poso, Jalan Panjang Menuju Taman Bumi

0
125
Tim Ekspedisi Poso saat melintas di Padamarari, salah satu ikon Danau Poso. Foto : Dok. Mosintuwu/Ray

Langkah menuju taman bumi Danau Poso terus diproses oleh komunitas masyarakat didukung oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Tanggal 6 Oktober 2022, bertempat di lantai 5 kantor kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jakarta,  kepala Dinas Pariwisata provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsih menyerahkan dokumen Warisan Geologi Aspiring Geopark Danau Poso, kepada Kepala Badan Geologi, Eko Joko Lelono. Proses penyerahan dokumen didampingi oleh Lian Gogali, ketua Ekspedisi Poso; Dr. Burhanuddin, ketua IAGI ; dan Kepala Bidang Perekonomian Bappeda Sulteng disaksikan oleh beberapa pejabat Bappeda Sulteng dan Dinas Pariwisata serta Tim Ekspedisi Poso. Dokumen diserahkan setelah beberapa pemaparan singkat tentang proses usulan taman bumi danau Poso oleh tim Ekspedisi Poso. 

Dokumen setebal lebih dari 50 halaman itu, disusun oleh gabungan ahli geologi seperti AM Suryanughara, akademisi sekaligus peneliti yang mengungkap proses pembentukan pulau Sulawesi bersama Prof. Robert Hall. Juga ada Reza Permadi dan Firdha Rizqi, geolog dari Forum Geosaintis Muda Indonesia, Resti Samyati, seorang palaentologis, Abdullah dosen fakultas MIPA Universitas Tadulako, dan Abdul Rahman, geolog dari Universitas Pertamina.

Para geolog ini bersama dengan peneliti dari disiplin pengetahuan lain seperti arkeologi, antropolgi, botani hingga iktiologi adalah anggota tim ahli Ekspedisi Poso. Sebuah perjalanan yang diinisiasi sejumlah warga yang tinggal di sekitar Danau Poso dan didukung Institut Mosintuwu. Ekspedisi Poso menyusuri Danau Poso hingga ke wilayah pesisir Kota Poso sejak tahun 2019 hingga 2021. Tujuannya, mencatat keragaman hayati, flora dan fauna serta potensi bencana yang ada disekitarnya. Salah satu yang luarbiasa dari para ilmuwan di tim Ekspedisi Poso ini, mereka semua mengerjakannya dengan sukarela alias tanpa honor.

Dokumen warisan geologi adalah tahapan pertama menuju pengesahan  status  warisan geologi yang dilanjutkan dengan tahapan penetapan Taman Bumi atau Geopark Danau Poso sebagaimana Peraturan Presiden nomor 9 tahun 2019 Tentang Pengembangan Taman Bumi. Setelah dokumen ini diterima Badan Geologi, nantinya lembaga ini akan melakukan verifikasi lapangan sebelum langkah penetapan warisan geologi danau Poso.

Baca Juga :  Siap Pimpin Pembaharuan Desa, Ibu-ibu Kembali Bersekolah
Penyeraham dokumen warisan geologi oleh Kepala Dinas Provinsi Sulawesi Tengah , Diah Agustiningsih , kepada Kepala Badan Geologi Nasional, didampingi Lian Gogali Ketua Ekspedisi Poso, Dr. Burhanuddin Ketua IAGI, dan Pejabat Bappeda Sulteng. Foto : Dok.Tim Ekspedisi Poso

Dalam diskusi, beberapa catatan diberikan Aries Kusworo, Kepala Sub Bidang Geologi Dasar dan Terapan di Pusat Survei Geologi.  Antara lain, memberikan data lengkap tentang kondisi 22 titik Warisan Geologi mencakup titik koordinat, kondisi saat ini dan kemungkinan ada pembangunan atau proyek yang bisa mengubah lokasinya.  Catatan ini menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum nantinya ada penetapan Danau Poso sebagai Warisan Geologi oleh Kementerian ESDM yang dilakukan oleh Badan Geologi.

Diah Agustiningsih berharap, setelah penyerahan dokumen itu, Badan Geologi bisa secepatnya menindaklanjutinya agar proses pengesahan Danau Poso sebagai Geopark bisa segera terwujud.

“Antriannya sudah banyak sekali. Namun kami akan mendahulukan, usulan yang dokumennya sudah lengkap” demikian penjelasan Aries. Saat ini banyak daerah yang mengajukan usulan Geopark.

Dia menyebut, dokumen Warisan Geologi Geopark Danau Poso yang disusun Tim Ekspedisi Poso sudah sesuai dengan petunjuk teknis di Permen ESDM No 31 2021. Ini artinya, penetapan Danau Poso sebagai Warisan Geologi bisa lebih cepat. Tinggal menyempurnakan beberapa bagian yang disebutkan sebelumnya. 

Dalam keterangannya di hadapan Ketua Badan Geologi, Lian Gogali ketua Ekspedisi Poso menyebutkan usulan taman bumi Danau Poso diinisiasi setelah perjalanan Ekspedisi Poso yang melibatkan masyarakat secara aktif. Usulan ini menunjukkan niat masyarakat untuk ikut dalam melestarikan lingkungan hidup. Dr. Burhanuddin, ketua IAGI menguatkan dengan memberikan catatan mengenai keunikan pengajuan warisan geologi dari Danau Poso yang diinisiasi langsung oleh masyarakat. 

“Yang paling mengagumkan dari proses pengajuan warisan geologi ini adalah dukungan warganya yang ingin melestarikan danau Poso” Ujar Burhanuddin. “ Hal ini perlu didukung”

Baca Juga :  Surat - surat Anak Poso The Letters of Poso's Children

IAGI sebelumnya mendukung Ekspedisi Palu Koro, yang dilanjutkan dengan mendukung Ekspedisi Poso. Keterlibatan masyarakat untuk jaga danau dan lingkungannya termuat di pasal 1 ayat (1) peraturan menteri ESDM nomor 31 tahun 2021, disebutkan keterlibatan aktif masyarakat didalam mengelolanya.

Foto bersama Badan Geologi Nasional, Tim Ekspedisi Poso, Pejabat Pemerintah Provinsi Sulteng paska penyerahan dokumen warisan geologi . Foto : Dok. Tim Ekspedisi Poso

Menuju Taman Bumi Danau Poso

Danau Poso sebagai 1 dari 15 danau prioritas di Indonesia butuh perhatian khusus.  Dalam beberapa tahun terakhir banyak perubahan terjadi di dunia, perubahan ekologi, khususnya di Danau Poso juga terjadi. Selain sumber penghidupan masyarakat disekitarnya, ini adalah laboratorium alam terbesar di Indonesia. Selain itu, Danau Poso juga menjadi cadangan air dunia yang harus terus dijaga

Sebagai laboratorium alam, Taman Bumi berfungsi menjaga dan melindungi warisan geologi (geoheritage) yang bernilai dan berpotensi besar untuk kegiatan penelitian, Pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu contoh Warisan Geologi yang bisa dilihat di Danau Poso adalah singkapan Petirodongi yang menjadi bukti pembentukan pulau Sulawesi jutaan tahun lampau. Lokasinya dekat jembatan yang menghubungkan Kelurahan Petirodongi dengan Tendeadongi, kecamatan Pamona Utara. Menurut AM Suryanugraha, singkapan ini juga membuktikan bahwa dulunya Tentena dan sekitarnya adalah dasar lautan yang kemudian terangkat menjadi daratan.

Bukan hanya soal Geologi, Taman Bumi juga bicara tentang keragaman budaya. Di Danau Poso ada kebudayaan yang arif seperti Waya Masapi, Monyilo dan Mosango. Ketiganya membentuk budaya saling menghidupi, saling menyayangi dan saling menghormati. Ketiga saling ini bukan hanya dengan sesama manusia, tapi juga alam. Itu sebab orang di pinggir Danau Poso menyebut Danau ini Sira. Sira artinya beliau. Sebutan untuk orang yang dihormati.

Danau Poso dengan kekayaan alamnya berpaut dengan potensi bencana karena sesar yang menggaris dibawahnya. Ya, Danau Poso terbentuk dari peristiwa geologi. Beberapa peristiwa gempa bumi besar pernah terjadi disini. Dalam sebuah dokumen disebutkan pernah terjadi gempa bumi besar pada tahun 1827. Tertulis “Many Dead”. Tapi tidak ada penjelasan atau data lanjutan tentang peristiwa itu.

Baca Juga :  Kisah Peternak Pinggiran Danau Poso : Kesejahteraan Dirampas oleh Bendungan PLTA

Itu sebab, penelitian-penelitian tentang Danau Poso harus digencarkan.

Neni Muhidin, tim antropologi Ekspedisi Poso menyebut, leluhur orang Poso di pinggir danau punya pengetahuan tentang peristiwa geologi. Mereka merekamnya lewat tutur yang disebut Laolita.

Menurut pendiri Nemu Buku ini, Laolita atau cerita rakyat dalam berbagai bentuk adalah bekal pertama yang memberi jalan bagi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu pengetahuan. Beberapa Laolita seperti Toroli Ana dari desa Peura, kecamatan Pamona Puselemba atau kisah tenggelamnya sebuah kampung di wilayah yang kini bernama Bancea adalah sebagian kisah tentang gempa bumi di pinggir Danau Poso. Kekayaan berupa Laolita ini menurut Hery Yogaswara, juga anggota tim Ekspedisi Poso, sama pentingnya dengan pengetahuan ilmiah. Hery yang juga peneliti Ekologi Manusia di BRIN ini mengatakan tidak perlu membandingkannya karena sama pentingnya. Sebagai contoh, dia menceritakan tentang Smong, cerita rakyat di Simelue yang menyelamatkan ribuan orang dari tsunami pada tahun 2004 silam.

Danau Poso dan segala yang dikandungnya jelas memberi pengaruh besar terhadap hidup bukan hanya warga sekitarnya, tapi mungkin seluruh warga dunia. Namun, banyak orang, khususnya pengusaha yang hanya mencari untung, mengabaikan arti pentingnya. Itu sebab, eksploitasi dilakukan tanpa mempertimbangkan masyarakat sekitar dan budayanya.

Menjadikan Danau Poso sebagai Geopark, bukan hanya untuk menjaga kelestariannya, tapi juga satu upaya menguatkan hak-hak masyarakat sekitar untuk menjaganya, mempertahankannya sebagai warisan untuk anak cucu dari ancaman eksploitasi yang merusak.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda