Tiga Generasi Musisi Poso

0
258
Rajina, musisi perempuan pertama yang masuk dapur rekaman di Poso. Foto : Dok.Mosintuwu/RayRarea

“Saya sementara petik padi dengan anakku di gunung. Datang orang ba panggil. Dalam hati saya bilang, ini pasti orang yang mau rekam saya. Ternyata betul”(Rajina Peta/penyanyi/Penulis syair Karambanga)

Rajina Peta sudah berusia 68 tahun waktu kami temui di rumahnya, di desa Patiwunga kecamatan Poso Pesisir Selatan. Sedang duduk di teras rumahnya. Dia tidak tahu kalau kami datang mencarinya. Cucunya, Eka Yanti memberi tahu kalau kami mau bertemu dengannya.

Lahir di desa Buyumpondoli, kecamatan Pamona Puselemba tahun 1945, Rajina kemudian ikut orang tuanya tinggal di Tampemadoro, desa yang terletak di jalur trans Sulawesi. Dulunya, hingga awal tahun 80 an, desa di kecamatan Lage ini ramai jadi tempat persinggahan orang yang melakukan perjalanan dari Poso ke desa-desa di sekitar Danau Poso, lembah Bada hingga yang mau ke Mori.

Mengapa singgahnya di Tampemadoro? Karena umumnya, waktu itu perjalanan dilakukan dengan jalan kaki. Jarak Kota Poso ke Tampemadoro sekitar 30 km. Demikian pula dari Tentena ke desa itu berjarak sekitar 30 km. Butuh waktu 6-7jam yang melelahkan untuk sampai.

Banyaknya orang singgah membuat Tampemadoro jadi desa yang ramai. Musik mengalun dari warung-warung. Rajina ikut mendengarnya. Dari suasana itu dia belajar bernyanyi.

“Saya belajar sendiri”katanya dengan suara serak.

Sesekali dia memegang tenggorokannya. Sudah lama dia tidak bernyanyi. Namun masih sering menulis Kayori. Dia mengumpulkannya di sebuah buku tebal yang sampulnya mulai robek.

Tahun 1973, Rajina merekam Alisintowe, lagu pertamanya yang kemudian jadi populer di kabupaten Poso sampai hari ini. Saat itu umurnya baru 6 tahun. Suaranya yang lantang dan bulat membuat sebuah perusahaan rekaman bernama Cipayung.

Alisintowe membawa pesan untuk memelihara kekeluargaan dan kebersamaan. Liriknya yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat orang selalu ingin melafalkan liriknya.

Alisintowe(Tali Asih)

Ine papa wa,a bonto Alisintowe(ibu bapak para kekasih)

Ungka Rano tudu Poso Alisintowe(Mulai dari Danau sampai Poso)

Kita Sandampu (kita serumpun)

Sangkompo(bersaudara)

Kapasintuwu Maroso(kita satukan kekuatan)

Sering ditulis pencipta lagu ini NN. Syairnya ditulis oleh L.Badjaji. Siapapun yang menciptakannya, generasi sekarang patut berterimakasih kepadanya. Lagu ini sangat tepat direnungkan, bahwa dari manapun kita berasal, semua kita bersaudara.

Bagi Rajina, bernyanyi pertama-tama untuk menghibur diri. Dari itu juga dia mendapatkan uang.  Bayaran untuk rekaman pertamanya Rp 1,500 untuk 1 lagu. Setelah rekaman pertama, Rajina menulis lebih dari 30 lagu untuk studio rekaman Pamona Record. Ini adalah perusahaan rekaman yang sukses memperkenalkan lagu-lagu Dero ke seluruh Indonesia.

Bisa dibilang, Rajina adalah musisi perempuan pertama di Poso yang menghasilkan album berisi lagu-lagu cipataan sendiri.

Dia menulis banyak syair Kayori, diantaranya seperti ini:

Andaikan suara itu adalah suara kekasih

Air mata berlinang jatuhnya di dada 

Bagaimana saya tidak cintai, di jendela saya melihatnya

Satu lembar daun sambiki(Labu) jatuh, terbang jauh.

Semakin merindu. Sedangkan makan tidak bernafsu lagi.

Warna vokal dan syair-syairnya yang cocok dengan selera pendengar bikin perusahaan rekaman mengejar Rajina untuk terus hasilkan album.

Baca Juga :  Allisa Wahid : Gusdurian Membangun Narasi Ke-Indonesiaan

Tapi jangan bayangkan kehidupannya seperti para penyanyi pop Indonesia lain yang terkenal. Waktu itu Rajina memilih tinggal di kampung dan bertani. Dia dan keluarganya menanam padi ladang disebuah hamparan lahan di kampung tua, namanya Malitu.

“Saya sementara petik padi dengan anakku di gunung. Datang orang ba panggil. Dalam hati saya bilang, ini pasti orang yang mau rekam saya. Ternyata betul”kata Rajina mengenai album terakhir yang direkamnya tahun 1994. Di sampul album namanya diganti menjadi Rejina. Mungkin supaya kedengaran lebih pop.

Album terakhirnya berisi 10 lagu yang direkam di kaset. Sayangnya, sepanjang karirnya, Rajina tidak punya arsip lagu-lagu karyanya itu, baik rekaman maupun syairnya.

“Saya sudah lupa”katanya ketika ditanya apakah masih ingat lagu-lagu dalam albummya. Sepertinya, royalti pun dia tidak pernah terima. Dia hanya menerima bayaran saat rekaman selesai.

Soal royalti ini, memang tidak pernah dipikirkan oleh musisi seperti Rajina. Bagi dia, karyanya didengar dan disenangi orang sudah cukup membahagiakan.

Album Rajina dengan hits Alisintowe meledak di Poso. Sopir-sopir angkutan antar desa menjadikannya semacam lagu wajib yang diputar untuk menghibur penumpang yang terantuk hingga jidatnya nyaris beradu karena jalan berlubang-lubang. Lagu ini memicu lahirnya album lagu-lagu berbahasa Poso selanjutnya.

Generasi Baru Musik Pop Poso

Kami menemui Nardi Banggai, salah seorang musisi yang konsisten menciptakan lagu-lagu Poso di rumahnya desa Pandayora, kecamatan Pamona Selatan.

Nardi Banggai, penyanyi lagu daerah dan pencipta lagu yang menguasai berbagai alat musik tradisional Poso. Nardi menerima Mosintuwu Award 2019 kategori Penjaga Tradisi Musik Tradisional. Foto : Dok.Mosintuwu

Nardi Banggai termasuk generasi setelah Rajina yang produktif melahirkan karya. Sejak tahun 1994 Guru di SMAN Pamona Selatan berusia 49 tahun ini sudah merekam lebih dari 30 lagu di studio rekaman.  Selebihnya direkam dalam bentuk audio visual dan diunggahnya di youtube. Sayangnya Nardi tidak rapi mengelola akun media sosialnya itu. Akun yang sudah punya ribuan subscriber itu dihack orang. Dia bikin akun baru lagi untuk menayangkan karya-karyanya.

Sebenarnya total ada 384 lagu telah ditulisnya, namun belum semua direkam. Lirik lagu-lagu itu ditulisnya dalam 3 buku buku album.

“Semuanya saya rekam perlahan-lahan”kata Nardi.

Tema-tema lagu yang ditulisnya umumnya ada dua. Pertama tentang kehidupan sosial. Hubungan antar orang tua dan anak, antar dua orang yang bahagia karena saling cinta, atau sedihnya ketika cinta bertepuk sebelah tangan.

Tema kedua, lingkungan dan sosial. Salah satu cerita yang digubahnya dalam syair berjudul Balumba Torate. Ini tentang pengalaman spiritual dia ketika mengarungi ganasnya laut Teluk Tomori dalam perjalanan dari Kolonodale pedalaman Wana di kabupaten Morowali Utara.

Cerita sedihnya melihat penderitaan ibunya yang diterpa penyakit aneh dituangkan dalam Pue Ndisono Oni Ngangaku. Dia mengadu kepada tuhan kesedihan hatinya melihat ibu yang disayanginya menahan sakit setiap hari.

 “Dokter tidak mengetahui apa penyebab sakitnya”kenang Nardi, matanya sembab.

Nardi Banggai merekam langsung karya-karyanya dari Keyboard. Alat musik itu menyediakan fasilitas lengkap, Nardi hanya perlu menekan tombol record, maka semuanya tersimpan di memori flashdisk.

Nardi bukan hanya akrab dengan Keyboard. Dia menguasai 7 alat musik tradisional Pamona. Di’o, Padengko Rare,a, Tandilo, Toduyo, Tinggowe, Bungo-Bungo dibuatnya dan diajarkan kepada generasi muda di desanya, desa Pandayora kecamatan Pamona Selatan.

Baca Juga :  Poso Merespon Covid-19, Harusnya Belajar dari Tadumburake

Atas dedikasinya mengenalkan kembali alat-alat musik Poso ke generasi muda, Nardi Banggai diganjar Mosintuwu Award tahun 2019, sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berdedikasi melestarikan alam, budaya dan tradisi Poso.

Sebagai sesama musisi, dia bertemu Rajina di sebuah studio rekaman di Tentena tahun 1994. Saat itu Nardi merekam album pertamanya. Sosok Rajina yang sudah terkenal waktu itu menginspirasi dia untuk menghasilkan banyak karya.

“Kami duduk disebuah kursi di studio. Saya memetik gitar dan beliau menyanyi. Itu sesaat sebelum rekaman. Suaranya membuat kami semua kagum padahal waktu itu usianya sudah tidak muda lagi”kenang Nardi. Pertemuan itu kemudian mempengaruhi proses lahirnya karya-karya musik yang ditulisnya dikemudian hari.

Kekagumannya pada Rajina ditujukan dengan mengcover satu lagu yang ditulis legenda Poso itu pada tahun 1978, berjudul Kukeni Matemo.  Sebelum merekamnya, terlebih dahulu Nardi menghubungi Rajina lewat telepon untuk minta ijin.

“Bu, saya mau cover lagu ibu yang tahun 1978. Da bilang iyo rekammo. Lese yau”kata Nardi menirukan jawaban Rajina.

Sebagai musisi, Nardi sangat luwes berkomunikasi dan berkolaborasi dengan musisi-musisi muda di kabupaten Poso. Beberapa panggung mempertemukannya dengan beberapa grup berpengaruh di Poso, mulai dari Temperamen Navigasi yang beraliran Grunge yang didirikan Indra Dharma Inta dan  Guritan Kabudul, sebuah grup Folk dari Tentena yang digawangi Icong dan Emon.

Cinta, Alam dan Pergerakan 

Vokalnya berat, sedikit serak ditambah rambut gondrong membuat Riston Pamona sangat populer dikalangan anak muda Poso. Vokalis yang populer dengan panggilan Icong ini menguasai panggung, baik yang besar dengan soundsystem ribuan watt atau panggung kecil hanya untuk akustik. Anda yang datang di konser Iwan Fals di alun-alun kota Poso 6 Agustus 2022 lalu pasti tahu kualitas bermusik dia bersama Raymond Kuhe, kompatriotnya di Guritan Kabudul.(link youtube)

Nama Guritan Kabudul yang mereka pakai agak memang terasa aneh di telinga orang Poso. Dua kata itu berasal dari bahasa Sunda. Guritan, menurut KBBI adalah karangan berbentuk puisi yang berirama atau tembang. Kabudul, menurut kamus KBBI  artinya anak jangkrik. Icong menerangkan, Guritan Kabudul berarti tulisan yang belum selesai. Seperti mereka yang masih terus mencari bentuk musik.

Karena tidak mendaku satu aliran tertentu, warna musik mereka jadi beragam, dari yang ke kinian seperti Iksan Skuter sampai legenda pop melayu Oslan Husein yang populer di tahun 1950an. Mereka juga melantunkan Glommy Sunday, sebuah komposisi yang dicipta Rezso Seress tahun 1940 yang dianggap kelam.

Beragam warna itu membuat Guritan Kabudul enak didengar saat menyanyikan lagu apapun, dari pop melayu yang mendayu sampai grunge. Coba dengarkan Lirih Merayu yang pelan namun menghujam.

Bersama dosa yang ku sadari  ku menari

Dan waktu yang tak peduli memaksa

Langkahku ke masa tua

Menuju binasa

Atau Kembang di Beranda yang mengingatkan perawan muda untuk berhati-hati terhadap pujian yang menjebak dan kemudian mereka jadi korban. Banyak catatan menunjukkan anak perempuan di Poso jadi korban kekerasan seksual dengan latar belakang pelaku yang beragam.

Baca Juga :  Usaha Desa : Sambal Ibu Fatimah, Pedasnya dirasakan di Luar Negeri

Indah rupanya

Semerbak wangi aromanya

Kumbang pun berdatangan

Menari-nari diatasnya

Oh siapkah dia

Diterpa terik kala musim kemarau

Jika Rajina menyemai persaudaraan di Alisintowe. Nardi Banggai berupaya menjaga budaya itu tetap hidup dalam diri anak-anak muda.

Kerusakan bumi dipicu kerakusan modal yang hendak mengambil semuanya muncul di era Guritan Kabudul dan Sentimental Kampung Halaman. Itu sebab Guritan Kabudul dan Sentimental Kampung Halaman meresponnya lewat karya-karya mereka yang menyuarakan perlawanan.

Ketika Danau Poso terancam pengrusakan akibat level airnya dinaikkan dan dasar sungainya dikeruk, muncul Suara Perlawanan.

Syairnya ditulis Riston dan dinyanyikan bersama Pdt Y Wuri, seorang agamawan kritis yang keras menolak pengrusakan alam dan budaya Danau Poso.

Suara kami suara perlawanan

Bukan suara permusuhan

Suara kami suara perjuangan

Bukan suara minta imbalan

Guritan Kabudul, duo musisi indie Poso yang membawakan lagu-lagu kritis tentang alam dan budaya. Foto : istimewa

Menggunakan medium yang semakin mudah dijangkau, mulai dari youtube hingga beragam platform digital lainnya membuat setiap bait nada mereka ke telinga yang ada dibenua paling jauh dari Poso. Juga promosi murah dari media sosial meluaskan kelompok fans. Semua ini kemewahan yang belum dinikmati Rajina dimasanya.

Hampir sama dengan Riston dan Emon, Rial Pakamundi lewat duonya dengan Pei F Syah di Sentimental Kampung Halaman membawa energi baru dari Poso lewat lirik yang lugas lewat Romansa Yondo mPamona yang tajam mengkritisi kerakusan kapitalisme mengeksploitasi dan merusak alam dan Yondo mPamona, simbol budaya Poso.

“Dimanakah nurani, jiwa-jiwa terbeli

Kejar nafsu tirani, hatimu telah mati

Tersisa kisah nuansa, romansa Yondo mPamona

Masa penuh asa, segala suka cita

Bait lagu dari album Jelata Kaya ini terinspirasi dari Yondo mPamona, lagu yang ditulis ngkay Tinus di tahun 1968.

Sentiman Kampung Halaman, Duo Folk yang digawangi Rial Pakamundi dan Pey F Syah. Lagu-lagu mereka kritis menentang pengrusakan alam. (foto :dok. Sentimental Kampung Halaman)

Bila Yondo mPamona menceritakan keunikan, kecantikan, sekaligus kekuatan jembatan Pamona yang ikonik  yang dibangun dengan tradisi Mesale atau kerja bakti leluhur orang Pamona Poso, Romansa Yondo mPamona menceritakan bagaimana keserakahan kapitalisme menghancurkannya demi keuntungan dan kekayaan segelintir orang.

Jembatan ikonik itu kemudian dibongkar dan dibangun kembali dengan bahan dan model berbeda oleh PT Poso Energi untuk kepentingan bisnis listrik mereka yang memanfaatkan Danau Poso sampai ke sungainya.

Setelah Yondo mPamona dibongkar. Kini tidak ada lagi simbol fisik budaya Mesale yang agung untuk ditunjukkan kepada generasi baru orang Poso.

Disatukan Yustinus Hokey

Kalau ada sosok yang menyatukan Rajina, Nardi Banggai dan Guritan Kabudul serta Sentimental Kampung Halaman, itu adalah Yustinus Hokey. Maestro budaya kabupaten Poso.

Lagu-lagu seperti Yondo mPamona, Doni Dole dan Todi Mompi yang begitu populer di Poso dan Sulawesi Tengah ditulis ngkay Tinus,berdasarkan pengalaman atau cerita sehari-hari. Dia sering menekankan pentingnya pengalaman empirik untuk melahirkan karya.

Musisi dari 3 generasi ini sama-sama menceritakan kondisi hidup dimasanya. Disatukan cinta kepada kampung halamannya. 

Itu sebab ketika tren dan teknologi berubah cepat, yang berubah hanya alat, jiwanya tetap dinaungi alam Poso yang teduh, yang perlahan mungkin sedang menuju perubahan yang tidak pasti.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda