Jacky Manuputty : Gereja Harus Terlibat dalam Isu Sosial dan Lingkungan

0
325
Jacky Manuputty at the headquarters of the Protestant Church of Maluku in Ambon, in 2017. Foto oleh Leo Plunkett untuk The Gecko Project.

Gereja seharusnya terlibat dalam pembicaraan mengenai isu-isu lingkungan dan sosial. Selain karena menjadi kewajiban untuk menyelamatkan lingkungan, warga Gereja khususnya di Indonesia dan Poso juga banyak menghadapi persoalan dengan soal ini. Mulai dari ancaman kerusakan lingkungan hingga hilangnya sumber mata pencaharian karena terampas oleh korporasi. Maka, tidak seharusnya lembaga Gereja diam apalagi justru memunggungi umatnya.

Beberapa waktu terakhir, ditengah meningkatnya krisis iklim yang mengancam keselamatan umat manusia, Gereja mengembangkan sebuah gerakan yang disebut Oikumene Semesta. Sebuah gerakan yang merajut hubungan antar seluruh umat beragama bergerak menghadapi ancaman kerusakan bumi yang dipicu oleh serbuan kapitalisme.

Belajar dari pengalaman gerakan penyelamatan lingkungan Kepulauan Aru di Maluku Tenggara dari ancaman kerusakan setelah 28 perusahaan mengajukan izin hendak menjadikan kepulauan itu sebagai lokasi perkebunan tebu. Masuknya modal itu akan menghancurkan alam Aru, mengancam spesies Cendrawasih, Kaka Tua Hitam yang masih ada. Mengancam hutan Bakau terakhir di kepulauan Maluku.

Tanggungjawab Gereja untuk terlibat dalam isu-isu ini disampaikan Sekretaris Umum PGI, Jacky Manuputty dalam perbincangan dengan Lian Gogali, pendiri Institut Mosintuwu dalam acara Mompasimbaju yang dipancarkanluaskan oleh radio Mosintuwu 107,7 FM.

Perbincangan ini tentang bagaimana Gereja mengadvokasi isu lingkungan. Mengapa Gereja juga harus terlibat dalam isu-isu sosial dan isu lingkungan?

Karena dia Gereja. Kalau tidak terlibat, dia bukan Gereja.  Gereja ( Itu adalah) perkumpulan orang-orang yang dipanggil dan diutus keluar, diutus ke dalam dunia. Didalam sebuah realitas hidup. Dan dituntun untuk mengelolanya. Dikelolanya untuk apa? untuk menghadirkan kerajaan Allah. Untuk menghadirkan shalom. The Holiness. Aku datang supaya kamu memiliki hidup. Dan memilikinya didalam Syalom, segala kelimpahan, ketaatan. Keseimbangan dari semua tatanan. Itu yang dimaksud disitu. Dan itulah misinya. Itulah panggilannya. Untuk mengelola. Mengelolanya dengan segala kelimpahan. Mengelolanya dalam keseimbangan sehingga dia tetap berlimpah. Oleh karena itu apakah Gereja, harus terlibat dalam isu-isu lingkungan, isu keadilan, isu sosial, saya kira Alkitab sangat kaya dengan hal itu.

Apakah ini berarti kalau Gereja tidak terlibat dalam isu sosial dan lingkungan, dia tidak menjalankan misinya?

Dia bukan Gereja. Dia cuma perkumpulan sosial. Perkumpulan sosial yang cuma berdoa-doa dan menyanyi-nyanyi. Dalam Alkitab sangat kental soal itu (isu lingkungan,sosial). Bahkan kita baca dalam Alkitab. Amos sangat membenci pada Israel.  “Aku membenci pada perayaan-perayaanmu. Aku membenci nyanyian-nyanyianmu”. Aku menghinakan bahkan. “Persembahan syukurmu tidak mau Aku terima, tapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran  seperti air sungai selalu mengalir”.

Apa konteksnya? Ibadah dirayakan dengan sangat luarbiasa oleh masyarakat Israel saat itu. Tapi terjadi ketidakseimbangan sosial. Ketidakadilan terjadi diluar persekutuan ibadah. Oleh karena itu kecaman seperti itu disampaikan. Orang melihat eksistensi dan panggilan kita sebagai Gereja yang bersekutu dalam menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah. Nah kalau kita tidak melakukan itu kita bukan Gereja dong. Oleh karena itu dalam kaitan dengan ini kita bicara soal Oikumene sekarang. Belakangan dikembangkan konsep Oikumene semesta.

Oikos, rumah bersama, tempat kita hidup, tempat kita tinggal, dan bukan saja terkait relasi antar manusia tetapi antar manusia dengan alam juga.Ini adalah relasi seimbang yang harus terjaga. Karena kita menghidupi sebuah keluarga Allah. The House of God. Ini bahasa, diksi-diksi dalam gerakan Oikumenes belakangan ini terutama ketika kita menghadapi ancaman kerusakan ekologi. Kita menghadapi ancaman ekologi. Degradasi lingkungan yang hancur-hancuran.

Dan Gereja-Gereja pada level Oikumene dan global menghadapi isu ini. Ini Cross Cutting. Persilangan isu. Salah satu isu utama yang sedang dihadapi ketika kita bicara soal kesetaraan, dialog dan lain sebagainya. Isu lingkungan juga menjadi sesuatu yang sangat serius.

Konteks di Indonesia sendiri dalam isu sosial dan lingkungan yang saat ini harus benar-benar kita hadapi dan tanggapi dalam konteks Gereja itu seperti apa?

Kita alami kerusakan-kerusakan lingkungan. Degradasi lingkungan. Banyak kasus yang dibawa ke PGI saat ini. Ketidakadilan spasial, konflik-konflik agraria, perampasan-perampasan tanah. Penambangan-penambangan, perkebunan, HPH dan lain-lain yang merusak ruang hidup masyarakat. Belum tentu anggota Gereja tapi masyarakat. Itulah ruang hidup bersama dalam perspektif Oikumenes yang menyeluruh, tidak harus apakah dia Kristen atau bukan.

Oikumenes semesta adalah Oikos sebagai rumah bersama. Seluruh tatanan yang ciptaannya dicipatakan dalam kesetaraan.

Apakah itu berarti kita tidak menempatkan manusia diatas alam atau ciptaan lainnya di alam tetapi setara dengan alam?

Dia ada di dalam, dia bertanggungjawab mengelolanya. Dia bukan menjadi ciptaan yang superior yang menentukan segala sesuatu tanpa tanggungjawab. 

Kita pernah mengalami keterjebakan pada Kejadian I dan 2. Kuasailah, tapi kita lupa tanggungjawab untuk memelihara didalam (kitab) Kejadian 2. Dalam kaitan dengan isu lingkungan dan penghancuran lingkungan. Dimana kekristenan dan ke yahudian dianggap pernah berhutang dan sangat bertanggungjawab atas penghancuran. Percepatan penghancuran karena tafsir pada Kejadian I. Tapi dalam tahun-tahun kemudian, sekitar tahun 1960an,  kita kembali melihat Kejadian 2. Pemeliharaan juga menjadi bagian dari tanggungjawab. Sehingga berkembang konsep-konsep enviroment, worship layanan lingkungan, ekoteologis pada waktu yang lebih kontemporer.

Ada kesadaran, bahwa perspektif Biblis harus didudukkan sungguh-sungguh untuk melihat bagaimana kita saling bergantung satu dengan yang lain, saling menghidupi satu dengan yang lain. dan mengupayakan tatanan yang seimbang. Supaya semua ciptaan bisa bersukacita.

Soal latarbelakang kenapa penting sekali untuk membicarakan Oikumene Semesta ini. Apa latarbelakangnya dan kenapa sekarang benar-benar sudah mendesak Gereja untuk memberikan perhatian untuk itu?

Karena terjadi ketimpangan-ketimpangan, karena kerakusan-kerakusan kapitalisme dan lain-lain yang membuat relasi-relasi semesta tidak seimbang. Multinasional, transnasional, korporasi yang bergerak dengan motif benefit secara kuat, menghalalkan, membiarkan penghancuran terjadi sebagai bagian dari resiko, taken for granted dan lain-lain, pendekatan develpmentalis kemudian berdampak kehancuran di berbagai aspek.

Sekalipun demikian, sekarang juga banyak juga perusahaan dan pengembang semakin menyadari bahwa nilai keseimbangan lingkungan sudah harus dijaga karena kita menghadapi ancaman-ancaman ekologis karena terjadi perubahan iklim drastis, bibit-bibit penyakit, sebut saja misalnya virus Covid19, ketidakseimbangan didalam hidup dan alam, dan itu merupakan tanggungjawab kita untuk merayakan kembali aspek pemeliharaan itu dengan sungguh-sungguh pada semua lingkup.

Yang Ditekankan bukan cuma menguasai. Tapi sekarang memelihara?

Sustainable Development Goals (SDGs) dan lain-lain itu sudah harus masuk dalam aspek pemeliharaan.

Sebenarnya SDGs itu kalau mau diterjemaahkan itu dari perspektif injili, dari perspektif biblis. Karena kita bicara soal pemeliharaan. Bukan cuma mengupayakan, tapi juga memelihara. Bicara tentang tatanan yang seimbang dan lain-lain.  Sebenarnya kalau kita mau lihat, tidak ada sesuatu yang baru. Kita mengulang-ulang dalam bentuknya yang baru dan tantangan yang berbeda.

Nilai-nilai luhur. perspektif dan Keseimbangan itu tidak akan akan pernah hilang. Entah itu di agama-agama, di kearifan-kearifan lokal itu sangat kuat. Dan sekarang tertantang. Ada titik balik. Ada kesadaran bahwa manusia itu tidak boleh menghancurkan alam, menghancurkan dirinya sendiri. Karena itu ada upaya yang sangat kuat dari sisi administrasi, dari sisi kebijakan-kebijakan global terkait dengan pemeliharaan lingkungan dan lain-lain.

Tapi yah, kita melihat ada saja yang merasa tidak cukup, merasa tidak puas, merasa ingin dapat lebih dan lain sebagainya. dan mengambil lebih.

Supaya tidak ketinggalan dalam pelibatan dirinya di isu-isu sosial dan lingkungan itu, apa yang harus dilakukan Gereja?

Saya kira Gereja punya dasar yang kuat secara historis dan secara etimologis. Dan itu yang harus diterjemaahkan secara update, secara kontekstual pada saat ini. Tentu saja tantangannya semakin beragam. Tantangan Gereja itu semakin berat karena teknologi juga berbeda dan lain-lain. Karena itu Gereja juga harus beradaptasi dengan perubahan termasuk dengan perubahan teknologi yang ada, mulai dari fungsi monitoring dengan gerakan yang lebih sistematis dalam gerakan advokasi.

Tapi yang penting saat ini, Gereja mesti mengadministrasi.

Mengadministrasi itu tepatnya seperti apa?

Mengadministrasi itu tidak membicarakannya saja. Tidak tidak. Mengadministrasi yang saya maksudkan, tidak cukup kita hanya membangun diskursus, wacana, misalnya tentang kerusakan lingkungan dan Gereja harus berpihak, Gereja harus memelihara dengan mengutip ayat ini. IApakah sampai sampai disitu saja? Tidak.

Mengadministrasi berarti menurunkannya didalam kebijakan. Jadi operasionalisasi diskursus itu seperti apa dalam kebijakan yang terukur capaiannya. Jadi katakanlah begini, di Gereja kitakan punya ajaran Gereja tentang pemeliharaan lingkungan, di Gereja kita punya tata Gereja yang jiwanya tidak boleh bertentangan dengan ajaran Gereja. Apakah bicara tentang pemeliharaan lingkungan? oke kita bicara juga. Di Gereja kita juga punya aturan-aturan turunan atau aturan-aturan pokok misalnya. Aopakah dibicarakan di aturan Gereja, tatanan Gereja juga dirumuskan dalam aturan pokok. lalu di Gereja kita punya perencanaan. Apakah perencanaan strategis apapun bentuknya. Ada tujuan, strateginya, ada programnya, kegiatannya. Apakah dalam semua level perumusan kebijakan program Gereja itu, isu pemeliharaan lingkungan ada mulai dari konsep teologinya sampai dengan konsep strateginya ditambah dengan keberpihakan sumberdaya manusia dan juga anggaran.

Tapi itu berarti, pertama-tama Gereja harus tau ada masalah?

Ya..dia harus dan gelisah.

Bagaimana supaya Gereja menyadari ada masalah. Ada sesuatu yang harus kita gelisahkan bersama-sama, sehingga tidak terjebak pada menguasai, kemudian tidak terjebak pada ritual-ritual seperti perkumpulan sosial yang disebutkan tadi?

Untuk gelisah. Ada masalah. Dia harus punya kesadaran ada sesuatu yang berubah yang mengancam.

Ada sesuatu yang berubah yang membuat tidak nyaman yang membuat tidak enak. Semakin jauh gap antara ideal dengan realitas, berarti gap itu adalah masalah. Idealnya, kita berharap lingkungan sekitar Danau Poso tertata dengan baik dan lain-lain dalam imajinasi kita. Dalam percakapan-percakapan kita. Ini panjang, mungkin untuk sekian generasi. Tapi dalam realitasnya, semakin jauh nih. Degradasi disini, degradasi disini. Artinya antara idealitas dengan realitas semakin hari jaraknya semakin terbuka. Itu berarti masalahnya semakin besar. Ini harus menggelisahkan. 

Dari kegelisahan itulah, kita mulai masuk di dalam pendalaman-pendalaman yang lebih serius. Secara sistematis kita mulai melakukan scooring terhadap nilai masalah yang kita hadapi dan dalam perencanaan kedepan kita harus mengukur kapasitas kita.

Mandat Gereja sangat besar untuk melakukan semua, tapi belum tentu sesuai dengan kapasitas Gereja. Kapasitas institusi, kapasitas layanan, kapasitas umat dan lain-lain.

Dengan kerja-kerja yang serius dan itu biasa dilakukan pada litbang Gereja.

Biasanya orang kalau bicara tentang ber Gereja berkebalikan dengan apa yang disampaikan tadi. Memang orang ber-Gereja itu dalam rangka liturgi. Menjalankan liturgi-liturgi. Itu berarti bukan cuma gelisah, tapi juga mengadministrasi. Dan setelah mengadministrasi berarti ada proses-proses advokasi. Gereja juga berarti harus mengadvokasi?

Ada satu hal yang mau saya katakan. Kehidupan dengan seluruh kepenuhannya adalah liturgi agung. Adalah perayaan ibadah yang sesungguhnya.

Kalau dalam perspektif seni, kita bangun ketika kita mendengar burung bersiul. Gemericik daun. itu sudah proklamate kehadiran Allah. Kita bisa merasakan. lalu kita masuk pada tahapan, macam-macam tahapan liturgi. Sehingga tahapan pemuliaan Allah. Ketika kita melihat itu lalu kita sadar, kita cuma bagian kecil dan karena itu kita bukan superior.

Kalau kita duduk di tepi Danau Poso lalu semua keutuhan itu kita rasakan aduh..ternyata kita kecil sekali. Karena kekecilan itu lalu saya mengaku pada Tuhan bahwa saya bukan siapa-siapa. Saya sudah mengaku, sudah masuk pada tahapan liturgi. 

Baca Juga :  Menjiwai Kedaulatan di Maskot Festival Mosintuwu

Berdasarkan pengakuan itu kita kuatkan, lalu saya mau melakukan sesuatu. Saya akan menata ini. Saya akan bertanggngjawab pada posisi saya kepada posisi yang lain. Saya sudah masuk ke tahapan hidup baru. Yang ditebus. Kemudian liturgi berikut. Seluruh keutuhan itu mengentalkan semua pemberitaan firman yang sungguh-sungguh luarbiasa. 

Jadi, kita merayakan kehidupan itu adalah liturgi, adalah iman. lalu Gereja itu adalah liturgi kecil dalam ibadah. Liturgi ibadah. Jadi kalau kita menjalani hidup dari perpektif itu jangan hilangkan itu.Kan kita bilang loh liturgi kok bagian awal nggak ada, ini kok ada bagian proklamasi kehadiran Tuhan. Yah bagaimana kita menganggap, menganalogikan proklamasi kehadiran Tuhan di pagi hari dengan suara burung berkicau. Gemericik air yang tenang dan lain-lain. Kalau anda sudah rusakkan itu? kau hancurkan satu bagian dari liturgi kehidupan. Artinya itu sudut pandang yang lain. Contoh-contoh melihat itu.

Karena kemudian dia tidak cuma sekedar liturgi ibadah, tapi ini liturgi kehidupan yang agung seperti yang dijelaskan tadi, maka ketika ada upaya pengrusakan atau sedang ada kerusakan, maka Gereja harus bertanggungjawab mengadvokasi itu?

Yah..mestinya terpanggil untuk itu. Gereja terpanggil untuk selalu menyuarakan dan mengelola keseimbangan. Tentu dia akan berhadapan dan berpotensi untuk berbenturan dengan komponen-komponen lainnya yang bekerja yang membawa dampak kerusakan-kerusakan itu. Tapi itu panggilan, advokasi. Itu harus dibangun. Teologi lingkungan itu sesungguhnya adalah advokasi. Itu harus dimengerti. Jadi advokasi bukan cuma pada tingkat litigasi bawa ke proses hukum, tidak. (Juga) pemberdayaan basis, pengorganisasian seluruh komponen masyarakat, mendorong pada perubahan kebijakan sehingga terjadi perubahan dari kebijakan yang merusak lingkungan jadi kebijakan yang memelihara lingkungan. Masing-masing orang bisa mengadvokasi dirinya sendiri, lingkungan keluarganya, Gerejanya secara institusional. jadi perspektif itu harus utuh didalam dirinya sebagai proses ber Gereja.

Bagaimana menjelaskan tentang banyak pernyataan orang bahwa urusan ber-Gereja itu ya urusan Gereja. Sehingga urusan-urusan diluar Gereja, termasuk isu-isu lingkungan, sosial seperti itu bukan urusan Gereja. Biar saja terjadi, kita fokus saja bagaimana biar ibadahnya diterima Tuhan.

Itukan yang Amos sangat marah. Dalam Perokofia yang judulnya Allah marah pada ibadahnya orang Israel. Karena ketidakadilan itu bukan hanya dalam relasi antar manusia. tapi ketidakadilan juga dalam relasi antar manusia dengan lingkungan. Ini semua terintegrasi. Kalau relasi antar manusia saja tidak adil apalagi kalau dalam relasi antar manusia dengan lingkungan. Jadi tidak bisa dilepas pisahkan. menjadi sangat aneh kalau orang bilang tugas Gereja hanya menjaga Iman saudara-saudara se Iman, perkumpulan itu lewat ibadah-ibadah dan kegiatan lain-lain. Itu penting, tetapi itu bukan panggilan ber Gereja yang utuh. Dia harusnya terjemaahkan kedalam realitas dan mengelola kehidupan sebagai Mezbah Agung Allah.

Mezbah Agung Allah itu bukan tersimpan didalam gedung-gedung. Gereja sebagai gedung. Tapi Gereja sebagai panggung karya Allah. Saya kira kita punya sangat banyak contoh soal itu, mulai dari Yesus dan lain-lain. Kita bisa menghitung semua itu, bagaimana mereka bekerja 

Menarik tadi menyebutkan kita punya banyak contoh. Tentang Yesus sendiri sebagai contoh. Bisa diuraikan seperti apa? khususnya melihat Yesus sebagai contoh yang bukan cuma peduli pada isu sosial tapi juga isu-isu lain disekitarnya?

Saya selalu pakai Yesus sebagai role model didalam satu cara dia mengajar, tapi juga cara dia membangun satu keseimbangan dalam relasi antar manusia. perumpamaan-perumpamaan yang dipakai Yesus itu membuat kita sangat gampang memahami apa yang mau dia bilang tentang sesuatu yang mungkin sulit secara filosofis dalam perspektif Yahudi dan ahli Taurat dan lain-lain.

Bagaimana Iman dibuat sederhana lewat kisah sehari-hari didalam kesehariannya. Bagaimana didalam ajaran-ajarannya. Karena dia adalah Rabi, guru agama Yahudi. Dia membuat sesuatu yang sederhana, bagaimana dia mengajarkan orang yang ingin memimpin tidak boleh di depan. Harus dari belakang dan lain-lain. perspektif-perspektif yang kaya sekali tentang bagaimana tatanan itu yang seimbang. Dan tatanan yang seimbang itu ya, siapa yang mengikut dia harus pergi dan bagi semua kepada yang lain. Begitu.

Apakah orang tidak boleh kaya? Boleh. Duduk soalnya bukan disitu. Soalnya adalah, apa kelebihan yang saya miliki mencukupi kekurangan orang lain yang kurang sehingga disitu terjadi keseimbangan. Jadi, konsep dari tatanan kosmik, Oikumene semesta dan lain-lain salah satu prinsip utamanya adalah keseimbangan. Equality.

Kalau dilihat dari konteks yang sekarang. Bagaimana secara keseluruhan di Indonesia, Gereja-Gereja berhadapan dengan ketidakseimbangan alam yang ada sekarang. Apakah sudah mulai banyak kesadaran Gereja atau memang butuh penguatan lagi ?

Gereja sangat sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan itu. Sudah berpuluh-puluh tahun menjadi narasi Gereja.

Lalu apa yang kurang?

Yang tadi saya bilang. Meng-administrasinya didalam program, strategi dan lain-lain. Kalaupun sudah mengadministrasinya, penguatan-penguatan kapasitas bagi pelayan dan lain-lain. Saya selalu ketika bicara tentang Gereja melihatnya dari 3 perspektif atau 3 pilar utama. 

Pertama, ketika kita bicara tentang Gereja kita bicara tentang institusi. Institusi adalah lembaga yang bertanggungjawab mengeluarkan produk ya ajaran Gereja, tata Gereja, persidangan-persidangan, mengelola strategi-strategi pelayanan, membuat liturgi dan lain-lain. Mengangkat pelayan dan kepegawaian dan sebagainya. Itu institusi.

Kalau kita mau mencoba menelisik apakah institusi pada produk-produknya membicarakan tentang keadilan ekologi? Oke mereka punya, mereka bicara. Bicaranya dimana, oh mereka bicara di tata Gereja ajaran. Apakah mereka menterjemaahkan didalam strategi, apakah didalam kegiatan, didalam program. Program berapa tahun? Perubahan apa yang mau dicapai? Keberpihakan anggaran ada atau tidak. Ini soal perencanaan, desain perencanaan berdasarkan sinkronisasi seluruh produk Gereja, katakanlah dalam satu persidangan.

Makanya saya selalu katakan kepada teman-teman, kalau persidangan jangan hanya lihat siapa ketua Sinode berikut. Tapi lihat produk-produk yang akan ditinggalkan sebagai legacy, sebab itu menentukan bagaimana amanat yaqng akan dilaksanakan beberapa tahun kedepan. 

Pilar yang kedua adalah Pelayan. Pendeta, majelis dan semua orang yang memberikan diri untuk bekerja didalam institusi, baik di jemaat di klasis di institusi Sinode dan lain-lain. jadi itu pelayan.

Bisa jadi institusi sudah kuat. karena sudah rapi sekali kalau kita masuk di beberapa Gereja, desain strateginya sudah rapi sekali. Tetapi kenapa ketika jalan, pilar pelayannya nggak kuat. Kapasitasnya nggak ada.Kapasitas untuk mengelola itu dilapangan untuk mengadvokasi dan lain-lain enggak ada. Karena itu butuh kapasitas penguatan pelayan lewat TOT dan segala macam. itu harus diperkuat. Nah oke, kapasitas pelayan kuat. mampu menerjemaahkan itu kedalam program dan lain sebagainya untuk mengelola kelapangan dan lain-lain. Tapi ada satu pilar lain. Pilar umat.

Institusi kuat, pelayan kuat. Tapi pertentangan dari umat keras. 

Ada di umat itu katakanlah politisi-politisi, dia mencari keuntungan dari kerusakan lingkungan. Pengusaha-pengusaha hitam misalnya. Karena tidak semua pengusaha buruk. Ada yang yah main hantam saja, ambil sebanyak-banyaknya. mau tinggalkan alamnya hancur juga tidak peduli. Mereka juga warga Gereja.

Ketika Gereja mau bicara begini wahh..Kadangkala suara yang muncul, Gereja main politik. (pandangan) Gereja main politik karena ketika Gereja bicara mereka tersasar sebagai pelaku. Kan seringkali begitu, jangan masuk ke wilayah itu, itu wilayah politik dan lain sebagainya.

Tapi sebaliknya, kalau mereka jadi korban, dan Gereja tidak bicara. Kenapa Gereja tidak bicara membela kami, hak-hak kami dan lain-alin. Ini dinamika yang ada di umat. Karena itu penguatan kapasitas umat juga harus dilakukan. Penguatan kapasitas institusi, pelayan dan umat dilakukan, bagaimana mereka bisa mengorganized diri. mengelola, pendekatan-pendekatan partisipatoris. Sehingga umat bisa mengorganisir diri menghadapi tantangan-tantangan yang dia hadapi.

Bagaimana mendudukkan peran umat, peran pelayan, peran lembaga. Integrasinya seperti apa. Saling menopangnya seperti apa. Jadi kita bicara dalam perspektif yang lebih utuh. Ketika kita bicara tentang Gereja kita scooring. Lemahnya dimana. Oh.. pelayan kuat, umat kuat. Tapi diatur dalam aturan Gereja ndak? ndak ada tuh aturannya ndak masuk. kan seringkali pelayan ketika mau melakukan sesuatu dia liat aturan. Oh aturannya tidak ada. Bikin aturan dulu baru kita bikin. Kadang-kadang seperti itu. Kita kan hierarkis. Pro aktif ada, tapi masih juga butuh sesuatu yang begitu. Jadi harus dilihat secara menyeluruh. Saya kira seperti itu dalam pengalaman saya.

Inikan mau mengimplementasikan isu keseimbangan. Itu harus dimulai dari lingkungan sekitar kita.  Kalau berdasarkan pengalaman sebelum di PGI, menjadi pendeta di Ambon, bagaimana proses mengorganisir atau mengadvokasi lingkungan yang selama ini digerakkan oleh Gereja. Memungkinkan kah itu? Misalnya Gereja kecil yang tahu dan peka dalam mengadvokasi supaya tetap seimbang?

Sangat mampu, sangat mampu, sangat mungkin. Mengapa tidak. Asal dikerjakan secara terstruktur. Dalam kajian-kajian yang baik. Kalau dibilang mandat. Gereja mandatnya besar sekali. Dia punya mandat untuk menyelesaikan kemiskinan. Pendidikan, memberantas buta huruf. Sebab mandatnya mengelola kehidupan besar sekali.

Tetapi kembali harus discooring, kapasitasnya cukup atau tidak?

Kapasitas pada level atau lingkar mana? Oh kita cuma lihat jemaat kita kapasitasnya terbatas. Oke. Ketika kita memperluas lingkaran bergereja, melihat pola-pola relasi, oh ternyata kapasitas ada di jemaat lain. Atau kapasitas ada di kelompok lain yang juga warga jemaat kita misalnya.

Ternyata ada sangat banyak kapasitas ditengah jemaat-jemaat kita. Karena itu lalu pulling resources. Sumberdaya yang begitu kaya kita harus kumpulkan untuk mengelola itu. Artinya kita memperbesar kapasitas untuk melaksanakan mandat. Kita tidak akan pernah menurunkan mandat. Tapi kapasitas yang terus menerus kita perbesar. Lalu itu kita lakukan dengan terukur dengan penambahan sumberdaya maka sangat mungkin seperti yang sering saya katakan pada teman-teman di Gereja, resource itu sangat banyak didalam jemaat kita. 

Kita coba. Kita punya data resouces atau tidak?. Punya data sumberdaya manusia atau tidak? didalam jemaat kita atau jemaat tetangga atau dalam relasi kelembagaan atau lain-lain. Kalau itu kita punya maka kita bisa mengajak untuk mengembangkan kapasitas kita didalam melakukan kerja-kerja advokasi. Jemaat yang kecil jangan dihitung hanya karena jumlah orang sedikit. Biar kurang dari 100 orang dan lain-lain , tidak bisa pake standar kuantitas seperti itu. Bisa jadi pada jemaat besar tapi dia terkurung pada dirinya sendiri.

Jemaat bisa kecil tapi resonansinya sangat besar karena dia berjejaring sangat kuat. Sekarang sudah berjalan networking, era dimana jaringan menjadi sangat utama. Digital sistem dan jaringan dan lain-lain sebagainya.

Sering saya katakan wah kita sedang mengalami transformasi digital dan lain-lain tapi kita tidak punya sumberdaya. Siapa bilang tidak ada sumberdaya? kalau anda bertanya kepada saya, saya ini sudah generasi ke-50 atau 60. Skil saya untuk mengelola semua berbasis digital, technik tidak bisa. Tapi apakah kita punya resources? sangat banyak  pemuda di kita. Kasi mereka ruang, kolaborasi dengan mereka. Mereka juga ingin memberikan sesuatu bagi Gereja. Ajak mereka terlibat. Mungkin konten ber Gereja kurang, tapi mereka menguasai teknologinya untuk segala macam. Kita bisa berdiskusi kontennya begini, kelolanya bagaimana? Jadi semua harus kerja lintas. Lintas isu tapi juga lintas SDM.

Saya tadi membayangkan ketika mendengar peningkatan kapasitas. Bagaimana jika perspektifnya juga belum selesai, sebelum peningkatan kapasitas yang teknis itu. Mungkin bisa diurai kembali apa yang dijaminkan oleh Oikumene Semesta ini bagi kehidupan dan bagi visi menghadirkan kerajaan Allah bagi kehidupan?

Baca Juga :  Kajian Lingkungan Hidup Strategis di Danau Poso

 Pertama. Oikumene Semesta adalah sebuah konsep berbasis teologi yang melihat kosmik secara menyeluruh. Membangun juga konsep-konsep kosmologi dalam perspektif yang saling bergantung satu dengan yang lain.

Tidak ada yang tidak penting untuk keutuhan yang lain. Itu sangat Alkitabiah ketika kita bicara Gereja sebagai satu kesatuan tubuh di dalam Korintus. Dimana telinga tidak bisa katakan kepada kepalaku tidak membutuhkan engkau dan lain-lain . Tapi semua harus melengkapi. Itu secara sederhana kita memahami itu. Itu seharusnya menjadi sangat kuat di dalam perspektif timur.

Kenapa Timur?

Karena dia melihat Makro Kosmos dan Mikro kosmos jadi satu keutuhan. Kita hanya kecil. Jadi integrasi itu bukan satu paradoks dan dikotomi seperti yang dibangun dalam perspektif Neo Platonis. Menariknya memang ke Kristenan berangkat dari akar perspektif barat yang sangat paradoks itu. Tapi itulah sudah perkembangan-perkembangan yang sangat luarbiasa didalam kontekstualisasi didalam melihat dimana kekuatan integrasi kosmik itu berjalan. Lalu Gereja memaknainya sebagai sebuah rumah bersama , sebuah Mezbah Allah bagi kehidupan yang kita hidupi bersama yang saling bergantung satu dengan yang lain.

Artinya ini perspektif teologis, perspektif filosofisnya. Itu yang harus diterjemaahkan kedalam tindakan-tindakan advokasi yang mengelola dan mengupayakan terjaganya keseimbangan diantara seluruh elemen kosmik. Minimal pada lingkup yang paling dekat dengan kita.

Kalau disini kita punya, saya lihat ada Danau Poso, ada pegunungan yang sangat indah, ada manusianya, ada Sogilinya yang katanya sudah tidak ada lagi. Artinya kalau kita menghitung bagaimana mata rantai kehidupan ini saling terintegrasi. Kita harus rawat, tidak boleh ada 1 yang hancur. Karena kalau satu hancur, rantai kehidupan kita tahu persis karena kita juga belajar tentang itu. 

Sebagaimana dengan kearifan lokal yang sangat sederhana kita memaknai dulu apa yang ada disekitar kita. Kita bisa mengelolanya dengan baik sebelum kita bicara atau melihat masalah yang lebih besar. Pada perspektif teologis tentang sebuah Oikos, sebuah Oikumenes semesta kita bisa menerjemaahkannya kedalam lingkup yang kecil dan mengelolanya, mengadministrasinya menjadi sebuah kebiasaan hidup, menjadi sebuah etika hidup dan mengerjakannya dengan cinta sebetulnya.

Ini harus dikerjakan sebagai seni. Selalu di kepala kita ada imajinasi keutuhan tentang cinta. Kalau tidak, kita miskin.

Era saat ini menghilangkan atau mendegradasi imajinasi-imajinasi tentang moral. Imajinasi-imajinasi yang utuh. Imajinasi tentang cinta yang utuh. Sehingga orang melihat segala sesuatu yang parsial  karena memang semangat zamannya seperti itu. Kita kehilangan ruang untuk menikmati sesuatu yang lebih subtil yang lebih substansial.

Sebenarnya teologi yang membicarakan semesta sebagai sesuatu yang utuh, terkait satu sama lain ini sedang mengkritik teologi yang sebelumnya  yang seperti apa dan bagian dari refleksi terhadap apa. Kesadarannya muncul karena apa?

Sebenarnya pandangan dibelakangnya adalah pandangan-pandangan yang sangat filosofis. Tentang dekonstruksi, tentang rekonstruksi dan yang grand naratif, tidak ada lagi re-naratif didalam post modern kemudian narasi-narasi kecil dan lain-lain. Lalu itu berkelindan masuk didalam industri-industri lalu masuk didalam perpektif sastra dan teologi. Itu sebenarnya pergulatan pemikiran. Tapi bagi saya, substansinya tidak jauh berbeda , kita hanya menggeser titik berat. 

Artinya kalau kita bicara tentang narasi-narasi besar atau grand naratif dalam kaitan dengan lingkungan secara menyeluruh, maka kita akan memandang segala sesuatu dalam keutuhan. Kita lebih menitikberatkan pada keutuhan, ke menyeluruhan, didalamnya kadang-kadang kita tidak melihat partikel-partikel kecil yang menyusun semuanya. Kelihatan kalau kita menyusun gambar besarnya.

Tapi kalau kita melakukan dekonstruksi terhadap itu. Kita memberikan harga terhadap setiap varian dan segala keunikannya yang menyusun itu. Jadi, kalau kita misalnya melihat burung terbang, kita hanya melihat burung di danau itu atau Sogili di Danau memberikan makna pada keutuhan yang lebih besar. 

Ini menarik sekali. Saya melihat apa yang dulu juga diorganisir kak Jacky di Save Aru, saya juga membayangkan seperti yang juga dilakukan oleh teman-teman Aliansi Penjaga Danau Poso yang melihat Danau Poso ini bukan hanya sekumpulan air. Tapi dia adalah kehidupan, ekosistem. bahwa ada ikan kecil, endemik kecil atau siput kecil pun itu juga punya makna bagi manusia, punya hubungan dengan apa yang sedang dilakukan oleh manusia sekarang. Kalau belajar dari pengalaman di Aru sendiri yang kemudian menggerakkan Save Aru, bagaimana melihat keutuhan semesta yang sedang dikembangkan dalam gerakan itu?

Begini. Dalam gerakan advokasi Save Aru sampai kami menang. Kita tidak hanya melihatnya dalam satu perpektif. Kita coba melihat degradasi yang akan terjadi kalau itu jalan. Di Aru itu, 28 perusahaan akan merobah kepulauan Aru itu menjadi perkebunan tebu dalam skala besar. Sebenarnya 1 perusahaan saja. Untuk menyiasati ijin yang duapuluh hektar dari Bupati yang bisa langsung dilepas saja, mereka berikan saja dulu. Kami dalam advokasi, melakukan kajian-kajian untuk melihat apa sih yang membuat unik kepulauan Aru. Ada Cendrawasihnya. Kakak Tua Hitamnya. Ada Walabi-nya, Kangguru Pohon itu. Biodiversitynya sangat kaya. Itu juga benteng Mangrove terakhir di kepulauan Maluku. Tiga ratusan pulau kecil yang saling menyusun, jarak antar pulau itu bisa hanya 10 meter, ada yang sampai 2 kilometer. Orang Aru mengatakannya sungai, padahal  itu laut. kalau kita berlayar dari pulau-pulau itu.

Tapi juga ada manusia Aru dengan keunikannya dan lain-lain. Kita menghitung semua elemen yang ada disitu dan membentuk satu keutuhan ekosistem Aru yang terintegrasi dan menunjukkan Aru unik sehingga Alfred Wallace dulu turun untuk menyasar ke Aru.

Aru didalam keunikannya, mirip dengan Selandia Baru, jadi ada aspek historisnya, aspek antropologisnya, aspek lingkungannya yang membuat kita berpikir oke, ini Aru. Kalau ini hancur, maka kehancuran berantai akan terjadi. Karena itu ketika kita mengadvokasi Aru, kita mengadvokasi lingkungan dari semua perspektif. Kita mengajak sahabat-sahabat Bird Lovers, pencinta burung internasional karena ada yang unik di Aru. Kakatua Hitam, 4 atau 6 spesies Cendrawasih jadi itu kita teriakkan. Kalau Aru hancur juga, maka Mangrove akan hancur. Maka ada kelompok yang khusus mengadvokasi Mangrove. Kita kirim ini potensi kehancuran Mangrove berdampak kehancuran pada yang lain-lain. Maka mereka masuk. Di Aru mereka bilang ada Kepiting Bakau, itu yang terbesar spesiesnya di di Aru, bukan di Papua ternyata. Ukurannya bisa sampai 2 kilo. Jadi bagaimana dia bisa mengelola ekosistemnya disitu kalau itu hancur.

Lalu di Aru karena diantara sela pulau-pulau itu karena Bakau, memperkaya sekali Biodiversitynya. Udang itu limpah disitu. Segala jenis ikan dan lain-lain. Jadi kalau itu hancur, yang lain-lain juga hancur. Di Aru itu kayunya juga kayu-kayu kelas yang tidak ada ditempat lain. Kalau itu hancur maka tingkat kerugian pada ekosistem. Juga akan berdampak pada penurunan muka air karena Aru itu hanya rata-rata ketinggiannya 5 meter, demikian analisa teman-teman dari Australia. Dan ini akan tersambar habis pulau-pulaunya pada saat kenaikan iklim yang sudah diperkirakan dua atau tiga kali dari yang sudah diprediksi tahun sebelumnya.

Jadi ada semua aspek yang kita lihat. Yang kita minta diadvokasi oleh kelompok-kelompok pada setiap aspeknya. Lalu orang bilang, kenapa gerakan perempuan misalnya digerakkan untuk ikut mengadvokasi? Karena Aru dengan perempuan punya ikatan yang sangat luarbiasa. Karena larangan Sasi Hutan atau menutup hutan, tidak mengambil hasil hutan dan lain-lain, secara adat terlarang, tidak bisa dibuka lagi. Itu berjenis-jenis dan Sasi paling keras adalah Sasi perempuan.

Jadi kalau sampai perempuan sudah turunkan tanda-tanda untuk Sasi atau menutup wilayah itu. Hanya dengan adat itu bisa dibuka kembali. Polisi juga tidak, aparat juga tidak. Itu perang besar bisa terjadi. Dan itu yang dilakukan di Aru ketika mama-mama menutup hutan dengan tanda mereka menurunkan piring dan lain-lain, itu tanda Sasinya. Itu di kantor DPRD orang tidak bisa masuk. DPRD berkantor dari rumah sampai upacara ritual adat dilakukan. Dan itu bagaimana mama-mama yang biasa saja. Mama-mama yang jual pinang di pasar-pasar karena mereka tau persis, didalam tradisi budaya Maluku Tenggara, Aru juga bagian dari Maluku Tenggara, ketika mama-mama sudah mengambil posisi. Itu hati-hati. Perang dan Damai bisa terjadi disitu. 

Jadi kita minta gerakan perempuan kalau ini hancur, maka mama-mama Aru juga akan hancur. Anak-anak Aru juga kita ajak bicara, kalau ini hancur maka mereka tidak punya lagi. Maka kita dapat dukungan dari gerakan anak-anak diseluruh dunia.

Ini juga menarik, karena dari setiap mahluk, burung bahkan kayu dan juga mangrove, jenis pohon itu dihitung sebagai bagian dari ekosistem yang ada di masyarakat. Juga setiap kelompok dan setiap organisasi itu dilibatkan secara bersama-sama untuk bergerak. Cerita kak Jacky ini juga bisa jadi refleksi buat kita, bahwa Danau Poso ini ada banyak sekali mahluk didalamnya dan kita menjadi bagian dari yang setara dan kita harus melihat semuanya.

Ketika kita bilang, kita manusia atau yang lain yaitu ekosistem yang saling bergantung itu. Anak-anak bergantung apa disini. perempuan bergantung apa disini. para nelayan bergantung apa disini. Kalau ini terjadi perubahan, maka disini akan kena seperti apa. Jadi itu yang kita resonansikan keluar dalam gerakan Save Aru. Gerakan Save Aru itu kaya sekali dari segmentasi, ada pencinta burung itu gigih sekali melakukan kampanye. Para pencinta Mangrove gigih sekali. Gerakan anak-anak sampai diluar, karena anak-anak perlu berteriak kalau ini hancur maka kami tidak bisa lagi melihat Cendrawasih. Kami tidak bisa bercerita lagi tentang indahnya Kakak Tua Hitam dan lain-lain. jadi itu disuarakan.

Ini penting sekali karena kita bisa melihat kalau ini hilang. Kita tidak hanya membicarakan kalau Kompodongi hilang cuma orang ini saja yang rugi, tapi sebenarnya semua saling mempengaruhi.  Kalau ini hancur maka akan ada kehancuran berantai. Dan disini ada peran Gereja? Bagaimana peran gereja berlangsung , misalnya di Ambon?

Betul. Gereja semua seperti kami di Maluku. Di Aru itu stakeholder yang paling besar itu adalah Gereja dan pemerintah.

Iya dia (Gereja) menjadi bagian dari itu. Kita putuskan didalam persidangan Gereja. Aru itu jauh sekali dari Ambon. Lebih murah tiket ke Singapore (daripada ke Aru). Mana ada LSM lingkungan mau turun ke Aru. Memang kemudian turun. Tapi saya katakan ke teman-teman Gereja yang ada disana Gereja. Gereja terpanggil untuk itu.

Jadi kalau kapasitas kita cuma doa, doakanlah mereka. Jadi saya bilang ke teman-teman yang tergerak untuk advokasi untuk ini mampir ke Gereja untuk di doakan. Itupun cukup memberikan kekuatan spiritual. Jadi masing-masing mengelola perannya.

Pada level Sinode kami memang mendorong kebijakannya, karena pada persidangan Gerejawi lalu kita putuskan untuk membentuk komisi khusus untuk mendukung gerakan Save Aru. jadi Sinode bikin apa, Klasis bikin apa, jemaat-jemaat bikin apa. Kita rumuskan secara operasional, sangat teknis sampai dengan perhitungan biayanya.

Tentang bagaimana mengadministrasikan advokasi Gereja terhadap isu-isu sosial dan lingkungan itu bukan teori tapi sudah dilakukan oleh Gereja dalam hal ini GPM?

Iya, tentunya kita lakukan dengan menghitung kapasitas yang ada pada masing-masing Gereja. Kalau kurang kapasitas yang pembesaran kapasitas. Jadi terus bergerak.

Baca Juga :  Mengapa Nelayan Toponyilo Danau Poso adalah Profesi Orang Merdeka

Dari gerakan Save Aru itu Menteri akhirnya mengeluarkan keputusan untuk menghentikan, tidak lagi lanjut. Ya kita senang saja tapi kan tantangannya kedepan yang mengantre itu sangat panjang. Masih ada 16 perusahaan yang misalnya mengajukan izin untuk masuk Aru sekarang. Sekarang saja ada lagi yang namanya Food Estate, peternakan sapi di wilayah Aru selatan yang wilayah Savana. Tapi itu Savana adat yang jadi tempat segala ritual adat.

Kita tidak menentang perubahan dalam dunia yang berubah. Tapi kita harus menghitung cost. Kalau perubahan itu daya hancurnya lebih besar ketimbang apa yang diberikan bagi masyarakat tentunya. Kita harus hati-hati. Karena itu harus bersama-sama. Karena itu setiap program itu dibicarakan secara partisipatoris dengan masyarakat. Kita meminta itu.

Jadi kita orang yang menentang terjadinya kerusakan yang bisa melebar dalam skala masif kalau perubahan itu terjadi. Perubahan harus meminimalkan sedapat mungkin kerusakannya.

Ini pertanyaan terakhir berkaitan dengan keseimbangan tadi. Oikumene semesta, juga bagaimana Gereja melibatkan diri dalam isu sosial dan lingkungan. Kalau belajar dari climate change, krisis iklim dan seterusnya  diseluruh dunia. Bagaimana Gereja-Gereja di Indonesia termasuk juga GKST berefleksi terhadap ini?

Kalau kita masuk ke kantor Dewan Gereja Dunia di Jenewa. Ada satu baliho besar sekali dalam lobi utama yang cuma yang cuma tergambar satu titik air. Karena itu menjadi kampanye global. Soal climate Change dan tantangan global terutama ketersediaan air bersih. Kita bicarakan di Belanda, beberapa Oikumene dan itu ketika terakhir saya kunjungan kesana mereka juga minta support. Mereka galang ke agama-agama, narasumber muslim dari Indonesia siapa yang bisa diajak untuk membicarakan itu dari perspektif teologia Islam. Saya kasi satu teman yang bicara Green Jihad. Green Jihad ada itu satu orang profesor di Jogja yang kembangkan. Teman-teman di NU dan Muhammadiyah juga sudah kembangkan program-program enviromental yang sangat luarbiasa dan canggih.

Saya kira mari kita mulai dengan meng-scooring kembali, panggilan kita, kapasitas kita. Apa yang belum ada. Kalau kita harus butuh aturan ya kita adakan aturan yang berkaitan dengan itu. Supaya gereja di Sulawesi Tengah dan Denomenasi lain disini bahkan dalam kerjasama dengan agama-agama. Dan itu sesuatu yang menarik. Konflik yang pernah terjadi disini memperoleh pintu masuk untuk membangun integrasi  melalui penyelamatan lingkungan. Itu menarik.

Dan ini tantangan bersama dimana agama-agama harus hadir dan berdiri sama-sama untuk melihat bahwa ini sesungguhnya persoalan kita. Kalau ini hancur, hancur semua kita. Saya kira  semoga kedepan bisa berproses dan teman-teman bisa saling memanfaatkan kapasitas yang ada pada masing-masing. Dalam kondisi seperti ini kita kadang-kadang terjebak dalam dikotomi dan paradoks, pada ego institusi masing-masing.

Saya katakan, antara satu orang pun, kalau rentangnya antara satu sampai sepuluh dan dia cuma punya kapasitas dari 10 cuma 1 yang ada kapasitas, 9 tidak ada. Mungkin yang 1 itu tidak ada pada yang lain. Katakanlah yang 1 itu cuma bisa memotret. Yang kita butuhkan sekarang foto story. Foto yang berbicara. Panggil dia.

Waktu saya ajak anak-anak muda untuk advokasi Save Aru, mereka bilang kami bukan aktivis lingkungan. Saya bilang, you ketua Blogger Maluku. You komandan grup hip hop. You kelola sastra. You tari. Apa yang mereka bikin? mereka buat misalnya 3 buku puisi tentang Aru. Yang menulis dari Sabang sampai Merauke, jaringan mereka. Teman-teman yang hip hop sampai menarik ketika satu band dari Belanda Etno Jazz Mahakam Festival, akhirnya mampir ke Maluku untuk bikin satu lagu untuk Save Aru. Akhirnya mulai dari Hip Hop akhirnya musisi seperti Glen Fredly masuk kampanye, Slank masuk ah itu bikin rame. Tarian juga. Lalu itu disebarkan oleh Blogger lain, sampai mencapai 300 negara.

Jadi kapasitas itu ada di teman-teman muda dan lintas iman dan lintas genre. Karena itu ketika ini berhasil lalu ketika teman-teman datang melakukan studi, mereka bilang ini gila. Ini seperti Oase, sudah lama ini tidak ada. Kemenangan. Dan menariknya ini, tidak ada uang keluar. tidak ada satu peser pun yang keluar. Saya masih mengingat dan ini jadi cerita lucu, kita harus segera membawa baliho ukuran 6×8 ke Dobo, ibukota kabupaten Aru untuk pasang ditengah lapangan. Itu berisi dukungan dari seluruh dunia. Jadi kita pilih dari kolase foto kecil-kecil, ini darimana ini dari mana, dibikin kecil-kecil.

Saya pikir ya Tuhan kita dapat uang dari mana? 750 ribu sampai 1 juta. Akhirnya saya bujukin mama saya waktu itu. “Uang kecilnya saya pakai dulu, hahahahaha.. Itu Baliho dari uang pensiun mama saya”.

Jadi seluruh potensi. karena itu tadi teman-teman semua sudah mendapat semacam Collective pride, kebanggan bersama. Kita harus bergerak. Kita yang dulu berkonflik sekarang kita harus begerak bersama-sama. Kita harus memenangkan ini. Apalagi sudah dapat apresiasi, band dari Belanda sudah datang, Glen Fredly sudah masuk. Jadi kita harus kelola itu juga. Tidak ada yang minta dibayar sepeser pun. Sampai ada yang bikin sticker, dijual di jalan waktu Car Free Day. Mereka bikin tarian, jual kue. Culture kelompok itu harus dapat. Sehingga solid sekali. Dibelakang itu ada mungkin 5-6 orang saja, itu yang dibilang tim inti, teman-teman muda, saya ikut tapi yang lain muda semua yang mengawal terus menerus, melihat perkembangan, seperti “oke twitter kita menurun ini, mungkin jam sekian kita harus hajar, gini-gini-gini. Itukan berbasis sosmed, di facebook begini. Dibikin kajian media, siapa yang sudah mampu di twitter, lembaga mana lagi yang sudah masuk. Di Twitter jamnya gimana, kapan masuk, jadi sudah menguasai itu. Dan itu terus menerus dilakukan.

Kita minta jaringan disini sudah cukup atau belum untuk bikin itu, sehingga bisa kemudian teman-teman bikin Tribute to Aru di Malang dengan gelar musik, sastra termasuk orasi politik. Kita bikin rangkaiannya, teman-teman di Kupang diwaktu yang sama bikin Tribute to Aru juga. Itu dikomunikasikan lewat sosmed juga. Dan kerja-kerja khas mereka.

Ini sangat menarik karena sangat memungkinkan diwilayah pasca konflik isu lingkungan hidup bisa menjadi gerakan bersama lintas iman. Apa yang ingin kak Jacky katakan kepada Gereja yang tidak peduli pada isu-isu sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka?

Saya kira kalau tidak tahu ya tidaklah. Gereja sudah mengelola perspektif teologia itu lama. Saya kira itu pada kapasitas afeksi dan motorik yang kita musti scooring. Artinya bagaimana memanage itu. Sebab begini, untuk mengelola gerakan itu untuk menjadi isu-isu itu menjadi gerakan dilapangan. Dibutuhkan trust sebagai fasilitator atau sebagai mediator. Para pekerja Gereja termasuk saya, tidak dilatih dalam kapasitas itu. Saya menemukan itu dilapangan dan ikut sekian banyak pelatihan. Tugas saya hanya administrasi atau berkhotbah, mengajar.

Katakanlah saya memfasilitasi, tapi apakah berdasarkan standar seorang fasilitator. Fasilitator itu orang sekolah loh. Ada kreditnya, orang membayar untuk menjadi fasilitator. Karena itu seorang fasilitator sesungguhnya bayarannya per jam. Saya mengalami itu karena sertifikasi, pernah diminta, itu hitungannya per jam sekian Dollar.

Atau mediasi yang masih harus dikembangkan. Kalau seorang pelayan Gereja tidak memiliki kapasitas itu tidak mengapa. Saya selalu katakan kepada teman-teman pendeta, kita harus punya dua hal penting. Satunya pendeta plus, artinya pastoral yang juga menjadi fasilitator, mediator, kita kembangkan diri. Kalau kita hanya punya seorang gembala, pendeta dalam arti pastor dan lain-lain maka kita harus punya kapasitas kedua yakni pulling resources.

Di jemaat kita ada fasilitator, di jemaat kita ada mediator. Ajak semua. Kita hanya mengajak. Dan ini semua sering saya katakan kepada teman-teman jangan paksakan Gereja dalam pengertian pelayan misalnya bekerja diluar kapasitas yang dia punya. Kalian juga harus tau mereka punya kapasitas sangat jauh. Misalnya dalam gerakan Save Aru, saya bilang ke teman-teman, pergi saja kerumah pendeta bahwa kita akan bergerak kesini-kesini. Kami minta dukungan doa, tolong berdoa untuk kami. Sudah, dia melibatkan diri disitu dia berdoa disitu, pake saja doanya itu.

Paling tidak kapasitasnya mendoakan. Tapi bagaimana kalau pada Gereja secara institusi. Apa yang ingin dikatakan?

Keberpihakan itu harus kita Scooring, kita lihat dalam kebijakan. Apakah ada tata Gerejanya, apakah ada sampai dengan program-programnya dibuat atau tidak. Kalau itu tidak ada sama sekali. Misi dan amanat kita tidak jalan. Kita tidak jadi Gereja yang meng Gereja. Pada level yang ekstrem saya katakan, ini cuma perkumpulan sosial. Seperti Gereja yang sudah berubah jadi perkumpulan-perkumpulan sosial di Eropa. Bahkan tidak ada ibadah disitu, hanya kumpul untuk bagi bantuan. Karitatif semata. Jadi dia (Gereja) betul-betul harus hadir dan tidak ada pilihan untuk itu. Karena menempel pada Gereja itu pada makna Eklesia itu adalah kumpulan orang yang bukan cuma dikumpulkan kedalam tapi kemudian yang dikirim keluar. Jadi kalau kita tidak keluar, mengurung diri didalam itu tidak sejalan dengan panggilan firman-Nya. Dan buat saya itu bukan Gereja, itu perkumpulan sosial.

Bagaimana melihat Poso dan Ambon kedepan?

Jacky Manuputty : Kita butuh kerja keras untuk membangun trust ( kepercayaan) diantara simpul-simpul masyarakat. Dan itu tidak bisa hanya dengan ucap-ucap. Kita butuh untuk mengalir keluar. Kita butuh untuk menghampiri, kita butuh mengalir. Kita butuh sebagai orang Kristen berjalan meneladani Yesus yang menghampiri siapapun, dari latarbelakang apapun. Merengkuh. Itu hal yang paling esensial untuk membangun masa depan yang lebih penuh pengharapan.

Kerjanya lebih sederhana. Didalam strategi kemudian dikembangkan dalam pelatihan yang mungkin bagi orang lain sesuatu yang lucu, tapi bagaimana membangun strategi untuk mengembangkan jejaring pertemanan. Bukan hanya pertemanan di media sosial. Orang akan lebih tersentuh ketika temannya datang masuk lewat pintu dapur. Kita sebenarnya kaya sekali dengan aspek-aspek seperti itu. Sebagai masyarakat komunal. Cuma karena itu orang menilainya sesuatu yang biasa-biasa saja, bukan yang luarbiasa. Tapi itulah kekuatan, trust terbangun disitu. Itu sebabnya dalam studi saya, saya kembangkan itu dalam Dialog Rumah Kopi.

Dialog Rumah Kopi itu sesuatu yang sangat natural, sebab masuk dalam Rumah Kopi orang akan duduk tidak dengan aturan-aturan formal. isunya mengalir kiri kanan. Tapi semua orang setara dan bebas disitu.

Ini hampir sama dengan gerakan Baku Bae itu?

Iya. Kesetaraan itu didapat. Kalau masuk ke ruang-ruang formal itu kita lihat siapa posisi apa, siapa posisi dimana. Tapi kalau di Rumah Kopi itu mau panggil apa saja, siapa mau pergi silahkan saja. Jadi kesetaraan itu sudah menjadi miskin didalam masyarakat kita. Jadi kita musti mengolahnya. meng create bagaimana orang duduk orang merasa tidak ada jarak sosial. orang merasa ada trust. Dengan trust itu kita kapitalisasi untuk gerakan lain seperti Save Aru.

Kita buat lagi sesuatu yang baru. Kita hasilkan kebaikan kecil yang membentuk memori kolektif. Narasi kolektif kita bahwa kita pernah sukses. Ini yang harus dipupuk terus. memperbanyak kolektif memori dan kolektif naratif dari kerja-kerja bersama yang menghasilkan sesuatu.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda