Anggrek di Bancea

0
262
Anggrek Bulan ( Phalaenopsis amabilis ) di pekarangan rumah warga Bancea. Foto : Dok.Mosintuwu/Kurniawan

Hj. Hartinah atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Tien, istri Presiden Soeharto, datang ke Bancea karena anggrek. Kedatangan ibu negara itu melahirkan Taman Anggrek Bancea. Taman dengan koleksi ratusan jenis anggrek itu berada dibawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Kerusuhan Poso menjadikan Taman Wisata Alam Anggrek Bancea yang memiliki luasan sekitar 5000 Ha, tidak terawat dan sebagian besar jenis anggrek selanjutnya masuk dalam upaya penyelamatan dan pelestarian.

Desa Bancea berjarak sekitar 50 km dari kota Tentena dengan lama tempuh sekitar satu setengah jam. Jalur yang dilalui sebagian masih rusak.

Dari hasil inventarisasi anggrek tahun 2013, ditemukan 40 jenis spesies anggrek alam dari 22 genus. Dari jenis anggrek yang didapat beberapa di antaranya endemik. Saat penulis berkunjung ke Taman Anggrek Bancea (sekarang namanya berubah menjadi Taman Wisata Alam Bancea) pada Oktober 2020, hanya tinggal 2 jenis anggrek yang tersisa di lokasidan semuanya adalah anggrek tanah, Spattoglothis plicata dan Arundina graminifolia.

Ada pemandangan unik di Bancea. Semua halaman rumah dibuatkan tempat budidaya anggrek yang di dalamnya terdapat bermacam-macam anggrek Epifit yang menempel pada tumbuhan lain tetapi tidak mengambil nutrisi dari tanaman yang ditumpangi. Beberapa anggrek dari jenis ini adalah anggrek bulan Sulawesi (Phalaenopsis celebensis), anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis), anggrek hitam Sulawesi (Grammatophyllum stapeliiflorum), dan anggrek endemik Sulawesi,Vanda celebensis.

Pemerintah Desa Bancea baru memberlakukan peraturan desa tentang larangan membawa anggrek keluar dari desa tanpa izin pada 2019.  Jika kedapatan membawa anggrek keluar dari Bancea pemiliknya didenda Rp.250.000.

Baca Juga :  Sound Keliling Desa, Mengubah Wajah Lemusa

Marce Mogoda, warga desa Bancea mengatakan anggrek di Bancea pertama kali ditemukan oleh Dolof Tawurisi (Alm) saat berburu di hutan tahun 1970an. Bunganya yang menarik dan bervariasi membuat Dolof mengumpulkan anggrek-anggrek tersebut di satu lokasi yang kemudian menjadi Taman Anggrek Bancea. Tahun 2007 Dolof Tawurisi meninggal dan sejak saat itu Taman Anggrek Bancea tidak terjaga lagi sehingga banyak orang yang datang untuk mengambil anggrek dari situ untuk dibawa keluar dari Bancea.

Koleksi anggrek di kantor desa Bancea. Foto: Dok.Mosintuwu/Kurniawan

Saat ini pemerintah Desa Bancea sangat serius dalam konservasi anggrek, ibu-ibu setempat dimotivasi dengan janji hadiah apabila anggrek mereka tumbuh dengan baik. Ibu Marce dan kawan-kawan berniat untuk mengelola TWA Bancea dan menjadikannya destinasi wisata. Berharap ada izin dari BKSDA Sulawesi Tengah untuk mengelola taman tersebut.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Inung Wiratno, M.Sc dalam sambutannya pada webinar yang diselenggarakan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu 24 Agustus 2020 mengingatkan soal ambang punahnya Vanda tricolor spesies anggrek yang dulunya sangat banyak tumbuh secara alami di lereng Gunung Merapi. Degradasi itu terjadi karena dual hal, erupsi Gunung Merapi dan seringnya anggrek itu diambil wisatawan yang datang berkunjung atau yang melakukan pendakian di sana. Upaya konservasi yang serius kemudian dilakukan untuk tetap menjaga spesies ini agar tetap lestari.

Baca Juga :  Sisakan Sejarah untuk Kami Orang Poso

Upaya konservasi yang sama juga diharapkan dilakukan secara khusus pada spesies anggrek yang terancam punah di Sulawesi Tengah, khususnya anggrek di Bancea. Kepala BKSDA Sulawesi Tengah Ir. Hasmuni Hasmar, M.Si pada diskusi Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, Festival Lembah Lore, 21 September 2019,menjawab pertanyaan penulis tentang mengapa koleksi anggrek di Bancea terus berkurang, beliau menjawab dua problem utama: kekurangan petugas jaga di lokasi dan seringnya ibu-ibu pejabat membawa koleksi anggrek ke luar dari Bancea.

Penulis : Kurniawan Bandjolu

Editor : Neni Muhidin

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda