Membangun Paska Bencana dari Niat-Niat Anak Muda

0
118

“Kami ini sudah turun temurun sejak sekitar 40 tahun yang lalu berkelahi terus” cerita Agus, “ Kalau dipikir-pikir kami ini mewarisi budaya berkelahi sudah lama, jadi kami tidak bisa membayangkan 20 tahun atau bahkan 50 tahun yang akan datang, anak cucu kami juga mewarisi budaya yang sama. Bakalae

Cerita Agus dari Desa Lemusa mewarnai diskusi dalam workshop ekonstruksi berbasis komunitas di Sulawesi Tengah: Dukungan dan Pemaknaan Inisiatif di Dodoha Mosintuwu, Tentena, tanggal 16 – 19 Juni 2019.  Niat, strategi dan kapasitas dalam membangun gerakan menjadi perbincangan seru dalam workshop yang difasilitasi oleh Andy Yentriyeni, dari Rukun Bestari. 

Saat itu, 20 orang anak muda dari Desa Toaya dan Labuan Toposo di kabupaten Donggala, Lemusa di kecamatan Parigi Selatan dan Desa Soulove Kabupaten sigi berkumpul di Dodoha Mosintuwu. Selama 4 hari mereka merumuskan hasil pemetaan dan penelitian yang sudah mereka lakukan di desa dua bulan sebelumnya. Rumusan hasil pemetaan di desa ini dirancang menjadi sebuah gerakan mendorong partisipasi masyarakat dalam proses rekonstruksi kembali rencana pembangunan desa mereka. Uniknya proses merekonstruksi pembangunan di desa tidak hanya memperhatikan potensi bencana tapi juga tradisi kebudayaan.

Merefleksikan sejarah perkelahian di desanya,  Agus, Ita dan anak-anak muda Lemusa meyakini harus ada sebuah langkah yang serius menggerakkan perubahan di dalam desanya. Niat ini mendasari anak-anak muda Lemusa dari Muslim dan Kristen bergandengan tangan untuk membangun komunitas. Berkebun bersama menjadi salah satu strategi yang sedang dilakukan, selain itu mereka merencanakan membangun ruang khusus dimana ada diskusi, kegiatan seni budaya dan olahraga yang akan membuat desa mereka memiliki budaya baru. Mereka menamakan komunitas mereka Sangga Lemusa. Sangga yang berarti penyangga, diharapkan bisa menjadi ruang baru yang merekonstruksi Lemusa.

Selain masalah perkelahian dan narkotika yang menyasar anak-anak muda, niat membangun gerakan bersama ini didasari pengalaman atas bencana di wilayah mereka. Sawah-sawah di Lemusa tertimbun pasir yang dibawa banjir bandang di tahun 2012. Gempa tanggal 29 September 2019, memperumit keadaan ekonomi warga. Banyak petani harus beralih pekerjaan menjadi tani atau buruh kasar di proyek-proyek yang ada ibu kota. Problem ini belum ditambah dengan posisi geografis mereka yang diapit dua sungai besar yang sewaktu-waktu bisa mengirimkan banjir. 

Hal yang sama dirasakan oleh Ade Nuriadin, pegiat Tana Sanggamu sudah lama gelisah melihat banyaknya persoalan yang dihadapi anak muda di desanya, salah satunya penggunaan narkoba. Banyak sebab mengapa anak-anak muda di desanya menjadi penganggur. Sementara partisipasi perempuan dalam urusan pembangunan desa terganjal kuatnya patriarkhi membuat peran mereka di desa hampir tidak terlihat. Peristiwa gempa dan tsunami di wilayah Donggala membuat situasi desa mereka menjadi lebih sulit. Nilai-nilai kebudayaan menjadi sangat jauh dari kehidupan masyarakat, potensi kekayaan alam di desa menjadi diabaikan.

Baca Juga :  Mencicipi Rasa 40 Tahun Kukis Bagea

“Dulu saya ingat sekali kalau kita mau makan ikan bakar dari laut, kita bakar dulu apinya, bikin dulu perapian baru pergi memancing . Karena memancing ikan disini cepat sekali. Jangan sampe ikan so ada dipancing, api belum siap”  Ade menggambarkan potensi kekayaan alam di desanya yang sudah mulai dilupakan. 

Kegelisahan ini mendorong Ade dan kawan-kawannya selepas gerakan Dapur Umum merespon bencana, membentuk komunitas Tana Sanggamu. Secara filosofis, Tana Sanggamu yang berarti tanah segenggam menunjukkan niat mereka memperjuangkan tanah dan kebudayaan yang hidup di tanah mereka. 

Workshop bersama anak muda Toaya dan Lemusa untuk membangun paska bencana berbasis komunitas. Foto : Dok. Mosintuwu

Menariknya, Tana Sanggamu melihat salah satu cara kecil merubah wajah desa mereka dengan menggunakan pekarangan rumah untuk bertani organik. Hampir setiap rumah di ibukota kecamatan Sindue, Donggala itu memang memiliki halaman yang masih kosong. Sebagian besar ditanami pohon mangga atau kelapa.

Bertani organik menurut Ade pantas untuk diajukan. Sebab setelah bencana, banyak petani di desanya terkena dampak. Ada yang kebunnya tidak bisa lagi ditanami karena sumber mata air mengering. Ada kebun kelapa yang tidak dipanen karena harga kelapa dan kopra anjlok. Memanfaatkan pekarangan dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi menjadi salah satu solusi.

Baca Juga :  Tentang Surga di Bumi, Teolog Bicara Ancaman Kerusakan Lingkungan

Dengan beragam masalah di desa yang punya potensi bencana alam maupun sosial yang tinggi itu tentu tidak bisa dihindari lagi. meninggalkan desa juga bukan solusi. Hambali, dari Mitra Aksi Jambi yang hadir dalam workshop itu mengingatkan pentingnya menciptakan masyarakat desa yang memiliki kapasitas menghadapi bencana. Tugas para penggerak desa ini menurut Hambali adalah meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi bencana dan mengelola potensi yang ada. Salah satunya lewat usulan rencana pembangunan yang mempertimbangkan potensi bencana dan meningkatkan pengetahuan mitigasi bencana.

Sementara itu, Lian Gogali, direktur Institut Mosintuwu yang mendampingi kedua komunitas di Tana Sanggamu dan Sangga Lemusa  mengatakan, mendorong anak-anak muda untuk menginisiasi rekonstruksi komunitas pasca bencana sangat penting, terutama agar pandangan mereka mempengaruhi  pengambil kebijakan. Namun untuk sampai kesitu,  harus ada kelompok yang punya visi dan pandangan yang kuat serta organisasi yang kuat. Lian menyebutnya sebagai infrastruktur gerakan.

Memaknai Inisiatif Paska Bencana

“Suatu peristiwa bencana bisa semakin mempertajam atau justru mendorong penghapusan ketimpangan- ketimpangan yang hidup dalam masyarakat . Ini tergantung dari pendekatan yang diambil dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi paska bencana”

Demikian dikatakan Kamala Candrakirana, mantan ketua Komnas Perempuan merespon beragam strategi program yang diajukan  anak-anak muda dalam workshop. Pernyataan ini juga disampaikan sebagai refleksi atas rekonstruksi atau penanganan bencana alam dan bencana sosial di Sulawesi Tengah dan daerah lain di Indonesia yang biasanya diputuskan tanpa partisipasi para penyintas. 

Membangun program berbasis komunitas seperti yang sedang dilakukan di Desa Lemusa, Toaya, Toposo dan Soulove, membutuhkan cara berpikir dan cara berperilaku yang baru. Karenanya, IKA dan Rukun Bestari yang menfasilitasi workshop menghadirkan apa yang mereka sebut sebagai pemakna.

Kamala Chandra Kirana dari Rukun Bestari menjelaskan maksud dari pemakna, 

“Pemakna adalah pengamat yang handal atas dinamika sosial, politik dan ekonomi di masyarakat dan punya pemihakan atas agenda kemanusiaan, keadilan sosial dan kelestarian sumber daya alam. Mereka berstatus mandiri serta bersedia bekerja dalam semangat solidaritas. Pemakna aktif berkiprah di komunitasnya dengan latar belakang yang beragam dan punya minat untuk ikut membangun pengetahuan bersama tentang upaya transformasi sosial” 

Berbeda dengan monitoring dan evaluasi, sebuah kegiatan yang biasanya hadir pada sebuah program donor, pemakna tidak berfungsi sebagai penilai tetapi memaknai. Prinsip utama pemakna adalah saling rawat. Mengutip Tove Pettersen, Nana menjelaskan etika saling rawat ini  mengutamakan cara pandang bahwa segalanya  senantiasa saling berkaitan, dengan kesadaran penuh akan adanya  relasi sosial yang asimetris. 

“Dalam memaknai sebuah proses, ada kesalingan  dalam kesetaraan yang hadir melalui pengakuan, komunikasi, dialog, tukar pendapat, proses mendengar, dan kemauan untuk menyimak dari sudut pandang pihak lain yang dianggap beda” lanjutnya.

Baca Juga :  Rekonstruksi Paska Bencana, Tanpa Mengemis

Nana menyebutkan prinsip ini menjauhkan  dari kecenderungan menghakimi yang berdampak kontraproduktif bagi proses pembelajaran bersama dan terhadap asas saling memberi manfaat. Apalagi, proses memaknai ini dilakukan pada sebuah komunitas yang sedang mau membangun konsep bahkan ruang baru paska bencana.

Neni Muhidin, pegiat literasi bencana; Iwan Lapasere, jurnalis ; Ama dari Forum Sudut Pandang dan Anto Herianto, pegiat sejarahwan Sulteng  menjadi pemakna dalam kegiatan yang sedang dijalankan oleh keempat desa ini. Dalam workshop ketiganya memberikan catatan-catatan penting terkait sejarah kebencanaan, sejarah kebudayaan sebagai bagian yang penting mendasari program. 

Desa Toaya dan Desa Lemusa, dua desa yang didampingi oleh Institut Mosintuwu, serta Desa Toposo dan Desa Soulove yang didampingi oleh SKP-HAM Sulteng, merupakan desa-desa paska bencana alam yang sedang melakukan proses membangun kembali dengan berbasis komunitas. Proses pendampingan Institut Mosintuwu dan SKP-HAM Sulteng ini berawal setelah gerakan dapur umum di bulan September 2018, sebagai respon tanggap darurat. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda