Hidup Sehat Sambil Bernostalgia di Pasar Organik Mosintuwu

0
265

Bunyi kentongan beberapakali terdengar pagi hari itu di ujung Desa Watuawu. Hari masih pagi, sekitar pukul 05.30.  Pondok-pondok kecil tidak berdinding, beratap sagu, nampak berjejer teratur di bagian ujung desa sumber suara kentongan itu. Nampak para perempuan terlihat hilir mudik membawa kantungan, beberapa menggunakan roda kecil yang didorong.  Pada bagian lapak-lapak sederhana di bagian bawah pondok, isi dari kantongan dikeluarkan memunculkan beragam sayuran segar , rempah dan makanan. Semua kemudian diatur rapi. Di bagian depan pasar tepat di tepi jalan, sekelompok anak muda sedang mengatur peralatan musik mereka. 

Pukul 6, suasana lokasi yang disebut Pasar Organik Mosintuwu menjadi lebih ramai. Kentongan yang digantung di ujung lapak sayuran dibunyikan beberapa kali . Kadang sebagai tanda jualan laku, sebagian memukul kentongan untuk memanggil orang datang membeli. 

“Sayuran yang dibawa semua dari kebun saya. Kemarin sore kami petik supaya segar dan bisa dijual disini” Mama Dedy menjelaskan. Mama Dedy salah satu anggota pasar bersama dengan  yang lain hari itu membuka pasar untuk ke tiga kalinya. Tidak ada upacara resmi apalagi sambutan-sambutan, selain ungkapan saling mengingatkan agar tidak lupa hari pasar.

“Ini pertama kalinya kami punya pasar resmi sejak sejarah berdirinya desa kami” Nia, ketua pasar bercerita bangga. Rasa bangga ini dicampur haru karena biasanya bahan pangan di dalam desa justru didapatkan dari luar desa melalui penjual sayur keliling. Padahal 90 % warga desa adalah petani.

Nia mengatakan meskipun baru 3 kali pasar ini dibuka, sudah menampakkan hasil yang baik bagi kebiasaan warga desa. 

“Sekarang semua sudah membuka kebun kembali. Halaman di rumah juga sudah mulai ditanami” lanjut Nia. Maklum, menurut Nia salah satu peraturan ketat di pasar yang diinisiasi oleh anggota sekolah perempuan Mosintuwu adalah jualan di pasar harus dari hasil kebun sendiri.

Baca Juga :  Siap Pimpin Pembaharuan Desa, Ibu-ibu Kembali Bersekolah

“Selain hasil kebun sendiri, jualan di pasar ini harus organik. Tidak boleh hanya karena mau dapat hasil banyak dan cepat tanaman lalu disemprot dengan pestisida” sambungnya.

Itupula sebabnya pasar Mosintuwu di Watuawu ini dibuka hanya setiap hari Rabu dan Sabtu. Berlangsungnya pasar dua kali dalam seminggu ini memberikan kesempatan pada warga desa untuk aktif menanam. Beberapa anggota pasar berkelompok untuk membuka lahan sayur bersama. Kelompok-kelompok kebun baru ini meminjam lahan untuk bekerja bersama-sama. Sementara mereka yang sebelumnya sudah memiliki tanah tapi belum ditanami secara aktif mulai kembali percaya diri mengolah lahannya kembali. 

Di halaman pasar, kelompok anak muda yang bergabung dalam band Panggung Bersama yang diorganisir Institut Mosintuwu, menguatkan semangat pasar dengan lagu Tanam Saja. Lagu yang dipopulerkan oleh band asal Bali, Nostress , mengajak setiap orang untuk menanam.

Tanam saja, Tanam sajalah, Satu saja sangat berarti, Alam sehat, tanggungjawabmu

Pingku, wadah dari daun silar. Selain sebagai wadah bahan pangan juga bisa digunakan untuk tempat minum

Wadah Tradisional , Menjual Nostalgia di Pasar

Pasar Organik Mosintuwu Desa Watuawu adalah pasar kedua yang diorganisir oleh Institut Mosintuwu, sebelumnya di Desa Salukaia kecamatan Pamona Barat dikembangkan pasar organik.

Berbelanja sehat sambil bernostalgia, kira-kira demikian gambaran lainnya yang menarik dan unik dari Pasar di Watuawu. Hal itu terlihat bukan hanya pada pangan yang dijual adalah bahan organik, tapi wadah yang digunakan. Di bagian atas jejeran sayuran digantung tas dari daun kelapa dan wadah lainnya dari daun silar. Para anggota pasar tidak hanya diam menunggu pembeli, tangan mereka sibuk menyulam dan menganyam daun-daun khas itu menjadi wadah yang organik.

Baca Juga :  Sulap Rotan Punya Harga Jual, Rura Menginspirasi Warga Poso

Pingku, wadah dari daun silar ini menjadi tempat bagi jualan seperti tomat, rica, bunga pepaya . Di beberapa lapak yang menjual kukis khas desa juga menggunakan wadah pingku sebagai alas atau piringnya. Onald, seorang anak muda asal Tentena yang hari itu berkunjung bahkan santai meminum air dari mangkok daun silar ini. 

Tidak ditemukan tas dari plastik, sebaliknya tas cantik dari anyaman daun kelapa menjadi pilihan tempat meletakkan hasil berbelanja. Tambego, demikian para orang tua terdahulu mengatakannya. Beberapa pembeli nampak sibuk berfoto dengan tas alami yang baru pertama kali lagi ditemukan sejak puluhan tahun. 

“Wadah khas tradisional seperti pingku dan tambego ini mau mengajak orang-orang yang datang berbelanja untuk kembali mengingat bahwa alam sediakan kita banyak sekali jadi tidak perlu gunakan plastik” demikian penjelasan Martince, koordinator usaha desa Institut Mosintuwu. 

“Jadi ingat yang dulu dulu” cetus Evi, seorang pembeli asal Poso Kota.

Pembeli datang dari desa-desa tetangga, seperti Tambaro hingga Maliwuko. Meski masih baru, pasar ini sudah dikenal ke desa-desa disekitarnya. Nia Terampe dan kawan-kawannya giat mempromosikan pasar ini via telepon dan media sosial. Saat pasar sudah kelihatan sepi, beberapa anggota pasar saling bersahutan membunyikan kentongan diiringi terikan “ ayo ke pasar, pasar organik, nostalgia kita leee “

Baca Juga :  Bingka Wando , Warisan Lokal yang Bernilai Internasional

Koordinator Program Ekonomi Solidaritas Mosintuwu, Martince Baleona mengatakan, selain untuk menggerakkan perekonomian perempuan desa, pasar Mosintuwu perempuan Watuawu ini juga diharapkan bisa menjadi salah satu wisata di kabupaten Poso.  Mereka yang membeli dan berkunjung ke Pasar Watuawu diharapkan dapat lebih menghargai alam dan tradisi lokal Poso yang kaya dengan rasa solidaritas atas alam. Pasar desa Mosintuwu di Watuawu dan Salukaia adalah bagian  pengembangan aktivitas program ekonomi solidaritas yang diorganisir Institut Mosintuwu.

Pasar organik yang dikelola oleh para perempuan di desa lahir dari diskusi di kelas sekolah pembaharu desa terkait alam desa dan perekonomian. Fenomena pembelian sayuran dan rempah atau bahan makanan pokok yang menunggu penjual dari luar desa dirasakan merugikan, tidak menghargai alam desa. Merugikan karena harga jual sayuran, kangkung misalnya, sangat tinggi dibandingkan dengan jika sayuran berasal dari dalam desa sendiri. Belum lagi para penjual dari luar desa menggunakan plastik untuk membungkus bahan makanan. Alhasil, setiap harinya warga mengumpulkan plastik.

“Kebiasaan disini tiap pagi kalau mau masak, tunggu mas-mas penjual sayur lewat. Padahal halaman luas” cerita Nia menggambarkan situasi awal di banyak desa di Kabupaten Poso ” Padahal kalau dipikir, semua petani, tapi beli sayuran di luar. Malu kalau pikir itu”

Kegelisahan itu menghasilkan rancangan pasar organik yang hanya menjual bahan makanan pokok dari kebun olahan warga sendiri. Melalui program ekonomi solidaritas, direncanakan pasar organik lainnya akan diinisiasi di beberapa desa lainnya di Kabupaten Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda