Aliansi Penjaga Danau Poso : Ajakan Pelihara Ekosistem dan Peradaban Danau Poso

0
38

Pagi menjelang siang hari itu, Jumat 1 Juni 2018, sejumlah perahu kecil dengan satu mesin nampak menyusuri mulut Danau Poso. Pada bagian ujung perahu terpasang bendera putih bertuliskan hastag Penjaga Danau Poso. 5 – 7 penumpang dalam perahu juga nampak memegang bendera yang sama. Papa Ge, salah seorang nelayan nampak bahagia, dia dan banyak nelayan lainnya merasa tidak sendirian. Maklum, hari itu puluhan mahasiswa, budayawan, kelompok perempuan dan tokoh agama menggunakan perahu mereka untuk menyusuri peradaban Danau Poso, khususnya Waya Masapi, melihat dari jarak jauh Kompo Dongi, dan berkunjung ke Jembatan Yondo Mpamona. 

Telusur Budaya, demikian nama program yang diorganisir oleh anak-anak muda Poso melalui program Project Sophia Institut Mosintuwu. Puluhan peserta dari berbagai desa dan kelurahan sekitar Danau termasuk dari kota Poso hari itu berkunjung ke Waya Masapi mendengarkan penuturan nelayan. 

Ngkai Untung Kalengke, pemilik Waya Masapi menjelaskan pentingnya peran alat tangkap ini bagi kehidupannj mereka. Waya, kata dia, hanya menjaring Sogili secara alami, tidak membuatnya punah. Dari hasil tangkapan yang mereka peroleh digunakan membiayai sekolah hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Bisa dikatakan, Waya Masapi memberi sumbangsih lahirnya orang-orang terpelajar dari Tentena dan sekitarnya, sekaligus mengenalkan kekayaan danau Poso hingga keluar negeri.

Baca Juga :  Desa-desa Toleran di Poso The tolerant villages in Poso

Karena itu, Ngkai Untung menyesalkan rencana PT Poso Energy yang didukung oleh Pemda mengeruk mulut Danau Poso. Dipastikan Waya Masapi, tempat dimana puluhan nelayan mencari hidup akan hilang. Belum lagi, menurutnya Waya Masapi adalah warisan budaya dari nenek moyang di Danau Poso. 

Senada dengan Ngkai Untung, Papa Ge, salah seorang nelayan  mempertanyakan nasib mereka yang sehari-hari Monyilo apabila nantinya sungai Poso dikeruk dan Kompo Dongi di reklamasi. “Dimana lagi kami mau mencari ikan. Siapa yang bertanggungjawab?”.

Perjalanan budaya ke lokasi waya masapi memberikan inspirasi dan motivasi pada sebagian besar anak muda yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Waya Masapi.

“Saya juga dengan tegas disini mengatakan, menolak rencana pengerukan dasar sungai ini”kata Evi Kulla, agamawan yang ikut dalam telusur budaya ini.  

Telusur budaya kali ini berbeda dengan sebelumnya karena sekaligus menjadi ruang berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat untuk menyatakan suara mereka bersama-sama menjadi penjaga Danau Poso. Setelah berkunjung ke Jembatan Yondo Mpamona dan menyempatkan diri melihat dari kejauhan wilayah Kompo Dongi, lokasi mosango, mereka berkumpul kembali menyatakan komitment menjadi Penjaga Danau Poso.

Aliansi Penjaga Danau Poso, menarik solidaritas dari pemuda-pemudi dari wilayah Poso Kota. Al Tampakatu, yang juga salah seorang pegiat literasi misalnya, dia mengatakan danau Poso bukan hanya berpengaruh bagi orang-orang yang tinggal dipinggirannya saja. Namun juga memberi dampak bagi masyarakat di bawahnya. Salah satunya adalah air. Air dari danau Poso mengalir sepanjang 68 kilometer ke kota Poso merupakan  sumber air utama bagi kampung-kampung yang dilewatinya.

Baca Juga :  Koran Mosintuwu : Ruangnya Perempuan Poso BersuaraMosintuwu Newspaper : The Space for Poso Women Voice

“Menjaga danau berarti kita menjaga berlangsungnya kehidupan”kata Al Tampakatu. 

Hari Jumat itu juga merupakan deklarasi lahirnya gerakan untuk menjaga kelestarian danau bernama Aliansi Penjaga Danau Poso yang melibatkan beragam kelompok dalam masyarakat. 

“Melestarikan danau itu dimulai dari hal yang sederhana. yaitu tidak membuang sampah sembarangan”kata koordinator kegiatan ini, Yeni. Setelah mengunjungi Waya Masapi. Peserta kemudian menonton film dokumenter berjudul Kala Benoa. Sebuah film produksi Watchdoc yang bercerita tentang rencana reklamasi Teluk Benoa di Bali oleh sebuah perusahaan raksasa untuk kepentingan pariwisata. Film itu menceritakan ancaman kerusakan lingkungan yang mirip dengan rencana pengerukan di sungai Danau Poso.

Suara mereka yang tinggal dan mengandalkan hidupnya dari danau Poso menandakan kekuatiran yang sangat dalam. Mereka gelisah ketika mengetahui mulut danau dan sungai Poso akan dikeruk untuk menambah debit air guna kepentingan perusahaan pembangkit listrik PLTA milik PT Poso Energy. Perusahaan yang dimiliki keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla ini akan mengeruk mulut Danau Poso sedalam 2 – 4 meter, selebar 40 meter, sepanjang 12,8 km. Bisa dipastikan ekosistem Danau Poso akan rusak dan kehidupan di sekitarnya akan hilang karena sebagian besar bergantung pada ekosistem Danau Poso.

Baca Juga :  Perempuan Poso dan Mimpi Desa Membangun Women's of Poso and Dream on Village Development

Komitmen dikuatkan setelah menonton dan diskusi bersama film dokumenter Kala Benoa ,  produksi Watcdoc di Dodoha Mosintuwu. Film  ini menceritakan rencana pengurukan Teluk Benoa di Bali dengan dalih kepentingan pariwisata dan sikap masyarakat desa-desa di sekitar lokasi pengurukan itu dan masyarakat Lombok yang juga bakal terkena dampak proyek triliunan rupiah itu karena pasir dari wilayah mereka yang akan dikeruk untuk kepentingan proyek itu.

Gerakan bernama Aliansi Penjaga Danau Poso ini  bersepakat untuk menyelamatkan danau Poso, dimulai dari langkah paling sederhana, yaitu, tidak membuang sampah sembarangan, berikutnya, mengkampanyekan penyelamatan danau Poso dari ancaman kerusakan, termasuk rencana perusakan dengan dalih pembangunan. Anak muda, kelompok perempuan, para petani dan nelayan, serta tokoh agama dan tokoh budaya dari berbagai desa menyatakan bagian sebagai Penjaga Danau Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda