Dewi Chandraningrum : Alam, Manusia, Kita Hidup Saling Tergantung dan Harus Saling Menghormati

0
40
Foto : Dok. Dewi Chandraningrum

Pengantar redaksi : Dalam 7 tahun terakhir , Institut Mosintuwu bekerjasama dengan kelompok perempuan akar rumput dan komunitas masyarakat adat di sekeliling Danau Poso untuk memanggil ulang ingatan atas tanah, air, hutan dan mendekontruksi sejarah perempuan dan tana Poso.  Lian Gogali, pendiri dan ketua Institut Mosintuwu melakukan percakapan dengan Dewi Chandraningrum untuk podcast Institut Mosintuwu, di bulan September 2025. Podcast tentang ekofeminisme dipilih sebagai cara untuk mengenalkan konsep ekofeminisme kepada masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan kolektif ekofeminisme.  Podcast ini juga menjadi pengantar dalam konferensi internasional bertajuk : dari ekofeminisme ke keadilan lingkungan, ekoteologis memperkuat kebebasan beragama dan hak lingkungan. Konferensi internasional ini merupakan bagian dari kegiatan bersama Institut Mosintuwu, Eco-bhineka dan Muhamadiyah dalam konsorsium JISRA Indonesia.

Artikel ini adalah bagian pertama percakapan yang menyoroti paradigma dan filsafat ekofeminisme, telah melalui penyuntingan oleh redaksi.

Apa yang melatar belakangi pemikiran ekofeminisme ?

Saya pun juga masih belajar, karena memang secara etimologis, ekofeminisme itu dari barat terdiri dari dua unsur kata, yaitu feminisme dan ekologi kritis. Itu memang berfungsi tidak hanya sebagai perspektif, juga bisa sebagai paradigma. Sebagai teorisasi, ekofeminisme bisa berfungsi sebagai perspektif. Ekofeminisme juga bisa berfungsi sebagai ideologi gerakan yang turunannya akan ada metode-metodenya .

Kalau saya secara pribadi sangat, bahkan tidak pernah memakai kosa kata ekofeminisme atau bahkan feminisme kalau kita bersama dengan ibu-ibu di akar rumput. Kalau kita di desa atau kalau kita bersama dengan masyarakat adat, saya sama sekali atau kita sama sekali tidak pernah memakai kata itu. Kata itu beredarnya dalam dunia akademis. Saya bersyukur karena itu bergerak, juga beredar sekarang di kalangan kawan-kawan aktivis, sebagai sebuah kata-kata.

Tapi Ekofeminisme sebagai sebuah perspektif, saya kira kita semua melakoninya, mempraktikannya.

Apa yang melatar belakangi kenapa ekofeminisme lahir pada tahun 70an, 80an? Saya kira konteksnya, latar belakangnya adalah karena respon terhadap kuatnya pertumbuhan sistem  ekonomi kapitalisme yang merupakan anak kandung dari modernisme.

Jadi di tahun 70an – 80an,  etimologi itu dilahirkan sebagai respon terhadap sistem ekonomi kapitalisme, neoliberalisme , yang merupakan anak kandung dari abad pencerahannya di abad 15 dan 16, yang dilahirkan oleh Eropa pada saat itu.  Bersamaan dengan berkembangnya kolonialisme, pada saat itu era pencerahan di Eropa, bersamaan juga dengan ekspansi mereka keluar dari Eropa, kolonialisme. Misalnya Belanda ke Indonesia, kemudian Inggris ke Amerika, kemudian negara-negara lain. Eropa mulai melakukan ( kolonialisme ) itu terutama di Afrika dan Asia.

Respon itu terutama pada dua unsur. Unsur pertama adalah tidak dibayarnya atau tidak diakuinya atau tidak demonetisasinya jasa lingkungan. Jadi karena sistem ekonominya itu adalah eksponensial, eksponensial itu adalah tumbuh terus, itu unlimited. Tetapi kan bumi itu limited ( terbatas ), planet kita itu limited ( terbatas ). Dulu sewaktu SD, kita diajari air itu tidak terbatas, udara itu tidak terbatas, tapi kemudian sekarang itu terbatas, karena eksponensial itu. Jadi, tidak diakuinya jasa lingkungan. Jasa lingkungan atau environmental services itu tidak dibayar oleh sistem ekonomi kapitalisme. Diekstraksi saja. Itu ciri-ciri modernitas, sistem ilmu pengetahuan itu ekstraktif, sistem ekonomi kapitalisme juga ekstraktif, hanya mengambil saja, melakukan pemulihan, melakukan ekstraksi, habis itu ditinggal begitu saja.

Kemudian yang kedua adalah pekerjaan perempuan tidak dibayar. Jadi ada dua pekerjaan tidak dibayar dan tidak diakui . Pertama, jasa lingkungan. Kedua adalah jasa perempuan. Pekerjaan perempuan itu apa? Ada dua, pekerjaan merawat dan pekerjaan domestik, sesuai konstruksi budaya. Itu hampir di seluruh dunia, tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di benua lainnya.

Jadi karena itu, ekofeminisme itu ada dua unsur, kosa katanya. Yang pertama adalah ekologi kritis, yaitu yang kedua adalah feminism. Lalu dasar-dasar yang dibangun dalam ekofeminisme itu adalah menolak antroposentrisme. Menolak antroposentrisme itu atau mengkritisi antroposentrisme. Kita memang semua masih belajar soal itu, bagaimana kita melakukan di antroposentrisme, dalam dunia ilmu pengetahuan, dalam dunia yang sekarang kita geluti, dalam dunia yang sekarang kita hidupi. Contohnya, misalnya kita diajari bahwa kita itu di atas alam, kita itu on top of the pyramid, kita adalah di puncak piramida. Kemudian ada karnivora, kemudian ada herbivora, dan yang paling akhir ada misalnya amuba. Itu pelajaran biologi kita dulu. Nah, ekofeminisme ini mengkritisi itu.  Bahwa kita seharusnya ekosentris. Kita hidup itu saling, kita tergantung satu sama lain. Jadi kalau hari ini mahkluk lain punah, maka besok kemungkinan besar manusia yang akan punah. Jadi kalau misalnya kupu-kupu sekarang punah, kemungkinan besar besok spesies manusia yang akan punah. Kemudian kalau hari ini ibu-ibu kendeng mengalami bencana, besok kita akan mengalami bencana itu. Bencana lingkungan itu terkait satu sama lain, jadi ada kesalingan. Ada ketergantungan.

Baca Juga :  Iksam Djorimi : Mencari Asal Leluhur Poso dan Sulawesi di Dunia

Pertama mengkritisi antroposentrisme dan memperkenalkan ekosentrisme. Ekosentrisme adalah bahwa pusat segala sesuatu ini adalah kita semua.  Kita saling tergantung dan kita harus menghormati.

Kedua adalah mengkritisi sistem ekonomi eksponensial tadi. Bahwa kita tidak bisa tumbuh terus.  Kita juga mendapatkan hasil dari riset bahwa jika kita ngotot mengonsumsi sampai sekarang,  kita butuh 3-4 planet.

Kemudian yang berikutnya adalah memperkenalkan, ada banyak perkenalan, sistem ekonomi alternatif, sistem ekonomi alternatif itu misalnya ekonomi sirkular, kemudian ekonomi hijau. Banyak sebutannya, mulai pelan-pelan diperkenalkan. Misalnya ekonomi yang berbasis well-being, kesejahteraan, itu tidak hanya manusia tetapi juga lingkungan. Jadi ada banyak hal yang perlu diperbaiki, yang perlu diperbaiki dan diperkenalkan dalam perspektif ekofeminisme.

Kemudian yang berikutnya adalah memperkenalkan atau menuntut, menuntut pada sistem, pada sektor finansial untuk mengakui ekonomi perawatan. Ekonomi perawatan itu kan sebenarnya punya potensi yang sangat besar sekali. Tapi karena bank dunia, bank-bank besar dunia, sektor finansial itu berdiri di atas nafas-nafas heteronormatif, hetero patriarkis, jadi pekerjaan-pekerjaan merawat itu tidak diakui. Padahal potensi ekonomi perawatan itu sangat tinggi sekali.

Dari penjelasan ini Mbak Dewi kita bisa melihat bahwa sebenarnya ekofeminisme itu sangat erat hubungannya berkaitan dengan lingkungan, alam, tapi juga perempuan. Karena itu tentu saja akan sangat menarik kalau misalnya melihat bagaimana tepatnya ekofeminisme itu melihat hubungan antara perempuan, alam dengan lingkungan, tepatnya seperti apa?  Tadi harusnya perawatan, lalu kemudian kita itu sebenarnya saling tergantung satu sama lain, itu tepatnya seperti apa hubungannya harusnya dilihat dalam perspektif dan paradigma ekofeminisme?

Saya kira idealnya adalah melakukan reformasi secara mendalam, jadi tidak hanya permukaan. Maksudnya, bahwa pertama perlu melakukan atau mengadopsi atau memeluk perspektif bahwa relasi kita dengan alam itu relasional. Bahwa bumi itu juga makhluk hidup. Jadi bahwa bumi itu juga punya hak untuk menyehatkan dirinya. Sekarang kita diperkenalkan dengan istilah kesehatan planet. Sebelumnya, kita diperkenalkan dalam paradigma klasik, dalam paradigma positifistik, dalam paradigma modernisme bahwa planet itu adalah sesuatu yang mati, sesuatu yang terdiri dari unsur-unsur itu mati, kita bisa eksploitasi sesuka kita. Di masyarakat adat itu sudah ada sejak dulu. Kesehatan planet itu penting, jadi kalau planet sakit, manusia juga sakit. Jadi kemanusiaan itu atau kebudayaan manusia itu akan runtuh kalau planetnya sakit. Ini kan indah sekali. Ternyata planet itu hidup. Jadi kita harus memberikan hak hidup kepada planet. Jadi ada relasi yang setara, relasi saling merawat. Misalnya kita melihat gunung-gunung meletus, itu sebuah peristiwa biologis. Biologis mekanik dari gunung, itu adalah sebuah siklus . Ketika kita melihat ada gempa, itu seperti kulit kita juga bernafas, kulit kita punya pori-pori dan dia juga bergerak. Itu yang pertama.

Baca Juga :  Allisa Wahid : Gusdurian Membangun Narasi Ke-Indonesiaan

Yang kedua adalah meretas dualisme. Meretas dualisme itu misalnya perempuan itu identik dengan alam. Women itu nature . Laki-laki identik dengan budaya, male culture. Itu harus kita retas.

Contohnya, semua kosa kata. Kosa kata bencana alam, ( gunakan nama ) perempuan. Badai Katrina, badai Gogali, badai Dewi, badai Lian. Hal-hal yang merujuk ke planet itu adalah merujuknya feminin perempuan. Memang sejarah bahasa kita sangat patriarki sekali. Itu merujuk pada rules atau kerja-kerja reproduktif. Kerja-kerja reproduktif itu apa, menyediakan, merawat, mereproduksi, melahirkan, menyusui. Jasdi hanya memberi aja, mereproduksi. Itu salah, itu sangat berbahaya. Berbahayanya ada pada apa, misalnya ibu-ibu Kendeng itu kan nyebut ibu bumi itu, planet kita atau gunung itu kan ibu bumi. Tetapi sebenarnya ibu-ibu Kendeng itu sudah mengubah paradigma itu. Ketika dia bernyanyi, ibu bumi yang memberi ya, ibu bumi disakiti, kemudian ibu bumi akan mengadili. Jadi sudah tidak reproduktif lagi. Jadi bumi itu bisa menghukum manusia loh, tidak cuma memberi saja.

( Selama ini ) kita kan diajari bahwa bumi itu harus ngasih kita terus, kayak ibu. Jadi ibu itu harus ngasih ( memberi ) ke anaknya. Ya, tidak bisa dong. Ibu itu juga manusia. Dia ada capeknya. Dia ada sakitnya. Kalau dia diperlakukan semena-mena dia bisa menghukum. Itu luar biasanya ibu-ibu Kendeng. Jadi kerja gunung itu, tidak bisa lagi ngasih ( memberi ) air, kan gunungnya dihabisin sama tambang, tidak bisa dong ngasih air lagi. Air yang dikasih akan beracun. Nah,  jadi kerja reproduktif itu kan disematkan secara feminin dan ditimpakan pada perempuan dan tidak diakui. Tidak bisa dong. Sistem ekonomi harus mengakui itu.

Yang ketiga adalah etika merawat. Etika merawat itu kan selama ini banyak sekali diabaikan dalam semua kebijakannya. Contohnya apa? Contoh sederhananya, misalnya program makan siang kita. Makan siang untuk anak-anak kita. Itu disebutnya gratis, makan bergisi gratis. Tidak bisa dong pakai kata-kata gratis.  Itu kan uang pajak kita. Sebut saja makan siang bergizi. Karena gratis itu kan tidak bisa itu uang kita, itu pajak rakyat Indonesia. Yang berikutnya adalah makan bergizi tadi, dijadikan alat politik. Kita semua tahulah, itu jadikan alat politik. Jadi tidak serius dalam memberikan gizi itu.

Contoh berikutnya misalnya hutan kita. Hutan kita itu kan digerus luar biasa cepatnya. Itu untuk memenuhi GDP kita, untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi yang sifatnya singkat. Pertumbuhan ini kan sangat berbahaya sekali. Karena hutan yang hilang itu ruginya lebih banyak, daripada yang didapatkan. Kemudian berikutnya adalah misalnya ibu-ibu kita perempuan yang melahirkan, pertama hamil, melahirkan, merawat anak. Itu tidak mendapatkan tunjangan yang baik dari pemerintah. Itu harusnya kan itu diberi tunjangan yang baik oleh pemerintah, kalau mau generasinya bagus. Tidak bisa dong menuntut generasi bagus kalau negara tidak menjamin itu.

Ada banyak hal, ada banyak sekali kerja-kerja perawatan itu tidak mendapatkan penghargaan. Kerja perempuan, jasa hutan, selama ini sangat diabaikan. Itulah yang kemudian melahirkan bencana. Padahal bencana lingkungan yang kita alami ini lebih banyak merugikan negara . daripada “menguntungkan” . Kalau kita ngomong hitung-hitungan, contoh sederhananya kalau misalnya pabrik semen didirikan di Pegunungan Kendeng itu negara mengeluarkan 5 triliun. Kalau gunungnya habis, negara akan rugi 2,5 triliun tiap tahun. Berarti negara itu lebih kaya kalau gunungnya utuh. Nah ini, hitung-hitungan ekonomi ini yang kita butuh kerja keras membuktikan pada sektor finansial bahwa menjaga hutan, kemudian menjaga gunung, menjaga sungai, kesehatannya itu lebih menguntungkan kita secara ekonomi. Itu yang PR kita ke depan.

Dewi Chandraningrum bersama para perempuan Kendeng. Foto: Dok.Dewi Chandraningrum

Penjelasan Mbak Dewi terkait bagaimana kita harusnya, atau bagaimana setidaknya perspektif dan paradigma ekofeminisme yang melihat hubungan antara perempuan, alam dan lingkungan,  berarti harus membongkar semua yang selama ini kita percaya itu benar. Misalnya soal dualisme, yang hanya memberi, tidak perlu merawat. Padahal ini berkaitan dengan hak-hak. Fungsi dan tugas alam tidak menyediakan, tapi perlu dirawat. Itu sebenarnya sangat dekat dengan bagaimana cara selama ini perempuan dipandang. Memberi tanpa pamrih, padahal ada kerja merawat lah, juga ada hak untuk-untuk pulih. Karena itu menjadi penting juga melihat bagaimana kemudian bukan hanya hubungan antara perempuan dengan alam dan lingkungan, tapi bagaimana sejauh ini filsafat ekofeminisme itu memandang hubungan antara manusia, binatang dengan alam.

Ya, saya kira ekofeminisme juga berkembang. Tumbuh satu perspektif yang punya penghargaan kepada ekosistem. Salah satunya yang menarik adalah bahwa human, human kita kan sentient being. Kita makhluk hidup. Non-human itu juga sentient being. Jadi non-manusia itu juga makhluk hidup. Ini menarik sekali. Contohnya di New Zealand dan India yang mengeluarkan kebijakan sungai itu makhluk hidup. Ini luar biasa. Di New Zealand kalau nggak salah satu sungai itu dipilih 12 wali. Jadi kalau kita, sebuah perusahaan mencemari sungai itu tuduhannya adalah membunuh sungai. Ekosida. Jadi kita mengenal genosida, pembunuhan terhadap manusia, terhadap jumlah manusia yang banyak. Tapi kita perlu juga mengenal ekosida.  Yang kita lakukan itu tiap hari ekosida. Kita melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap ekosistem di dalam sungai. Misalnya lewat pabrik textile. Misalnya kasus di Solo, di Sukuharjo, kasus pencemaran PT. Rum. Mbok Sarmie dengan kawan-kawan LBH Semarang dan kita semua melakukan class action. Di tahun 2023 hampir tiap hari kita menghadiri sidang di pengadilan negeri Sukuharjo. Tuntutan ibu-ibu Nguter itu jumlahnya besar sekali. Karena kita mengadopsi dan menghitung jasa lingkungan Sungai Bengawan Solo. Ini kan luar biasa. Sayangnya “kemajuan ini” menurut kita itu sebuah kemajuan karena kita menghargai sungai sebagai makhluk hidup, namun sistem hukum kita masih keteteran, karena belum tersedia sistem hukum yang mengakui itu. Kebanyakan hakim itu ahli lingkungan positivistik klasik.

Baca Juga :  Lian Padele : Tentang Teologi Semesta dalam Kebijakan Pembangunan

( Bagi ) Positivistik klasik, alam itu dieksploitasi saja. Tidak ada harganya. Ikan itu tidak ada harganya, kodok tidak ada harganya, sungai itu dieksploitasi.

Sungai fungsinya untuk apa? Airnya untuk listrik, airnya untuk irigasi. Tanpa memperhatikan well being-nya, kesejahteraan sungai. Jadi itu yang saya kira mulai merambah kita, mulai membuka kesadaran kita. Saya kira kawan-kawan di Mosintuwu juga mempraktekan itu misalnya dengan pengumpulan benih. Benih itu juga makhluk hidup. Benih itu sebagai sebuah perlawanan. Karena kita kan diajari dalam sistem ekonomi kapitalisme. Misalnya melalui Monsanto, misalnya perusahaan besar benih, kita diberi benih yang ditanam sekali aja.

Nah ini kan membuat kita tergantung pada industri. Jadi kita melupakan pada praktek baik atau sistem tanam atau pengetahuan masyarakat adat yang luar biasa sekali. Kita kan melihat bahwa 80% hutan di dunia itu dirawat oleh hanya 1-5% masyarakat adat. Jadi masyarakat adat itu luar biasa sekali ya perannya dalam menjaga kesehatan hutan yang 80% itu. Bahkan saya seorang Dewi Chandraningrum itu tidak punya kapasitas sama sekali.

***

Bersambung ke topik : kritik ekofeminisme terhadap pembangunan Indonesia.

Redaksi : Percakapan lengkap dengan Dewi Chandraningrum dapat diakses di podcast Mosintuwu ( link di barcode ). Dalam podcast ini Dewi mengurai hal-hal apa saja yang melatarbelakangi pemikiran ekofeminisme di dunia, apa saja konsep dasar pemikiran ekofeminisme, bagaimana melihat hubungan ekofeminisme dengan isu perempuan, alam dan lingkungan, bagaimana filsafat ekofeminisme memandang hubungan antara manusia, binatang dan alam, bagaimana filsafat ekofeminisme melihat paradigma pembangunan di Indonesia, apa kritik mendasar ekofeminisme terhadap paradigma pembangunan Indonesia. Dewi membincangkan saja tantangan yang dihadapi untuk memungkinkan ekofeminisme menjadi bagian paradigma pembangunan di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda