Konferensi Perempuan Poso : Tanah Masa Depan Kehidupan

0
66
Peserta Konferensi Perempuan Poso menata unsur tanah, air, hutan untuk membuat lukisan "Ovarium Alam" ekspresikan tubuh perempuan atas tanah, air dan hutan. Foto : Dok. Mosintuwu / Ray Rarea

“Saya bilang, jangan jual tanah, karena tanah tidak berkembang, tapi kita manusia pasti terus bertambah”(ibu Helpin Samoli/desa Tiu).

Tanah tidak akan bertambah luas, tapi manusia akan terus bertambah. Itu sebab tanah penting dirawat dan ditanami untuk menghasilkan makanan sekaligus sumber pendapatan. Karena tidak akan bertambah, konflik soal tanah akan terus terjadi. Karena itu menjaga tanah, dengan terus merawatnya jadi kunci menjaga masa depan. 

Itulah salah satu kesimpulan yang muncul dalam sesi diskusi tentang Tanah di Konfrensi Perempuan Poso bertema, Tanah, Air dan Hutan di Dodoha Mosintuwu, 26-27 Mei 2022 lalu. Konferensi ini diselenggarakan Institut Mosintuwu dihadiri oleh 100 perempuan dari 25 desa di Kabupaten Poso.  Diskusi ini diawali dengan sebuah prosesi dimana para perempuan yang membaca tanah dari desa masing-masing mengingat sejarah dan pengelolaan tanah di masa lalu. Ingatan ini disampaikan sambil mengedarkan tanah yang dibawa kepada seluruh peserta konferensi, dari wilayah pesisir pantai, dari wilayah sekeliling danau, dari Lembah Bada dan desa-desa di jalan trans Sulawesi. Ada sebuah kebanggaan yang menyertai cerita-cerita mereka tentang kesuburan tanah, model pengelolaan tanah yang dilakukan bersama-sama di masa lalu. 

“Tanah-tanah menghasilkan karena subur dan dikelola sama-sama dengan metode mesale” cerita ibu Duriati dari Desa Didiri, kecamatan Pamona Timur.

Di Desa  Kageroa, kecamatan Lore Barat diceritakan ada dua jenis tanah, kuning dan hitam. Tanah-tanah ini bukan hanya berfungsi menjadi wilayah menanam pangan tapi juga kebutuhan lainnya. Tanah kuning  dijadikan batu bata atau menjadi belanga tanah. Tanah kuning juga menjadi alat untuk menempa parang dan alat pertanian lainnya. Kenyataan bahwa kebutuhan warga bukan hanya dipenuhi dari pangan yang ditanam di tanah yang subur tapi juga wadah menunjukkan bagaimana tanah menjadi hal tradisi kehidupan warga.

Cerita ini membuat mereka merasa penting untuk membawa kembali tanah yang subuh. Menjaga desa dan mengolah tanahnya untuk pangan dengan seminimal mungkin penggunaan zat-zat kimia beracun jadi tekad bersama sekitar 100 perempuan yang hadir. Juga agar tanah-tanah tidak dijual. 

Baca Juga :  Biodiversity Poso: Dikagumi Luar Negeri, Diabaikan Poso

Kebanggaan atas tanah-tanah yang memiliki ikatan pada kehidupan masyarakat di desa berubah menjadi sebuah kegelisahan. Para perempuan dari Poso Pesisir menceritakan bagaimana mereka kesulitan mengolah tanah paska konflik. Di wilayah Pamona bersaudara di sekeliling Danau Poso, tanah-tanah sudah dijual dan diambil alih penguasaannya demikian juga di wilayah Lembah Bada. Sementara di wilayah Pamona Timur, tanah-tanah beralih menjadi perkebunan sawitt. 

Unsur tanah, air dan hasil hutan diedarkan kepada seluruh peserta dalam cerita ingatan perempuan atas tanah, air dan hutan di Konferensi Perempuan Poso, 26 – 27 Mei 2022. Foto : Dok.Mosintuwu/Ray Rarea

“Saya bilang, jangan jual tanah, karena tanah tidak berkembang, tapi kita manusia pasti terus bertambah”kata Helpin Samoli. Dia petani di desa Tiu kecamatan Pamona Timur. Dia salah seorang warga yang tidak henti mengkritik masuknya perkebunan sawit di desanya sejak tahun 2008.

Ibu Helpin tentu punya alasan mengapa tidak setuju perkebunan sawit masuk ke kampungnya. Ditengah iming-iming kesejahteraan yang dibawa perusahaan, dia tahu kehidupan di desanya akan berubah buruk. Perkebunan sawit milik satu gergasi sawit Indonesia itu dengan cepat mengambil alih tanah cadangan untuk perkebunan warga. Bukan itu saja, Telaga Toju yang jadi sumber ikan dan tempat wisata bagi warga desa-desa di Pamona Timur perlahan hilang.

“Dulu banyak yang dukung perusahaan itu karena dibilang akan merekrut tenaga kerja di desa. Tapi bukan sebagai pekerja di kantornya, hanya jadi buruh”kata Helpin. Belakangan, banyak orang di kampungnya tidak mampu lagi jadi buruh karena pekerjaannya terlalu berat bagi mereka, khususnya perempuan. Harus menyemprot sawit dengan target 20 tangki sehari dan memumpuk harus 20 karung per hari. Upahnya 100 ribu rupiah.

Makin tertekannya kebun warga oleh perkebunan Sawit diperberat rendahnya keinginan anak muda jadi petani. Disaat bersamaan, penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang mahal menurunkan kualitas tanah.

Salma, perempuan petani desa Tiwaa, kecamatan Poso Pesisir merasakan betul bagaimana dulu tanah di desanya yang subur kini mulai ‘kurus’. Mereka menyebutnya kurus karena kini tergantung penggunaan pupuk untuk menghasilkan panen. Saat dia masih murid di kelas 3 SD banyak orang dikampungnya bisa menunaikan Haji di Makkah dari hasil pertanian.

Baca Juga :  Molanggo di Poso : Tradisi Tidak Tidur untuk Solidaritas

“Kalau dulu tanahnya liat, sekarang seperti tanah berpasir. Jadi dulu itu orang bilang, petani dari tanah bugis datang ke Tiwa’a karena tanahnya sangat bagus. Sekarang sudah susah”dia melanjutkan, keadaan sekarang dikarenakan penggunaan pupuk kimia berlebihan.

Rusaknya tanah-tanah pertanian di desa-desa di Poso bikin anak-anak muda enggan jadi petani. Data BPS tahun 2017 menunjukkan ada 76,169 orang penduduk berusia 15 tahun keatas yang menjadi petani. Tetapi tahun 2019 jumlahnya tinggal 62,578 orang. Berkurang sebanyak 13,591 orang.

Sepertinya ini fenomena di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tahun 2020 Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian mencatat, petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya berjumlah 2,7 juta orang. Hanya 8 persen dari total petani yang totalnya 33,4 juta orang.  Lebih dari 90 persen sudah tua.

Tidak menutup kemungkinan kita akan kehilangan petani. Laporan Bank Dunia tentang revitalisasi pertanian Indonesia tahun 2010 menunjukkan, tahun 1990 penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian mencapai 55,5 persen. Tapi di 2019 susut hingga tersisa 28,5 persen.

Konferensi Perempuan Poso : tanah, air, hutan diselenggarakan Institut Mosintuwu bersama 100 perempuan dari 25 desa di Kabupaten Poso. Foto : Dok.Mosintuwu/ Ray Rarea

Lalu kemana mereka pergi? 

” Kerja di lokasi tambang”.  Demikian cerita-cerita yang kemudian disampaikan para perempuan dalam konferensi ini. Terdengar nada yang suram. Dua bekas wilayah kabupaten Poso, Morowali dan Morowali Utara kini jadi produsen Nikel terbesar di Asia Tenggara. Disanalah ribuan anak-anak muda, mulai lulusan SMA hingga sarjana berkumpul menjadi buruh, dengan gaji yang cukup besar. Akhirnya tanah di desa mulai ditinggal.

“Suami tinggalkan istri. Anak tinggalkan ibu, semua harus keluar kampung cari pekerjaan. Karena dipikir, tanah di kampung sudah susah diharap. Padahal sebenarnya masih bisa kita perbaiki”kata Ester dari desa Poleganyara. Pendapatnya itu didukung Salma. Bagi Salma yang harus dilakukan adalah menyebarkan pengetahuan kepada petani agar bisa memperbaiki kembali tanah kebun dan sawahnya.

Harapan-harapan  atas Tanah,

Tanah itu tempat kita hidup. Semua perempuan yang menghadari konferensi menyetujui kalimat ini.  Membincangkan kegelisahan atas tanah-tanah di desa membawa percakapan para perempuan atas masa depan tanah. 

Baca Juga :  Petani Mencari Keadilan di Pengadilan

“Tidak mudah memang. Harus kerja keras lagi dari awal, bahkan keluar uang. Tapi hasilnya bisa jamin kehidupan anak-anak kita nantinya” ujar Salma. Dia sedang mempraktekkan upaya memperbaiki kembali kualitas tanah kebun keluarganya. 

Mempertahankan tanah yang masih ada, sambung ibu Duriati. Upaya untuk mempertahankan tanah membutuhkan usaha untuk menjadikan tanah dapat diolah kembali dengan prinsip berkelanjutan. Pada titik pembicaraan ini, para perempuan mulai membicarakan kritik pada pupuk yang digunakan pada tanah.  Menanam secara organik menjadi salah satu hal penting yang perlu dikembangkan agar tanah-tanah bisa kembali pulih.

Bergantian, para perempuan membicarakan mengenai tanaman-tanaman yang dikonsumsi dari tanah penuh pupuk kimia punya dampak pada tubuh perempuan. 

“Tubuh kita juga menjadi penuh dengan kimia, kita lahirkan generasi berzat kimia” celutuk ibu Dian dari Desa Gintu. 

Namun, tanah-tanah tidak hanya perlu dirawat kembali. Lian Gogali, ketua Institut Mosintuwu yang menjadi fasilitator dalam konferensi perempuan mengajak para perempuan membicarakan identitas kebudayaan pada tanah. 

“Tanah-tanah bukan hanya soal tempat tinggal dan tempat produksi pangan untuk manusia, tapi juga membentuk identitas kebudayaan masyarakat di sekitarnya” ujar Lian. Mengambil ingatan perempuan atas tanah dan sejarahnya, Lian menyebutkan bagaimana ingatan para perempuan atas tanah di masa lalu menunjukkan bagaimana identitas sebuah komunitas dibentuk  atas tanah. 

Para perempuan menulis surat pada anak-anak generasi muda tentang mimpi dan harapan soal tanah, air dan hutan yang terjaga. Foto : Dok. Mosintuwu / Ray Rarea

Menguatkan tanah sebagai sebuah identitas komunitas adalah sebuah cara lain yang memungkinkan komunitas terus mewariskan tanah pada generasi selanjutnya. 

“Ini sebuah tugas lain yang lebih sulit” tanggapan ibu Sinta dari Desa Pinedapa. 

Di hari terakhir konferensi perempuan Poso, para perempuan menuliskan surat pada anak-anak mereka tentang mengapa tanah, air dan hutan penting bagi komunitas untuk dijaga dan dipertahankan. Titin, seorang ibu muda dari Desa Trimulya nampak berkaca-kaca saat menuliskan surat untuk anaknya.

“Saya ingin anak saya nanti masih punya tanah, tanah yang menghidupinya dan tanah yang melekat pada dirinya” ujarnya sambil melipat surat yang akan dikirimkannya pada tahun 2024.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda