Bertani Alami untuk Alam dan Danau Poso yang Lestari

0
563
Mama Lani, salah satu petani yang berkebun sayuran, rempah dan buah di halaman rumahnya. Saat panen, mama Lani beberapa kali membagikan pada tetangga sambil mengajak ikut berkebun di halaman rumah. Foto : Dok.Pribadi/Lani

“Pupuk itu penting sekali, tapi sekarang susah dapat kalau mau harap yang subsidi. Belum lagi racun, kalau dihitung untuk olah 1 hektar sawah biayanya tambah banyak karena harga pupuk dengan racun juga naik”(Kristian/Petani desa Meko)

Pupuk selalu jadi persoalan petani. Unsur hara dan nutrisi tambahan yang dikandungnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan panen. Penggunaan pupuk kimia pertama kali muncul saat Revolusi Hijau di Indonesia kurun 1970-1980. Saat itu Soeharto memodernisasi sistem pertanian untuk meningkatkan hasil panen. Program itu diikuti program Panca Usaha Tani, diantaranya pemupukan teratur dan pemberantasan hama. Kedua item program inilah yang menjadikan desa banjir pupuk dan racun-racun kimia lainnya.

Meski menyuburkan tanah secara instan dan efisien karena berbagai kandungan kimianya, dalam jangka panjang bahan-bahan kimia ini membuat tanah tidak subur, mengeras sehingga air sulit masuk, mineral tanah juga hilang karena asam klorida dan sulfat dari pupuk kimia melarutkannya. Meningkatnya kadar asam membuat mikroorganisme yang dibutuhkan hilang. Dampak buruk lainnya, sirkulasi udara berkurang.

Di Danau Poso, salah satu dampak penggunaan pupuk dan racun-racun kimia lainnya adalah mulai hilangnya lumut di pinggir-pinggir sungai dan bibir pantai. Lumut adalah salah satu sumber makanan ikan dan udang.

Itu baru sedikit dari persoalan lingkungan akibat pupuk dan racun-racun kimia lain yang terus digalakkan penggunaannya oleh pemerintah kepada petani. Masih ada bahaya lain, yakni kesehatan.

Tapi karena ini hanya soal jangka pendek ekonomi, dampak-dampak merusak itu terkesan dibiarkan sampai nanti tanah-tanah pertanian rusak dan tidak lagi produktif. 

Dari cerita petani di beberapa desa, ada dua hal yang paling sering ditemui. Pertama hampir semua masih menggunakan pupuk kimia dan bahan-bahan pendukungnya, meskipun pupuk ini, apalagi yang subsidi lebih sering langka karena masalah sistem distribusi serta adanya dugaan ‘permainan’ dibawah.

Baca Juga :  Lambat, Mati Kita : Perempuan yang Melawan Corona

“Pupuk itu penting sekali, tapi sekarang susah dapat kalau mau harap yang subsidi. Belum lagi racun, kalau dihitung untuk olah 1 hektar sawah biayanya tambah banyak karena harga pupuk dengan racun juga naik”kata Kristian, petani desa Meko. Soal kelangkaan pupuk memang bukan cerita langka ditengah petani.

Cerita kedua adalah, kurangnya pengetahuan mengenai kegunaan tanaman-tanaman yang ada disekitarnya, terutama yang ada dipekarangan rumah sebagai sumber penyedia mikroorganisme lokal dan nutrisi tanaman.

Kedua hal ini kemudian melahirkan gagasan untuk mengajak petani menerapkan Pertanian Alami (Natural Farming) yakni sebuah konsep pertanian yang bertumpu pada alam sekitar tanpa ada tambahan dari luar (baik dalam bentuk pupuk maupun pestisida). 

Jadi Pertanian Alami bukan hanya soal menghasilkan panen. Ini sekaligus penghayatan atas perlakuan manusia terhadap alam secara arif dan cerdas. memperlakukan alam dengan penuh kasih sayang, sebagaimana manusia menyayangi dirinya, sehingga manusia harus memahami apa yang sedang dibutuhkan oleh alam sekaligus tahapan-tahapannya. 

Upaya menjaga tanah di desa tetap sehat dan subur hingga layak diwariskan kepada anak cucu harus segera dilakukan. Caranya, menggunakan bahan-bahan alami yang ada disekitar untuk menggantikan fungsi pupuk dan racun kimia berbahaya itu.

Praktek pembuatan pupuk organik dari bahan-bahan alami yang tumbuh disekitar menjadi bagian dari konsep pertanian alami untuk menjaga lingkungan dari pencemaran bahan-bahan kimia akibat penggunaan pupuk anorganik. (foto : Yulianus)

Tahap pertama, Memahami Konsep Pertanian Alami

Inisiatif kecil ini dimulai dengan mengenalkan konsep Pertanian Alami kepada beberapa orang petani terutama perempuan yang ada di desa Meko, Salukaia, dipinggir Danau Poso, Desa Pinedapa di kecamatan Poso Pesisir, Desa Watuawu di kecamatan Lage, Desa Didiri di kecamatan Pamona Timur dan Kelurahan Bukit Bambu kecamatan Poso Kota Selatan. Total ada 170 orang petani yang ikut.

Baca Juga :  Festival Hasil Bumi Poso, hadir untuk desa rajut kedaulatan

Mas Ade, demikian kami memanggilnya, adalah orang yang bersama Yulianus dan Martince yang berjalan ke desa-desa mempromosikan sistem Pertanian Alami.

“Manusia dan lingkungan memiliki hubungan saling tergantung dan saling mempengaruhi. Kalau salah satunya mengalami kerusakan maka akan menggangu kehidupan yang lainya”kata Mas Ade.  Kesadaran ini menuntun kita untuk mencari cara-cara yang lebih arif dan bijak agar terjadi proses saling memberi dan menerima diantara sesama makhluk hidup dan ekosistem lingkungan.  Tujuannya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan alam maupun manusia. 

Tahap kedua belajar bersama membuat pupuk organik yang ramah lingkungan.

Pupuk organik diniatkan untuk mengganti pupuk kimia sebagai bahan utama dalam mengolah tanah. Karena itu bukan hanya cara membuatnya menjadi penting. Tapi mengetahui apa fungsi dari masing-masing bahan itu jauh lebih penting.

Misalnya, mengetahui bagaimana pentingnya cacing tanah dan mikroba sangat penting menjaga kesuburan tanah. Maka untuk membuat mikroba (M1) menggunakan nasi keras 1 kilogram di isi didalam kotak lalu ditanam dan dibiarkan 3-4 hari.

Setelah jadi akan berbau seperti tape, berjamur putih kekuningan.

Untuk pupuk alami, bahan dari kotoran ternak dan sisa daun serta buah-buahan dibuat jadi pupuk Kompos dan Bokasi. Kompos lembut dan lunak seperti tanah, sedangkan Bokasi masih utuh, namun sudah bisa digunakan. Untuk membuat kedua jenis pupuk alami ini bahan-bahannya juga ada disekitar kita. Lama pembuatannya juga hanya berkisar 7 hari.

Begitu juga membuat NPK cair. NPK (Nitrogen, Posphor, Kalium) berfungsi untuk menyuburkan daun, menguarkan akar dan membantu proses pembungaan. Pembuatannya juga memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitar kita, mulai dari kulit telur, bonggol pisang, dicampur dengan mikroba yang sudah dibuat ditambahkan gula merah, lalu dicampur dalam sebuah wadah dan ditutup lalu didiamkan selama 7 hari.

Baca Juga :  Menangkal Siar Kebencian, Menabur Perdamaian di Poso

“Ternyata mudah ba bikinnya, bahan-bahannya ada disini dan murah“kata ibu Filistin, peserta training membuat pupuk organik di desa Didiri. Dia mengatakan, masih diperlukan training lanjutan untuk memproses bahan-bahan yang digunakan dan bagaimana membuat pupuk alami jenis lain yang bisa menggantikan fungsi pupuk kimia.

Jalan Masih Panjang

Bertani dengan pola ramah lingkungan jadi salah satu solusi mengatasi kerusakan lingkungan selain yang diakibatkan industri ekstraktif atau pabrik pencemar udara. Namun jalan ini tidak mudah, industri pupuk kimia dan turunannya didukung negara dan iklan di semua jenis media terus mendominasi tentang cara bertani yang benar, menjanjikan dan modern.

Tidak heran, meskipun pupuk Urea, NPK hingga KCL langka dipasaran (meskipun petani sudah punya kelompok tani dan ada jatah) petani tetap berusaha mendapatkan di toko eceran dengan harga tinggi.

“Kalau tidak pake pupuk (kimia), nanti hasilnya tidak memuaskan” ini adalah pendapat yang paling sering kita temukan kalau jalan ke desa-desa bertemu petani. Secara psikologis mereka lebih percaya diri menggunakan produk kimia, apalagi dengan dukungan negara.

Upaya mengenalkan Pertanian Alami kepada petani di desa-desa di kabupaten Poso barulah langkah pertama yang kecil untuk memulihkan alam dari kerusakan yang diakibatkan sistem pertanian yang memeras petani, memeras hasil panennya yang sebagian harus digunakan untuk membeli pupuk dengan jumlah dan yang terus meningkat. Juga sistem pertanian yang mengutamakan hasil, menomorduakan keberlanjutan dan kesehatan.

baca juga :

https://new.litbang.pertanian.go.id/tahukah-anda/223/

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda