Poso, Ambon, Atambua Bicara Perempuan dalam Konflik dan Perdamaian

0
14
Ilustrasi : lukisan

“Waktu pertama kali kami bertemu, yang Muslim dan Kristen … kami bukan hanya bajabat tangan tapi langsung pelukan … Itu jenderal-jenderal heran sekali … Mungkin dorang pikir, ini sapa yang berkelahi jadinya?” – Pdt. Siska, Poso

Jejak perempuan pendamai di Indonesia Timur bisa jadi sebuah jalan setapak yang kecil dan sempit. Ini disampaikan Kamala Chandra Kirana dalam peluncuran buku berjudul Perempuan, Konflik, dan Perdamaian: Tuturan Perempuan Korban dan Penyintas Konflik danPerdamaian di Poso, Ambon, dan Atambua pada 29 November 2021.  

Mengutip pernyataan Pdt. Siska, Kamala yang adalah mantan ketua Komnas Perempuan pertama menyebutkan, pernyataan dari pendeta Siska mengajarkan kita bahawa kita harus memiliki cara pandang baru yang tidak sekedar melihat pertikaian antara 2 pihak tetapi dapat melihat sesuatu yang lebih struktural. 

“ Dalam hal inilah ada kebutuhan untuk memaknai ulang “perdamaian” dengan perspektif kritis & interseksional sehingga perdamaian, termasuk perjanjian perdamaian tidak jatuh pada kesepakatan antar elit tentang ‘aturan main’, distribusi kuasa dan proses politik yang menata hubungan antara negara dan masyarakat” ulasnya.

Pendeta Ira Mangilio, Ph.D, pembedah buku lainnya memberikan catatannya atas buku dengan menyebutkan bahwa buku ini menggambarkan dengan jelas ukuran kedamaian perempuan yang mengalami konflik adalah ketika perempuan bisa hidup bebas dari rasa takut. Rasa takut tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti pakaian, makanan, akses terhadap air bersih, obat-obatan, pembalut, popok anak, biaya sekolah anak, dan sebagainya. Perempuan ini sadar bahwa kedamaian bisa terjadi apabila ada proses pemerataan pembangunan yang lebih luas, dimana orang memiliki akses kebutuhan dasar mereka. 

“ Perdamaian yang bertahan dalam jangka panjang akan tercipta apabila dibangun berdasarkan keadilan bagi semua “ tegasnya.

Baca Juga :  Perempuan Poso Membangun Indonesia dari Poso

Sementara,  Pastor Jhon Mansford Prior, SVD, yang ikut membedah buku ini secara online dari Belanda menyatakan :

“Karena buku ini ditulis oleh aktifis perempuan yang terlibat dalam upaya mendamaikan situasi kacau maka hasilnya juga berbeda dengan laporan-laporan resmi atau formal seputar konflik yang biasa disusun oleh laki-laki yang sudah profesional sekalipun”

Senada dengan para pembedah buku lainnya, Pdt. Jacklevyn Manuputy, menyebutkan buku ini wajib dibaca oleh siapapun yang tertarik dengan studi konflik dan perdamaian maupun pergulatan perempuan di wilayah konflik. Buku ini bukan saja sebagai pengumpulan informasi atau pengembangan akademik tetapi juga menciptakan gagasan dan gerakan perempuan bersama untuk keadilan dan perdamaian di wilayah masing-masing. 

Menurutnya, suara perempuan di wilayah konflik bukan saja sebagai suara korban tetapi harus dipahami sebagai suara penyintas dan kita patut belajar dari resiliensi daya lenting yang mereka miliki dalam durasi konflik yang sangat panjang dengan perjuangan yang luar biasa. 

“Narasi-narasi penyintas seperti yang ada dalam buku ini penting untuk dirayakan secara seimbang dan diutamakan” ujar Pdt. Jacky.

Dalam konferensi pers yang diadakan sehari sebelumnya, Lian Gogali mewakili koordinator peneliti yang juga menulis dalam buku ini menceritakan bahwa Hasil penelitian dan dokumentasi ini yang meliputi proses cukup panjang dari 2014 sampai dengan 2021. Buku ini menelusuri peran perempuan akar rumput maupun tokoh agama dan budaya dalam komunitas yang mengalami konflik di tiga wilayah Indonesia Timur: Poso, Ambon, dan Atambua. Dua wilayah pertama pernah mengalami konflik bernuansa agama, sedangkan wilayah ketiga masih merasakan dampak dari konflik bersenjata bertahun-tahun di Timor-Leste bernuansa politik yang memuncak pada saat jajak pendapat 1999 di sana dan gelombang besar pengungsian ke Timor Barat setelahnya.

Baca Juga :  Agamamu Agamaku di Kunjungan Sekolah Perempuan

Sebanyak 125 narasumber yang terdiri dari perempuan korban dan penyintas konflik, pekerja kemanusiaan, pemimpin agama, dan budayawan di tiga wilayah konflik tersebut terlibat dalam penelitian. 

“ Mereka bersedia menuturkan pengalaman kekerasan dan trauma yang dialami dan juga harapan yang dapat menginspirasi gerakan perdamaian yang lebih luas dan bermakna. Dari kisah mereka kita dapat belajar bahwa pada saat konflik maupun pasca konflik, perempuan harus memikul beban ganda sekaligus hidup dengan dampak psikologis yang berat. Namun demikian, perempuan dapat pula menjadi subyek yang menjembatani perdamaian di antara komunitas-komunitas yang bertikai atau, sebaliknya, menjadi subyek yang memperburuk situasi konflik tersebut “ urai Lian 

“ Para peneliti dan penulis buku ini merupakan para perempuan penggerak perdamaian dan kesetaraan di Indonesia Timur, sebagiannya adalah penyintas konflik yang berani untuk menuliskan kisah mereka sendiri “ lanjutnya.

Merry Kolimon, koordinator penelitian Ambon yang juga penyunting buku ini menyebutkan, penelitian dan pendokumentasian ini digerakkan oleh kesadaran bahwa dalam sejarah, bahkan sampai masa kini, Indonesia rentan terhadap kekerasan massal yang dipicu oleh radikalisme, terorisme, dan pemanfaatan identitas budaya dan agama demi kepentingan politik dan konflik sumber daya alam. Oleh karena itu, tuturan-tuturan perempuan dalam buku ini diharapkan mendorong kita belajar dari sejarah konflik dan berani untuk bersuara bagi keadilan dan perdamaian, serta mencari cara bersama menjaga rumah bangsa tercinta demi Indonesia yang lebih adil dan beradab.

Baca Juga :  Sekolah Perempuan : Gelora Berkarya untuk Damai dan Adil di Poso

Buku ini mulai dengan sebuah pengantar yang menjelaskan inspirasi awal untuk studi ini serta sejumlah hal terkait proses penelitian maupun proses penulisan temuan-temuan, termasuk tantangan-tantangan yang dihadapi. Bab 2 sampai Bab 4 meliputi tuturan para perempuan korban dan penyintas yang disusun secara kronologis konflik sebagaimana berdampak di Indonesia, mulai dengan konteks di Poso, baru di Ambon, kemudian di Atambua. Penyusunan ini membantu menggambarkan konsentrasi konflik di Indonesia Timur menyusul kelengseran mantan Presiden Suharto pada Mei 1998. Masing-masing tim wilayah menghasilkan satu bab tersebut. Bab 5, “Belajar Bersama”, merupakan refleksi dan analisis terhadap kompilasi tuturan perempuan yang direkam dalam bab-bab sebelumnya, termasuk bagaimana perempuan menghadapi ataupun terlibat di dalam konflik bersenjata. 

Buku ini juga memuat refleksi mengenai perempuan yang mampu mentransformasi diri maupun lingkungan di sekitarnya demi kehidupan damai ke depan. Buku dilengkapi dengan sejumlah daftar seperti daftar singkatan dan istilah-istilah lokal demi pemeliharaan integritas suara asli perempuan yang dikutip. Beberapa lampiran membantu memberi konteks lebih luas untuk mendalami makna tuturan-tuturan perempuan. Lampiran tersebut terdiri dari, antara lain, garis waktu peristiwa penting terkait perkembangan konflik maupun perdamaian; perjanjian perdamaian formal di Poso dan Ambon; dan penambahan penjelasan singkat tentang sejarah konflik kekerasan di Timor-Leste yang bermuara pada perjuangan kehidupan bagi para pengungsi di wilayah Atambua.

Peluncuran buku yang dilakukan secara online dilakukan sebagai bagian dari memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, 25 November–10 Desember .

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda