Rindu Pada Keluarga Muslim, Warga Kristen Meko Bangun Masjid; Ingin Saudaranya kembali Warga Kapompa Muslim bantu Bangun Gereja

6
1906

”Ide ini muncul bersama diantara kami.Keluarga kami yang muslim masih ada beberapa yang belum kembali kesini. Mungkin mereka masih takut, taulah, cerita yang beredar di luar sana aneh-aneh. Padahal tidak begitu yang terjadi di desa kami. Kami rindu keluarga kami pulang lagi kemari, sama-sama mengolah sawah. Tanah disini subur semuanya. Makanya kami berpikir salah satu caranya adalah membantu warga minoritas disini, warga muslim, untuk mendirikan mesjid. Warga muslim disini cuma 17 kepala keluarga. Tapi biarpun sedikit mereka juga sering sembahyang dan layak dapat tempat. Jadi, biar itu syarat pendirian rumah ibadah harus sekitar 60 orang, begitu yang saya dengar, itu tidak berlaku disini. Semua orang berhak beribadah pada Tuhannya.Makanya, kami berinisiatif awal mengajak warga lain yang umumnya pendatang yang beragama muslim untuk mendirikan mesjid. Kami rindu dengan keluarga kami, kami rindu dengar suara azan saat Ramadhan” cerita pak Gede.

”Kami tidak menyangka inisiatif itu justru muncul dari keluarga kami yang Kristen. Mereka bilang, ayo bikin mesjid supaya kamu bisa sembahyang dengan bagus. Ohya? Begitu ya?saya tidak tahu kalau syarat dirikan rumah ibadah harus 60 orang….Muslim disini hanya 17 kepala keluarga,jadi kami memang agama minoritas tapi sangat nyaman dan bahagia. Tidak takut. Mesjidnya memang sederhana, sementara ini masih berukuran 15 x 15 meter. Kami sangat senang dan bekerjasama, gotong royong bikin mesjid. Biarpun belum jadi 100 persen tetapi kami sudah bisa menggunakan mesjid ini sejak bulan Ramadhan kemarin. Disini mayoritas agama Kristen dan Hindu, mereka yang bantu kami menyisahkan waktu dan tenaga mereka untuk bangun sama-sama. Ini mempererat persaudaraan kami..belum ada nama. Nanti mungkin nama yang melambangkan perdamaian, toleransi antar umat beragama seperti yang diajarkan Nabi Muhamad SAW” Ungkap ibu M.

Baca Juga :  Jejaring Interfaith Nasional untuk Keadilan dan Perdamaian

Sementara itu seorang pemuda agama Hindu mengatakan ” kami yakin sorga itu ada di bumi dimana kita ciptakan kenyamanan bagi semua. Dan sorga itu untuk semua. Jadi saya dan teman-teman pemuda lainnya, juga ibu-ibu dan bapak-bapak disini membantu dengan senang hati. Kami bangga, keluarga yang muslim bisa menggunakan mesjid itu saat Ramadhan kemarin. Rasanya bahagia sekali melihat mereka sembahyang disini. Karena kami tahu kami mengerjakannya untuk kebersamaan”

Pendirian mesjid bersama-sama ini terjadi di Desa Meko. Meko berjarak sekitar 70 kilometer sebelah selatan ibu kota Kabupaten Poso. Terletak di sebelah timur tepian danau Poso, desa ini menjadi ibu kota dari kecamatan Pamona Barat yang baru dimekarkan pada pertengahan tahun 2005. Dengan penduduk berjumlah 8.869 jiwa desa yang menjadi ibu kota kecamatan Baru ini merupakan salah satu sentra penghasil beras di kabupaten Poso.

***

Di wilayah lain di Kabupaten Poso,tepatnya di Desa Madale, dusun Kapompa, pada sekitar tahun 2006 warga muslim dusun Kalamalea membantu warga Kristen dusun Kapompa untuk mendirikan gereja sederhana. Diceritakan oleh salah satu majelis gereja:

Baca Juga :  Membangun "Rumah" Perlindungan Perempuan dan Anak

” waktu itu memang masih mencekam, masih ada pembunuhan dan penembakan misterius termasuk masih trauma dengan mutilasi siswa SMU di Poso. Apalagi dusun kami ini di tengah hutan,tidak ada kendaraan lalu lalang dan disekitar dusun kami ini mayoritas Muslim. Jadi yang kembali ke dusun ini tahun 2006 masih sekitar 12 keluarga. Itupun masih pulang balik ke Tentena. Tapi karena sudah mulai menetap jadi kami dirikan gereja sederhana dan minta agar ada pendeta yang melayani. Waktu mendengar kami mau dirikan gereja, ada warga muslim Kalamalea yang datang ke kami dan menanyakan kami membutuhkan bantuan dalam bentuk apa? Mereka mau membantu. Waktu itu ada sekitar 4 orang yang datang bertanya. Singkat cerita, pas hari kerja mereka datang sekitar 10 orang bawa alat-alat tukang, ada juga yang bawa papan dan paku. Kami terharu sekali, papa Z bilang ke kami : kita semua ini ingin hidup damai, sudah jo bakalae (jangan lagi berkelahi-konflik), kami ini mau bantu bikin gereja supaya kamu orang pulang semua jo kemari bangun ulang kampungnya kita ini. Supaya kamu orang tahu, bukan kami yang bunuh-bunuh itu, kami ini juga mengungsi semuanya, kami ini tidak tahu juga siapa itu…jadi mari kita kase selesai (selesaikan-red)  ini gereja dan panggil ulang pulang keluarga kemari”…Kami jadi yakin sekali. Itu tidak terlupakan. Padahal, Dusun Kalamalea itu jaraknya sekitar 2 km dari dusun kami.Mereka datang membantu bangun gereja kami.Sampai sekarang kami lebih sering barter, mereka mengantar ikan, kami mengantar sayuran”

Baca Juga :  Perempuan Mencari Air di Kabupaten Air

Saat ini Dusun Kapompa,Desa Madale sudah didiami kembali lebih dari 25 kepala keluarga. Sebagian besar penduduk Dusun Kapompa beragama Kristen dan bermata pencaharian sebagai petani kebun, sementara penduduk Dusun Kalamale beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai nelayan.

6 KOMENTAR

  1. ketika sekolah dasar , saya melewatkan masa kecil yang indah di poso , kecuali gangguan bullying dari djemi suklan dan osbert walenta , sisanya adalah masa indah di poso kota

  2. Subhanalloh inilah yg kami inginkan begitu Indahnya Kedamaian,… jujur saya sudah 2 kali ke Poso dalam rangka Kerja,… saat ini alhamdulillah saya kerja dengan nyaman, masyarakat nya ramah ramah dan baik terhadap Orang Luar sulawesi,.. sampai saat ini saya masih merindukan keindahan Alam tepatnya Di Pel Poso,…bahkan saya punya Teman yg Begitu baik dan saya anggap sekarang dia Saudara,,

    singkat cerita dan berbagi pengalaman Tepat Bulan Des 2018 saya kesana dari Pelabuhan Poso mau ke Sulewana, Pamona Utara, Kabupaten Poso, saat di perjalanan saya sangat Kagum terhadap warga NYA disana, begitu Kreatif , sungguh indah pemandangan di tiap rumah depan jalan di Buat lampu lampu hias dan pohon pohon Pinus berbentuk pohon natal,

    Ingin rasanya kembali Tugas kesana ( POSO ), supaya untuk bersilaturahmi kepada masyarakat di Pel Poso
    kangen rasanya,…

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda