Mosangki dan Cerita Perempuan yang Tersingkir dari Panen Padi

0
234

Pada setiap musim panen padi, Norce dan perempuan lain di desanya sudah punya jadwal berpesta panen di sawah. Mereka akan menyiapkan sebuah alat kecil berbentuk sabit , topi besar untuk melindungi dari cahaya matahari, pakaian berlengan panjang dan sebuah bekal. Persiapan yang cukup untuk seharian berada di sawah. Tapi itu dulu, sebelum robot-robot mulai lebih banyak bergerak di sawah daripada manusia. Sekarang, hari-hari panen di sawah sabit kecil dan semua persiapan Norce hampir hanya sebuah kenangan, tersimpan di lumbung.

Mosangki atau Mongkojo, demikian nama tradisi memanen yang dimiliki para petani sawah di wilayah Kabupaten Poso. Tradisi ini mengandalkan ketrampilan menggunakan sabit untuk memotong padi di sawah. Mesin Combine Harvester atau Odong-odong menyingkirkan tradisi ini. Bagi Norce dan banyak petani lainnya, memanen dengan tradisi Mosangki bukan sekedar sebuah tradisi mencari upah dari para pemilik sawah.

“Kalau sudah mosangki, kami bersenang-senang karena bisa bertemu dan saling bercerita sambil bekerja “ kata Norce “ saya belajar untuk bekerjasama dengan yang lain pas mosangki”

Pekerjaan Mongkojo, digeluti Norce sejak menikah, dia mendapatkan keterampilan itu dari suami dan mertua yang mengajak dia memanen padi disawah mereka.

Tantangan mosangki atau mongkojo memang membutuhkan ketelitian sekaligus kerjasama. Ada resiko terluka terkena sabit, terik matahari selama bekerja juga kebutuhan untuk memastikan padi yang dipanen bisa dikumpulkan dan dibawah ke mesin perontok untuk menjadi bulir-bulir padi. Menjadi Topo Sangki atau penyabit padi juga membutuhkan komitmen kuat. Norce pernah merasakan jatuh terperosok disawah saat mengangkut karung padi karena licin. Saat itu hujan deras, kakinya terperangkap lumpur, saat mencoba melangkah Norce terjatuh dengan beban dipunggungnya. Namun padi tetap harus dipanen saat itu, pekerjaan tetap dilanjutkan meski kaki dan pungungnya sakit akibat jatuh.

Baca Juga :  Perempuan Poso dan Musyawarah Desa

Odong-odong menghilangkan kegembiraan para to posangki dalam memanen padi. Para to posangki yang sebagian besar perempuan juga kehilangan pekerjaan. Pernah dan seringkali Norce dan banyak perempuan to posangki lainnya berharap mesin robot tidak pernah diciptakan. Selain kehilangan pekerjaan, para petani kehilangan ruang kebersamaan di wilayah kerja mereka. Mesin odong-odong secara perlahan menciptakan karakter petani menjadi orang-orang yang mengejar hasil lebih banyak dan melupakan sesama petani lainnya untuk bekerjasama.

Mewarisi tradisi yang hampir hilang

Saat ini, sebagian sawah di wilayah kecamatan Pamona Puselemba sudah memasuki masa panen. Para petani berharap hasil gabah yang didapatkan sesuai dengan target yakni 13 karung untuk luas 10 are sawah. Namun apakah hasilnya sesuai harapan? ternyata tergantung cara panen juga. Beberapa petani yang ditemui tim Bambari Lipu mengatakan Mongkojo atau menyabit lebih baik, sebab hampir tidak ada batang padi yang terlewatkan.

Pak Erik, yang sawahnya terletak di Kole, Desa Buyumpondoli mengatakan, Mongkojo selain meneruskan tradisi orang tua, juga karena hasilnya memang bagus.

Baca Juga :  Membangun Imajinasi Poso Damai dan Adil di Sekolah PerempuanBuild The Imagination of Peace and Justice in Poso Through Women School

“Sejak awal buka sawah kami menggunakan mongkojo untuk panen, karena tradisi orang tua dulu dan padi tidak banyak yang jatuh di tanah dan saat itu belum ada alat modern seperti yang sdh ada sekarang ini”katanya.

Mongkojo memang tidak secepat mesin Converter Harvest alias Odong-Odong. Namun praktek ini berfungsi menjaga tradisi kebersamaan dimasyarakat. Biasanya setiap kali Mongkojo ada 10 orang.Masyarakat yang ikut Mongkojo beragam usia, mulai remaja hingga orang tua, banyak diantaranya sudah berusia 60 sampai 65 tahun.

Sejak 3 tahun terakhir tradisi Mongkojo sudah mulai jarang terlihat saat panen, perannya sudah seperti digantikan oleh Odong-Odong. Pak Erik sendiri mengatakan sudah pernah mencoba memakai jasa Odong-Odong untuk memanen sawah miliknya. Alasan dia waktu itu untuk menghemat biaya. Sebab Odong-Odong hanya dibayar 32.500 rupiah per karung gabah yang dihasilkan dari sawah yang dikerjakannya atau setiap 13 karung yang terisi, 1 karung merupakan jatah Odong-Odong. Sementara kalau memakai cara Mongkojo, upahnya 60 ribu per hari. Namun ada yang membuat para petani kemudian kembali ke cara tradisional itu, yakni tidak banyak padi yang terbuang.

Baca Juga :  Di Sekolah Perempuan : Berbeda itu Anugerah untuk Saling BelajarIn the Women School : Differences is Blessing to Learn Each Other

Di Buyumpondoli, bila musim panen tiba banyak sekali Odong-Odong dari luar desa datang untuk menawarkan jasa memanen. Namun apakah jika menggunakan mesin ini hasil yang diperoleh petani menjadi lebih baik jika dibandingkan Mongkojo? Ngkay Seldi, petani di Buyumpondoli punya alasan mengapa memilih cara tradisional. Menurutnya, jika yang dipakai adalah ukurang banyaknya karung yang terisi, maka Odong-Odong yang terbaik. Namun jika hasil berupa beras yang dihitung maka Mosangki atau Mongkojo jauh lebih bagus.

“Karena kalau cara tradisional dipake, yang dimasukkan kedalam karung itu memang bersih karena kitorang pasti pilih, yang bukan padi tidak dikase masuk dalam karung. Tapi kalau mesin itu sudah pasti bercampur semuanya, masuk dalam karung”kata ngkay Seldi.

Jika alasan untuk mengurangi biaya dipakai untuk memilih Odong-Odong, ternyata belum tentu tepat pula. Sebab, di penggilingan, saat ini harus menyediakan tenaga khusus untuk menapis gabah sebelum dimasukkan ke mesin penggilingan. Kenyataan lainnya kerja mesin ini tidak sesempurna yang dibayangkan yakni efisien dan efektif. Nyatanya, berdasarkan pengalaman para petani, saat mesin ini bekerja, banyak bulir padi yang jatuh. Ini berbeda dengan Mongkojo dimana tangan-tangan terampil menjaga bulir padi tetap pada tangkainya.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda