Kaleidoskop Keamanan Poso 2021 : Ali Kalora Mati, Operasi Keamanan Masih Diperpanjang

0
247
Foto : Dok. Istimewa

Operasi keamanan untuk mengejar 11 orang anggota kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora, diperpanjang dengan Sandi Madago Raya. Ini merupakan kelanjutan dari operasi Tinombala yang dimulai tahun 2016. Madago Raya dalam bahasa Poso berarti Baik Hati. Redaksi mosintuwu membuat ringkasan peristiwa keamanan di Kabupaten Poso selama 2021 .

Januari

1 Januari 2021, operasi pengejaran kelompok radikal Mujahidin Indonesia Timur atau MIT pimpinan Ali Kalora resmi berganti nama menjadi Operasi Madago Raya. Sebelumnya selama 6 tahun operasi itu bernama Tinombala. Madago Raya diambil dari bahasa Poso yang artinya baik hati. Namun meski berganti nama, operasi ini juga dinilai banyak pihak tidak akan berbeda dengan operasi sebelumnya yang masih gagal menangkap atau melumpuhkan Ali dan pengikutnya. Dikutip dari radarsulteng.id, Asisten Operasi Kapolri Irjen Imam Sugianto mengatakan, operasi ini akan diperpanjang setiap 3 bulan sampai seluruh anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora tertangkap.

Februari

20 Februari 2021, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melakukan kunjungan ke Kabupaten Poso. Dalam kunjungan itu, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo meyakini kelompok MIT Poso mempunyai orang-orang yang selalu memberikan informasi keberadaan anggota Satgas Madago Raya kepada gerombolan bersenjata itu. Karenanya kapolri memerintahkan anggota satgas memutus rantai jaringan MIT Poso.

23 Februari 2021, Baku tembak terjadi antara tim Maleo Satgas Madago Raya dan Koopsus TNI dengan kelompok MIT Poso, yang dipimpin salah seorang anggota senior MIT, bernama Qatar, di Kampung Muara Dusun Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong. Dalam peristiwa ini dua orang anggota MIT disebut terluka namun masih bisa melarikan diri.

25 Februari 2021, Komandan Korem 132 Tadulako Brigjen TNI Farid Makruf meminta masyarakat tidak lagi mendukung kelompok MIT baik dalam menyalurkan logistik maupun informasi. Pernyataan ini sebelumnya juga disampaikan oleh Kapolri dalam kunjungannya ke Poso 2 pekan lalu. Pernyataan agar warga tidak membantu gerombolan bersenjata ini dikarenakan adanya dugaan dari Satgas bahwa posisi pasukan yang melakukan pengejaran sering ketahuan oleh gerombolan. Dugaan masih adanya simpatisan MIT sebelumnya juga sudah diungkapkan oleh Kapolda Sulteng era Irjen Syafril Nursal pada tahun 2020.

Maret

1 Maret 2021, Baku tembak antara Satgas Madago Raya dengan kelompok MIT di gunung Andole desa Tambarana, kecamatan Poso pesisir Utara. peristiwa itu menyebabkan 2 anggota MIT yakni Alvin dan Khairul serta 1 orang anggota Satgas Praka Dedi Irawan meninggal.
Khairul adalah menantu Santoso, mantan pimpinan dan pendiri MIT. Sedangkan Alvin adalah warga Banten.

3 Maret 2021, Baku tembak antara Satgas Madago Raya dengan MIT kembali terjadi sekitar pukul 16:00 wita di kilo 7 desa Gayatri kecamatan Poso Pesisir Utara. Satu orang anggota Satgas Madago Raya yakni Briptu Herlis meninggal dunia dalam peristiwa itu.

6 Maret 2021, Anggota Dewan Perwakilan Daerah atau DPD asal Sulteng, Abdul Rahman Thaha berharap operasi keamanan di Sulteng khususnya Poso yang mengejar para anggota MIT bisa segera diselesaikan. Selain terus menimbulkan korban jiwa dari aparat, warga dan anggota MIT, operasi ini juga memakan biaya negara yang tidak sedikit. Dikutip dari radarsulteng.id, Abdul Rahman Thaha berpendapat, gerakan MIT sudah masuk kategori gerakan separatis sehingga harus ditangani oleh TNI.

8 Maret 2021, Danrem 132 Tadulako Brigjen Farid makruf mengatakan, para petani yang ada di wilayah kecamatan Poso Pesisir bersaudara sudah dibolehkan kembali berkebun diwilayah yang selama ini dianggap rawan karena menjadi area operasi keamanan yang dilakukan untuk mengejar kawanan MIT pimpinan Ali Kalora. Sebelumnya para petani khususnya diwilayah Poso Pesisir Utara takut mengolah lahannya yang jauh dari pemukiman karena dianggap berbahaya.

Dikutip dari laman palu.tribunnews.com, Danrem 132 Tadulako Brigjen Farid Makruf mengatakan, masyarakat tidak lagi perlu takut berkebun. Dia mengatakan aparat keamanan akan mendampingi warga yang akan mengolah kebunnya di wilayah yang jauh dari pemukiman. Langkah itu menurutnya dilakukan supaya perekonomian warga bisa kembali berputar.

Sebelumnya ribuan hektar lahan kebun diwilayah kecamatan Poso Pesisir Utara ditinggal oleh warga karena dianggap tidak aman. Apalagi pada tahun lalu tercatat ada 5 orang petani yang menjadi korban saat berada di kebun. Pembunuhan oleh Ali Kalora dan kawannya dan ada pula yang meninggal karena ‘salah tembak’ oleh aparat keamanan. Akibat tidak aman, banyaknya kebun ditinggalkan dan para pemiliknya beralih pekerjaan. Di desa Kilo dan desa Maranda kecamatan Poso Pesisir Utara, sejumlah petani beralih menjadi pekerja harian atau menjadi buruh tani. Sebagian lagi menjadi pemecah batu di sungai Maranda. Adapun di beberapa desa di kecamatan Poso Pesisir Selatan. Para petani yang meninggalkan lahannya, banyak yang harus menjadi buruh di kebun milik orang lain. Sedangkan yang lainnya terpaksa keluar desa untuk mencari pekerjaan di kota Poso maupun Palu sebagai buruh.

Baca Juga :  Terjerat Korupsi Dana Desa

9 Maret 2021 mencuat informasi, Ali Kalora hendak menyerahkan diri. Informasi itu menyebutkan pimpinan MIT itu dalam kondisi terluka setelah tertembak pada tanggal 23 februari 2021 di kampung Muara dusun Salubanga kecamatan Parigi Selatan kabupaten Parigi Moutong. Namun, menurut informasi dari telik sandi itu, keinginan Ali Kalora untuk menyerah, masih dihalangi oleh Qatar alias Farel alias Anas. Qatar tidak mau Ali Kalora menyerah. Sumber ini memastikan akan sulit bagi Ali Kalora untuk bersembunyi lebih jauh karena luka tembak yang dideritanya.

20 Maret 2021, Pengamat teroris dan direktur Wisdom Institut, Lukman S Thahir menilai, kekuatan kelompok MIT Poso, sudah melemah, dan tak lagi mendapat dukungan dari warga. Lukman mengatakan, umumnya masyarakat Poso tidak lagi bersimpati dengan gerakan-gerakan yang dilakukan MIT. Tak adanya dukungan dan simpatik dari masyarakat, membuat proses rekrutmen dan kaderisasi anggota baru yang dilakukan kelompok teror ini juga terbilang sulit. Menurut Lukman, banyak masyarakat terutama di desa-desa sekitar Poso Pesisir bersaudara yang kini sudah pemahami tentang gerakan MIT Poso, sehingga kecil kemungkinan adanya anggota baru yang masuk dalam kelompok tersebut. Munculnya kesadaran warga di Poso dan sekitarnya tentang gerakan MIT ini menurut Lukman bisa dilihat dari para anggotanya yang kebanyakan berasal dari luar Provinsi Sulawesi Tengah.

April

1 April 2021, Masa tugas Satuan Tugas Madago Raya diperpanjang sampai 30 Juni 2021 atau 3 bulan. Keputusan perpanjangan operasi yang kedua ditahun 2021 ini disampaikan Asisten Operasional Kapolri, Irjen Imam Sugianto. Menurutnya, dalam tempo itu, diharapkan seluruh DPO MIT dapat ditangkap.

24 April 2021, Panglima Kostrad, Letnan Jenderal TNI Eko Margiyono, datang ke Markas Komando Operasi Gabungan Khusus TNI di Poso.
Dikutip dari antaranews.com, Panglima Komando Operasi Gabungan Khusus Mayor Jenderal TNI Richard Tampubolon, memastikan pasukannya siap memback-up untuk melaksanakan penumpasan kelompok teroris. Pasukan Koopgabsus terlibat dalam kontak tembak di Pegunungan Andole, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, yang terjadi pada Senin 1 Maret 2021, yang menewaskan dua orang dari kelompok MIT.

30 April 2021, Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan, Satuan Tugas Madago Raya kehilangan jejak DPO MIT, pimpinan Ali Kalora. Menurutnya, saat itu informasi tentang keberadaan 9 orang anggota kelompok itu terputus.

Mei

11 mei 2021, 4 orang warga desa Kalemago kecamatan Lore Timur, kabupaten Poso, Marten Solot (60), Simson Susa(70), Lukas Lese (46) dan Paulus (46), dibunuh kelompok MIT saat berada di kebun mereka di kawasan Puho. Puho adalah sebuah lokasi perkebunan kakao dan kopi yang berjarak kurang lebih 2 kilometer di sebelah timur desa. Lokasi ini juga berbatasan dengan gunung Biru, dimana MIT pimpinan Ali Kalora kerap terlihat.

11 Mei 2021 : 4 warga desa Kalemago, kecamatan Lore Timur kabupaten Poso yaitu Marten Solot (60), Simson Susa(70), Lukas Lese (46) dan Paulus (46), dibunuh dengan kejam oleh Mujahidin Indonesia Timur saat berada di Puho. Puho adalah sebuah lokasi perkebunan kakao dan kopi yang berjarak kurang lebih 2 kilometer di sebelah timur desa. Lokasi ini juga berbatasan dengan gunung Biru, dimana MIT pimpinan Ali Kalora kerap terlihat. Pembunuhan di desa Kalemago ini menambah panjang daftar korban kekerasan yang dialami warga sipil oleh kelompok MIT maupun oleh aparat keamanan. 

Baca Juga :  Kampung Literasi Perdamaian di Poso

15 Mei 2021, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja Indonesia PGI mengecam keras pembunuhan 4 orang warga Desa Kalimago, kecamatan Lore Timur kabupaten Poso. Sekretaris Umum PGI Jacky Manuputty mengatakan, tindakan tersebut berulang setelah pembunuhan yang dilakukan kelompok yang sama pada 27 November 2020. Jacky Manuputty mendesak Pemerintah dan aparat TNI dan Polri menyelesaikan peristiwa teror yang selama ini mengganggu di Poso.

16 Mei 2021, Ketua Komisi III DPRD Sulteng, Sonny Tandra, mengatakan, operasi Madago Raya perlu di evaluasi. Dikutip dari radarsulteng.id, Sonny mengatakan, pelaksanaan operasi harus dilakukan dengan pola baru, atau mencari pola baru yang lebih efektif dalam melakukan pengamanan kepada masyarakat. Misalnya memperluas operasi yang bersifat teritorial. Dengan pendekatan kemasyarakatan selain melakukan penegakan hukum terhadap anggota MIT.

Dikatakannya, sejauh ini operasi yang dikembangkan masih belum memenuhi harapan masyarakat. Sebab teror masih terus terjadi. Situasi inilah yang menurut Sony harus segera dihentikan. Karena dampaknya sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah dimana kawanan MIT ini biasa beraksi.

Masih banyaknya warga yang jadi korban pembunuhan oleh kawanan MIT dalam 6 bulan terakhir membuat banyak pihak mempertanyakan efektifitas operasi keamanan di Sulawesi Tengah. Beberapa pihak mendesak agar operasi Madago Raya yang sudah dua kali diperpanjang itu, sebaiknya di evaluasi lagi.

17 Mei 2021, Ketua MUI kabupaten Poso, Arifin Tuamaka meminta Presiden Joko Widodo mengalihkan tanggungjawab operasi pengejaran kelompok MIT dari Polri kepada TNI. Usulan ini juga sudah disuarakan sejak awal tahun 2016 lalu oleh beberapa politisi. Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menilai, pendapat masyarakat tentang operasi yang berlarut-larut itu sah-sah saja. Dia meminta aparat keamanan memberi penjelasan secara rutin mengenai kondisi dan tahapan operasi kepada publik. Penjelasan itu dilakukan bukan saat ada peristiwa saja.

Juni

2 Juni 2021, Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan Satgas Madago Raya diberi waktu dua bulan untuk menangkap seluruh anggota kelompok MIT Poso. Adnan Arsal, Ketua Penasehat Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Poso mengatakan tokoh lintas agama dan masyarakat di Poso mendukung sepenuhnya upaya TNI-POLRI untuk menangani kelompok MIT. Adnan juga mengatakan perwakilan tokoh lintas agama dan masyarakat menilai perlu ada penanganan khusus persoalan keamanan di wilayah itu. Dia menyebut penanganan khusus itu dibuat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Instruksi Presiden yang menangani secara khusus keamanan Poso dan kesejahteraan masyarakat.

22 Juni 2021, Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdurakhman Baso membantah ada unsur pembiaran oleh aparat keamanan di Poso sehingga masih terus terjadi peristiwa pembunuhan terhadap warga sipil. Pernyataan ini disampaikan Kapolda saat bertemu dengan Gubernur Sulteng Rusdi Mastura di kantor Gubernur hari Selasa kemarin. Dalam rilis yang dikeluarkan oleh humas pemprov Sulteng, Kapolda menyesalkan munculnya stigma seolah-olah situasi keamanan di Poso yang tidak menentu karena adanya kelompok MIT sengaja dipelihara.

Menurutnya, ari 19 kecamatan yang ada di kabupaten Poso. Menurut Kapolda, hanya 5 kecamatan yang kondisinya beberapa kali mendapatkan gangguan keamanan. Daerah yang sering mendapat gangguan keamanan di kabupaten Poso adalah kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara, Lore Timur dan Lore Utara.

Juli

1 Juli 2021, Operasi Madago Raya 2021 tahap II yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2021 dilanjutkan dengan Operasi Madago Raya tahap III mulai tanggal 1 Juli sampai dengan 30 September 2021. Dalam operasi jilid 3 ini, pelibatan kekuatan pasukan dalam pelaksanaan Operasi Madago Raya tahap III kata Didik, tidak jauh berbeda dengan Operasi Madago Raya tahap II.

Selain memperpanjang operasi, jumlah personil yang bertugas juga ditambah.Dengan penambahan tersebut, kini sekira 1500-an personel TNI-Polri sudah diterjunkan untuk memburu sembilan anggota DPO kelompok terorisme Mujahidin Indonesia Timur di Sulawesi Tengah. Fokus satuan tugas dalam operasi ini juga masih sama yakni melakukan pencarian, pengejaran, penangkapan dan penegakan hukum terhadap 9 DPO MIT Poso yang tersisa. Operasi ini dilaksanakan dalam rangka penegakan hukum terhadap kejahatan teroris untuk mewujudkan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif di wilayah Sulawesi Tengah.

Baca Juga :  Lumbung Padi dan Cerita Wabah

8 Juli 2021, Penasehat Majelis Ulama Indonesia Poso, KH Muhammad Adnan Arsal, mengungkapkan,harapan pemerintah hadir dalam menangani kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Masih adanya MIT menurutnya membuat kabupaten Poso masih menjadi daerah tertinggal. Dikutip dari republika.co.id, Adnan mengatakan, mereka bersama tokoh lintas agama yang ada di Poso sudah bersepakat bahwa MIT adalah musuh bersama yang tidak boleh dianggap remeh. Alasan mengapa dia mengatakan negara perlu hadir karena sudah hampir 22 tahun persoalan keamanan di kabupaten Poso belum juga bisa diatasi. Menurut Adnan, perang yang dibiarkan terus menerus bukanlah warisan yang baik untuk generasi mendatang.

11 Juli 2021, Baku tembak antara Satgas Madago Raya dengan kelompok MIT di Pegunungan Tokasa, kecamatan Torue kabupaten Parigi Moutong menyebakan dua orang DPO meninggal. Satu orang lainnya bernama Abu Alim berhasil meloloskan diri.

17 Juli 2021, Kepolisian menembak mati satu anggota Mujahidin Indonesia (MIT) bernama Abu Alim alias Ambo di pegunungan Wana Sari, desa Tolai Induk kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong. 

Agustus

21 Agustus 2021, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menyebut kelompok MIT punya simpatisan. Pihaknya mengidentifikasi 17 desa di wilayah Poso, Sigi dan Parigi Moutong diduga menjadi tempat radikalisasi kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Boy mengatakan, para simpatisan itu kerap menyalurkan logistik maupun membocorkan informasi keberadaan aparat kepada Ali Kalora Cs.

Mantan Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri itu khawatir akan banyak remaja di wilayah operasi ikut-ikutan mendukung kelompok ini. Saat ini, kata Boy, aparat TNI-Polri tergabung dalam Operasi Madago Raya sudah mengantisipasi untuk mencegah kemungkinan munculnya simpatisan baru Ali Kalora dan kawanannya.

23 Agustus 2021, Kepala divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono mengatakan tersangka teroris dari Jamaah Ansharut Daulah atau JAD yang ditangkap di Kalimantan Timur hendak mengirim bantuan uang kepada Ali Kalora di Poso. Para tersangka teroris itu ditangkap Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada hari Sabtu 14 Agustus 2021 lalu.

Argo Yuwono menerangkan, salah seorang tersangka bernisial RWP memberikan bantuan berupa uang dengan cara mengirimkan uang kepada kelompok MIT Poso. Dalam hal ini, kata dia, uang tersebut dipergunakan sebagai operasional dan persiapan amaliyah yang hendak dilakukan  kelompok MIT.

September

18 September 2021, Ali Kalora atau Ali Ahmad, pimpinan kelompok MIT bersama pengawalnya bernama Jaka Ramadhan ditembak mati di pegunungan desa Astina kecamatan Parigi Selatan, Parigi Moutong. Polisi mencatat ada 10 kasus pembunuhan dan pembakaran yang melibatkan Ali Ahmad dan kawanannya sepanjang tahun 2017 hingga 2021.

30 September 2021, Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Polri kembali memperpanjang masa pelaksanaan Operasi Satgas Madago Raya untuk melakukan pengejaran Daftar Pencarian Orang Mujahidin Indonesia Timur atau MIT hingga bulan Desember 2021. Dengan demikian ini merupakan yang ke empat kalinya operasi ini diperpanjang.

Kepada sejumlah wartawan, Wakasatgas Humas Operasi Madago Raya, AKBP Bronto Budiyono mengatakan, durasi operasi dilaksanakan setiap tiga bulan. Dia menjelaskan, tidak ada penambahan jumlah pasukan dalam perpanjangan ini. Keseluruhan personel TNI-Polri yang terlibat dalam pengejaran empat DPO MIT Poso itu berjumlah 1.500 orang.

Desember

31 Desember 2021, Operasi Madago Raya resmi kembali diperpanjang. Kepastian itu disampaikan Kapolda Sulteng Rudi Sufahriadi dalam konfrensi pers akhir tahun 2021 hari Jumat 31 Desember 2021. Di Tahun 2022 operasi yang sudah 4 kali diperpanjang ini tidak melibatkan pasukan TNI luar Wilayah Sulawesi Tengah.

Irjen Pol Rudy Sufahriadi juga mengatakan pola operasi hampir sama seperti operasi sebelumnya. Operasi Madago Raya jilid IV tersebut melibatkan personel gabungan sebanyak 1.357 orang. Terdiri dari 500 personel jajaran Polda Sulteng, dan 590 personel jajaran Mabes Polri, dibantu 267 peronel Tni, itu terdiri dari Kodam XIII/Merdeka, Korem 132/Tadulako, Kodim 1307/Poso, Kodim 1311/Morowali, dan Yonif 174/Sm.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda