Berulang di Poso, Petani Lagi yang Jadi Korban MIT

0
648
Para petani di Poso Pesisir Utara sedang menjemur biji kakao. Kakao adalah salah satu tanaman utama para petani di Poso. Foto : Dok. Mosintuwu/RayRarea

“Sebenarnya kebun-kebun di Puho itu sudah dikase tinggal sejak 2 petani dari Tamadue dibunuh di dekat situ tahun 2014 lalu. Tapi ya belakangan ini karena dirasa sudah aman, sudah ada yang masuk lagi kesana. Apalagi karena covid ini, keadaan susah jadi orang mulai lagi olah wilayah itu”( Warga Kalemago ) 

Hari Selasa 11 Mei 2021 sekitar pukul 11:00 wita, warga desa Kalemago, kecamatan Lore Timur kabupaten Poso tegang. 4 orang warganya, Marten Solot (60),  Simson Susa(70), Lukas Lese (46) dan Paulus (46), dibunuh dengan kejam saat berada di Puho. Puho adalah sebuah lokasi perkebunan kakao dan kopi yang berjarak kurang lebih 2 kilometer di sebelah timur desa. Lokasi ini juga berbatasan dengan gunung Biru, dimana MIT pimpinan Ali Kalora kerap terlihat.

Peristiwa ini sontak mengingatkan peristiwa 7 tahun lalu. Sabtu 27 Desember 2014, hanya dua hari setelah kegembiraan perayaan Natal, dua orang petani desa Tamadue, tetangga desa Kalemago, Gara Taudu dan Harun Tobimbi dibunuh . Keduanya dibunuh setelah sempat disandera oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Lokasi peristiwa pembunuhan Papa Dewi dan Lewa baru-baru ini tidak jauh dari tempat ditemukannya jenazah Harun Tobimbi dan Gara Taudu, 7 tahun lalu. 

Lewat sambungan telepon, Otniel Totuhu, sekretaris desa Kalemago menceritakan, warga mereka diliputi duka dan ketegangan. Saat itu, jenazah Lukas Lese dan Paulus Papa masih belum dievakuasi. 

Jawaban pertama Otniel ketika akhirnya berhasil dihubungi adalah”Mencekam pak. Kami di sini dalam situasi tegang. Tolong kabarkan peristiwa ini sampai kepada pak Jokowi”.  

Otniel mengatakan para petani yang dibunuh adalah orang-orang yang selalu membantu masyarakat lain dikampung mereka.

Pembunuhan di desa Kalemago ini menambah panjang daftar korban kekerasan yang dialami warga sipil oleh kelompok MIT maupun oleh aparat keamanan. Pada bulan November 2020 lalu, 4 orang warga desa Lembatongoa juga dibunuh dengan keji oleh kelompok yang sama.

Kalemago adalah desa paling kecil dibandingkan 4 desa lain di kecamatan Lore Timur. Data BPS 2020 menyebut penduduknya 668 orang. Sebelah timur desa adalah pegunungan. Setengah wilayah desa ini adalah pegunungan yang berbatasan langsung dengan taman nasional Lore Lindu. Di wilayah inilah yang dikenal sebagai kawasan Puho, sebagian besar diolah warga menjadi perkebunan kopi dan kakao. 

Kawasan Puho yang berbatasan dengan Gunung Biru membuat kemungkinan warga berpapasan dengan kawanan MIT sangat besar. Beberapa orang warga mengatakan pernah melihat orang-orang yang mencurigakan di sekitar kebun mereka.

Baca Juga :  10 Tahun Mosintuwu : Membangun Gerakan tanpa Amplop dan Uang Duduk

Otniel menceritakan, dua bulan lalu, Marten Solot, salah satu korban pernah bertemu kelompok MIT. Salah seorang dari kelompok itu bahkan menyuruhnya membeli beras di kampung. Karena takut ,Marten menceritakan peristiwa itu kepada aparat yang ada di desa.

“Itu sebabnya kami sangat berharap supaya persoalan ini ditangani serius. Karena warga kami berkebun itu memang berbatasan langsung dengan Bunung Biru. Para petani sudah sering melihat orang-orang itu dan sudah dilaporkan”kata Otniel. Pengalaman berpapasan secara tidak sengaja dengan kelompok ini saat berada di hutan atau kebun menjadi sesuatu yang sulit dihindari oleh mereka.  Beberapa informasi menyebut bekal para petani yang tersimpan di pondok sering hilang. Mereka menduga dicuri oleh kelompok bersenjata ini.

Berpapasan dengan kelompok MIT juga  dialami oleh Gara Taudu dan Harun Tobimbi di hari naas mereka 7 tahun lalu. Dalam amar putusan majelis hakim PN Jakarta Utara terhadap Basri alias Bagong,  disebutkan, kawanan MIT yang ketika itu masih dipimpin Santoso, berkemah sekitar 1 minggu di pinggir hutan desa Tamadue, sebelah desa Kalemago. Basri adalah salah satu pentolan MIT yang menyerahkan diri pada tahun 2016 lalu. Saat itu Viktor Tolaba dan Harun Tobimbi yang sedang mencari damar ditangkap oleh kawanan ini. Sedangkan Gara Taudu ditembak di sekitar pos penjagaan yang dibangun Santoso dkk. Kebun Gara Taudu juga berada dilokasi tempat dia dieksekusi.

Suasana Desa Kalemago. Foto : Dok.Wiwis

Beberapa orang warga desa Kalemago mengatakan, kebun yang jauh dari perkampungan memang kurang aman, setelah adanya kelompok Ali Kalora itu. Namun tidak ada pilihan pekerjaan lain bagi warga selain bertani.

Baca Juga :  Mengagendakan Kegelisahan di Peretas Berkumpul

“Kalau tidak ke kebun apa yang mau kami makan?” kata seorang warga mengenai kenapa harus tetap ke kebun. 

Berkebun menjadi pilihan para petani, meskipun bertemu kelompok ini  menjadi resiko yang harus mereka tanggung. Meskipun tidak semua petani berani kembali berkebun.

Dalam data BPS tahun 2020 terlihat produksi pertanian kecamatan Lore Timur, anjlok. Kubis mereka anjlok dari  22,147 ton pada tahun 2018 menjadi 15,607 ton di tahun 2019.  Tomat dari 95 ton tahun 2018 menjadi 62 ton setahun kemudian. 

“Sekarang sudah banyak orang kasi tinggal kebun karena takut. Kalau mau ke kebun harus banyak orang baru berani”kata seorang petani kopi di desa itu. 

Kondisi ini dialami juga oleh para petani di kecamatan Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara dan Poso Pesisir Selatan. Tiga kecamatan ini punya riwayat yang sama, beberapa orang petaninya dibunuh.

Di kecamatan Poso Pesisir Utara, pada tahun 2020, dalam rentang waktu 3 bulan saja, 5 orang terbunuh. Pada tanggal 8 April, seorang petani warga desa Kilo yang biasa disapa Daeng Tapo dibunuh saat berada dikebunnya. 19 April kemudian, giliran Ajeng, petani lainnya dibunuh dengan cara yang sama, di penggal. 3 petani lainnya meninggal ditembak aparat keamanan. 3 orang terakhir disebut korban salah tembak.

Menghilang Lalu Membunuh Lagi

Hampir dua pekan lalu Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso mengatakan, Satgas Madago Raya, sandi operasi yang mengejar kawanan ini kehilangan jejak . Satgas Madago Raya adalah sandi operasi yang menggantikan sandi operasi Tinombala paska peristiwa pembunuhan 4 petani di Lembantongoa. Satgas Madago Raya diperkuat oleh Koopgabsus, Komando Operasi Gabungan Khusus .

Setelah menghilang dari kejaran aparat , kelompok MIT kembali dengan langsung membunuh 4 petani tak bersalah. Ali Kalora ataupun Qatar yang memimpin MIT saat ini seperti hantu yang bisa hilang dan muncul dimana saja. Berkali-kali pejabat keamanan mengumumkan kalau mereka sudah lemah, terdesak, tersudut. Namun mereka tak kunjung bisa dilumpuhkan.

Setelah membunuh 4 petani Lembantongoa, pada 27 November 2020, Ali Kalora terlibat baku tembak dengan Satgas Madago Raya 3 Maret 2021 di pegunungan Andole, desa Gayatri kecamatan Poso Pesisir Utara. Dia dikabarkan tertembak namun berhasil meloloskan diri.

Baca Juga :  Siap Pimpin Pembaharuan Desa, Ibu-ibu Kembali Bersekolah

Dalam catatan mosintuwu.com, sepanjang tahun 2021 sudah ada 3 kali baku tembak antara Satgas Madago Raya dengan MIT di 3 wilayah yang berulang. 

Baku tembak pertama pada 23 Februari 2021, di dusun Muara Salubanga kecamatan Sausu kabupaten Parigi Moutong. Baku tembak terjadi lagi 1 minggu kemudian, tepatnya 1 Maret 2021 . Baku tembak menyebabkan 3 orang meninggal dunia. Dua orang, yakni Haerul dan Alvin dari pihak MIT dan Praka Dedi Irawan, anggota TNI meninggal dunia. 2 Hari kemudian, 3 Maret 2021, sekitar pukul 16 :00 wita, aparat yang terus mengejar kelompok ini kembali berpapasan di hutan yang masuk dalam wilayah desa Gayatri kecamatan Poso Pesisir Utara. Dalam baku tembak, Briptu Herlis, anggota Brimob Polda Sulteng meninggal dunia.

Rentetan kejadian sepanjang hampir 5 bulan di tahun 2021 telah menyebabkan 8 orang meninggal dunia. Dua orang anggota kawanan MIT, 2 orang aparat keamanan, empat orang petani. 

Peristiwa pembunuhan petani, terjadi ditengah operasi Madago Raya yang baru diperpanjang 1 April 2021 lalu. Ini merupakan perpanjangan operasi pertama setelah namanya diubah dari operasi sebelumnya, yakni operasi Tinombala yang sudah berlangsung sejak tahun 2016 lalu.

Banyak pihak berharap operasi baru ini bisa menyelesaikan perlawanan MIT. Apalagi, di dunia, ketangguhan pasukan elit Indonesia bahkan sempat mendatangkan pujian . Survey NATO tahun 2018 misalnya menempatkan pasukan khusus Indonesia adalah salah satu yang terhebat di dunia.

Namun,  pasca pengerahan besar-besaran pasukan pada tahun 2015 lalu, sampai saat ini, kemampuan bertempur MIT yang menguasai hutan di Poso, Parigi Moutong dan Sigi masih sulit ditandingi pasukan-pasukan terhebat NKRI.

Sementara itu Otniel Totuhu dan banyak warga petani lainnya berharap pembunuhan terhadap warga mereka menjadi yang terakhir.  Teror menyebabkan produktifitas petani di desa Kalemago sudah menurun karena banyaknya kebun yang ditinggalkan sejak teror menghantui mereka.

Bagikan
Artikel SebelumnyaKekayaan Danau Poso, Menuju Geopark
Artikel SelanjutnyaBuku dan Kebahagiaan Tersembunyi di Desa
Pian Siruyu
Pian Siruyu, jurnalis dan pegiat sosial. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak konflik Poso. Sejak 2005 aktif menulis di surat kabar lokal dan media online. Sekarang aktif menulis tentang isu ekonomi, sosial, politik di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah untuk media Mosintuwu termasuk berita di Radio Mosintuwu

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda