Cerita Buruh Poso di Hari MarsinahThe Labour Stories in Marsinah’s Day

0
1251

Pakaian, buku, furniture di dalam rumah, alat-alat dapur yang sehari-hari kita pakai, siapa penciptanya? Melihat diri sendiri akan menemukan semua hal yang kita pakai berasal dari orang lain atau sekelompok orang yang secara khusus membuatnya. Buruh, demikian mereka disebut.

Di Kabupaten Poso, buruh sangat sering dilupakan untuk dibicarakan apalagi diperhatikan. Padahal, sangat mungkin salah satu produk minyak goreng yang dikonsumsi atau listrik yang dialiri ke rumah-rumah kita adalah hasil kerja para buruh di Kabupaten Poso. Meluasnya perkebunan kelapa sawit dan hadirnya perusahaan listrik tenaga air, belum lagi potensi kehadiran berbagai perusahaan di Kabupaten Poso diakui menciptakan lapangan kerja. Namun, sejauh mana lapangan pekerjaan tersebut  memberikan rasa keadilan bagi para buruh. Belum lagi jika buruh yang dimaksud adalah buruh perempuan.

Bersamaan dengan Hari Marsinah, tanggal 9 Mei 2015, Institut Mosintuwu bekerjasama dengan aktivis mahasiswa dari FMN Poso dan aktivis mahasiswa Pembebasan, bersama-sama dengan anggota sekolah perempuan dari wilayah Pamona Timur menyelenggarakan diskusi. Aktivis mahasiswa FMN Poso dan Pembebasan merupakan pihak-pihak yang selama ini peduli dengan nasib buruh di Kabupaten Poso. Sementara itu anggota sekolah perempuan yang menghadiri diskusi adalah buruh kelapa sawit salah satu perusahaan yang ada di wilayah Pamona Timur.

Diskusi ini mengangkat cerita Marsinah dan relevansinya dalam kehidupan buruh perempuan di kebun kelapa sawit di Kabupaten Poso. Menanggapi cerita tentang Marsinah yang disampaikan melalui film singkat, ibu-ibu buruh kelapa sawit secara bergantian menceritakan pengalaman yang mereka alami saat menjadi buruh di PT Sawit Jaya Abadi termasuk keadaan yang dihadapi saat bekerja sebagai buruh. Bangun pagi pukul 4 subuh untuk mengurus rumah sebelum berangkat kerja pukul 06.00, setiap hari senin hingga Sabtu bagi buruh tetap, dan setiap senin – jumat untuk buruh harian. Kesulitan terlebih dialami oleh buruh perempuan. Pekerjaan yang berat tidak ditunjang oleh jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Penghitungan nilai kerja dianggap menyulitkan dan menjebak. Misalnya, meskipun sudah memenuhi target pekerjaan berdasarkan luas wilayah, belum dibolehkan pulang jika belum memenuhi jam kerja.

Baca Juga :  Ramadhan di Poso: Menguatkan Perdamaian

Kesulitan ini dipertajam dengan kurang adanya kebijakan pemerintah daerah yang berpihak kepada buruh, misalnya terkait jaminan kesehatan dan jaminan keselamatan apalagi tingkat kesejahteraan. Ibu Ein (bukan nama sebenarnya), yang hadir dalam diskusi mengatakan “jika kami sakit, tidak ada jaminan dari perusahaan, dan karena tidak hadir maka harus mengganti dengan hari yang lain. Dobel bekerja”

Tidak pernah mudah menjadi buruh. Sangat tidak mudah. Sebaliknya dengan beban kerja yang tinggi, upah yang tidak layak, kesejahteraan hidup mereka tidak juga membaik. Belum lagi, tanah-tanah yang dikerjakan adalah tanah-tanah yang pernah menghidupi mereka sebelum tanah itu diambil alih oleh pemilik modal. Ibu Helphin dari Desa Tiu menceritakan bagaimana kolam besar penuh dengan ikan di kampung mereka sekarang mengering pasca masuknya perusahaan kelapa sawit. Padahal, kolam tersebut yang membiayai sebagian besar pendidikan anak-anak di kampung mereka hingga menjadi sarjana “Kolam itu sekarang tinggal kenangan, hanya cerita yang tersisa. Untuk biayai anak-anak kami, kami harus menjadi buruh”

Persoalan buruh di Kabupaten Poso bukan hanya soal upah dan kelayakan tetapi juga bagaimana para pemilik tanah menjadi buruh di tanahnya sendiri. Muhamad Hassan dari FMN Poso, mengingatkan peserta diskusi tentang penting dan mendesaknya melakukan evaluasi atas pengelolaan sumber daya alam. Mahasiswa yang berasal dari Universitas Sintuwu Maroso Poso dalam diskusi ini juga memberikan catatan agar dunia kampus bisa lebih memberi perhatian terhadap buruh dalam diskusi-diskusi di civitas academia agar bisa memberikan kontribusi pemikiran mengenai pengelolaan sumber daya alam dan nasib buruh di Kabupaten Poso.

Melakukan advokasi berkelanjutan bersama-sama dengan masyarakat desa dan para buruh perempuan di Kabupaten Poso menjadi agenda bersama yang dihasilkan dalam diskusi yang diadakan di Dodoha Mosintuwu ini. Sebuah langkah awal. Membicarakan untuk menjadi perhatian, memberikan perhatian untuk menentukan sikap dan memperjuangkan nasib buruh bersamaan dengan kedaulatan atas pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga :  Perempuan Ber-Politik,Kenapa Tidak?Ada di Sekolah PerempuanWomen in Politics? Why Not?

Pakaian, buku, furniture di dalam rumah, alat-alat dapur yang sehari-hari kita pakai, siapa penciptanya? Melihat diri sendiri akan menemukan semua hal yang kita pakai berasal dari orang lain atau sekelompok orang yang secara khusus membuatnya. Buruh, demikian mereka disebut.

Di Kabupaten Poso, buruh sangat sering dilupakan untuk dibicarakan apalagi diperhatikan. Padahal, sangat mungkin salah satu produk minyak goreng yang dikonsumsi atau listrik yang dialiri ke rumah-rumah kita adalah hasil kerja para buruh di Kabupaten Poso. Meluasnya perkebunan kelapa sawit dan hadirnya perusahaan listrik tenaga air, belum lagi potensi kehadiran berbagai perusahaan di Kabupaten Poso diakui menciptakan lapangan kerja. Namun, sejauh mana lapangan pekerjaan tersebut  memberikan rasa keadilan bagi para buruh. Belum lagi jika buruh yang dimaksud adalah buruh perempuan.

Bersamaan dengan Hari Marsinah, tanggal 9 Mei 2015, Institut Mosintuwu bekerjasama dengan aktivis mahasiswa dari FMN Poso dan aktivis mahasiswa Pembebasan, bersama-sama dengan anggota sekolah perempuan dari wilayah Pamona Timur menyelenggarakan diskusi. Aktivis mahasiswa FMN Poso dan Pembebasan merupakan pihak-pihak yang selama ini peduli dengan nasib buruh di Kabupaten Poso. Sementara itu anggota sekolah perempuan yang menghadiri diskusi adalah buruh kelapa sawit salah satu perusahaan yang ada di wilayah Pamona Timur.

Diskusi ini mengangkat cerita Marsinah dan relevansinya dalam kehidupan buruh perempuan di kebun kelapa sawit di Kabupaten Poso. Menanggapi cerita tentang Marsinah yang disampaikan melalui film singkat, ibu-ibu buruh kelapa sawit secara bergantian menceritakan pengalaman yang mereka alami saat menjadi buruh di PT Sawit Jaya Abadi termasuk keadaan yang dihadapi saat bekerja sebagai buruh. Bangun pagi pukul 4 subuh untuk mengurus rumah sebelum berangkat kerja pukul 06.00, setiap hari senin hingga Sabtu bagi buruh tetap, dan setiap senin – jumat untuk buruh harian. Kesulitan terlebih dialami oleh buruh perempuan. Pekerjaan yang berat tidak ditunjang oleh jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Penghitungan nilai kerja dianggap menyulitkan dan menjebak. Misalnya, meskipun sudah memenuhi target pekerjaan berdasarkan luas wilayah, belum dibolehkan pulang jika belum memenuhi jam kerja.

Baca Juga :  Revolusi Indonesia Saat Ini?

Kesulitan ini dipertajam dengan kurang adanya kebijakan pemerintah daerah yang berpihak kepada buruh, misalnya terkait jaminan kesehatan dan jaminan keselamatan apalagi tingkat kesejahteraan. Ibu Ein (bukan nama sebenarnya), yang hadir dalam diskusi mengatakan “jika kami sakit, tidak ada jaminan dari perusahaan, dan karena tidak hadir maka harus mengganti dengan hari yang lain. Dobel bekerja”

Tidak pernah mudah menjadi buruh. Sangat tidak mudah. Sebaliknya dengan beban kerja yang tinggi, upah yang tidak layak, kesejahteraan hidup mereka tidak juga membaik. Belum lagi, tanah-tanah yang dikerjakan adalah tanah-tanah yang pernah menghidupi mereka sebelum tanah itu diambil alih oleh pemilik modal. Ibu Helphin dari Desa Tiu menceritakan bagaimana kolam besar penuh dengan ikan di kampung mereka sekarang mengering pasca masuknya perusahaan kelapa sawit. Padahal, kolam tersebut yang membiayai sebagian besar pendidikan anak-anak di kampung mereka hingga menjadi sarjana “Kolam itu sekarang tinggal kenangan, hanya cerita yang tersisa. Untuk biayai anak-anak kami, kami harus menjadi buruh”

Persoalan buruh di Kabupaten Poso bukan hanya soal upah dan kelayakan tetapi juga bagaimana para pemilik tanah menjadi buruh di tanahnya sendiri. Muhamad Hassan dari FMN Poso, mengingatkan peserta diskusi tentang penting dan mendesaknya melakukan evaluasi atas pengelolaan sumber daya alam. Mahasiswa yang berasal dari Universitas Sintuwu Maroso Poso dalam diskusi ini juga memberikan catatan agar dunia kampus bisa lebih memberi perhatian terhadap buruh dalam diskusi-diskusi di civitas academia agar bisa memberikan kontribusi pemikiran mengenai pengelolaan sumber daya alam dan nasib buruh di Kabupaten Poso.

Melakukan advokasi berkelanjutan bersama-sama dengan masyarakat desa dan para buruh perempuan di Kabupaten Poso menjadi agenda bersama yang dihasilkan dalam diskusi yang diadakan di Dodoha Mosintuwu ini. Sebuah langkah awal. Membicarakan untuk menjadi perhatian, memberikan perhatian untuk menentukan sikap dan memperjuangkan nasib buruh bersamaan dengan kedaulatan atas pengelolaan sumber daya alam.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda