Revolusi Indonesia Saat Ini?

0
862

Revolusi di Tunisia bermula dari seorang tukang sayur bernama Muhammad Bouazizi, berumur 26 tahun.  Ia frustasi hingga membakar dirinya sendiri karena dagangannya “ditertibkan” oleh aparat negara, seperti satpol PP di Indonesia. Aparat-aparat negara memang bertugas “menertibkan” warganegaranya kelas teri, tapi tidak berani menertibkan bahkan memfasislitasi kelas kakap/paus yang merampok negera dan bangsanya, menginjak-injak hak dan kemanusiaan orang lain.

Sudah banyak cerita bunuh diri karena kelaparan di negeri ini. Ada yang dengan cara menenggak racun, menggantung diri, atau tak berdaya menahan lapar hingga berujung kematian. Kematian perlahan-lahan, di gubuk reyot, tikus-tikus bercericit di atap rumah, tetes air dari sela-sela rumbia yang lapuk. Semua tampak samar-samar oleh mata yang perlahan-lahan menutupkan kelopaknya. Tak lagi terasa perih di perut. Semuanya menjadi ringan, seringan dan seputih kapas yang terbang ke langit-langit, menggapai cahaya yang memenuhi segala. Dunia sunyi: sunyi dari kepedulian tetangga, sunyi dari uluran secangkir beraspun, sunyi dari sesendok ucapan salam dan bertanya kabar. Meski dunia demikian hiruk-pikuk dengan ceramah, speaker-speaker memenuhi sudut  kampung, janji-janji politik, baliho-baliho jargon dinas pemerintah, omongan-omongan intelektual. Hiruk-pikuk pula ancaman-ancaman yang mengepung petani-rakyat.

Baca Juga :  Merancang Mitigasi Diketidaktahuan Hidup di Atas Sesar Aktif

Cerita tragis terjadi di Magetan di tahun 2008. Seorang anak SD, Teguh Miswadi (11 tahun) mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Ia tidak tahan menderita sakit maag akut. Hidup dengan seorang nenek renta yang buta, dan ayah yang tidak mempedulikannya serta ditinggal merantau ibunya, setiap hari ia hanya dapat makan sekali. Tragis dan ironis! Demikian juga yang dialami Besse, seorang ibu di Makassar  yang sedang hamil 7 bulan meninggal karena kelaparan. Beras satu liter dihabiskan untuk 3 hari, dimakan ia dengan ketiga anaknya.

Cerita tragis yang tidak menggugah negara untuk membuat kebijakan radikal yang menyentuh akar persoalan rakyatnya, tidak menggugah pula warganegaranya melakukan revolusi, seperti halnya di Tunisia!!!! Barangkali, karena masalah pangan tidak berpengaruh bagi kelas menengah warga Indonesia.

Inilah akibatnya kalau masyarakat kita sangat politis (tatkala terkait kepentingan sendiri) dan sangat tidak politis (terkait urusan bersama: dhu’afa). Intelektualnya sibuk nulis buku-artikel di koran-jurnal, bicara dengan sesama kalangannya sendiri untuk kepuasan sendiri, berpindah dari isu ke isu untuk bertahan hidup sendiri, akademisnya asyik-masyuk nggak menjejak tanah, politisinya biadab demi memperkaya diri sendiri, yang tersisa dari kelas menengahnya adalah glamoritas, sikap Emang Gue Pikirin, dan sibuk komentar atau pasang status di facebook tanpa menghasilkan apa-apa.

Baca Juga :  SEKITAR KAMI

Juga, masalah terkonsentrasinya pangan di sejumlah tangan industri kapitalis yang merasuki rantai komoditas pertanian. Yang memproduksi pangan, yakni mereka negera-negara Selatan, bukanlah yang mengkonsumsi. Demikian sebaliknya bagi negara-negara Utara. Ditambah lagi tidak hadirnya masing-masing negara yang seharusnya berfungsi sebagai provider bagi warganegaranya, baik dalam penyedia hak dasar pangan maupun aset produksi. Dalam konteks semacam itu, solidaritas masyarakat melemah.

Dalam situasi seperti ini, yang diperlukan bukan saja bicara, namun bicara dan bekerja. Dan bekerja itu artinya adalah REVOLUSI!!!

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda