Petani Poso Dibunuh, Dari Cap Banpol Sampai Salah Tembak

0
239
Para petani di Poso Pesisir Utara sedang menjemur biji kakao. Kakao adalah salah satu tanaman utama para petani di Poso. Foto : Dok. Mosintuwu/RayRarea

“Kalau dulu, malam hari kami biasanya menikmati lampu-lampu dari rumah-rumah petani yang bermalam di kebun di gunung itu. Tapi sekarang, semuanya sudah hilang. Tidak ada lagi yang berani bermalam di sana”kenang Ato seorang warga desa Kilo. 

Ketika di tempat lain, warga ramai-ramai berkebun, Ato seperti warga lainnya ketakutan berkebun. Pasalnya, penembakan dan pembunuhan terhadap petani terus terjadi dan semakin sering terjadi.  Penyebabnya bukan karena tidak ada operasi keamanan. Sebaliknya, operasi keamanan yang digelar oleh Polisi dan TNI sudah 3 kali berganti sandi. Operasi Aman Maleo, Operasi Camar Maleo, Operasi Tinombala.  Selama 3 kali berganti sandi dan setiap sandi digelar berjilid-jilid, korban jiwa berjatuhan.  Korban bukan hanya kelompok Mujahidin Indonesia Timur ( MIT ) dan simpatisannya, Polisi dan TNI, juga masyarakat biasa menjadi korban. 

Tanggal 16 Januari 2015 di tengah operasi Camar Maleo, tiga orang petani di desa Tangkura kecamatan Poso Pesisir, Heri Tobio, Aditya Tetumbu dan Dolfi Maudi Ahla dieksekusi kelompok MIT.   Pada 18 September 2018, Fadli (50) petani di dusun Padalembara desa Pantangolemba kecamatan Poso Pesisir Selatan dibunuh dihadapan istrinya. Oleh kelompok MIT dia dianggap sebagai Banpol.  Tanggal 31 Desember 2018, saat sedang dijalankan operasi Tinombala,  seorang petani di dusun Salubose, desa Salubanga kabupaten Parigi Moutong,  Ronal Batau (34) dibunuh. Polisi menyebut pelakunya adalah kelompok MIT. 

Selanjutnya, pada 25 Juni 2019, dua orang petani di dusun Tokasa, desa Tana Lanto kabupaten Parigi Moutong, Tamar (50) dan anaknya bernama Patte (27) dibunuh dengan keji. Kelompok MIT dituding sebagai pelakunya. Lalu pada 13 September 2019, tiga orang petani di dusun Gigit Sari, desa Balinggi kabupaten Parigi Moutong yakni I Wayan Astika (70), Simon Taliko (50) dan Cangklung (45) dibunuh. Kelompok MIT juga disebut sebagai pelakunya. 

Pada 8 April 2020, Daeng Tapo, seorang petani dibunuh di kebunnya, kawasan Mataingi desa Kilo. Sebuah video yang dipublikasikan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) beredar. Ali Kalora mengakui sebagai pelaku pembunuhan keji itu dengan alasan Daeng Tapo adalah banpol. Sehari kemudian, 9 April 2020 seorang pemuda bernama Qidam Alfaridzi Mofance ditembak mati aparat kepolisian dibelakang kantor Polsek Poso Pesisir Utara di desa Tobe, karena disangka kelompok MIT. 10 hari kemudian, tepatnya 19 April, papa Ajeng, petani, warga desa Kilo ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan. MIT juga disebut sebagai pelakunya. Papa Ajeng disebut-sebut sebagai banpol oleh kelompok MIT.

Pembunuhan berlanjut diawal bulan Juni 2020. Tanggal 2 sekitar pukul 14:00 wita, enam orang petani yakni Syarifudin, Firman, Agus, Dakding, Anhar dan Muhajir  yang hendak pulang ke dusun Sipatuo desa Kilo dari kebun mereka di Kilometer 8 dusun Gayatri desa Maranda kecamatan Poso Pesisir Utara tertahan karena hujan deras. Mereka memilih berteduh di sebuah pondok. Sambil merokok mereka berbincang-bincang. Lalu tiba-tiba rentetan tembakan terdengar. Syarifudin langsung tersungkur, peluru menembus dadanya. Hanya selang beberapa detik, Firman berteriak, lalu jatuh. Peluru menembus dagunya. Muhajir lari kebelakang pondok. Dakding berlindung di sebuah batang kayu yang habis ditebang di depan pondok.

Baca Juga :  Musyawarah Perempuan Desa : Bersuara untuk Perdamaian dan KeadilanWomen Village Forum : Speak Up for Peace and Justice

“Pokoknya tidak ada tanda-tanda. Kami sementara merokok. Langsung ada tembakan berentetan seperti suara kacang yang digoreng. Pohon cengkeh patah-patah, dinding pondok itu hancur”kata Muhajir. 

Jarak mereka dengan sumber tembakan itu sekitar 50 meter saja. Mereka sempat berteriak, hujan deras membuat jarak pandang terbatas dan suara mereka tidak terdengar. Dalam suasana kacau itu, Agus, ayah Firman melihat kondisi anaknya masih bernafas langsung menggendongnya dan membawa lari ke belakang pondok. Adik Syarifudin, Dakding bertahan menjaga jenazah kakaknya. Dua petani Muhajir dan Anhar lari kembali ke Kilometer 8 untuk mencari bantuan. Di kilometer 8 terdapat beberapa rumah.

Beberapa saat setelah penembakan itu, muncul 8 orang bersenjata. Saksi yang masih hidup mengatakan, mereka mengetahui orang-orang itu sebagai aparat keamanan dari pakaian yang mereka kenakan.  Muhajir menceritakan, mereka itu kemudian mendatangi mereka lalu memohon maaf karena salah menembak. Mereka mengatakan, sedang mengejar orang bersenjata yang lari kearah pondok tempat Muhajir dan teman-temannya itu berteduh.  Setelah meminta maaf, mereka langsung meninggalkan korban. Firman dan Syarifudin meninggal ditempat. 

Antara Operasi dan Pembunuhan Petani 

Operasi besar-besaran pengejaran kelompok Mujahidin Indonesia Timur dimulai tahun 2010. Diawali peristiwa dua orang anggota Polisi Bripka Sudirman Kanit Intel Polsek Poso Pesisir dan Bripka Andi Sappa anggota Buser Polres Poso yang diculik kelompok MIT . Keduanya lalu dibunuh di dusun Tamanjeka, Desa Masani kecamatan Poso Pesisir pada 8 Oktober tahun 2012. Jenazah keduanya baru ditemukan 6 hari kemudian, yaitu 16 Oktober 2012.

Dua bulan kemudian, 20 Desember 2012, 10 orang anggota Brimob yang sedang patroli ditembak dari arah bukit di jalan trans Sulawesi desa Tambarana kecamatan Poso Pesisir Utara. 4 orang yakni Briptu Ruslan, Briptu Winarto, Briptu Wayan Putu dan Briptu Siswandi meninggal dunia.

Pasca dua peristiwa itu, Kepolisian menggelar operasi pengejaran bersandi Aman Maleo I yang dimulai pada 10 Januari 2013. Sebanyak 1,185 orang personi Polri dari Polda Sulteng dan mabes polri ditambah 170 orang personil TNI dikerahkan dalam Operasi ini. Brigjen Dewa Parsana yang menjabat Kapolda Sulteng saat itu menyebut operasi itu meliputi penegakkan hukum dan pengejaran para pelaku teror yang masuk dalam DPO Polisi. Disebutkan pula operasi juga akan melakukan dialog bersama masyarakat dan kegiatan bakti sosial.

Operasi-operasi ini kemudian berlanjut dengan operasi-operasi selanjutnya . Hingga saat ini terhitung  20 jilid operasi keamanan. 

Tahun 2013, dilangsungkan Operasi Aman Maleo I dan Aman Maleo II. Tahun 2014, operasi ini dilanjutkan dengan sandi yang sama yakni Aman Maleo I hingga Aman Maleo III. Tahun 2015, Pengejaran terhadap kelompok MIT pimpinan Santoso berlanjut. Kali ini operasi dengan sandi Camar Maleo yang berlangsung hingga empat jilid. Lalu tahun 2016 operasi berganti nama menjadi Operasi Tinombala . Nama operasi ini bertahan hingga sekarang. 

Irit Bicara, Takut Dicap Banpol

Baca Juga :  Perempuan Pekerja Seni berkumpul di Poso, MamPakaroso

Pasca pembunuhan terhadap 4 orang petani itu. Hampir semua orang berhati-hati bicara, terutama kepada orang luar. Takut akan ancaman dari kelompok MIT. Salah seorang petani mengatakan, kondisi mereka serba salah. Di cap membantu Polisi saja, itu sudah seperti vonis mati bagi mereka. Sedangkan jika bertemu dengan kelompok MIT saat berada di kebun, itu juga membuat susah karena bisa saja dicurigai menjadi bagian dari kelompok radikal itu.

Jika warga takut berbicara, itu juga karena tidak ada yakin ada jaminan keamanan. Beberapa orang petani mengemukakan, yang mereka alami saat ini ibarat pepatah, Maju Kena Mundur Kena. Kalau menceritakan apa yang dilihat ketika berada di kebun, akan di cap Banpol. Tapi kalau membiarkannya tanpa memberitahukan kepada aparat keamanan, bisa bahaya juga. 

Rasa takut akan kita temukan pada petani yang kebunnya di bukit yang jauh dari pemukiman. Di desa Tangkura, Patiwunga dan Betalemba di kecamatan Poso Pesisir Selatan, banyak yang sudah tidak mengolah kebun-kebun kakao di bukit sebelah barat desa. Mereka pernah merasakan teror akibat serangkaian pembunuhan terhadap petani pada akhir 2014 dan 2015

Istilah Banpol memang menakutkan bagi banyak warga di Poso pasca konflik. Sejumlah petani dibunuh karena cap Banpol atau dianggap membantu aparat keamanan yang sedang mengejar kelompok itu. Pada 18 September 2018, Fadli (50) petani di dusun Padalembara desa Pantangolemba kecamatan Poso Pesisir Selatan dibunuh dihadapan istrinya. Oleh kelompok MIT dia dianggap sebagai Banpol. Daeng Tapo dan Ajeng oleh Ali Kalora juga dianggap Banpol.

Salah seorang warga mengatakan, dia mendengar desas-desus kalau dirinya juga dicap Banpol oleh kelompok radikal itu. Meski khawatir, dia menegaskan apa yang dituduhkan kepadanya bukanlah kesalahan. “Ini tempat kelahiran saya. Saya tidak ingin daerah saya begini terus. Itu sebabnya saya mau membantu pemerintah. Kalau bukan kita lalu siapa. Masak harus orang dari luar terus yang datang membantu”. Demi keamanan keluarganya, orang yang mengatakan ini meminta namanya dirahasiakan.

Operasi Keamanan Tanpa Rasa Aman : Lahan Subur Ditinggalkan 

Rentetan pembunuhan ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai efektifitasnya dalam melindungi masyarakat. Perlindungan khususnya para petani yang berkebun di wilayah tanah subur di kaki gunung sepanjang wilayah barat kabupaten Poso. Pegunungan yang menjadi area perkebunan warga ini terbentang seratusan kilometer, mulai dari kecamatan Poso Pesisir Selatan hingga ke pegunungan Sakina Jaya di desa Pangi kecamatan Parigi Utara. 

Lokasi penembakan terhadap Syarifudin dan Firman serta pembunuhan terhadap Daeng Tapo dan Ajeng merupakan hamparan puluhan ribu hektar tanah subur di bukit sisi barat kecamatan Poso Pesisir Utara. Sebagian besar petani yang menanam kopi, kakao, cengkeh dan durian di tanah-tanah subur itu berasal dari Sulawesi Selatan. Termasuk Syarifudin yang berasal dari desa Pattirodeceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros.

Sipatuo yang dalam bahasa Bugis artinya saling menghidupi, berada disebelah barat desa Kilo. Sebuah jalan kecil beraspal sepanjang kurang lebih 4 kilometer membawa kita selama kurang lebih 10 menit perjalanan bermobil ke dusun yang asri ini. Rumah-rumah panggung khas Bugis mendominasi pemukiman yang dihuni sekitar 90 kepala keluarga. Terdapat sebuah sekolah Alkhairaat dan sebuah masjid besar ditengah dusun. Hampir disetiap halaman rumah terlihat kakao sedang dijemur.

Baca Juga :  Lulus di Sekolah Perempuan: Jembatan Damai untuk Keadilan itu Sudah Dibangun

“Satu kali panen kakao, bisa dipakai naik haji satu keluarga” kata seorang warga menggambarkan besarnya hasil panen para petani diwilayah ini. Namun hasil panen menurun sejak 4 tahun belakangan. Hama kanker buah dan penggerek batang menyerang tanaman mereka. Sebagian tetap mempetahankan pohon kakao yang masih bisa dipetik. Sebagian menanam cengkeh dan kopi. Belakangan para petani termasuk papa Arni juga menanam durian Montong. Pilihan tanaman itu tentu membutuhkan lahan yang luas. Itu sebab wilayah kebun mereka semakin jauh dari kampung. Kebun milik Papa Arni salah seorang petani berada dibelakang dusun Sipatuo yang disebut Kilometer 4 yang memanjang ke utara tersambung sampai Kilometer 14.

Papa Arni, mengatakan, lokasi perkebunan yang membentang dari desa Kilo sampai ke desa Kawende kemudian dikenal dengan sebutan kilo 8 sampai kilo 14. Kilo 8 artinya, jarak lokasi itu 8 kilometer dari kampung dibawahnya. Setiap keluarga yang berkebun diwilayah ini memiliki lahan seluas paling sedikit 4 hektar dan paling banyak 16 hektar. 

Ketika kami bertemu setelah peristiwa penembakan itu, petani yang mendiami dusun Sipatuo sejak tahun 1995 itu berbicara dengan nada sangat hati-hati. Hampir semua yang kami temui pasca peristiwa itu memilih diam dan menjawab tidak tahu. Keceriaan seakan hilang dari dusun itu.

Sebelum kelompok MIT menjadikan wilayah pegunungan di Poso Pesisir Utara sebagai wilayah gerilyanya, wilayah itu sangat aman. Papa Arni menceritakan, dirinya sering mencari udang hingga larut malam sampai he hulu sungai di kaki gunung dusun Sipatuo. Tidak ada rasa takut waktu itu. Para petani dari Kilometer 8 atau Kilometer 12 juga kerap turun ke kampung pada malam hari lalu naik lagi setelah urusan di kampung selesai. 

“Kalau dulu, malam hari kami biasanya menikmati lampu-lampu dari rumah-rumah petani yang bermalam di kebun di gunung itu. Tapi sekarang. Semuanya sudah hilang. seperti tidak ada lagi yang berani bermalam disana”demikian Ato seorang warga desa Kilo. 

Paling sedikit ada 10 ribu hektar lahan sudah diolah menjadi kebun memanjang dari desa Kilo, Maranda, Tri Mulya hingga Kawende. Ribuan ton kakao kering setiap bulan dihasilkan dari wilayah ini sejak 10 tahun lalu. Banyak cerita para petani didatangi anggota kelompok MIT untuk meminta makanan. Namun belum ada yang dibunuh. Meski akhirnya membuat banyak petani memilih tinggal di kampung, namun aktifitas ke kebun tidak terlalu banyak berubah sampai kemudian adanya himbauan untuk tidak ke lokasi Kilo 8 sampai Kilo 14 untuk sementara waktu karena sedang ada operasi. Pemerintah khawatir petani jadi korban salah tembak, nyatanya 3 orang petani salah tembak semasa operasi keamanan. Sekarang, hampir setengah dari kebun-kebun itu ditinggalkan para petani. 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda