Doa dan Aksi Anak Berantas KemiskinanChidren’s Prayer and Action to Eradicate Poverty

0
1222

Sepuluh anak remaja berpakaian seragam sekolah terbagi dalam beberapa kelompok terlihat duduk berkeliling di lantai papan rumah bambu di tepi Danau Poso. Satu persatu mereka bercerita. “ Teman saya, namanya A, saya tahu setiap hari dia dipukul di rumahnya” dengan nada sedih Dini menyampaikan kisahnya. “ Kalau si C, saya tahu dia sudah terlibat dengan obat-obatan. Soalnya kurang kasih sayang di keluarga” sambung seorang pelajar perempuan. Di sudut lain ruangan Dodoha Mosintuwu, nama rumah bambu yang juga kantor Institut Mosintuwu, kelompok remaja lain serius mendengar cerita Budi “Saya punya teman dekat, dulu dia sudah sama-sama sejak saya masih SD. Sekarang dia terancam tidak sekolah karena orangtuanya miskin. Padahal di sekolah dia selalu masuk lima besar juara. Saya pernah tanya bagaimana nanti mau kerja kalau tidak sekolah? Dia bilang dia mau kerja jadi tukang bangunan, yang penting bisa makan”

Suasana ruangan di setiap sudut menggambarkan kondisi anak-anak di Poso yang bukan hanya kesulitan tapi terancam masa depannya. Cerita-cerita yang disampaikan hadir dan nyata dalam kehidupan sehari-hari tapi sangat sering tidak dibicarakan, bahkan ditutupi. Hari itu tanggal 24 Oktober 2015, Project Sophia mengangkat cerita-cerita anak-anak Poso. Keprihatinan atas kemiskinan yang mengancam anak-anak di Poso mendorong dilaksanakannya Doa dan Aksi anak untuk masa depan bebas kemiskinan. Tema ini bersamaan dengan hari pemberantasan kemiskinan sedunia yang jatuh setiap tanggal 17 Oktober 2015.

Baca Juga :  Kerincing Damai Anak Poso

Difasilitasi oleh Kak Sondang dan Kak Cici, 100 anak remaja dari 7 sekolah di wilayah Tentena berkumpul bukan hanya saling berbagi cerita. Sebelumnya mereka diajak melihat kondisi anak-anak lain di seluruh dunia dalam suasana perang, situasi bencana, kondisi dalam rumah dan masyarakat juga ancaman penjualan anak.  Hal tersebut hampir tidak jauh berbeda dari apa yang dialami dan dihadapi oleh anak-anak di Poso.

Mendengarkan cerita tentang teman sebaya dan anak-anak lainnya di Poso menjadi langkah awal mawas diri agar anak-anak bisa menjadi bagian aktif dari upaya mencegah kemiskinan. Menindaklanjuti sesi cerita, anak-anak remaja menuliskan doa mereka dengan cara kreatif. Berdoa untuk diri sendiri dan anak-anak lain di seluruh dunia

Berdoa agar memiliki akses pendidikan, agar anak-anak dijauhkan dari bencana kelaparan, agar akses air mencukupi kebutuhan anak-anak, doa agar anak-anak dijauhkan dari perang dan segala bentuk kekerasan lainnya. Warna-warna pensil menghiasi doa kreatif anak-anak, menjadi simbol harapan anak-anak Poso agar manusia dan alam semesta peduli dan bekerjasama untuk memberantas kemiskinan. Kegiatan yang sama dilakukan pada hari itu juga bersama 150 anak-anak putus sekolah dan anak-anak SD di Desa Wera. Desa Wera tercatat sebagai desa yang memiliki angka putus sekolah dan angka kemiskinan yang tinggi di Kabupaten Poso. Secara khusus di Desa Wera, tim Project Sophia melakukan aksi berbagi kebahagiaan dengan membagi paket pendidikan bagi anak-anak.

Baca Juga :  Perempuan Poso dan Mimpi Desa Membangun

Malam harinya, melengkapi semangat partisipasi anak merajut masa depan memberantas kemiskinan, mereka menonton bersama film Pay it Forward. Film ini bercerita tentang seorang anak kecil yang melakukan gerakan sosial menolong orang lain tanpa pamrih. Menolong satu orang tanpa pamrih diteruskan orang yang sama kepada yang lainnya. Membayar kebaikan dengan kebaikan kepada yang lain. Menonton bersama dilanjutkan dengan diskusi rencana anak-anak untuk menebarkan kebaikan, melahirkan kebahagiaan pada orang lain di sekitar mereka. Setiap orang merefleksikan dan memikirkan tindakan kecil yang akan mereka lakukan pada orang-orang di sekitar mereka dan orang-orang tersebut akan melanjutkan perbuatan-perbuatan baik itu pada orang-orang lain disekitarnya. Komitmen untuk menindaklanjuti refleksi ini dituliskan bersama. “ Saya akan melakukannya, pasti melakukannya, agar saya berguna bagi sesama “ ujar Fandi salah satu peserta dengan penuh keyakinan. “ Saya berharap kita bertemu kembali dan berefleksi apakah aksi kecil kita bisa menyentuh dunia yang luas ini dan menghentikan penderitaan banyak orang” sambung Dita, siswa asal SMU Negeri 1 Tentena.

Baca Juga :  Telusuri Budaya Peradaban Danau Poso : Cara Anak Muda Mengingat dan Jaga Warisan

Lilin-lilin dinyalakan bersamaan dengan lantunan doa dan harapan anak-anak untuk kebaikan bagi sesama dan alam semesta. Hari aksi dan doa anak untuk merajut masa depan tanpa kemiskinan berakhir dalam kekhusukkan doa dan harapan anak untuk hidup yang cerah dan lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda