Festival Mosintuwu : Mengingat dan Merayakan Pengetahuan dan Alam Poso

0
20

Bila berperahu menyusuri danau Poso, baik dipinggir maupun agak ke tengah yang agak dalam saat melihat ke dasar air, kilatan plastik bungkus berbagai makanan menjadi pemandangan yang akan kita temui, terutama didekat rumah pemukiman yang berjejer dipinggirnya.

Bungkus makanan instan olahan pabrik yang berasal dari dapur itu bukan saja telah mencemari danau tapi juga menjadi penanda perubahan pola hidup masyarakat yang sebelumnya hidup sehat dari alam ke produksi massal pabrik yang dipenuhi bahan kimia. Pola konsumsi yang serba instan ini pula mulai menggusur kearifan yang ada dalam tradisi seperti Padungku yang berarti memelihara alam. Festival Mosintuwu hadir  untuk mengingat kemurahan alam yang sudah menghidupi bergenerasi manusia yang hidup didalamnya.

Kembali ke desa adalah kata-kata yang sering muncul dalam setiap diskusi dari kampung ke kampung yang sejak tahun 2009 rutin dilakukan Institut Mosintuwu. Meminjam istilah Lian Gogali, untuk membangkitkan kepercayaan diri orang di desa bahwa mereka setara dengan siapapun yang berasal dari manapun, bahwa pengetahuan bukanlah monopoli orang kota. Festival Mosintuwu yang sebelumnya bernama Festival Hasil Bumi (FHB) lahir dari diskusi kampung ke kampung itu.

Baca Juga :  The Peace Agency,

Memanggil orang-orang di desa untuk memelihara alam dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia saat mengolah tanah kemudian melahirkan semangat mengolah kebun organik yang kemudian ditunjukkan perempuan petani di desa Bancea dalam memperlakukan tanaman kopi. Lalu kelompok perempuan desa Salukaia yang mendirikan pasar sayur organik yang kini memasok sebagian kebutuhan warga di kecamatan Pamona Barat dan Pamona Puselemba. Bukan hanya mendapatkan penghasilan yang cukup besar, mereka juga mengeratkan hubungan antar warga  berbeda agama di desa itu

Tentu bukan hanya menjaga alam, pertemuan antara warga yang semakin sering dilakukan di desa makin menguatkan hubungan antar komunitas yang seakan tersegregasi usai konflik 20 tahun silam. Di desa Kilo misalnya, ibu Rustomini, Nengah Susilawati yang beragama Hindu dan Laurens yang Kristen membentuk kelompok usaha pengolahan minyak VCO. Gerakan ini juga membangkitkan kesadaran lingkungan disana untuk mempertahankan pohon kelapa dari serbuan Sawit.

Di desa Tokorondo, Hadra menginisiasi gerakan membersihkan lingkungan dan pantai dari sampah plastik dengan mengajak anak-anak muda memungut plastik untuk diserahkan kepada bank Sampah yang dikelolanya untuk diolah menjadi kerajinan bernilai ekonomi tinggi.

Baca Juga :  Perempuan dalam Sejarah Poso : Tabib, Hakim dan Pemimpin Spiritual

Untuk menguatkan semangat kembali ke desa itu institut Mosintuwu merancang Festival yang menjadi wadah orang-orang di desa menunjukkan apa yang mereka miliki dan betapa penting mempertahankan desa dari serbuan plastik dan bahan kimia yang dipasok oleh industri kedalam makanan kita.

Apakah festival Mosintuwu bisa memberi perbaikan pada hubungan antar warga didalam desa maupun antar desa? survey yang dilakukan litbang kompas 27-29 September 2017 menemukan ada 17,1 persen dari 519 orang responden yang ditanyai menyebutkan kegiatan ini memberi manfaat meningkatkan kerukunan dan toleransi antar warga. Selanjutnya 10,8 persen menyebut kegiatan ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Tahun ini mulai tanggal 3 sampai 5 Desember, untuk ketiga kalinya festival diselenggarakan dengan tema ‘Mengingat Merayakan Pengetahuan dan Alam Poso, tema ini diambil  untuk menjaga ingatan atas kearifan lokal dalam pengelolaan alam, lalu menampilkannya dalam karya dan aksi untuk melestarikannya. 

Merayakan pengetahuan dan alam, adalah menempatkan pengetahuan atas kearifan lokal sebagai pondasi dalam membicarakan dan mengelola alam; sekaligus memproklamasikan identitas Poso dalam pengelolaan kehidupan yang bersahabat . 

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda