Minyak Kelapa, Satukan Perempuan Rawat Lingkungan

0
83
Para perempuan Desa Lumbumamara, duduk bercerita tentang lingkungan mereka sambil memasak minyak kelapa . Foto : Dok. Mosintuwu/Siruyu

“Hei kau yang masih tidur. Bangunlah. Semua orang sudah bangun”. Kalimat ini diucapkan ibu Naja saat memasukkan santan ke kuali penggorengan. Ini semacam mantra yang dipercayainya akan membuat minyak kelapa berkualitas. Mantra ini menyebut ‘orang’untuk mengingatkan santan. Dia melihat kelapa dan manusia sebenarnya penghuni bumi yang setara.

“Biasanya kita sudah pakai banyak kelapa untuk bikin minyak, tapi hasilnya sedikit. Itu karena santannya tidur. Jadi harus dibangunkan”katanya. Waktu itu dia sedang saat berbagi pengalaman dengan ibu-ibu anggota kelompok minyak kelapa di Desa Lumbumamara, kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala.

Ibu Naja, sudah puluhan tahun membuat minyak kelapa di rumahnya di Desa Lumbu Tarombo, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala. Tidak perduli harga kopra atau buah kelapa sedang naik, dia tetap menyisihkan seratusan butir kelapa dari kebunnya untuk dibuat minyak. Baginya itu tradisi yang harus dijaga agar lingkungan disekitar tetap sehat.

Tradisi membuat minyak ditularkannya kepada keluarga dan perempuan di sekitarnya. Termasuk kepada ibu-ibu di Desa tetangganya, Lumumamara.
Dia membagikan resep rahasia bagaimana supaya minyak kelapa harum dan tahan lama dengan cara memasukkan daun pandan dan sedikit gula merah.
Tapi ada satu ritual penting yang baginya turut menentukan. Menyapa santan yang baru saja diperas.

Musdalifah, anggota kelompok produksi minyak kelapa menceritakan pengalaman dia menggunakan 15 buah kelapa berukuran besar namun hanya menghasilkan hamper 1 liter minyak kelapa.

“Mungkin benar. Santannya tidur, tidak berubah jadi minyak” katanya.

Mempercayai kelapa hingga santannya bisa mendengarkan manusia lahir dari tradisi pembuatan minyak kelapa yang panjang di Donggala.

Pohon kelapa tentu memiliki ikatan kuat dengan orang Sulawesi Tengah. Khususnya di Kabupaten Poso dan Kabupaten Donggala. Meskipun tradisi minyak kelapa tidak sekuat di Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso juga mengandalkan pohon kelapa untuk perekonomian dan kebutuhan sehari-hari.

Di Poso Pesisir Utara, Desa Kilo, sejak tahun 2016, enam orang perempuan anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu berkumpul membentuk kelompok. Mereka memodali sendiri kelompok ini dengan masing-masing membawa buah kelapa dari kebun, membuatnya menjadi minyak kelapa dan minyak kelapa murni (virgin coconut oil). Hasilnya digunakan sendiri, selebihnya dijual dan menjadi kas kelompok. Saat kelompok ini dibentuk, lahan desa-desa disekitarnya sudah mulai ditanami sawit

Sementara itu, beberapa orang perempuan di Lumbumamara kemudian berinisiatif membentuk kelompok untuk memproduksi minyak kelapa sebagai cara mempertahankan pohon kelapa.

Baca Juga :  Mosikola Teologi : Berteologi yang Kontekstual Membebaskan

Mereka tidak memulai dari awal. 5 orang anggotanya sudah memiliki kebiasaan membuat minyak kelapa sejak kecil. Sejak tahun 2020 mereka mulai memproduksi minyak dengan cara membawa masing-masing buah kelapa dari kebun.

Musdalifah menceritakan, awalnya dia mengajak Ani dan Mahani, dua perempuan lainnya untuk memulai kelompok ini. Pertama-tama mereka menghasilkan 10 liter minyak kelapa yang dijual dengan menawarkan kepada warga desa.

“Banyak orang sekarang minyak sawit karena lebih murah daripada minyak kelapa. Alasan lain, katanya minyak sawit lebih sehat. Tapi kami bilang, minyak kelapa banyak manfaatnya untuk Kesehatan”ceritanya mengenai tantangan untuk terus memproduksi minyak kelapa.

Di Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, tantangan serupa juga dihadapi ibu Nengah dan kelompoknya. Massifnya kampanye sawit oleh pemerintah yang menyediakan Minyak Kita seharga Rp.14.000/liter membuat mereka harus berpikir keras. Ibu Widya kemudian memproduksi minyak kelapa murni (VCO) sebagai cara menandingi kampanye itu.

Minyak kelapa produksi para perempuan Desa Lumbumamara dan Desa Kilo . Foto : Dok. Dodoha Mosintuwu

Mereka memulai usaha bermodal swadaya. Masing-masing membawa 5 buah kelapa yang sudah tua, wajan, dan kayu api. Ongkos parut kelapa ditanggung bersama. Prinsipnya mereka menggunakan apa yang ada di kebun dan yang ada di desa. Hasil penjualan minyak kelapa mereka putar lagi dengan membeli lebih banyak buah kelapa. Memproduksi minyak kelapa bagi ibu Nengah dan Widya bukan hanya supaya orang punya sumber pangan sendiri. Ini adalah cara mereka menjaga lingkungan tetap sehat dan ruang bertemu untuk membicarakan kehidupan sehari-hari secara rutin.

Kelapa Tersingkir Sawit.

Banyak perdebatan mana yang lebih sehat untuk dikonsumsi, minyak sawit atau minyak kelapa? Para pegiat kuliner hingga pakar kesehatan belum satu suara. Namun yang sudah terlihat jelas adalah dampak lingkungan akibat pembukaan perkebunan sawit telah menciptakan krisis lingkungan yang menyebabkan bencana ekologi dan berdampak pada Kesehatan manusia.

Perbedaan lainnya tentu struktur kepemilikan. Beragam produk sawit ( Elaeis guinensis jack) umumnya dihasilkan oleh korporasi dengan nilai triliunan rupiah, sedangkan minyak kelapa (cocos nucifera) umumnya dimiliki rakyat biasa di pedesaan. Seperti sebagian warga di Kabupaten Poso dan Donggala, khususnya di wilayah pesisir yang memiliki 2 hingga ratusan pohon kelapa umumnya untuk dikonsumsi untuk santan dan minyaknya, dan ekonomi lewat kopra.

Pada tahun 1851 penguasa kerajaan Banawa, Lasa Banawa Daeng Paluna sudah memerintahkan rakyatnya menanam pohon kelapa. 43 tahun kemudian, Belanda memperluas perkebunan kelapa hingga ke wilayah Pantai Barat. Kemudian tahun 1888, karena ingin monopoli perdagangan, Belanda melarang pedagang China dan Arab di Donggala untuk berdagangan kopra, damar dan rotan.

Baca Juga :  Bapasiar, Tradisi Natal Tahun Baru di Poso

Tidak kurang akal, pedagang-pedagang China yang sudah lebih dulu ada di wilayah ini kemudian membeli buah kelapa untuk dijadikan kopra dan membuat minyak kelapa untuk diperdagangkan. Sejak itulah, minyak kelapa mulai popular ditengah masyarakat Donggala.

Dalam Toponimi Kota-Kota di Sulawesi terbitan kementerian Pendidikan dan kebudayaan disebutkan. Pada tahun 1978, salah satu komoditi yang dibawa keluar dari pelabuhan Poso adalah minyak kelapa selain kopra, bungkil kelapa, selain beras ,rotan, damar dan kayu hitam. Banyaknya produk kelapa yang di-perdagangkan dengan daerah lain pada masa itu menunjukkan tingginya aktifitas perkelapaan masyarakat Poso dan sekitarnya.

Abdurrahman Balie, budayawan Poso menceritakan, saat huru hara tahun 1958, pelabuhan Poso di bom Permesta hingga membakar Gudang-gudang kopra, asapnya membuat desa-desa disekitarnya berbau minyak kelapa.

Seiring massifnya penanaman sawit, perlahan minyak kelapa tersingkir dari kios dan pasar tradisional, digantikan minyak sawit dengan kemasan plastic yang lebih menarik mata selain harganya yang jauh lebih murah.

Perubahan ini seturut dengan meningkatnya penanaman sawit di Sulawesi Tengah termasuk di Kabupaten Poso dan Donggala. Dalam 5 tahun terakhir, luas lahan sawit di kedua wilayah ini semakin bertambah.

Tahun 2017 di kecamatan Banawa Selatan, produksi kelapa mencapai 927,53 ton. Ditahun yang sama BPS belum mencatat ada produksi buah sawit. Lima tahun kemudian, di tahun 2022, BPS mencatat produksi kelapa sebanyak 925,43 ton, sedangkan buah sawit sebanyak 45,21 ton. Produksi buah sawit ini tentu lebih banyak daripada yang tercatat oleh BPS.

Data BPS juga menunjukkan, perkebunan sawit di Kabupaten Poso tahun 2020 seluas 1.026 ha sementara pohon kelapa seluas 5.081 ha. Tahun 2025, luas lahan sawit menjadi 996 ha. Luas kebun kelapa 5.471 ha. Namun luas perkebunan kelapa ini mengalami penurunan bila disbanding tahun 2023 yang sebesar 5.558 ha.

Di Donggala, tergesernya pohon kelapa oleh sawit terlihat hampir diseluruh desa-desa di kecamatan Banawa Selatan hingga Rio Pakava. Di Desa Lumbumamara hingga pertengahan tahun 2005, pohon kelapa masih berdiri diantara rumah-rumah warga. Hanya 10 tahun kemudian sudah berganti dengan pohon sawit.
Ini juga menjadikan desa ini langganan banjir sejak 5 tahun terakhir. Iming-iming sawit akan membawa kesejahteraan begitu kuat berhembus, turut membuat banyak petani mengganti tanaman ke kelapa sawit.

Baca Juga :  Perempuan, Mereka yang Ciptakan Lapangan Kerja

Menjadi Ruang Diskusi Perempuan

Perempuan menjadikan aktifitas mengolah buah kelapa sebagai tempat berkumpul dan membicarakan dapur, kondisi desa dan masalah-masalah sosial politik dan ekonomi. Dalam kelompok minyak kelapa di Kilo, mereka menjadikan proses membuat minyak kelapa untuk mendiskusikan kondisi desa. Bagaimana perempuan bisa mandiri hingga strategi advokasi jika ada kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Belakangan mereka mulai meningkatkan advokasinya bukan hanya pada kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Banyaknya bantuan tidak tepat sasaran, program yang dirasa tidak adil juga dijadikan diskusi lalu disampaikan secara terbuka kepada pemerintah desa.

“Saya sampaikan dalam rapat-rapat desa bahwa sekarang banyak masyarakat yang tidak mau ikut rapat karena merasa percuma. Karena usulan mereka hanya di dengarkan tapi tidak dilaksanakan”kata Nengah.

Aktivitas menyiapkan butir kelapa untuk menjadi minyak kelapa ,oleh para perempuan. Foto : Dok. Mosintuwu/Pian

Di Donggala, Musdalifah menyebut banyak bantuan pemerintah untuk kelompok perempuan yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Salah satu sebabnya karena kurangnya pendampingan. “Habis pelatihan biasanya selesai juga program itu”katanya.

Naiknya harga kelapa di dunia hingga menyentuh Rp.5.000/butir menjadi tantangan berat bagi kelompok produsen minyak kelapa. Selain harus menaikkan harga minyak, mereka juga harus berjuang mebeli lebih banyak buah kelapa.“Sekarang orang langsung jual per biji. Harganya mahal. Jadi kita juga harus lebih lama mengumpul kelapa untuk bikin minyak”kata Musdalifah. Anggota kelompok lainnya juga setop membawa kelapa karena kesulitan yang sama.

Untuk tetap membuat minyak, mereka memilih menaikkan harga. “Terpaksa karena mengikuti harga kelapa. Yang penting kita usahakan harga naik tidak terlalu tinggi”kata Musdalifah.

Jika sebelumnya mereka menjual minyak kelapa seharga Rp.35.000/liter. Kini harus menaikkannya menjadi Rp.45.000/liter. Hal sama juga terjadi di Kilo, Poso Pesisir Utara. Kelompok minyak kelapa harus menghitung ulang biaya produksi.

Ada cerita lain dari Kilo. Kelompok yang dibangun dengan prinsip ekonomi solidaritas ini, yakni bagaimana mendatangkan uang agar semakin banyak beredar di desa pernah menghadapi masa-masa sulit. Ketika itu, pemerintah memberi bantuan modal berupa mesin penggiling kelapa. Sayangnya, menurut Nengah, hal itu justru mengurangi solidaritas diantara mereka. Kelompok ini justru vakum setelah menerima bantuan.

“Memang sebaiknya kita mandiri tanpa intervensi seperti itu. Jadinya kita justru tidak kompak. Kalau mandiri kita punya tanggungjawab bersama”kata Nengah. Menurutnya semakin banyak bantuan akan membuat pekerjaan lebih mudah. Namun sekaligus mengurangi rasa memiliki yang justru menjadi kekuatan ketika mereka memulai usaha ini.

Bagikan
Artikel SebelumnyaBencana di Poso, Minim Mitigasi, Abai Pengetahuan Lokal
Pian Siruyu, jurnalis dan pegiat sosial. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak konflik Poso. Sejak 2005 aktif menulis di surat kabar lokal dan media online. Sekarang aktif menulis tentang isu ekonomi, sosial, politik di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah untuk media Mosintuwu termasuk berita di Radio Mosintuwu

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda