
Hampir tidak ada yang menyadari kalau gempa magnitude 5.8 hari Minggu pagi 17 Agustus 2025 lalu menyebabkan tsunami kecil setinggi 5 cm. Hal itu disampaikan BMKG dalam Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempa Bumi Barat Laut Poso 17 Agustus 2025 yang diterbitkan 18 Agustus 2025.
Episenter gempa bumi yang berpusat di Teluk Tomini wilayah pantai Poso Pesisir menyebabkan 2 orang warga Desa Masani meninggal dunia, 32 korban luka-luka dan 233 rumah rusak. BMKG menyebut aktifitas sesar Tokararu sebagai penyebabnya.
Untungnya, tsunami itu tidak berdampak besar bagi warga. Namun informasi ini mengingatkan kembali bahwa wilayah Kabupaten Poso menyimpan potensi itu.
23 hari sebelumnya, lindu berkekuatan M 5,7 mengguncang desa-desa di selatan dan tenggara Danau Poso. Guncangan hebat tiba-tiba merobohkan dinding rumah warga Desa Tindoli, menumpahkan masakan dari atas kompor, malam itu warga sedang bersiap merayakan pesta panen Padungku besok paginya. Akibat gempa yang dipicu Sesar Poso itu, BPBD Sulteng mencatat 106 rumah rusak tersebar di 4 desa yang berada di kecamatan Pamona Tenggara dan Pamona Selatan.
Pamona Tenggara khususnya Desa Tindoli, menjadi wilayah tempat gempa bumi dengan kekuatan diatas magnitude 5 paling banyak terjadi di Poso sepanjang tahun 2025. Gempa pertama pada 14 Juli dengan magnitude 5.3 menyebabkan 38 rumah rusak. 10 hari berselang, gempa kembali datang dengan kekuatan lebih besar, yakni magnitude 5.7 menyebabkan 106 rumah rusak.
Dalam penjelasan lanjutannya, BMKG menyebutkan, Sulawesi sebagai Kawasan tektonik paling kompleks di Indonesia. Keberadaan sejumlah sesar aktif yang sering memicu gempa besar seperti Palu-Koro, Matano dan Tokararu sering menghasilkan gempa dangkal bermagnitudo signifikan yang bisa punya dampak langsung terhadap pemukiman bila pusat gempa berdekatan dengan wilayah berpenghuni.
Dampak Gempa Tahun 2025 di Poso
|
Wilayah
|
Jenis Kerusakan Bangunan | Korban Jiwa | Waktu Gempa | ||||
| Rumah | Fasilitas umum | Luka Berat/Ringan | Meninggal | ||||
| Berat | Sedang | Ringan | |||||
| Pamona Tenggara | 38 |
|
|
14 Juli 2025 | |||
| 14 | 91 | 1 Gereja, 1 sekolah | 24 Juli | ||||
| Pamona Selatan | 1 | 24 Juli | |||||
| Poso Pesisir
|
50 | 79 | 1 Gereja, 1 Sekolah | 41 orang | 2 orang | 17 Agustus | |
| Poso Pesisir Selatan | 49 | 34 | 2 Gereja, 1 sekolah | 8 | 17 Agustus | ||
| Poso Pesisir Utara | 7 | 21 | 17 Agustus | ||||
Data diolah dari berbagai sumber.
Sepanjang tahun 2025, ada 32 hari yang diwarnai peristiwa gempa bumi, baik yang dirasakan maupun yang hanya dideteksi seismograf. Dalam sehari bahkan gempa bisa mengguncang lebih dari sekali.
Di tahun 2024, BMKG mencatat jumlah kejadian gempa bumi dengan kekuatan magnitude 2.0-6.0 sebanyak 46 kali dengan jumlah kerusakan bangunan mencapai 21 unit. Dari sisi kerusakan, dari segi dampak, baik kerusakan bangunan maupun korban manusia, gempa bumi 2025 mencatat peristiwa paling buruk dalam 5 tahun terakhir.
Peristiwa Gempa Bumi di Sulteng Sepanjang 2025
| Bulan | Lokasi | Magnitudo/Kedalaman | Dampak |
| 21 Desember | Banggai Kepulauan | 3.4/2 km | – |
| 21 Desember | Morowali | 4.7/2 km | – |
| 21 Desember | Banggai Kepulauan | 4.0/10 km | – |
| 4 November | Donggala | 4.6/23 km | – |
| 28 Oktober | Buol | 5.5/10 km | – |
| 25 Oktober | Donggala | 3.8/5 km | – |
| 25 Oktober | Poso | 4.5/5 km | – |
| 8 Oktober | Poso | 4.6/5 km | – |
| 3 Oktober | Poso | 4.2/5 km | – |
| 18 September | Morowali | 3.3/2 km | – |
| 16 September | Poso | 2.2/5 km | – |
| 4 September | Parigi Moutong | 4.7/5 km | – |
| 3 September | PaLU | 5.0/10 km | – |
| 30 Agustus | Poso | 3.4/5 km | – |
| 29 Agustus | Morowali | 4.0/4 km | – |
| 28 Agustus | Poso | 3.6/5 km | – |
| 22 Agustus | Morowali | 4.3/5 km | – |
| 21 Agustus | Poso | 3.4/5 km | – |
| 21 Agustus | Poso | 3.6/5 km | – |
| 18 Agustus | Poso | 3.8/10 km | – |
| 17 Agustus | Poso/Mapane | 5.8/5 km | 2 meninggal, 32 luka-luka, 41 rumah rusak |
| 1 Agustus | Poso | 3.9/5 km | – |
| 1 Agustus | Bangkep/Pulau Puah | 5.2/114 km | – |
| 24 Juli | Poso/Tokilo | 5.7/10 km | 96 rumah rusak, 4 orang luka-luka |
| 14 Juli | Poso/Pendolo | 5.3/14 km | 38 rumah rusak |
| 1 Juni | Palu | 4.9/36 km | – |
| 15 Mei | Banggai | 4.6/12 km | – |
| 7 Mei | Toli-Toli | 3.7/11 km | – |
| 22 April | Palu | 2.7/8 km | – |
| 14 Maret | Toli-Toli | 5.5/10 km | – |
| 26 Januari | Sigi | 4.5/5 km | – |
| 5 Januari | Morowali | 3.5/5 km | – |
Sumber : bmkg dan diolah dari berbagai sumber
Mitigasi Masih Minim
Ditengah tingginya resiko bencana di Indonesia, khususnya di Sulawesi, kita masih minim system peringatan dini dan mitigasi, terutama penguatan pengetahuan di sisi warga. Pengalaman setiap kali bencana baik gempa bumi maupun banjir misalnya, warga terdampak terlihat tidak memiliki panduan tempat mengungsi yang sudah ditentukan misalnya. Hal ini mengkonfirmasi laporan World Risk Report 2024 yang memperlihatkan lemahnya kesiapan masyarakat dan pemerintah dalam merespon dan memulihkan diri pasca bencana.
Setiap kali bencana terjadi, warga seakan tidak punya rujukan informasi resmi yang mudah diakses.
Peristiwa gempa bumi 24 Juli dan 17 Agustus juga menunjukkan minimnya pengetahuan warga akan potensi bencana di daerahnya dan bagaimana memitigasinya. Peneliti Ekologi Manusia di BRIN , Herry Yogaswara menuturkan pentingnya menggali kebudayaan atau tradisi masyarakat seperti Kayori, Laolita, permainan rakyat untuk menjadi pelajaran dalam menghadapi berbagai peristiwa alam.
Pesan ini sangat penting mengingat hasil kajian resiko bencana provinsi Sulawesi Tengah tahun 2022-2026 menunjukkan status Kabupaten Poso di posisi tinggi untuk kategori kerentanan atas beberapa jenis bencana, diantaranya gempa bumi dan tsunami. Sedangkan kapasitas untuk menangani bencana atau Indeks Ketahanan Daerah (IKD) di Sulteng adalah sedang.
Ditengah kurangnya kapasitas negara mengatasi bencana seperti dalam kasus banjir bandang Sumatera baru-baru ini maka pengetahuan lokal sebagai senjata mitigasi sebaiknya mulai menjadi perhatian. Termasuk mempersiapkan kemandirian pangan dan obat-obatan tradisional di setiap desa
(Foto : Grafik IKD Sulteng)




