Etnobotani di Ritual Adat Suku Pamona : Jejak Tradisi Lama yang Menghormati Alam

0
178
Kuliner asli Poso di Festival Mosintuwu. Foto : Dok. Mosintuwu/Lian

Meski semakin jarang, sebagian orang Pamona masih mempercayai hal-hal yang bersifat supranatural dalam kesehariannya. Itu bisa dilihat dari beberapa ritual adat yang masih dipraktekkan secara turun-temurun sejak dahulu kala. Umumnya ritual ini berkaitan dengan jenis tumbuh-tumbuhan yang ada disekitarnya.

Ketua Majelis adat Pamona di Desa Buyumpondoli Y. Rameode  mengatakan sedikitnya ada 11 jenis tumbuhan yang jadi bahan utama hingga pelengkap dalam aktifitas ritual adat.

Pertama, Kalopo ‘Kongkoli’  (Calopogonium mucunoides) dan Rotan “Lauro” (Calamus minahasae) sebagai pengikat tiang untuk membuat “Sabua” (tenda yang didirikan saat pesta perkawinan adat maupun upacara kedukaan).

Penggunaan hasil alam, juga terlihat dalam upacara lainnya seperti prosesi lamaran. Dalam ritual ini digunakan 7 buah Pinang untuk“Mamongo” (Areca catechu), 7 lembar daun Sirih “Laumbe” (Piper betle), segenggam Tembakau “Tabako” (Nicotiana tabacum) dan Bambu “Woyo” (Bambusa spp) sebagai wadah untuk minum.

Dalam kesenian tumbuhan juga menjadi unsur penting. Diantara gerakan gemulai jari-jari penari Motaro, terselip daun Soi (Cordyline fruticosa). Tanpa daun Soi, tarian ini tidak bisa dilakukan, sebab fungsinya sebagai media untuk mengusir roh jahat. Sama dengan keyakinan kebanyakan suku-suku di Sulawesi Tengah tentang buah Jeruk Nipis “Lemo mPolea” (Citrus hystrix) mampu bikin roh jahat hingga ‘Pongko’ kabur karena mencium baunya. 

Bukan hanya dalam kehidupan. Setelah meninggal pun, orang Pamona masih terhubung dengan alamnya.Kita bisa lihat dalam penggunaan kayu Polo (Turpinia sphaerocarpa) untuk membuat peti jenazah. Kayu ini dipilih karena bisa bertahan lebih lama dalam menghadapi rayap.

Baca Juga :  Danau Poso, Danau Purba Bukti Terbentuknya Pulau Sulawesi & Potensi Geopark

Jika berkaitan dengan makanan. Kita bisa menemukan Pongas, beras ketan (Oryza sativa Var. glutinosa) yang difermentasi sehingga menghasilkan sedikit alkohol didalamnya serta Inuyu, beras yang dimasak didalam bambu.

Selain itu minuman yang wajib disediakan pada padungku adalah Saguer atau Baru, minuman beralkohol yang disadap dari pohon Enau “Konau” (Arenga pinnata). Dalam produksi lanjutannya ada “Cap Tikus” yaitu minuman beralkohol hasil dari penyulingan Saguer.

Hingga kini masih banyak masyarakat adat yang bermukim di Sulawesi Tengah memiliki kepercayaan yang bersifat magis, dimana ritual-ritual seperti ritual pengobatan, ritual kematian, ritual pernikahan, ritual kelahiran, ritual mengusir roh jahat, adat mendirikan rumah, dan ritual syukuran masih dipraktekkan dengan beberapa penyesuaian. Penyesuaian itu berkaitan dengan agama.

Masuknya agama Samawi membuat ritual-ritual tersebut menyesuaikan diri. Namun yang tidak berubah adalah penggunaan tumbuhan sebagai bahan perlengkapan dalam prosesi ritual adat 

Penghormatan terhadap alam dan isinya berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat Poso jauh sebelum datangnya agama Samawi yang dibawa para pendakwah baik Islam maupun Kristen. Agama misi ini kemudian menggusur sistem kepercayaan lama yang menghormati alam. Jejak-jejak penghormatan terhadap alam itu, meski semakin kecil masih tersisa dalam beberapa tradisi seperti membuka lahan kebun hingga menanam di beberapa desa.

Baca Juga :  Masyarakat Adat Danau Poso Tuntut Poso Energi Tutup Bendungan PLTA Poso I

Dalam catatan budayawan Poso, J. Hokey, sebelum kedatangan Albertus Christiaan Kruyt dan Nicolaus Adriani memperkenalkan Kristen di Tana Poso, orang-orang tua dahulu mengenal 3 Tuhan yaitu Pue mPalaburu, (pemilik kehidupan, bumi dan seisinya), Pue nDisongi (sumber kekuatan) dan Pue nto Aralindo, (penguasa alam roh, alam kematian).

Konsep tuhan ini menyatukan masyarakat Poso saat itu dengan alamnya, terutama karena praktek-praktek ritual yang berkaitan dengan penggunaan tanaman sebagai unsur pentingnya. Itu sebab orang zaman itu menghargai alam dan memeliharanya.

Para perempuan desa di Festival Mosintuwu 2016. Foto : Dok.Mosintuwu/Ray

Etnobotani Pamona, Ceritanya Sekarang 

Hingga kini sebagian di desa-desa di kabupaten Poso masih memanfaatkan tumbuhan dalam ritual adat, bahan bangunan, rempah, bahan makanan, maupun obat tradisional, sementara di kota kini  sudah mulai menggantinya dengan obat-obatan kimia dengan alasan praktis ketimbang obat tradisional.

Pilihan hidup praktis turut merubah cara pengobatan alami. Dahulu orang sakit biasa mo Wurake (doa memohon pertolongan memakai daun Soi sebagai media), sejak masuknya agama langit ke Tana Poso, praktik itu dihapus perlahan. Bukan cuma soal kesehatan. Penggunaan bahan untuk mewarnai juga berubah dari tumbuhan ke cat membuat bahan-bahan alami terlupakan. Kini praktik pewarnaan alami masih digunakan warga desa Kelei kecamatan Pamona Timur untuk mewarnai Bingka Lora sebagai wadah makanan anti serangga.

Baca Juga :  Dokumen Warisan Geologi, Langkah Menuju Geopark Danau Poso

Beberapa faktor yang membuat praktik penggunaan tanaman sebagai bagian penting (selain makanan) dalam kehidupan sehari-hari semakin menghilang karena dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman modern plus dianggap bertentangan dengan ajaran agama modern.

Proses kehilangan ini semakin cepat karena pewarisan pengetahuan kepada generasi baru tidak disertai dengan dokumentasi yang lengkap. Kurangnya budaya tulis dimasa lalu menyebabkan, banyak kebiasaan yang hanya diwariskan lewat tutur yang hilang seiring berpulangnya para penutur.

Ngkai Y. Rameode bercerita tentang kekayaan alam kita bagaikan tanah Kana’an. Sebagian besar kebutuhan hidup sehari-hari yang berasal dari tanaman tersedia disekitar kita. “Hanya orang malas yang akan lapar”katanya. “Tapi orang rakus juga akan memanfaatkan apa yang ada di alam tanpa menyisakan untuk generasi selanjutnya”.

Agar pengetahuan leluhur tidak hilang, melestarikan alam harus jadi agenda yang disampaikan kepada generasi muda sejak dini. Menuliskan kembali pengetahuan Etnobotani leluhur menjadi satu cara yang bisa digunakan sebagai bahan pelajaran di sekolah.

Penulis : Kurniawan Bandjolu

Editor : Lian Gogali

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda