Molanggo di Poso : Tradisi Tidak Tidur untuk Solidaritas

0
108
Bekerja bersama membuat piring tempat malam di malam Molanggo sebelum acara penanaman padi di Desa Malitu. Foto : Dok.Mosintuwu/Lian

Setiap ritual merupakan doa. Sebuah permohonan kepada penguasa alam semesta, yang memimpin dan melindungi manusia. Dari keyakinan inilah tradisi Molanggo lahir. Molanggo berasal dari bahasa Bare’e dari kata dasar Langgo yang artinya tidak tidur. Sebuah tradisi yang hadir saat mempersiapkan perayaan Padungku, membuka lahan kebun, pernikahan maupun kematian pada suku Pamona. Padanan kata di zaman sekarang? Begadang. 

Molanggo tentu bukan sekedar begadang ala anak muda di café atau di dekker. Ada keyakinan spiritual yang mengiringinya. Kita terjaga semalaman untuk berjaga-jaga agar roh jahat tidak mengganggu perayaan keesokan harinya.  Para tetua, mereka yang dituakan di kampung akan menetapkan tahapan-tahapan ritual yang akan dilakukan. Yang disesuaikan dengan bahan dan alat yang akan digunakan, kemudian siapa yang akan melaksanakan, apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, apa yang tidak boleh atau pantang dilakukan. 

Sejak sore di hari Molanggo, semua orang di kampung, keluarga dari luar kampung, akan terhimpun. Berkumpul dalam satu tempat atau di rumah pesta, bekerja bersama, makan bersama, dan berbagi cerita. Pada malam hari orang-orang berkumpul, biasanya di baruga atau dirumah, membicarakan beragam hal sambil menyiapkan kebutuhan pada hari kegiatan.  Topik-topik lain termasuk soal sosial dan kekerabatan berkembang dibicarakan dalam Molanggo. 

Molanggo memiliki aturan. Tidak sembarangan mempraktekkan ritual ini. Misalnya, ada perbedaan ketika kita melaksanakannya di Baruga dengan ketika dilaksanakan di Lobo atau diladang. Yang membedakannya adalah Langgonya. 

Lalu mengapa Molanggo itu penting bagi orang Poso dan apa sebenarnya maknanya ?Selain memastikan perayaan berlangsung selamat tanpa kekurangan apapun, tradisi ini sebenarnya menegaskan pembagian tugas dalam komunitas.  Saat warga berkumpul, para tetua adat akan membagi tugas, menetapkan tahapan yang harus dikerjakan sesuai dengan bahan yang tersedia. Siapa mengerjakan apa, bagaimana melakukannya. Dan yang tidak kalah penting adalah wanti-wanti, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. 

Jadi Molanggo sebenarnya kebijaksanaan tentang bagaimana sesuatu disusun dan dilaksanakan dengan seimbang. Tidak ada yang kurang dan berlebih. Ini tentang kesederhanaan dan penghormatan pada alam semesta, pada kehidupan yang seimbang dengan alam. Tidak ada keserakahan (berlebihan). Tanpa prinsip ini, begadang pada malam sebelum perayaan tidak dapat disebut Molanggo.

Baca Juga :  Sekitar Kita Belum Percaya Covid Berbahaya

Dahulu semua perayaan termasuk membuka lahan kebun juga melaksanakan Langgo. Ini menunjukkan orang Pamona sangat lekat hubungannya dengan alam semesta. Setiap acara atau ritual orang Pamona, selalu akan dimulai dengan Molanggo.  Seperti untuk Susa mpemate(ritual mencari tulang belulang), dalam perayaan ini maka Molanggo dilaksanakan di Lobo. Susa Padungku(pesta panen), maka Molanggo diadakan di Baruga. Molanggo Mampepali Yopo (membuka lahan baru) akan dilakukan di pondok di kebun atau ladang.

Molanggo untuk membuka lahan baru juga saat menanam masih rutin dirayakan di Desa Malitu, kecamatan Poso Pesisir. Beberapa desa lainnya terutama di wilayah dekat perkotaan seperti Tentena dan sekitarnya, Molanggo lebih sering diadakan di pesta pernikahan maupun kematian.  Molanggo masih tetap dilakukan sebagai malam persiapan acara, biasanya dirumah mempelai perempuan yang akan melaksanakan pesta pernikahan. Namun sifatnya lebih membicarakan hal teknis. Misalnya, menetapkan orang-orang yang akan bertugas dalam seremonial keesokan harinya.

Pembicaraan ini berkaitan dengan posisi pihak perempuan yang disebut Mampeta’a Linggona, artinya menanti kedatangan mempelai laki-laki Bersama rombongan keluarganya. Sedangkan di rumah mempelai laki-laki, dilakukan persiapan apa saja yang akan dibawa ke rumah mempelai perempuan, siapa yang bertugas. Di malam Molanggo ini juga dihitung Sampapitu, Wata Oli, dan lain-lainnya. Intinya mematangkan persiapan, jangan sampai ada yang tercecer.

Baca Juga :  Sederhana, Milik Natal 2020
Masak bersama, salah satu kegiatan Molanggo sebelu acara menanam padi di Desa Malitu. Foto : Dok.Mosintuwu/Lian

Molanggo Menghindari Muli.

Molanggo bagi orang tua Poso dahulu bukan hanya soal ritual , tapi juga soal Muli. Muli, sebuah aturan yang melarang pernikahan antar sanak saudara sampai pada turunan ke empat. Karena itu, selain bermakna sebagai malam doa dan persiapan, saat Molanggo ada kesempatan semua keluarga yang telah tinggal berjauh-jauhan akan berkumpul, melepas rindu, dan berbagi cerita, juga untuk saling memperkenalkan Muli atau keturunan masing-masing. 

Dalam kebersamaan inilah terjalin suasana kekeluargaan, disertai juga dengan adanya pengumuman-pengumuman. Misalnya jika ada anak dari satu keluarga yang akan meminang atau akan dinikahkan, akan ditelusuri berdasarkan silsilah. Jika ada hubungan yang dekat (Muli) biasanya akan langsung dibicarakan dengan serius, boleh tidaknya dilihat dari sudut adat orang Pamona yang melarang keturunan sampai yang keempat untuk menikah atau dinikahkan. 

Molanggo pada akhirya berfungsi agar tidak ada kerabat yang bertemu tapi tidak saling mengenal, lalu menjalin hubungan cinta atau katakanlah pacaran lalu menikah tanpa mereka ketahui kalau masih memiliki hubungan darah.  Ini bukan hanya karena ingin romantisme kehidupan desa yang hangat, indah dan jujur. Tapi lebih dari itu, Molanggo punya peran penting menjaga generasi yang akan datang menjadi manusia yang tidak didera beragam penyakit.

Mengapa Muli ini penting? Dalam adat istiadat orang Pamona, sampai pada keturunan yang keempat, pantang satu pasangan untuk dinikahkan. Tentu ada kebijaksanaan yang melatarbelakangi munculnya larangan ini sejak teknologi kedokteran belum maju seperti sekarang. Larangan itu, sesuai dengan saran para ilmuwan, pakar kesehatan yang ratusan tahun kemudian memperingatkan bahaya pernikahan sedarah berdasarkan riset ilmiah.

Ahli penyakit dalam yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), prof dr. Ari Fahrial Syam mengatakan, dunia medis tidak menganjurkan pernikahan sedarah. Sebab anak yang lahir dari pernikahan sedarah beresiko tinggi lahir cacat. Dalam pengalamannya dr Ari Fahrial, menemukan dampak yang paling berbahaya dari praktik pernikahan sedarah ini adalah anak yang lahir cacat, down syndrome, talasemia, kelemahan otot tubuh, mata tidak normal, hingga kelainan genetik lainnya.

Baca Juga :  Menjadi Pemimpin Perempuan di Lembah Lebanu PosoBecoming Women Leader

Kini Molanggo semakin jarang dilakukan. Kekerabatan juga semakin merenggang, terutama yang tinggal dan hidup dengan kultur masyarakat urban yang individual dan mengutamakan cara praktis, untuk tidak bilang, tidak mau repot. Akhirnya Molanggo perlahan hilang.

Dari tradisi seperti inilah kekerabatan masyarakat terpelihara. Solidaritas terjaga, sehingga ketika ada yang membutuhkan bantuan, serentak warga desa akan bergerak. 

Seiring zaman, tradisi ini mulai menghilang. Ikatan kekerabatan dan solidaritas juga mulai surut. Untungnya, beberapa desa di kabupaten Poso, masih memelihara tradisi ini.  Kekerabatan dan solidaritas warganya masih tinggi

Memang, dalam banyak pengalaman, banyak orang Poso yang sukses di kota tetap pulang kampung untuk merayakan pesta pernikahan atau perayaan kematian. Namun bagian Molanggo bukan hal yang dirayakan sebagaimana prinsip-prinsip dan tujuannya.

Yang menjadi tantangan beratnya adalah pandangan bahwa, sekarang semua harus serba praktis. Jika sesuatu bisa dilaksanakan dengan mudah, kenapa harus dipersulit. Ini adalah salah satu ciri pemikiran umum masyarakat urban. Akibatnya, Molanggo perlahan dianggap bukan hal praktis yang menguntungkan

Bisakah Molanggo tetap menjadi  perekat yang membuat masyarakat saling terhubung secara budaya? Ini tidak mudah. Sebab Molanggo, melekatkan orang pada hubungan emosional, kesakralan dengan alam dan penguasa alam semesta. Sehingga bukan sekedar begadang malam hari sebelum kegiatan.

Penulis : Iin Hokey

Editor : Lian Gogali

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda