Puting Beliung di Poso dan Siklus Tropis Surigae

0
469
Atap gereja di Meko yang rusak berat karena puting beliung Sabtu, 17 April 2021. Foto : Dok. Mosintuwu/Marno

Lompiu, demikian orang Poso menyebut puting beliung. Lompiu bukan peristiwa yang baru bagi warga Poso. Dalam 27 tahun terakhir, 4 kali peristiwa puting beliung terjadi di Kabupaten Poso.

Peristiwa Lompiu terakhir sebelum tulisan ini adalah yang menerjang desa Meko kecamatan Pamona Barat pada hari Sabtu 17 April 2021 sekitar pukul 16:45 wita. Satu orang warga meninggal dunia, 1 rumah warga rusak berat, 1 gereja rusak berat, puskesmas Meko juga rusak berat. Ini merupakan peristiwa ketiga kalinya sejak tahun 1994 lalu di desa itu. 

Dalam catatan Kepala desa Meko, Gede Sukaartana, Lompiu juga terjadi pada tahun 1994 dan tahun 2000. Lompiu tahun 1994  merusak sedikitnya 27 rumah warga. Meski digambarkannya terjangan puting beliung saat itu lebih kuat namun tidak ada korban jiwa. Lompiu tahun 2000 menyebabrkan 4 rumah warga yang rusak berat. 

Berbeda dengan peristiwa tahun 1994 dan 2000, Lompiu kali ini menimbulkan korban jiwa. Beberapa saksi mata menuturkan, puting beliung datang dari arah danau Poso. Korban, seorang perempuan berusia 24 tahun sedang berada di dalam rumah . Korban berusaha keluar untuk menyelamatkan diri saat deru angin berada di atap rumahnya. Namun saat keluar rumah itu, sebatang balok dari reruntuhan atap gereja menyambarnya. Korban sempat dilarikan ke Puskemas, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka yang dialaminya. Peristiwa ini menambah duka bagi warga desa Meko yang dalam sepekan terakhir menghadapi duka karena ada 5 orang warga meninggal dunia.

4 tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 21 Juli 2017 sekitar pukul 15:30 wita, puting beliung juga menerjang desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara. Peristiwa itu  menyebabkan satu rumah warga rusak parah, satu Kantor Balai Benih Ikan rusak ringan serta sejumlah sawah juga rusak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa di Napu itu. Pada saat puting beliung menerjang, pemilik rumah sedang bekerja di kebun hingga selamat dari kejadian. 

Di wilayah Tentena dan sekitarnya, puting beliung juga sering terjadi, namun tidak begitu besar sehingga tidak merusak rumah warga.

Baca Juga :  Robi Navicula dan Suara Kemakmuran di Desa
Warga mengambil kembali sisa-sisa atap seng yang terbang ke wilayah persawahan saat puting beliung Sabtu, 17 April 2021 terjadi. Foto : Dok.Mosintuwu/Marno

Dalam berbagai literatur disebutkan, peristiwa alam ini muncul karena adanya bentrokan antara udara hangat yang lembap dengan udara dingin yang kering. Udara dingin yang lebih padat didorong oleh udara hangat. Udara hangat naik melalui udara yang lebih dingin, menyebabkan aliran udara ke atas. Udara panas yang naik itu akan mulai berputar jika kecepatan atau arah angin berubah tajam.

Saat udara panas berputar, yang disebut mesocycle, akan menarik semakin banyak udara hangat dari badai yang bergerak dan kecepatan rotasinya meningkat. Udara dingin yang diumpankan oleh aliran jet atau gelombang angin yang kuat di atmosfer, memberikan lebih banyak energi. Tetesan air dari udara lembap mesocyclone membentuk awan corong. Corong terus berkembang dan akhirnya turun dari awan. Saat menyentuh tanah, hal ini menjadi angin puting beliung.

Puting Beliung  dan Siklon Tropis Surigae di Sulawesi Tengah

Dalam catatan redaksi mosintuwu.com , dalam 27 tahun terakhir, sebanyak 11 kali puting beliung menerjang wilayah Sulawesi Tengah. Terbanyak di Kabupaten Poso, yakni 4 kali,  1 kali di kabupaten Morowali, 1 kali di kabupaten Parigi Moutong, 2 kali di kabupaten Luwuk, 2 kali di kota Palu,2 kali di kabupaten Donggala.

Menurut BMKG, peristiwa di Meko adalah bagian dari fenomena siklon tropis Surigae. Lembaga ini belum bisa mendeteksi sejauh mana dampak terparah yang ditimbulkan badai tersebut, karena wilayah Sulteng hanya mendapat imbas dampak tidak langsung.  

Penamaan siklon atau badai tropis Surigae ini dilakukan oleh Japan Meteorogical Agency (JMA), termasuk analisis dan pergerakannya. Sebelumnya bibit siklon ini bernama 94W. Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin menjelaskan Siklon Tropis Surigae mulai terbentuk pada 14 April 2021 pukul 04.00 WIB. Adapun kemunculannya di Pasifik Barat sebelah utara Papua, tepatnya di 8.2 LU – 137 BT (sekitar 1050 km sebelah utara Biak). 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palu telah mengimbau warga di Provinsi Sulawesi Tengah agar tetap waspada terhadap ancaman fenomena siklon tropis. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Al-Jufri Palu Nur Alim mengatakan, Sulteng termasuk salah satu daerah yang mengalami pengaruh tidak langsung atas dampak siklon tropis Surigae. Puncak fenomena siklon tropis ini pada Minggu lalu. Kabupaten Poso dan wilayah-wilayah lain kemungkinan akan mengalami dampak tidak langsung siklon tropis, sehingga pemerintah maupun warga agar melakukan langkah antisipasi jika terjadi kemungkinan buruk.

Baca Juga :  Temu Kenal Budaya Waropen Papua - Poso : Kuatkan Semangat Berdaulat atas Tanah dan Air

Dampak tidak langsung itu menurut  Nur Alim yakni terjadi angin kencang, lalu tinggi gelombang mencapai 2,5 meter dan terjadi fenomena hujan lebat. Hujan lebat dan angin kencang tergantung spot di wilayah masing-masing.

BMKG juga memprediksi, cuaca buruk akibat dampak fenomena siklon mulai pukul 14.00 WITA dan seterusnya dengan siklus tumbuh kembang sekitar tujuh hari, yang mana badai tersebut tumbuh pada Jumat 16 April dan salah satu dampak ditimbulkan seperti angin puting beliung yang menimpa wilayah desa Meko, pada Sabtu 17 April mengakibatkan sejumlah rumah warga dan rumah ibadah rusak.

Sejarah Puting Beliung di Sulawesi Tengah

Di Sulawesi Tengah, sejak tahun 2013 Lompiu terjadi paling banyak di kabupaten Poso, Palu dan Luwuk. Berikut daftarnya :

  1. 21 Februari 2013 di Parigi Moutong, 2 orang meninggal dunia dan empat orang luka berat tertimpa pohon beringin yang tumbang dihantam angin puting beliung , :antaranews.com
  2. 27 Februari 2013 di Morowali : Lokasi bencana puting beliung yang merusak 64 rumah dan melukai tiga warga di Desa Togo, Kecamatan Petasia. Akibat bencana itu, 11 rumah rusak berat, 53 rumah rusak ringan dan sebuah tempat ibadah hancur.    antaranews.com 
  3. 21 Juli 2017 lalu sekitar pukul 15:30 wita, puting beliung juga menerjang desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara. Peristiwa itu  menyebabkan satu rumah warga rusak parah, satu Kantor Balai Benih Ikan rusak ringan serta sejumlah sawah juga rusak.
  4. 28 Desember 2018 di kota Palu : 30 dari 330 Kepala Keluarga di Kamp Pengungsian di kelurahan Duyu, kehilangan tenda akibat diterjang angin puting beliung        antaranews.com  
  5. 29 Maret 2019, di kecamatan Banawa Donggala,  Di Kabupaten Donggala terjadi angin puting beliung menerjang permukiman penduduk di Kelurahan Boneoge, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Akibat terjangan angin puting beliung tersebut, lima rumah warga rusak berat.
  6. 22 Januari 2020, di kota Palu : Angin puting beliung melanda sebagian wilayah Kota Palu Timur, Sulawesi Tengah di kawasan Tondo, Kecamatan Mantikulore Kota Palu Timur sekitar pukul 10:15 wita. Akibatnya atap rumah warga ambruk dan beberapa toko baju mengalami kerusakan.Kejadian itu sempat membuat kemacetan. gemasulawesi.com
  7. 14 Maret 2020 di Donggala:  akurat.co
  8. 12 maret 2021 di Luwuk :pikiran-rakyat.com
  9. 19 Maret 2021 di Luwuk : inews.id
  10. 17 April 2021 di Poso : kompas.com
Baca Juga :  Kwatirkan Budaya Poso, Anak Muda Tolak Pengerukan Danau

BNPB mencatat, sejak Januari hingga Maret 2021, puting beliung sudah terjadi sebanyak 171 kali diseluruh Indonesia.  Sedangkan tahun 2019, dari 3,383 kali bencana di Indonesia, yang terbanyak adalah puting beliung, yakni 1,127 kali. 16 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, serta 177 orang mengalami luka-luka. Kerusakan rumah dan bangunan mencapai 22,588 unit. 

Belajar dari sejarah Lompiu atau puting beliung di Sulawesi Tengah, khususnya Kabupaten Poso, pola mitigasi bencana saat Lompiu terjadi menjadi penting disosialisasikan.  Peristiwa Lompiu yang memakan korban jiwa di Meko menggambarkan masih kurangnya pengetahuan mitigasi bencana pada warga saat Lompiu terjadi. 

Bagikan
Artikel SebelumnyaParalegal : Tentang Rakyat Yang Berjuang dan Ketidakhadiran Negara
Artikel SelanjutnyaKartini dan Kisah Perempuan Memimpin Desa di Poso
Pian Siruyu
Pian Siruyu, jurnalis dan pegiat sosial. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan sejak konflik Poso. Sejak 2005 aktif menulis di surat kabar lokal dan media online. Sekarang aktif menulis tentang isu ekonomi, sosial, politik di Kabupaten Poso dan Sulawesi Tengah untuk media Mosintuwu termasuk berita di Radio Mosintuwu

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda