Mencari Air : Seperti Padang Pasir di Bukit Bambu

0
565
Antrian mencari air di Bukit Bambu. Foto : Dok.RayRarea

Pagi itu, ibu Nil sampai di sumur sudah agak telat. Air sumur sudah mulai keruh . Rupanya debitnya sudah sangat kecil hingga hampir habis. Namun dia tetap menimba meskipun bibir ember kecil yang dipakainya hampir menyentuh tanah berpasir di dasar sumur. Itu tanda, dirinya adalah orang kesekian yang menimba air sepagi itu. Setiap subuh, ibu Nil bergegas dari rumahnya melewati jalan yang curam dan licin untuk bisa dapat air di sumur. Hari ini dia terlambat. Air sumur sudah mulai keruh.

Sebelum ibu Nil, ada Mama Beis warga lainnya yang sudah lebih dahulu datang. Di sebelah mereka juga ada puluhan jerigen yang sudah terisi da puluhan lainnya yang masih kosong.

Sambil menunjuk jejeran jerigen yang sudah berisi air, mama Beis mengatakan “Itu punya orang yang jam 3 subuh sudah datang ba isi   ( mengisi ) jerigen”.

Hari itu mama Beis juga terlambat datang ke sumur.  Mama Beis harus pergi menjual sayur dan buah hasil kebunnya ke Pasar Sentral Poso. Sampai di sumur, dia hanya mendapatkan sisa-sisa air yang sudah sampai di dasar sumur. Sudah keruh. Namun begitu, dia tetap menimba untuk mengisi semua jerigen. Sudah dua kali dia bolak balik sumur ke rumah. 

Saat membawa jerigen terakhir, Mama Beis dan ibu Nil Lagole bertemu ibu Saida yang juga baru mau pergi mengambil air. Ibu Nil mengatakan kepadanya kalau air di sumur sudah tinggal sedikit.

Saida bergegas mengeceknya. Air memang sudah nyaris tandas. Setelah menunggu beberapa saat, dia mulai menimba perlahan-lahan supaya air tidak terlalu keruh.  Saida mengatakan, setiap hari jika sudah mendekati pukul 07.00 apalagi pukul 08.00 pagi maka waktu untuk mengisi jerigen semakin lama.

Bukit Bambu, bukanlah padang pasir. Letaknya tidak terpencil di salah satu sudut desa di Kabupaten Poso. Sebaliknya, wilayah yang sebelumnya bernama Buyumboyo ini berjarak hanya 2 km dari pusat ibu kota Kabupaten Poso, kota Poso. Tidak lagi berstatus desa, tapi kelurahan, sebuah status yang menjaminkan pengurusan administrasi desa dibawah penanganan kecamatan dan kabupaten. Bukit Bambu, bukan padang pasir, tapi sudah 50 tahun kisah mereka seperti di padang pasir. 

Setiap hari, meski hari masih gelap, namun keriuhan sudah terdengar di sumur. Satu-satunya sumur di Bukit Bambu yang masih berfungsi. Sejumlah warga sudah mulai mencuci dan menampung air di jerigen, ember hingga loyang. Pengalaman mereka tidak jauh berbeda dengan ibu Nil, Mama Beis dan ibu Saida. 

Jangan membayangkan air yang sudah dibawa ke rumah bisa langsung dimasak. Masih butuh waktu. Air harus dididihkan lebih lama,  kemudian didiamkan beberapa saat sampai kapurnya turun. Air masak itu disaring lagi. Setelah itu barulah siap di minum.

Baca Juga :  Membangun Rumah KITA di Poso, Agar Desa Tidak Ditinggalkan
Anak-anak muda di Bukit Bambu sehabis berolahraga, mengantri untuk mandi dan membawa air untuk di rumah. Foto : Dok.RayRarea

Jika untuk kebutuhan dasar seperti minum saja agak susah, lalu bagaimana untuk mandi. Setiap sore, aktifitas olahraga ramai. Banyak warga datang berolahraga sudah dengan handuk dan peralatan mandi lainnya. Setelah olahraga dan agak sedikit gelap barulah ramai-ramai pergi ke sumur untuk mandi.

Di sumur mereka harus menimba dengan pelan. Salah menimba akan berdampak buruk, air keruh yang akan disiramkan ke badan. Untuk mengisi 1 loyang berukuran besar, butuh waktu 30 menit.

Agar semua bisa mandi maka 1 loyang bisa digunakan untuk 6 orang. 

“Begini saja. Satu orang, satu kali ba siram, lalu ba sabun e” kata Bruce salah seorang remaja kepada teman-temannya. Lalu mandilah mereka.

Jumlah air semakin sedikit karena sudah banyak orang yang mengambil sejak pagi. Menengok ke dalam, sumur sudah terlihat dasarnya yang berpasir. Mereka mencari solusi dengan menimba sedikit demi sedikit air untuk ditampung di sebuah loyang. Ini memakan waktu 30 menit. Setelah loyang penuh, mereka akan berbagi air untuk mandi. 6 orang memanfaatkan 1 loyang kecil berisi air.

Bukit Bambu bukan padang pasir. Bukit Bambu terletak dengan ibukota Kabupaten Poso. Secara administratif masuk dalam kecamatan Poso Kota Selatan. Letaknya gampang diketahui dari tower-tower telekomunikasi yang menjulang. Dari ketinggian letak Bukit Bambu kita bisa menikmati kilau air sungai Poso yang membelah kota Poso.  Sungai Poso menjadi sumber air utama warga kecamatan Lage, Poso Kota Selatan, Poso Kota Utara dan Poso Kota. PDAM Poso juga mengambil air sungai ini untuk disalurkan kembali ke pelanggannya. kecuali Bukit Bambu.

Baca Juga :  The Power of Mama-mama Poso : Mereka di barisan depan perubahan

Di Alun-Alun kota, ada taman air mancur yang indah. Namun semua yang melimpah itu tidak dinikmati warga Bukit Bambu.

Ketika memasuki perkampungan. Salah satu pemandangan yang umum ditemukan adalah banyaknya penampungan air di rumah-rumah. Tinggal di Bukit Bambu memang butuh tempat penyimpanan dan penampung air hujan. 

Air sudah menjadi persoalan utama bagi orang di Bukit Bambu sejak puluhan tahun lalu. Untuk mendapatkan air, setiap orang harus bangun lebih cepat agar dapat jatah air dari 3 sumur yang ada dikampung itu. Terlambat bangun, alamat akan dapat lumpur.

Ibu Bea, misalnya, setiap dinihari dia bersama warga lain, mayoritas perempuan, mulai menimba air di sumur yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Bukan hanya membawa jerigen untuk menampung air. Sekaligus dia membawa pakaian untuk di cuci.

Keriuhan semakin terlihat kala anak-anak yang hendak ke sekolah ikutan mandi sementara ibunya mencuci pakaian. 

“Kalau musim hujan, masih berlimpah air, kalau musik kemarau menderita, pokoknya sore baku pikir  ( berpikir ) memang jam berapa mau datang ba isi  ( mengisi ) memang. Berani kesiangan tidak dapat air.  Pece ( lumpur )  yang didapat”, kata Bea.

Sebenarnya di tengah kampung ada sebuah bak penampungan air. Namun sudah 2 tahun tidak lagi berfungsi. Menurut ibu Nil Lagole, biasanya kalau bak penampungan air penuh, warga sedikit tertolong karena sumber air jadi lebih dekat. 

Y Lagimbana, ketua adat Bukit Bambu menceritakan, persoalan air di kampung mereka sudah berlangsung lama. Sejak tahun 1950an. Waktu itu jumlah penduduk disini masih sekitar 90 kepala keluarga. Untuk mendapatkan air mereka menggali beberapa sumur di lereng lereng pinggir kampung. Sumur-sumur itu kemudian dikelola agar semua warga mendapatkanya secara merata. 

Masalah air, muncul lagi sekitar tahu 80an ketika tanah longsor menimpa sumur-sumur warga. 

Tabelah itu tanah so te ada torang punya air. Sedangkan tiang listrik so tidak ada dapa liat. So ke bawah” kenang Pak Lagimbana tentang peristiwa yang membuat sampai hari ini masyarakat Bukit Bambu kehilangan sumber airnya. 

Tidak patah semangat, warga kemudian mencari sumber air lain. Dibuat lagi sumur meskipun jaraknya lebih jauh dari kampung. Namun debit airnya tidak terlalu banyak. Jika kemarau debitnya berkurang drastis.

Baca Juga :  Musik , Persembahan untuk Alam dan Budaya Poso

“Tapi susahnya kalau dia musim panas torang kekurangan air sehingga torang pernah usul ke pemerintah untuk kaseh nae air” katanya.

Antrian mencari air di Bukit Bambu. Foto : Dok.RayRarea

Sekarang di Kelurahan Bukit Bambu terdapat 3 sumur yang menjadi sumber air masyarakat. Jaraknya sekitar 100 meter dari pusat pemukiman. Namun debitnya tidak mencukupi kebutuhan warga. Itu sebabnya sejak dinihari kampung sudah ramai oleh orang-orang yang bergegas pergi menimba air. Sebab semakin siang, air di dasar sumur sudah keruh.

Bagi yang tidak kebagian air biasanya membawa semua penampung air yang bisa dibawa untuk mengambil air ke sungai Poso. Biasanya sekalian mencuci pakaian di sana.

Sudah beberapa kali program dari pemerintah dan swasta diluncurkan untuk menaikkan air di Bukit Bambu. Namun belum ada yang berhasil sampai sekarang. Terakhir adalah sebuah proyek dari salah satu bank daerah yang dilaksanakan tahun 2020 lalu. Namun juga belum bisa mengalirkan air. PDAM Poso juga belum sanggup menaikkan air kesini mengingat letaknya lebih rendah daripada posisi Bukit Bambu.

Y Lagimbana berharap, program untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga bisa dilakukan dengan lebih baik di masa mendatang. Sebab proyek-proyek dengan perencanaan kurang matang seperti yang sebelumnya dilakukan, menurut dia hanya membuang-buang uang negara.

Sudah berpuluh tahun, kisah air di Bukit Bambu, seperti kisah di padang pasir. 

Penulis : Ray Rarea

Editor : Lian Gogali

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda