Lian Padele, Teolog Perempuan Poso

0
602
Ilustrasi oleh Erik

Pdt. Dr. Yuberlian Padele. Saya memanggilnya kak Lian. Punya nama panggilan yang sama,  baik saya dan Kak Lian punya beberapa kisah lucu. Kami berdua pernah salah dikirimi email. email ke saya kirimnya ke kak Lian, email ke ke kak Lian terkirim ke saya. Pernah disalah sangka saat diminta jadi narasumber. Termasuk saat mengirimkan karangan bunga . Saya dan kak Lian pernah sambil tertawa bersepakat memastikan nama belakang kami disebutkan saat seseorang menyampaikan kebutuhan . Apalagi, kami sama-sama orang Mori, lahir bertetangga kampung Taliwan dan Tomata, tinggal di Tentena, lokus bekerja di Kabupaten Poso. Kak Lian memimpin Gereja Kristen Sulawesi Tengah lalu memimpin STT GKST  Tentena , sementara saya memimpin organisasi kecil di Institut Mosintuwu. Lian yang besar atau Lian yang kecil, kadang orang-orang paling mudah membedakan secara fisik, dan kami berdua tidak keberatan. 

Saya memang lebih dulu kembali ke Poso, sementara kak Lian masih menyelesaikan program studi doktoralnya di UKSW, Salatiga. Kabupaten Poso bukan tempat pertama kali kami bertemu.  Dian Interfidei, organisasi yang fokus pada isu pluralisme dan multikulturalime tempat kami bertemu dan mulai berdiskusi.  Saat itu saya sedang menyelesaikan penelitian tentang politik ingatan perempuan dan anak dalam konflik Poso.  Kak Lian sedang sibuk dengan penulisan disertasi tentang Pdt. Agustina Lumentut. Pdt.Agustina Lumentut adalah perempuan pertama yang menjabat ketua Sinode GKST . Kak Lian, perempuan kedua yang menjabat sebagai ketua sinode GKST. 

Penelitian saya tentang perempuan dan anak di Poso menjadi kaya dalam diskusi-diskusi singkat dengan kak Lian yang sering mampir di Jogja. Kak Lian menuliskan pemikiran dan tindakan Pdt. Agustina Lumentut sebagai feminis lokal dalam kajian gender justice . Dalam salah satu bagian tulisannya, kami berdiskusi panjang lebar tentang sejarah perempuan Poso, mulai dari masa Tadumburake hingga masa Pdt. Agustina. Tadumburake adalah sebutan pada para perempuan pemimpin spiritual sebelum agama Kristen dan Islam masuk Tana Poso.  Lalu, berdiskusi tentang para perempuan di masa konflik Poso . Pada saat konflik, Kak Lian terlibat aktif pada awal usaha – usaha perdamaian di Poso  

Saya sangat bahagia ketika Kak Lian memutuskan kembali ke Poso . Saya merasa tidak lagi sendirian.  Sungguh senang. Sebelum kembali, kak Lian menelpon saya dan kami bicara soal bagaimana kami bekerja di Tana Poso. Telepon itu mengikat janji kami untuk saling mendukung dan saling percaya. 

Dukungan dan ide-ide mengembangkan gerakan pluralisme di Poso muncul dari cerita bersama dengan kak Lian. Juga tentang kepemimpinan perempuan. Saya belajar dari bagaimana kak Lian menghadapi seluruh dinamika di masa kepemimpinannya di dua organisasi keagamaan. Pilihan kak Lian untuk fokus suatu tema atau topik, ketekunan dan kesabarannya menghadapi semua orang bahkan yang berbeda pendapat dengannya. Menjadi pemimpin di GKST yang sedang berusaha pulih paska konflik, bukan hal yang mudah. Dalam semua kesibukannya menjalankan tanggungjawab sebagai ketua Sinode, kak Lian masih menyempatkan diri mengembangkan ide-ide berteologi kontekstual di Poso. Sekolah lintas iman yang berakar pada sejarah budaya dan pertemuan Islam dan Kristen di Poso, adalah salah satu ide dibicarakan kak Lian. 

Saat kak Lian menjadi ketua Sinode GKST, kami mengandalkan telepon genggam untuk saling menanyakan kabar.  Saya sering bercanda “ kak, itu pagar sinode pendek tapi sulit sekali ditembus lebih mudah ba isi pulsa, jadi kak Lian jo yang ke Dodoha karena kami tidak punya ‘pagar’ “. Dodoha adalah sebutan untuk tempat tinggal saya. 

Saat kak Lian menjadi ketua STT GKST Tentena, kami lebih sering bertemu dan berdiskusi. Saya selalu ringan kaki jika mengunjungi ruangan kak Lian di STT.  Kak Lian juga lebih sering ke kantor Institut Mosintuwu, termasuk untuk rapat bersama. Ide-ide bekerja bersama menjadi lebih terstruktur.  Dalam banyak percakapan, kak Lian selalu menyiratkan kepeduliannya pada mahasiswa/i STT GKST untuk bisa menjadi pelayan yang membumi pada masyarakatnya. Konsep ini antara lain melahirkan ide sekolah keberagaman . Sekolah keberagaman yang kemudian dikembangkan bersama Pdt. Gede Ardyana, memikirkan cara berteologi yang bukan hanya kontekstual tapi juga berpihak pada masyarakat. 

Diantara semua itu, kami juga berjanji setiap hari minggu, kak Lian akan datang beristirahat di dodoha, menikmati angin danau dan keheningan . Seringkali saya yang memaksa, bahkan mengirimkan pesan berulangkali mengingatkan untuk melepaskan diri sejenak dari tanggungjawab pada yang lain.  Hanya sesekali bisa dilakukan kak Lian karena kesibukannya yang melampaui kemampuan fisik dan usianya. Napas panjang kak, kata saya sambil mengingatkan betapa kami membutuhkan kak Lian dengan semua konsep pemikirannya yang cemerlang sehingga kesehatan menjadi penting. 

Lian Padele, ketua STT dan Lian Gogali , direktur Institut Mosintuwu menandatangani kerjasama mengembangkan sekolah keberagaman, 11 Februari 2019 . Foto : Dok. Mosintuwu

Dalam jalin kelindan kepeduliannya pada semua isu kemanusiaan, lingkungan hidup, keadilan dan kesetaraan pada perempuan kak Lian selalu melakukan analisis yang kritis dengan perspektif teologi. Dalam satu tahun terakhir, kak Lian mulai membicarakan teologi semesta. Sebuah cara berteologi yang tidak berpusat pada manusia tapi juga pada alam semesta. Semesta ciptaan.

Baca Juga :  Mereka (Kristen) memberi kami makan, karena itu kami masih hidup

Dalam soal pengerukan sungai Danau Poso oleh PT. Poso Energy, kak Lian mengemukakan perspektifnya tentang teologi semesta.  Kak Lian dalam perspektif tentang teologi semesta mengatakan bahwa ketergangguan daripada seluruh semesta di danau itu berarti juga ketergangguan sosial.  Perspektif yang menguatkan advokasi lingkungan dengan pendekatan kebudayaan. Kutipan pembicaraan saya dengan kak Lian tentang teologi semesta bisa disimak disini   http://www.mosintuwu.com/…/teologi-semesta-dalam…/ 

Ketika orang mentertawakan mitos Danau Poso sebagai landasan perjuangan menjaga lingkungan Danau Poso, kak Lian dengan jelas mengatakan   ( saya kutip dari wawancara saya dengan kak Lian ) : “ Mitos sebagai bagian dari teologi. Saya kira dengan mitos itulah masyarakat masa lalu kita, nenek moyang kita memelihara dengan begitu berhati-hati terhadap air atau sungai yang diberi itu, sungai yang begitu indah. Cara  mereka menjaga, yaitu dengan membangun mitos. Jadi mitos adalah salah satu cara nenek moyang untuk melindungi supaya kekeramatan suatu tempat yang memberi sumber kehidupan tidak diganggu semesta yang ada didalamnya. Justru dengan mitos itu adalah cara untuk memelihara , cara untuk mewariskan, cara untuk melihat dan memahami, dan cara untuk memperlakukan disi dari mitos atau subyek mitos itu. Jadi menurut saya, mitologi itu adalah cara paham teologi dari nenek moyang kita pada masa lalu “

Baca Juga :  Ramadhan di Poso: Menguatkan Perdamaian

Selanjutnya, kak Lian menyebutkan Danau dan sungai Poso terpelihara hingga saat ini dikarenakan warisan mitologi yang diwariskan dari nenek moyang sampai pada kita hari ini. Pemeliharaan alam semesta adalah  nilai kultur dari mitologi . Mitologi itu hidup pada masa lalu dan memiliki efek dalam kehidupan, dalam perilaku, dalam keseharian orang-orang yang hidup dengan mitologi pada masa lalu.  Karena itu, dalam pembicaraan mengenai teologi semesta dalam hubungannya dengan mitologi, menurut kak Lian  jika kita tidak lagi perhatikan mitologi itu maka sesungguhnya kita membunuh mitologi itu.  Membunuh mitologi pada akhirnya mematikan kepekaan kita pada proses pemeliharaan itu.

Saat berbicara, kak Lian memiliki intonasi yang sangat jelas, tegas, membuat siapa saja yang mendengarnya tersihir menyimak berusaha memahami.

Kejelasan dan kelugasan itu juga tercermin dari bagaimana kak Lian berteologi. Berteologi bukan hanya pada konsep pemikiran apalagi hanya di mimbar gereja tapi juga pada aksi langsung. Berteologi adalah bertindak. Demikian kak Lian menyebutnya berulangkali dalam banyak pembicaraan.  Berteologi adalah juga turun langsung di masyarakat. Saat peristiwa pembunuhan keji di Sigi terjadi, pagi-pagi sekali kak Lian menelpon saya menceritakan rencana bersama dengan Jaringan Perempuan Indonesia Timur ( JPIT ) untuk melakukan pendampingan psikososial. Mengajak saya ikut berpikir dan menyusun bersama. Kata kak Lian “ kita tahu bagaimana duka itu bukan hanya soal kehilangan nyawa tapi meneror kemanusiaan kita dengan masif” . 

Saat saya melakukan kajian ekonomi politik, kak Lian memberikan  catatan penting dengan kajian sosio teologis. 

Sesungguhnya bahkan saat beristirahatpun, kak Lian terus memikirkan banyak orang, dan banyak hal.  Hal-hal yang seringkali tidak berkaitan langsung dengan tugasnya sebagai ketua STT. Tidak lagi menjabat sebagai ketua Sinode GKST, dan sibuk menghidupi napas teologi di STT GKST sebagai ketua STT, kak Lian adalah pendeta perempuan yang paling menunjukkan kepedulian pada nasib jemaat orang miskin dan tertindas. Kepedulian yang didasarkan pada pemikiran teologi pembebasan. Kepedulian yang bukan hanya disampaikan dalam pemikiran tapi dikerjakan dengan tekun.

Baca Juga :  Dulu Tak Berani Melintas, Kini Saling MenginapThe Story of Women in Post Conflict Zone

Awal Desember 2020, di tengah kesibukannya melakukan rapart-rapat akhir semester di STT GKST Tentena, melakukan ujian skripsi, persiapan wisuda mahasiswa/i STT, melakukan pelayanan di beberapa kelompok, kak Lian datang ke dodoha bertemu saya. Kata kak Lian ke saya “ Saya bisa saja telpon tadi, tapi ini penting Lian. Jadi  kita bicara langsung saja “.  

Kak Lian menyampaikan kegelisahannya tentang sikap gereja terhadap nasib para nelayan dan petani yang terdampak pengerukan sungai Danau Poso. Mengajak kerjasama agar bisa melakukan seri diskusi kajian teologi yang mendorong sikap gereja untuk berpihak pada yang miskin. Sikap berpihak  gereja pada para petani dan nelayan yang disampaikan dengan jelas dan lugas . Kami lalu melakukan rencana bersama. Dan berjanji akan menindaklanjutinya.

Setelah kurang lebih 45 menit berbicara, sebelum pamit kak Lian berkata “ Semangat ya Lian” Saya tertawa dan bilang “ kak Lian juga , tapi jangan lupa itu kesehatan kak “ 

Itu pertemuan terakhir saya dengan kak Lian.  Kak Lian menggunakan baju batik dengan bunga-bunga yang besar. 

Memikirkan orang lain bahkan saat jadwal kesibukan mengabaikan jam yang berputar 24 jam saja. Lalu, masih sibuk bolak balik melakukan pelayanan kotbah di desa-desa. Kak Lian kelelahan fisik, gula darah naik sampai 570 setelah menempuh perjalanan Tentena – Manado bolak balik demi pelayanan. Dibawa ke puskesmas Tomata kurang dari dua jam sebelum 2021 menjadi tahun baru.  31 Desember 2020 pukul 22.10 Wita. Kak Lian pergi. Raganya. 

Gereja kehilangan sosok teolog perempuan Poso. Teolog perempuan yang memaknai berteologi dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu saat, saya pernah bertanya “ kak, bahagia toh? “ 

Pertanyaan yang dijawab dengan ketawa yang khas menggelegar. Tawa kak Lian selalu membuat kami ikut tertawa . Tidak ada yang bisa tertawa seperti kak Lian. Tawa yang lantang menggema mengajak semua orang turut merasakan tawa itu, dan bahagia.

Raga boleh pergi. Kehilangan dirasakan saya dan banyak orang sangat dalam. Dalam jangka waktu yang lama. Namun, pemikiran dan jejak aktivisme,  mimpi dan cita-cita tentang keadilan sosial, tentang kedaulatan rakyat akan tetap dihidupkan. Seterusnya.

Bagikan
Artikel SebelumnyaTersingkir
Artikel SelanjutnyaKaleidoskop Keamanan 2020, Petani Masih Terancam
Lian Gogali
Peneliti dan penulis. Mendirikan Institut Mosintuwu tahun 2009 dan Radio komunitas Mosintuwu tahun 2016. Menulis buku "Konflik Poso : Suara Perempuan dan Anak dalam Rekonsiliasi Ingatan", kertas posisi , dan sejumlah artikel tentang Poso.

Tinggalkan Balasan

Silahkan berkomentar
Mohon masukkan nama anda